Love Me Tender

Love Me Tender
Tiara Pingsan


__ADS_3

Tiara berjalan masuk ke rumah kediaman Theo dengan menahan rasa perih yang masih dia rasakan di bagian bawah perutnya. Tubuh lemahnya menyulitkan dirinya untuk bergerak dengan leluasa.


"Malam tante... Bagaimana kabar Ara?" tanyanya menunjukkan rasa peduli saat melihat kekasih dan calon ibu mertuanya sedang duduk disofa dengan muka murung.


"Tunggu dan lihat saja nanti. Saat ini Ara sedang bersama psikolog di dalam", jawab Theo mewakili sang mommy.


"Owh, oke kalau begitu", sahut Tiara lirih. Lalu dia kembali diam bak kambing congek.


Suasana hening seketika, bahkan suara langkah Raja terdengar nyaring di telinga. "Mommy, bisa keruangan daddy sebentar", pinta Raja pada sang istri yang tiba-tiba datang dari arah pantry.


"Oke, dad", sahut Ratu sembari bangkit dari atas sofa. Lalu dia berjalan mengikuti langkah sang suami.


Baru saja Tiara akan menyapa calon ayah mertuanya itu, mereka tiba-tiba sudah menjauh dari pandangannya.


Sampai dimana kesombongan yang kalian miliki, wahai calon mertuaku. Lihatlah kalian akan aku buat hancur! Batin Tiara.


Tiba-tiba ponsel Tiara berbunyi, dia langsung meraih ponsel.dari dalam tas jinjingnya itu. "Nenek", ucapnya bergumam. Diliriknya Theo yang sedang melamun dengan raut wajah murung. "Sayang, aku angkat telepon sebentar, ya", ucapnya membuyarkan lamunan Theo.


Theo berdehem tanpa melirik Tiara. Lalu Tiara menjauh dari Theo, dia berjalan menuju arah dapur yang menurutnya aman dari siapapun.


"Halo, nek", sahut Tiara saat sudah menjauh dari Theo.


"Kenapa lama sekali angkat telepon?" bentak sang nenek yang membuat Tiara sedikit berjingkat.


"Tadi Tiara sedang bersama Theo, nek", balasnya dengan berdecak kesal.


"Oke lupakan itu. Sekarang nenek mau tanya kapan kalian akan menikah?"


Tiara terdiam, sesaat kemudian dia mendengus kasar.


"Belum tahu nek", jawabnya lesu.


"Kenapa kau sangat lamban melakukan tugas sepele itu, ha? Berikan ponselmu pada calon mertuamu, biar nenek.yang mendesak mereka."


"Bukan seperti itu nek. Tiara gak mungkin mendesak mereka yang sedang dalam masalah", jawab Tiara yang mulai gusar.


"Nenek tunggu kabarnya dalam minggu ini. Jika kau tidak juga mengabari dalam waktu itu, nenek akan menyusulmu kesana."


"Baik nek", jàwab.Tiara pasrah. Lalu sang nenek memutus sambungan telepon.


"Bagaimana kalau nenek tahu kalau aku sudah tidak hamil lagi", ucap Tiara bergumam. Lalu dia membalikkan badannya, beranjak meninggalkan dapur. "Aku tidak boleh membiarkan seorang pun mengetahui hal ini", ucapnya masih dengan bergumam sembari melangkah keluar dari dapur.


 

__ADS_1


Di balkon kamar Saka, dia sedang menatap nanar langit gelap yang bertaburan bintang menemani kesunyian hatinya.


"Kenapa ini terjadi?" tanyanya pada diri sendiri.


Dia sangat menyesali perbuatan jahat sang ibu. Bahkan sulit rasanya bagi dia untuk berteman kembali dengan Tamara.


"Jika Ara tahu ini semua perbuatan ibuku, apa yang akan Ara pikirkan tentangku", ucapnya dengan mengusap kasar wajahnya.


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Saka. Dia bergegas masuk ke dalam kamar.


"Den Saka." Terdengar suara sang bibi memanggil namanya dari balik pintu.


"Iya, sebentar bi", sahut Saka sembari membuka pintu.


Ceklek.


"Den Saka. Makanlah dulu", ucap sang bibi saat pintu kamar Saka terbuka lebar.


"Iya, nanti saja bi. Saka masih ngerjain tugas kampus", sahutnya dengan sopan.


"Baiklah den, jangan sampai kemalaman ya."


"Kalau gitu bibi mau simpan makanan di meja makan dulu. Kalau makanannya mau dipanasin bilang sama bibi ya."


