
Tiara tertawa kala melihat reaksi gugup Theo. "Ternyata kau tidak berubah, sayang. Kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu."
Theo berdehem menutupi rasa gugupnya. "Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Katakan di mana putraku?"
Tiara mendekati Theo. Dia menatap sendu wajah Theo. "Apakah tidak ada cinta lagi buatku?" tanya Tiara lirih.
Theo menghela nafas dan berusaha tenang dalam menghadapi Tiara. "Aku akui kau adalah cinta pertamaku. Aku bahkan pernah berfikir akan menikah dan memiliki anak-anak yang lucu bersamamu", ucap Theo seraya berjalan menuju sofa, lalu dia menjatuhkan bobot badannya di sana.
"Sekarang belum terlambat, sayang. Kita masih bisa mewujudkannya", sahut Tiara dengan penuh semangat. Dia pun duduk di samping Theo.
"Tiara, aku mohon sadarlah! Aku sudah memiliki istri dan anak. Kita tidak mungkin bersama lagi."
"Masih bisa, sayang! Asalkan istri dan anakmu pergi, maka kita bisa bersatu kembali", ujarnya dengan tersenyum.
"Walaupun istri dan anakku pergi, aku tidak akan pernah kembali padamu!" tegas Theo.
Tiba-tiba pintu di ketuk. Tiara mulai panik. Dia bangkit dari kursi dan meminta Theo sembunyi.
"Iya, sebentar!" serunya seraya berjalan menuju pintu.
Ceklek.
"Kalian siapa?" tanya Tiara saat melihat beberapa pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Lalu salah seorang pria mengarahkan layar ponselnya pada Tiara.
"Sepertinya kau mengabaikan ucapanku, sayang!" ucap Mark saat wajahnya terlihat jelas di layar ponsel.
"Ka- kau salah paham, sayang", sahut Tiara dengan gugup.
"Bagaimana mungkin aku salah paham. Ada 2 orang pria di dalam rumahku, saat aku sedang tidak berada di rumah."
Tiara mendelik, dia tidak menyangka Mark masih dapat melihatnya, walau dia sudah memadamkan semua CCTV di rumah.
"A- aku bisa menjelaskannya." Tiara berusaha membuat Mark tenang.
"Apa kau pikir karena aku sangat menyayangimu, kau bisa berbuat sesukamu!" tanya Mark dengan wajah garang.
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu sayang. Aku hanya -- "
"Hentikan! Aku muak mendengar kata sayang yang keluar dari mulutmu!" teriak Mark seolah ingin keluar dari dalam ponsel dan menghukum Tiara segera.
Tiara tidak dapat mengelak lagi. Dia mematung menatap layar ponsel yang sudah padam itu.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Kami harus melakukan sesuai perintah Tuan. Nyonya akan kami bawa", ujar pria yang sebelumnya memberi ponsel.
"Kalian mau membawa aku kemana?" tanya Tiara yang tidak rela tangannya di sentuh oleh para pria berpakaian hitam itu.
"Tolong Nyonya bekerjasama dengan kami. Kalau tidak Nyonya akan menghadapi kemarahan Tuan yang lebih besar."
Tiara pun patuh. Dia mengikuti arahan pria itu. Lalu salah seorang pria berbaju hitam masuk ke dalam rumah. Dia menghampiri Theo, kemudian memberinya sebuah kunci.
Theo menerimanya dengan ragu.
"Putramu ada di lantai 2, kamar ke dua di sebelah kanan", kata pria itu memberi petunjuk. Lalu dia pergi meninggalkan Theo.
Radit pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berjalan menghampiri Theo. "Kalau aku tahu semudah itu untuk mendapatkannya, aku tidak akan berakting pura-pura sakit perut", keluh Radit.
"Kita jangan senang dulu. Siapa tahu ini jebakan yang sengaja mereka buat."
"Biar lebih pasti, kita cek saja dulu", balas Radit.
Theo dan Radit berjalan menaiki anak tangga. Mereka pergi ke kamar sesuai petunjuk pria itu.
"Ini kamarnya", kata Theo seraya memegang knop pintu dan membukanya perlahan.
