Love Me Tender

Love Me Tender
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Theo tiba-tiba muncul dari sisi kanan mereka.


"Kakak dari mana saja? Dira sedari tadi gelisah nungguin kakak!" Tamara emosi sembari berkacak pinggang.


"Maaf, tadi kakak jumpa teman lama. Karena asyik ngobrol, kakak lupa kalau tiket kakak yang pegang."


Tiba-tiba Indira beranjak dari posisinya berdiri, lalu dia berjalan meninggalkan mereka bertiga tanpa mengucapkan sepata kata.


"Dira... Hei, Dira. Tunggu!" Theo mengejar langkah Indira, hingga langkah mereka sejajar.


"Ayo, aku antar pulang", ucap Saka menawarkan diri saat melihat Theo dan Indira sudah berjalan jauh mendahului mereka.


Tamara menatap Saka dengan tersenyum. "Ayo", balasnya.


Lalu mereka berjalan bersama menuju parkiran. Malam ini Tamara merasa bahagia, karena saat menonton film bersama, Saka tanpa sengaja memegang tangannya.


 


Di halaman rumah Theo.


Indira langsung turun dari mobil saat Theo baru saja memarkirkan mobilnya di garasi.


"Hei, tunggu dulu!" Theo langsung mengejar langkah Indira. Namun Indira mengabaikannya, dia terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke arah Theo. Bahkan kedua mertuanya yang sedang duduk di sofa luput dari pandangan Indira.


"Malam..." sapa Ratu saat melihat Theo mengekori Indira, namun sapaannya itu tidak berbalas.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Ratu pada Tamara yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Tamara berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Sebenarnya semua itu salahnya kak Theo, mom. Bisa-bisanya kakak pergi menemui temannya dan meninggalkan kakak ipar seorang diri di pintu masuk bioskop. Mommy bayangin aja gimana kesalnya kakak ipar."


Ratu tersulut emosi saat mendengarkan ucapan Tamara. "Jangankan Dira, mommy aja kalau digituin pasti marah besar."


"Iya, mommy benar." Tamara semakin menyulut emosi Ratu.


"Kalau begitu mommy mau marahin Theo."


"Sudah! Mommy jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka. Kita doakan saja, semoga Theo dan menantu kita dapat menyelesaikan masalahnya", ucap Raja dengan tegas. Dia tak ingin campur tangan sang istri semakin memperkeruh masalah anak dan menantunya itu.


"Kalau gitu, Ara pamit mau ke kamar ya dad, mom." Tamara beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih betah duduk di sofa.


 

__ADS_1


Di dalam kamar Theo.


Indira baru saja keluar dari dalam kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual malamnya. Dia berjalan menuju tempat tidur, memungut bantal dan selimut. Lalu dia membalikkan badannya berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Theo yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Indira, akhirnya beranjak dari posisinya dan berjalan menghampiri Indira. "Jangan marah lagi dong. Kakak kan sudah minta maaf."


Indira bergeming bahkan dia sudah memejamkan matanya.


"Apa yang harus kakak lakukan supaya kau mau memaafkan kakak?" Theo memelas, agar sang istri bicara padanya. Dia sudah siap menerima konsekuensi dari hasil perbuatannya sendiri.


Hening.


Indira masih bergeming di dalam tidurnya. Yang terdengar hanya hembusan nafasnya.


"Kamu beneran udah tidur?" Theo menoel-noel pipi sang istri sembari menunggu reaksinya. Namun sang istri tidak merespon sentuhannya.


Theo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tak berselang lama dia keluar dari kamar mandi. Sorot matanya melihat ke arah Indira yang sedang menggeser badannya.


"Apa dia sudah benar-benar tertidur?" ucapnya bergumam. Lalu Theo naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sana dan menatap langit-langit kamarnya.


 


Malam sudah berganti pagi, membangunkan raga yang tertidur dan memberi semangat di hari ini. Meskipun hari ini adalah akhir pekan, Indira tetap bersemangat untuk melakukan aktifitas sebagai seorang istri. Dia memasak sarapan pagi spesial di pagi hari.


