Love Me Tender

Love Me Tender
Berangkat ke Paris


__ADS_3

Indira berdiri di atas balkon kamar tamu milik keluarga Daven. Hatinya resah kala mengingat ketidakjujurannya pada keluarga Daven yang sudah menerimanya dengan baik. Bahkan Daven pun ikut terbawa dalam masalah yang telah dia ciptakan sendiri.


Matanya menatap nanar langit senja yang mulai kembali keperaduannya. "Besok kita akan meninggalkan semua kenangan yang ada di kota ini, nak", ujarnya sembari mengelus perut ratanya. Sebenarnya dia ingin mengatakan kebenaran itu, namun keadaan memaksanya untuk berbohong. Dia tidak ingin keluarga Theo mengambil anaknya dan membuang dirinya saat mereka mengetahui kehamilannya nanti.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Indira. Dia berjalan masuk ke dalam kamar dan membukakan pintu.


"Tante!" seru Indira saat melihat mamanya Daven sedang berdiri dihadapannya sembari menenteng satu buah tas yang tampak berisi sesuatu.


"Ini buat kamu", ujarnya dengan menyodorkan tas ditangannya pada Indira.


Indira menggerakkan tangannya dengan ragu, namun akhirnya dia menjulurkannya. "Ini apa tante?"


"Di dalam ini ada beberapa referensi buku dan pakaian hangat yang bisa kau pakai di sana nanti."


Indira menatap mama Daven dengan rasa haru, karena perhatian yang telah diberikan oleh Rita padanya sudah lama tidak dia dapatkan, sejak dia kehilangan ibunya.


"Terimakasih, tante. Dira tidak akan sia-siakan semua pengorbanan tante dan om. Dira akan belajar lebih giat lagi di sana nanti."


"Tante harap kau bisa menggapai impianmu yang tertunda."


Indira menatap mama Daven sembari tersenyum. "Terimakasih tante sudah mendoakan hal yang baik bagi Dira."


"Sama-sama, nak", balas Rita dengan tersenyum.


 


Di sebuah persimpangan lampu merah Tamara yang sedang duduk di dalam mobil melihat seseorang yang dia kenal. "Itu seperti Saka", ucapnya bergumam. "Bukankah tadi dia bilang masih di kampus. Jarak dari tempat ini ke kampus sangat jauh. Apa tadi dia berbohong padaku." lanjutnya dengan bergumam.


"Ada apa Ara? Dari tadi mommy lihat kamu seperti berbicara sendiri."


"Owh, bukan apa-apa mom. Barusan Ara seperti sedang melihat seseorang yang Ara kenal."


"Cowok?" tanya Ratu yang mulai penasaran.


"Emang penting ya, mom?"


"Iya dong. Kalau itu cowok berarti Ara sering memikirkannya, kadang saat melihat orang lain yang bajunya mirip aja, seolah sedang melihat cowok yang kita kenal. Nah, kalau itu cewek biasanya kita cuma sekedar pengen tahu aja apa yang sedang dia lakukan di situ."


Tamara terdiam sesaat. "Yang Ara lihat tadi itu cowok, mom. Tapi Ara tidak pernah kok memikirkannya."


Ratu tersenyum mendengar ucapan putrinya itu. "Tapi mata kamu gak bisa berbohong, sayang", ujar Ratu yang membuat Tamara tersipu malu. Dia langsung membuang pandangannya, agar sang mommy tidak melihat wajahnya yang sedang merona.


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara ibu dan putrinya itu. Mereka pun kembali dengan lamunan masing-masing.

__ADS_1


 


Di sebuah ruangan yang tampak mewah itu Tiara datang menghampiri seorang pria yang sedang duduk membelakanginya.


"Kenapa kau memintaku bertemu? Kau kan tahu Theo sedang sakit, jadi aku harus selalu berada disisinya dan menjaganya."


Pria dihadapannya itu pun emosi. "Jadi kau hanya memanfaatkanku? Setelah tujuanmu tercapai kau ingin mengabaikanku", sergahnya dengan raut wajah emosi.


"Bukan seperti itu. Kau bahkan tahu, bahwa anak yang aku kandung adalah anakmu. Jadi mana mungkin aku akan mengabaikanmu. Aku hanya ingin membalaskan dendam nenekku saja."


"Apa tujuanmu yang sebenarnya hanya itu?" Pria itu menatap curiga Tiara.


"Iya sayang. Emangnya apa lagi", sahutnya dengan nada menggoda. Dia tak ingin pria itu menjadi marah dan menghancurkan semua rencananya.


"Oke", sahutnya melunak. "Tapi aku rindu sayang."