Sorot mata Theo mulai menyusuri setiap sudut ruangan. "Rafa... " panggilnya saat tidak melihat keberadaan putranya.
Theo dan Radit mendengar suara. Mereka masuk ke dalam ruangan itu lebih dalam lagi.
"Rafa!" teriak Theo saat menemukan putranya duduk di lantai dengan tangan dan kaki t**ikat bahkan mulutnya pun di beri penutup.
"Putraku", ucap Theo seraya membebaskannya. Theo langsung memeluk erat putranya itu dengan rasa haru. "Maafkan Papa, sayang", lanjutnya dengan memberi banyak ciuman padanya.
"Ayo, kita keluar dari sini", ajak Radit yang tidak ingin timbul masalah lain.
Mereka bergegas keluar dari rumah Mark dan berjalan menuju mobil di parkir.
Indira buru-buru keluar dari dalam mobil Daven yang di parkir tidak jauh dari mobil Theo.
"Rafa...", panggil Indira seraya berlari dengan kencang.
Theo menatap tidak suka ke arah Daven. Dia ingin menghampiri Daven, namun dia urungkan karena sedang merasa bahagia saat Indira memeluk Rafa dan juga dirinya.
"Kau baik-baik saja kan, Nak?" tanya Indira dengan meneliti seluruh tubuh Rafa.
__ADS_1
"Mama..." panggil Rafa lirih. Dia tampak pucat dan ketakutan, karena selama 2 hari bersama orang yang tidak dia kenal.
"Mama di sini sayang", balas Indira dengan mengusap lembut wajah Rafa.
"Ayo, pulang Ma", sambungnya dengan suara pelan.
"Iya, sayang. Kita langsung pulang", jawab Indira dengan lembut.
Lalu Theo membawa putranya masuk ke dalam mobil, Indira pun mengikutinya.
"Radit tolong sampaikan terimakasih pada Daven. Katakan kita langsung pulang", ucap Theo saat Radit baru saja membuka pintu mobil.
Radit pun berlari untuk menyampaikan pesan Theo. Lalu dia kembali masuk ke dalam mobil, setelah selesai berbicara pada Daven. Sorot mata Daven menatap mobil Theo yang semakin menjauh.
Semoga kau membuat pilihan yang tepat, Dira. Ucap Daven di dalam batinnya.
...---...
Tak butuh waktu yang lama, Theo sudah masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia menepikan kendaraannya tepat di depan teras utama.
Ratu berlari terburu-buru hingga selipar yang dia kenakan berbeda model. "Rafa... Cucuku sayang", teriak Ratu saat Indira ke luar dari dalam mobil seraya menggendong Rafa.
"Syukurlah kau selamat cucuku", lanjut Ratu sembari mencium haru cucunya itu.
"Ayo, kita ke dalam dulu, Mom", ajak Theo dengan menuntun istrinya yang sedang memangku Rafa masuk ke dalam rumah.
"Iya, kamu benar. Tadi Mommy terlalu bahagia mendengar kabar tentang Rafa, makanya Mommy datang menyambut kalian", sahut Ratu seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kakak ipar, bagaimana keadaan Rafa?" tanya Tamara yang juga menunggu kedatangan Theo dan Indira.
"Dia baik-baik saja", balas Indira. "Bi Iyem, tolong buatkan Rafa sup daging", pinta Indira saat sang bibi sedang berjalan menuju arah dapur.
"Baik, Non", balas Bi Iyem dengan ramah. Lalu dia berjalan menuju arah dapur.
"Duduklah dulu", ajak Ratu pada menantu dan cucunya itu. Indira pun menurutinya. Dia duduk di sofa masih dengan menggendong putranya.
"Bagaimana kalian bisa membawa Rafa keluar dari rumah Mark?" tanya Ratu yang sedari tadi menahan rasa penasarannya.
"Kita bicarakan nanti saja ya, Mom. Biarkan Dira membawa Rafa mandi dan istirahat dulu", jawab Theo.
"Silahkan, Nak. Setelah makan malam kita bahas kembali," sahut Ratu.
__ADS_1
Theo kembali menuntun istri dan anaknya naik ke atas menuju kamar Indira.