"Wah, wanginya enak sekali", ucap Ratu yang baru datang bersama sang suami. "Ini bibi yang masak?"


"Sudah pasti enak, nih." ujar Ratu sambil menelan salivanya.


"Anak-anak belum ada yang turun untuk sarapan, bi?" Raja memperhatikan makanan di atas meja makan seperti belum ada yang menyentuh.


"Belum ada yang turun, Tuan. Hanya non Dira yang turun untuk memasak, setelah itu dia naik lagi ke atas."


"Oke, bi", sahut Raja sembari meraih semangkok bubur ayam dari tangan sang istri.


"Umm, wanginya enak nih mom."


"Iya dad, coba daddy cicipi. Pasti rasanya juga enak."


Raja memasukkan sesendok bubur ayam ke dalam mulutnya, mengunyah dan menikmatinya, lalu dia mengacungkan jempolnya. "Yummy, mom."


Ratu tersenyum mendengar penuturan sang suami. "Ternyata menantu kita jago masak ya, dad", ucap Ratu yang di balas dengan anggukan oleh sang suami.


 

__ADS_1


Di dalam kamar Indira berjalan dengan gelisah. Sorot matanya selalu tertuju pada ponsel sang suami. Seseorang tiada henti menghubungi Theo. "Siapa dia? Kenapa dia berkali-kali menghubungi suamiku?" Indira terus bertanya-tanya.


Ceklek.


Theo keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya. "Apa ponselku berdering?" tanya Theo.


"Iya", balas Indira dengan singkat. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi.


"Tunggu dulu." Theo mencekal tangan Indira, hingga memaksanya berhenti.


Indira menoleh dengan malas ke arah sang suami. "Ada apa?"


"Apa kau masih marah?"


"Jika kakak menceritakan semuanya dengan jelas, aku tidak akan marah lagi."


Theo terdiam sejenak sembari menghela nafas. "Oke, kakak akan menceritakan semuanya. Tapi setelah berpakaian, ya."


Indira mengangguk dengan cepat. Lalu Theo melepaskan pegangannya dan berjalan menuju walk-in closet.


Tidak butuh waktu yang lama Theo sudah berjalan keluar dari dalam walk-in closet dengan berpakaian rapi.


Drrt. Drrt.


Terdengar suara ponsel Theo yang berdering kembali. Dia pun buru-buru berjalan menuju nakas. Diraihnya ponsel itu dengan cepat, namun jarinya terhenti kala membaca nama sipenelpon.


Theo melirik Indira sekilas, lalu dia berjalan menuju balkon dan menutup rapat pintu. Setelah dia memastikan tidak akan ada yang mendengar perbincangannya. Dia langsung menggeser tombol hijau diponselnya.


Dari dalam kamar Indira berusaha membaca gerak bibir Theo, namun dia tidak berhasil, karena dia bukan ahli di bidang itu.


Indira bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Hanya butuh waktu 15 menit Indira sudah menyelesaikan ritual mandinya. Lalu dia menoleh ke sekeliling, namun tidak ada seorang pun di sana.


"Kak Theo dimana?" ucapnya bergumam saat tidak melihat keberadaan sang suami. "Mungkin dia sudah turun duluan", tebak Indira. Kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju walk-in closet.


Tak butuh waktu yang lama Indira sudah keluar dengan berpakaiajn rapi. Dia pun memutuskan untuk menyusul sang suami di ruang makan.


"Pagi daddy... Pagi mommy", sapa Indira saat kedua mertuanya itu sedang duduk di kursi makan dengan perut kekenyangan.


"Apa mommy melihat kak Theo?"


"Iya... Tadi Theo pamit keluar. Katanya ada hal urgent yang harus dia selesaikan."


Indira mengernyitkan keningnya. "Emangnya hal penting apa yang mau dia selesaikan?"

__ADS_1


"Mommy juga tidak tahu."


Indira duduk di kursi kosong dengan lesu. Dia kembali berdecak kesal kala mengingat si penelpon yang tidak berhenti menelepon Theo itu. "Siapa wanita itu?" Indira mulai penasaran dibuatnya.


__ADS_2