"Baik bi", ucap Saka dengan tersenyum. Saka menutup pintu setelah kepergian sang bibi.


 


Mentari pagi sudah mulai muncul di ufuk timur. Namun keluarga Theo tidak terlihat sibuk seperti pagi biasanya. Mereka tampak sangat lelah dan lesu. Wajah kusam Raja dan Ratu menunjukkan bagaimana mereka melewati malam tadi.


"Pagi daddy, mommy", sapa Theo dengan menarik salah satu kursi kosong.


"Pagi", balas kedua orangtuanya hampir bersamaan. Lalu mereka bangkit dari tempat duduk masing-masing.


"Lho, Daddy dan mommy mau kemana?" tanya Theo dengan mengernyitkan keningnya.


"Mommy mau ke kamar Tamara sebentar."


"Daddy mau ke ruang kerja sebentar."


"Daddy dan momny setidaknya habiskan dulu makanannya", ucap Theo saat kedua orang tuanya hanya menyentuh sebagian makanan di dalam piring masing-masing.

__ADS_1


Raja dan Ratu menghentikan langkahnya dan saling menatap, sesaat kemudian mereka menghela nafas hampir bersamaan. "Kali ini daddy dan mommy bersalah gak bisa ngabisin sarapan", ucap Ratu lesu. Lalu dia melanjutkan langkahnya. Sama halnya dengan Raja, dia pun kembali berjalan menuju ruang kerjanya.


Theo diam seribu bahasa. Dia tersadar sesuatu telah mengubah kebahagiaan keluarga mereka. Hfft...Theo membuang nafas dengan kasar, lalu tangannya meletakkan kembali sendok yang baru saja dia pegang.


"Bi, tolong makanannya di simpan saja", ujar Theo.


Sang bibi pun datang menghampiri meja makan. "Kenapa den?"


"Sepertinya nafsu makan di keluarga ini sedikit berkurang, bi. Jadi tolong makanannya dibagjkan ke supir dan penjaga di depan saja, biar gak mubazir."


"Baik den", sahut sang bibi sembari membereskan semua makanan di atas meja makan.


Theo langsung beranjak meninggalkan meja makan dan melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar.


Drrt. Drrt.


Baru saja tangan Theo membuka handle pintu kamarnya. Suara dering ponsenya memenuhi kamarnya "Siapa nelpon pagi-pagi gini", ucapnya sembari meraih ponsel di atas nakas. "Tiara", ucapnya dengan mengernyitkan keningnya.


"Halo", ucap Theo saat baru saja menerima panggilan itu.


"Halo sayang. Bagaimana keadaan di rumah pagi ini?" tanya Tiara dengan nada lirih.


"Masih sama seperti kemaren. Daddy dan mommy tampaknya gak bersemangat."


"Kamu butuh sesuatu sayang ,biar aku bawa. Karena sebentar lagi aku mau berangkat kesana", ucap suara Tiara dari ujung telepon.


"Tidak perlu. Kau sedang hamil, lebih baik jangan kemari. Istirahat saja di rumah."


"Hem, tapi aku..."


"Jangan membantah. Pikirkan kandunganmu", sergah Theo memotong ucapan Tiara.


"Baiklah", sahut Tiara dengan lesu. "Aku..." ucapan Tiara terputus bersamaab dengan Theo memutus sambungan telepon. Tanpa rasa bersalah dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu berjalan menuju balkon.


 


Di kamar yang tampak mewah itu, Tiara tak berhenti mengumpat. Barang-barang disekitarnya menjadi pelampiasan kekesalannya.


"Dasar pria sombong! Kalau tidak karena nenek yang minta, aku tak akan sudi berhubungan dengan pria br***sek sepertimu! Aargggh..." Tiara menjerit sembari mengacak kasar rambutnya.


Dalam hitungan detik, Tiara melemah, tubuhnya mulai merosot hingga kesadarannya pun hilang. Kamarnya yang semula riuh, kini hening. Namun sesaat kemudian suara dering ponselnya mengisi keheningan kamarnya itu.


Entah sudah berapa kali orang itu menghubungi Tiara hingga ponselnya pun kehabisan daya. Setengah jam kemudian seorang pria datang dan langsung masuk ke dalam kamar Tiara. Matanya terbeliak kala melihat Tiara tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


"Tiara... " panggilnya sembari memangku kepala Tiara. Lalu dia mencoba membangunkannya dengan menepuk pelan pipi Tiara. Namun Tiara belum juga sadarkan diri. Diserang kepanikan pria itu pun langsung menggendong Tiara dan buru-buru membawanya ke rumah sakit.


__ADS_2