Love Me Tender

Love Me Tender
Arti Sahabat


__ADS_3

Tubuh yang gemetar karena dinginnya angin malam, membuat penjaga pos memberikan jaket ysng dia kenakan pada Indira.


Malam yang panjang pun berlalu, berganti dengan mentari pagi yang menghangatkan. Indira mulai mengerjap dan menormalkan netranya dengan cahaya disekelilingnya.


"Aku dimana?" ucap suara parau khas baru bangun tidur.


"Sudah bangun, non?" tanya penjaga gerbang yang akan segera berganti shift dengan rekannya yang lain.


Indira tersentak kaget, saat kesadarannya sudah kembali. "Jam berapa sekarang pak?" tanya Indira dengan panik.


"Jam 6.30, non. Jangan terlalu panik, nanti sampaikan saja alasannya baik-baik kalau di tanya sama bi Iyem. Dia pasti ngerti, kok", sahut penjaga gerbang dengan ramah. Dia diberitahu bahwa Indira adalah pembantu baru di rumah Theo.


Indira menyingkapkan jaket yang menutupi tubuhnya dan bergegas bangkit dari posisi tidurnya. "Terimakasih, pak. Dira pamit", ucapnya dengan buru-buru, lalu berlari keluar dari pos jaga.


Indira menatap Theo yang baru saja keluar dari pintu rumah. Setelan jas hitam yang dia kenakan menambah karisma dan ketampanannya saat dia sedang berjalan. Wajah terpana Indira pun tak dapat dia sembunyikan.


"Tutup mulut baumu itu!" seru Theo saat melewati Indira. Lalu dia melangkah menuju mobil yang sedang terparkir di garasi.


Indira menutup mulutnya sembari menatap punggung Theo yang mulai menjauh. "Hati-hati di jalan", ucap Indira layaknya seorang istri yang sedang mengantar kepergian sang suami.


Theo mengacuhkan perkataan Indira. Dia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arahnya.


Setelah Indira memastikan sang suamu masuk ke dalam mobil dan melajukannya, dia pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nyonya besar dari mana sepagi ini?" tanya Tamara saat melihat Indira masuk ke dalam rumah.


"Aku terkurung di luar tadi malam. Jadi terpaksa tidur di pos jaga", sahut Indira dengan lirih.


Tamara mengernyitkan keningnya. "Terkurung di luar?" tanyanya sambil menatap Indira. Dia tak percaya dengan ucapan Indira barusan. "Mana mungkin!" Tamara mengibaskan tangannya sembari tertawa.


"Rumah sebagus ini pasti ada CCTVnya. Silakan cek saja CCTV", ucap Indira dengan tegas. Dia mulai jengah dengan sikap tak percaya dari seluruh keluarga Theo itu.


"Kau tak perlu mengajariku untuk hal itu!" Tamara mengubah mimik wajahnya seraya menatap tajam ke arah Indira.

__ADS_1


"Bagus kalau kau tahu tentang hsl itu. Dan semoga kalian juga akan tahu tentang kebenaran yang terjadi malam itu!" Indira melangkahkan kakinya menjauhi Tamara yang masih mematung menatap kepergian Indira.


 


Indira berpamitan pada sang mertua yang masih duduk di ruang makan, meskipun mereka tidak menghiraukannya.


Sebelumnya bi Iyem sudah diberitahu bahwa Indira akan kuliah sambil bekerja di rumah itu. "Pulang kuliah jangan keluyuran, bibi akan meninggalkan tugas bagianmu!" seru sang bibi saat melewati Indira yang sedang berjalan menuju pintu keluar.


"Baik, bi", sahut Indira dengan ramah.


Indira mempercepat langkahnya dengan berlari menuju pos jaga, karena pesanan ojek onlinenya akan tiba dalam waktu 5 menit lagi. Indira pun tiba di pos jaga bersamaan dengan berhentinya kendaraan ojek online pesanannya.


"Syukurkah aku tiba tepat waktu", ucapnya bergumam sambil tersenyum. Lalu Indira berpamitan pada penjaga pos.


 


Dalam waktu 15 menit Indira sudah berada di depan gerbang kampus Arkana University. Dia sangat bersyukur karena keluarga Theo masih memberinya kesempatan untuk kuliah tanpa mencabut beasiswanya.


"Hai, Dira", sapa seorang pria tepat dibelakangnya. Indira pun menoleh ke sumber suara. "Kamu..." tunjuk Indira saat mengenal sekilas pria yang ada dihadapannya.