"Maaf sayang, aku sedang kurang enak badan, mungkin ini bawaan bayi. Lain kali saja ya", tukasnya.


Pria itu tampak sedikit kecewa mendengar ucapan Tiara. Dia menatap wanitanya itu dengan mendengus kasar. "Oke, tapi lain wakru kita bisa saling melepas rindu."


"Ya, sayang", sahut Tiara dengan memaksakan senyumannya. Jika bukan karena kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki pria itu, Tiara tak akan pernah mau berhubungan dengannya. Setelah rencanaku berhasil aku akan meninggalkanmu, batin Tiara. "Kalau begitu aku kembali ke rumah sakit, ya."


Pria itu membuang pandangannya. Meskipun dia menyetujui rencana kekasihnya itu, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya. Dia cemburu membayangkan kebersamaan Tiara dengan pria lain.


"Oke, tapi nanti malam kau harus datang ke sini."


Tiara pun terpaksa menyetujui permintaan pria itu agar diizinkan pergi dari tempat itu.


 


Di bandara Internasional.


Papa dan mama Daven mengantar kepergian Daven dan Indira.


"Jangan lupa setelah tiba di Paris, kabarin papa dan mama ya", ujar Rita, mamanya Daven itu dengan mata yang menggenang karena Ini adalah pertama kali dirinya berjauhan dengan putra semata wayangnya itu.


"Baik, ma", sahut Daven sembari mengusap lembut bulir kristal yang jatuh bebas membasahi pipi sang mama.


"Jaga diri baik-baik", ujar sang mama dengan wajah sendu.


"Mama jangan kuatir ada Dira yang akan menemaniku di sana nanti."


Rita menoleh ke arah Indira. "Dira, tante minta tolong kamu ingatkan Daven makan sesuai dengan jamnya ya."

__ADS_1


"Tante tenang saja. Dira akan terus menghantui Daven, kalau dia tak mau mendengarkan ucapan Dira."


Mama dan papa Daven terkekeh mendengar penuturan Indira. "Kalau begitu tante sedikit tenang, karena ada Dira", ucapnya dengan tersenyum.


Setelah itu Daven dan Indira berpamitan. Mereka langsung berjalan menjauhi kedua orang tua Daven yang masih berdiri diposisinya. Kedua orang tua Daven terus menatap punggung mereka yang semakin menjauh hingga tidak terlihat lagi oleh pandangan mata.


"Sampai ketemu lagi", ucap Indira bergumam. Dia terus berjalan bersama Daven melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu.


---


Di dalam ruangan Theo yang sunyi, terdengar langkah seseorang yang hendak! berjalan masuk.


"Hai, sayang. Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Tiara seraya berjalan menghampiri Theo. Dia meletakkan satu keranjang buah di atas laci.


"Lumayan baik. Kata dokter besok sudah bisa keluar dari rumah sakit."


"Owh, bagus dong sayang", ujar Tiara. "Mau aku kupaskan buah?" tawarnya saat sedang duduk di tepi ranjang.


"Tidak perlu."


Tiara menatap curiga perubahan sikap Theo. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini, hingga dia menjawab dingin setiap ucapan Tiara.


"Apa kau sudah makan siang sayang?" tanya Tiara yang sedikit canggung.


"Hem, sudah."


"Kakek dan yang lainnya belum ada yang datang?" tanya Tiara sembari menyusuri setiap sudut ruangan.


"Belum", balas Theo singkat.


"Sayang, apakah kau ingin merasakan denyut jantung anak kita", ucapnya untuk mencairkan suasana.


"Aku mengantuk. Mungkin karena baru saja meminum obat", ujar Theo sembari menutup matanya.


Tiara menatap wajah teduh Theo yang sudah memejamkan mata itu dengan berdecak kesal. Aku datang kesini bukan untuk melihatmu tidur, batin Tiiara.


"Kalau begitu aku ke luar sebentar. Jika kau butuh sesuatu bisa menghubungiku. Aku akan mencari udara segar di bawah."


"Hem", balas Theo dengan berdehem.


"Oke, aku keluar ya", ujar Tiara, namun tidak ada balasan yang keluar dari mulut Theo. Akhirnya Tiara berjalan keluar dari ruangan Theo dengan muka ditekuk.


Sepeninggal Tiara, Theo langsung membuka matanya. Mata nanarnya menatap langit-langit putih kamar berukuran luas itu. Perasaannya kini mulai gusar saat tanpa sengaja dia membaca beberapa pesan dari Indira yang masih tersimpan di ponsel miliknya. "Apa yang harus aku lakukan", ucapnya bergumam.

__ADS_1


__ADS_2