
Tiara berjalan dengan muka di tekuk sembari menghentakkan kakinya. Mulut lemesnya penuh dengan umpatan atas sikap acuh Theo padanya. Bahkan sesaat setelah dia berada di depan pintu lift, kakinya dengan sengaja menendang kasar pintu lift sebagai pelampiasan kemarahannya, karena pintu lift yang tak kunjung terbuka. Setelah benar-benar terbuka dia pun buru-buru melangkah masuk ke dalam.
"Siapa sih yang telepon", ucapnya berdecak kesal sembari merogoh ponselnya yang masih berbunyi itu dari dalam tas jinjingnya. Dia semakin dibuat kesal saat mendapat tatapan tak senang dari beberapa pengunjung lainnya yang ada bersama dengannya di dalam lift.
"Biasa aja dong lihatnya", ketusnya dengan nada emosi saat benda pipih itu berhasil diraihnya. Lalu dia buru-buru menggeser tombol hijau, agar tidak menciptakan kebisingan lebih lama lagi.
"Halo nek", sapa Tiara pada orang yang sedang menghubunginya saat ini. Lalu Tiara diam sesaat sembari mendengarkan suara sang nenek yang menyahut dari seberang telepon.
"Oke, nek. Tiara paham." sahut Tiara, lalu dia kembali diam saat sang nenek masih berbicara di ujung teleponnya.
"Bye, nenek", ucapnya mengakhiri sambungan telepon itu.
Lalu dia menyimpan kembali ponselnya dan berjalan keluar dari dalam lift saat pintu lift terbuka di basement rumah sakit. "Kenapa aku kesini", rutuknya yang menyalahkan kebodohannya sendiri. Sebenarnya tujuannya adalah kantin rumah sakit untuk makan siang yang kedua kalinya. Entah kenapa sejak dia mengandung nafsu makannya semakin bertambah.
Baru saja Tiara membalikkan badannya, dan hendak berjalan kembali ke dalam lift ponselnya kembali berbunyi. Sambil berjalan dirogohnya ponsel dari dalam tas jinjingmya itu tanpa melihat kesekeliling.
Aaaa... Suara teriakan Tiara saat sebuah mobil yang terparkir tiba-tiba mundur dan menyenggol Tubuhnya. Pengemudi mobil itu buru-buru turun dan melihat apa yang telah terjadi. Dia menutup mulutnya yang menganga saat melihat sesuatu berwarna merah pekat terus mengalir di betis Tiara.
"Aww... Sakit", ringis Tiara saat akan mencoba untuk berdiri.
"Ayo saya bawa ke IGD", ucap pengemudi yang semakin panik itu. Seorang wanita yang bersamanya pun tak kalah panik. Dia bergegas membantu Tiara berdiri, lalu mereka berjalan bersama-sama sembari membopongnya masuk ke dalam lift.
Diruangan Theo mendadak ramai, karena beberapa mahasiswa yang diajarnya datang berkunjung. Rasa canggung sangat terasa kala Theo tidak mengingat satu pun nama di antara mahasiswa itu. Tak berselang lama Tamara dan mommynya datang, akhirnya suasana diruangan itu kembali menghangat.
"Kalau begitu kami pamit pulang pak", ucap seorang mahasiswi cantik yang sedari tadi tak memalingkan pandangannya dari Theo.
"Oke, hati-hati di jalan", sahut Theo dengan santai.
"Baik, pak", ucap.mahasiswi itu dengan tersenyum.
"Eh, pada mau kemana ini?" tanya Ratu saat baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mau pamit pulang bu. Karena ini sudah terlalu sore, ada beberapa teman saya yang rumahnya jauh dari sini."
__ADS_1
"Oh, kalau gitu ibu minta kalian hati-hati di jalan ya."
"Iya, bu", sahut mereka hampir bersamaan. Lalu mereka berjalan keluar dari ruangan itu.
Ratu berjalan menghampiri sisi ranjang Theo. "Ara kemana, nak?"
"Lagi terima telpon, mom", jawab Theo sembari menghentikan jarinya mengotak atik ponsel ditangannya.
Ratu terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Theo. "Hem, menurut kamu apa Ara sedang jatuh cinta? Belakangan ini mommy lihat Ara sering menerima telepon dari seseorang."
"Bisa jadi sih, mom. Kenapa mommy gak tanyakan saja langsung pada Ara."
"Iya, nanti kalau waktunya tepat."