"Mak-maksudmu apa?" Indira balik bertanya dengan sedikit gugup.


"Kenapa gugup? Atau ucapanku memang benar?" Daven menoleh ke arah Indira hingga dia berjalan menyamping.


Seorang pria menatap tak suka atas kedekatan Indira dan Daven. Dia pun mempercepat langkahnya, hingga dia berada tepat dibelakang keduanya. "Di sini tempat untuk belajar, bukan tempat pacaran!" Theo langsung melewati keduanya saat menyelesaikan ucapannya. Entah kenapa dia tidak menyukai Daven.


"Sarapan apa dia pagi ini? Ucapannya selalu saja pedas!" seru Daven yang berhasil di dengar oleh Theo, namun dia mengabaikannya.


 


Indira dan Daven berjalan bersama memasuki ruang kelas mereka. Indira melanjutkan langkahnya hingga dia berdiri tepat di samping Tamara.


"Maaf di sini sudah ada orang!" ujar Tamara yang mengerti akan maksud Indira.

__ADS_1


"Ayo, duduk di sini saja!" ajak Daven sembari memberinya ruang untuk berjalan melewatinya. Namun Indira masih berdiri diposisinya sembari menunggu Tamara mengubah ucapannya.


Daven yang gerah melihat keras kepala Indira, langsung menarik tangannya, hingga tas ranselnya jatuh. "Maaf", ucap Daven seraya membungkuk meraih tas ransel milik Indira.


Indira pun menyerah terhadap Tamara. Dia duduk di samping Daven dengan wajah sendum


"Ini masih pagi non. Tolong itu wajah dikondisikan biar enak ngelihatnya", ucap Daven saat menoleh ke arah Indira.


Dosen keburu masuk sebelum Indira sempat menyentil jidat Daven. Indira pun mengalihkan perhatiannya pada Tamara yang duduk tepat di depan Daven. Dia melihat Tamara sedang membaca selembar kertas berwarna yang penuh dengan tulisan.


"Sudah jangan di lihat lagi! Nanti aku berikan surat yang lebih bagus", bisik Daven di dekat Indira yang juga melihat apa yang dilakukan oleh Tamara. Namun Indira menatapnya tajam sebagai balasan. "Galak amat! Aku kan cuma mau membantu", bisiknya kembali.


 


Setelah jam kuliah selesai, Indira bergegas mengikuti langkah Tamara yang berjalan menuju kantin. Namun Tamara bersikap seakan tidak menganggap keberadaannya.


Saat ini Indira sedang mengacak-acak nasi goreng pesanannya. Padahal pagi ini Indira sudah melewatkan sarapan paginya, pastilah cacing dalam perutnya mulai demo.


"Salah apa coba itu nasi goreng?" Daven yang sengaja mengikuti Indira, duduk dihadapannya.


"Apa kita saling akrab?" tanya Indira yang mulai jengah melihat Daven selalu ada disekitarnya.


"Mulai hari ini kita akrab!" ucap Daven dengan tegas seraya menarik kedua sudut bibirnya. Namun hal itu berhasil di dengar oleh Theo yang berjalan melewati belakang Indira. Entah kenapa dia tidak suka dengan perkataan Daven itu.


"Siapa yang mau akrab dengan pecundang!" ucap Indira yang berhasil mengusik perhatian Tamara.


"Apa kau masih terus membela sahabatmu yang sudah tidak menganggapmu lagi?" Daven sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh Tamara yang duduk berseberang meja dengan mereka.


"Mungkin kau tidak pernah punya sahabat dan tidak tahu artinya sahabat", ucap Indira yang membuat raut wajah Daven berubah seketika.


"Kau tidak tahu apa-apa tentangku!" ucap Daven dengan menatap tajam ke arah Indira. Lalu dia meninggalkan Indira yang masih menatapnya dengan wajah bingung.


Tamara berjalan menghampiri meja Indira. "Cih, ternyata tidak ada seorang pun yang menyukaimu!" seru Tamara, lalu dia berjalan meninggalkan Indira yang sedang duduk dengan muka cengo.

__ADS_1


Kenapa tidak ada orang yang menyukaiku? Kenapa tidak ada yang memahamiku? Batin Indira.


Indira meneguk sisa minuman di dalam gelas yang ada di atas meja, lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kantin. Theo yang sedang duduk di sudut kantin kampus menatap kepergian Indira dengan serius, karena sejak pernikahannya dengan Indira, dia selalu memperhatikan setiap gerak gerik Indira dan berusaha mengumpulkan bukti perbuatan jahat Indira.


__ADS_2