
Radit tertawa terbahak-bahak kala Risa baru saja menutup rapat pintu ruangan Theo.
"Apa yang membuatmu tertawa seperti itu?" tanya Theo dengan menaikkan alisnya.
"Kau jangan berlagak polos. Ini semua karena ulahmu! Dia jadi salah tingkah."
"Apa kau tertarik dengannya?" tanya Theo tanpa melirik Radit, matanya fokus pada layar laptop dihadapannya.
Radit mendengus kasar. "Apa sekarang kau beralih profesi menjadi mak comblang?"
Theo tertawa mendengar penuturan sahabatnya itu. "Aku hanya ingin membuatmu patuh padaku."
"Si*lan... Kau hanya ingin memanfaatkanku untuk keuntunganmu sendiri!" rutuknya.
"Cih, kau terlalu perhitungan, bukankah seorang sahabat rela melakukan apapun demi sahabatnya itu, bahkan sampai memberikan hidupnya."
"Kalau begitu kita balik!"
"Tidak bisa!" tegas Theo seraya menyimpan file yang baru saja dia unduh dari email.
"Kau curang! Sergah Radit. "Lebih baik aku pergi saja. Kau hanya menganggapku sahabat di kala kau butuh saja", imbuhnya dengan raut wajah sedih.
"Jangan drama! Wajah garangmu tidak cocok berpura-pura sedih. Ayo, kita pergi makan!" ajak Theo setelah menutup laptop dihadapannya.
Raut wajah Radit tiba-tiba berubah bahagia. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mengikuti langkah Theo.
"Urusan makan wajahmu langsung berbinar."
"Jangan meledekku lagi atau aku tidak akan membantumu membereskan masalahmu dengan Dira!" ancam Radit.
"Iya, maaf", sahut Theo saat mereka sudah berada di luar ruangan.
"Risa, saya ke luar makan sebentar. Kalau ada hal mendesak, kamu langsung telepon saja", ucapnya memberi pesan pada sang sekretaris.
"Baik, Pak", balas Risa dengan menunduk.
"Oke, kalau begitu kami pergi dulu", kata Theo saat akan beranjak.
"Bye, Risa", ucap Radit dengan tersenyum.
Risa pun membalas dengan tersenyum. "Iya, Kak. Hati-hati di jalan", balasnya dengan tersipu malu.
Theo menarik paksa tangan sahabatnya yang masih berdiri menggoda Risa.
"Jangan memberikan harapan palsu!" tegas Theo.
"Kau orang yang tidak punya pendirian teguh. Baru saja kau ingin menjadikan hubunganku dan Risa sebagai tameng, tapi sekarang kau sudah berubah pikiran."
"Sudah, cukup bermain-mainnya. Sekarang aku mau bertanya idemu untuk membuat Dira mau menerimaku kembali."
Ting.
Radit menghela nafas panjang seraya berjalan masuk ke dalam pintu lift. Theo juga ikut masuk ke dalam lift.
"Kau jangan terburu-buru. Aku tidak bisa di desak seperti ini."
"Oke. Kalau begitu, aku tunggu ide darimu setelah mendengar jawaban dari Dira."
"Setuju", balas Radit singkat. "Tapi hari ini kau harus membawaku makan di restoran mahal", lanjutnya.
"Hem, baiklah", jawab Theo.
__ADS_1
"Aku tidak akan kenyang, jika kau tidak ikhlas mentraktirku."
"Aku ikhlas Radit!" sahut Theo dengan melotot.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Theo berjalan ke luar lebih dulu.
"Aku cuma bercanda!" Radit menepuk bahu Theo dari belakang.
Theo hanya membalas dengan berdehem, lalu mereka berjalan menuju mobil Theo di parkir
...---...
Di sebuah restoran. Raja bersama istri, anak dan cucunya sedang duduk menikmati makanan yang sudah tersaji di meja.
"Aaaak..." ucap Tamara saat akan memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut Cha cha. Namun Cha cha memalingkan wajahnya.
"Ayo, sayang. Buka mulutnya", bujuk Tamara pada putri kecilnya itu.
Cha cha menggelengkan kepalanya. "Cha cha maunya ice cream!" tolaknya.
"Sini, biar Mommy yang coba", pinta Ratu sembari meraih sepiring makanan dari tangan Tamara.
"Cha cha, sayang", panggil Ratu dengan lembut.
"Enggak mau!" tolak Cha cha sembari membuang wajahnya.
"Emangnya Oma mau bilang apa?"
"Oma mau bujuk Cha cha supaya makan, kan?"
"No... No... Cha cha salah. Makanya dengarin dulu Oma bicara. Gak boleh langsung di bantah."
"Oma tadi mau bilang kalau makanannya Cha cha dihabisin, Oma akan beli ice cream", tawar Ratu.
Cha cha terdiam sejenak, lalu menatap serius sang Nenek. "Itu sama saja Oma bujuk Cha cha makan!" teriaknya seraya tertawa.
"Tidak sama sayang. Oma menawarkan bukan membujuk", bantahnya. "Kalau Cha cha mau, ayo di makan. Kalau tidak berarti gak dapat ice cream dong", lanjutnya yang membuat Cha cha bingung.
"Iya, Cha cha mau Oma", katanya sembari membuka lebar mulutnya.