"Oke mom", sahut Theo. Lalu jarinya lanjut menscroll ponselnya. "Menurut mommy Dira itu orangnya bagaimana?"
Ratu mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu menanyakan tentang Dira, nak?"
"Perasaan Theo sedikit kacau saat membaca beberapa pesan dari Dira di ponsel Theo, mom. Dan lebih anehnya Theo merasa tidak bahagia saat mendengar kehamilan Tiara."
Theo menganggukkan kepalanya. "Iya, mom."
Tiba-tiba Tamara masuk dengan bersenandung dan raut wajah bahagia. Spontan Ratu dan Theo menoleh ke arah Tamara. "Sepertinya apa yang mommy katakan tadi ada benarnya", ujar Theo yang belum melepaskan pandangannya dari wajah sumringah Tamara. "Mommy harus secepatnya menanyakan hal itu."
"Hem, hem, mommy tahu." Suara deheman Ratu berhasil membuat Tamara menoleh ke arah sang mommy.
"Ada apa, mommy sayang?" tanya Tamara dengan nada suara lembut.
"Apa ini Ara yang kita kenal, mom? Kenapa Theo merasa merinding mendengar suara barusan? Iii... Takut." Theo menarik selimut dan menutup mukanya seolah-olah sedang ketakutan.
"Mommy, Ara pikir kak Theo hanya kehilangan ingatannya ternyata kakak kehilangan selera humornya juga", ledek Tamara sembari menarik paksa selimut yang menutupi wajah Theo.
Kakak beradik itu pun akhirnya tertawa bersama, membuat Ratu tersenyum bahagia saat melihat keakraban kedua putra putrinya itu.
__ADS_1
Di ruang yang berbeda, namun masih di rumah sakit yang sama. Tiara terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya mulai mengerjap melihat kesekelilingnya.
"Syukurlah mbanya sudah bangun. Bagaimana perasaan mba sekarang?" tanya pengemudi yang telah menabrak Tiara dengan rasa bersalah.
"Kenapa perutku terasa sakit sekali", ujarnya seraya memegang perut bagian bawahnya.
"Maaf, mba. Sesuatu yang buruk telah terjadi", ujar pengemudi itu dengan wajah menunduk.
Tiara mendelik. "Maksudnya, sesuatu terjadi pada kandunganku?" tanya Tiara dengan menatap tajam ke arah pria itu.
"I-iya, mba", sahutnya dengan gagap. "Maafkan saya mba. Saya tidak tahu mbanya ada di belakang mobil saya waktu itu, karena mba muncul tiba-tiba", ujar pria itu menjelaskan.
"Apa yang terjadi dengan janinku?" tanya Tiara yang mulai curiga sesuatu terjadi pada janinnya, karena rasa sakit yang dia alami.
"Mbanya mengalami keguguran."
Tiara tersentak kaget mendengar ucapan pria itu. Dia langsung mengacak kasar rambutnya. "Tidak mungkin. Gak... Gak...", Tiara menggelengkan kepalanya dan berteriak histeris. "Kau pembunuh! Kau akan aku... Aaaa..." Tiara meringis sembari memegang perutnya. "Sakit..."
Pria itu bergegas menekan tombol panic button.
Tak berselang lama sang dokter datang bersama dengan teman wanita pengemudi itu. Mereka menghampiri sisi ranjang Tiara dengan rasa cemas.
"Saya cek sebentar ya", ujar sang dokter sembari meminta Tiara berbaring, karena posisinya sedang meringkuh.
"Pergi.. Pergi kalian semua!" Tiara mengerang, namun dia tak berhenti berteriak yang membuat dokter itu terpaksa memberi suntikan penenang padanya. Tiara yang semula memberontak mulai melemah dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Dok, tolong berikan pengobatan yang terbaik padanya. Saya yang akan menanggung semua biayanya."
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik pada setiap pasien kami", sahut sang dokter dengan ramah.
"Terimakasih, dok", ucap pria itu. Lalu dia beranjak meninggalkan tempat itu, karena ada meeting penting yang sudah dia tunda harus segera dia hadiri. Teman wanita pria itu memberikan kartu nama pada sang dokter, untuk memudahkan pihak rumah sakit menghubungi mereka, jika dibutuhkan.
"Ayo, ma." Ajak pria itu pada wanita yang sedari tadi menemaninya mengurus masalah Tiara. Dia adalah istri sekaligus sekretaris pribadi pria itu.
Mereka buru-buru meninggalkan ruang Tiara di rawat, lalu berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1