"Nah, gitu dong", ucap Ratu dengan tersenyum.
Namun tiba-tiba Ratu termangu kala melihat seseorang berjalan masuk ke dalam restoran.
"Oma, kenapa berhenti?" tanya Cha cha dengan kesal, kala Ratu belum juga memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut Cha cha.
"Owh, maafkan Oma", balasnya sedikit gugup. "Ini sayang", lanjutnya dengan memasukkan sendok ke dalam mulut Cha cha. Lalu dia buru-buru memberikan piring ditangannya pada Tamara. "Kamu lanjutkan ya, Nak. Mommy mau ke sana sebentar."
Tamara yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya tersentak kaget melihat sikap sang Ibu. "Mommy mau ke mana?" tanyanya. Ekor mata Tamara mengikuti arah yang ingin di tuju oleh sang Ibu. "Dira!" ucapnya dengan menyipitkan mata.
Sontak Raja membalikkan badannya dan melihat sang istri berjalan menghampiri menantunya itu.
Tamara memberi suapan berikutnya pada Cha cha saat putrinya itu menarik-narik ujung bajunya. "Ayo, buka mulutnya", pinta Tamara. Cha cha pun tidak menolak.
"Bukannya Dira bekerjasama dengan Kak Theo, Dad?" tanya Tamara saat suapannya masuk ke dalam mulut Cha cha.
"Iya, untuk 6 bulan saja."
"Jadi, kenapa Kak Theo tidak membawa Dira pulang ke rumah?"
__ADS_1
Raja mendengus kasar saat mengingat hubungan anak dan menantunya itu. "Tidak semudah yang kita pikirkan, Nak. Dira ingin melanjutkan proses perceraian mereka."
Tamara terkesiap mendengar penuturan ayahnya, dia buru-buru meletakkan kembali piring yang ada ditangannya. "Kenapa Dira ingin bercerai? Apa dia masih sakit hati dengan yang sudah kita perbuat, Dad?" tanya Tamara seraya merampas piring yang telah di ambil oleh Cha cha.
"Itu orangnya datang mendekat. Coba kau tanya saja sendiri."
"Dira!" seru Tamara sembari bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia meletakkan kembali piring yang ada ditangannya dan berjalan menghampiri Indira.
"Hai, Ara. Apa kabar?" sapa Indira dengan memeluk sahabatnya itu.
"Aku baik. Kau sepertinya lebih baik dariku", sahut Tamara sekaligus memuji Indira.
"Kau terlalu berlebihan. Aku masih sama seperti yang dulu. Bedanya sekarang aku sudah punya anak", jawabnya seraya menunjuk putranya.
"Wah, kau juga sudah punya anak. Dia tampan sekali. Tapi kenapa wajahnya tidak asing ya", ucap Tamara sembari menatap Rafa yang tertidur pulas dalam gendongan Daven.
"Dia mirip Theo!" sahut Ratu.
"Owh, iya baru ingat. Dia mirip Kak Theo waktu kecil", ucapnya.
Indira terdiam saat mendengarnya. Daven yang melihat ekspresi canggung Indira mencoba untuk membantunya.
"Emangnya kenapa kalau dia mirip Theo. Itu tidak akan mengubah apapun!" tegasnya.
"Dari dulu kau selalu berkata sesuatu yang tidak enak di dengar!" seru Tamara. "Tapi siapa yang peduli dengan omonganmu", lanjutnya dengan menatap kesal Daven.
"Kau juga sama!" balas Daven yang membuat Tamara emosi.
"Kau...!"
"Sudah!" seru Ratu menghentikan perdebatan keduanya. "Ayo, kita duduk dulu", ajaknya seraya memegang tangan Indira.
Mereka pun berjalan bersama menuju meja yang telah di pesan oleh keluarga Tamara.
"Siang Pak", sapa Indira.
"Siang", balas Raja.
Ratu dan Tamara termangu mendengar sapaan kaku Indira. Mereka tidak menyangka banyak perubahan yang terjadi pada Indira.
"Ayo, duduklah", pinta Ratu.
"Kami sudah melakukan reservasi juga. Jadi kami duduk di meja sana saja", jawab Indira dengan sopan sembari menunjuk ke arah meja yang telah mereka pesan.
Ratu kecewa mendengarnya. "Apa Mommy boleh ikut bergabung?" tanyanya untuk melihat reaksi Indira.
"Silakan kalau Ibu ingin ikut bersama kami", jawab Indira.
Ratu semakin sedih mendengar panggilan yang disematkan oleh Indira. "Apa kau tidak mau lagi memanggilku dengan sebutan Mommy?" tanya Ratu dengan wajah sendu.
Indira menghela nafas panjang. "Maaf Bu. Aku bukan Dira yang dulu. Tidak lama lagi aku juga bukan menantu Bapak dan Ibu."
"Jangan katakan itu sekarang. Berikan saya jawabanmu besok pagi jam 10", sela Raja.
"Baik, Pak", balas Indira dengan sopan.
Tiba-tiba Rafa yang berada di pangkuan Daven terbangun.
"Mama..." panggilnya dengan suara khas baru bangun tidur.
"Iya, mama di sini sayang", sahut Indira sembari mengambil Rafa dari gendongan Daven.
__ADS_1
"Rafa!" teriak Cha cha saat mengenali putra Indira.