
Malam telah meninggalkan cahayanya, menemani raga yang sudah lelah agar segera mengistirahatkan diri sejenak dari rasa penat setelah sehari penuh beraktifitas.
Malam ini di ruang tamu keluarga Theo terdengar suara riuh, saat sang kakek dan nenek dari keluarga sang daddy datang berkunjung.
Baru juga tadi siang daddy ngomongin kakek, eh udah nongol aja, batin Theo.
"Ada apa dengan cucu kakek yang tampan ini, dari tadi kakek lihat melamun saja. Apa lagi mikirin calon cucu mantu kakek?" tanya sang kakek yang membuat keluarga Theo terdiam.
"Siapa nama si kaki panjang itu, ma?" sang kakek melanjutkan ucapannya dengan bertanya pada sang istri. Theo ngedumel di dalam batinnya saat mendengar sebutan yang dlontarkan pada wanita cinta pertamanya itu.
"Mama juga lupa, pa", sahut sang istri yang tidak tertarik untuk mengingatnya.
Raja mengalihkan perhatian papa dan mamanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui pernikahan yang terpaksa dilakoni oleh Theo, cucu kesayangan kedua orangtuanya itu.
"Theo masih fokus pada bisnis dulu, pa", ucapnya mewakili sang anak..
"Buat apa mikirin bisnis. Apa tidak cukup warisan ysng papa berikan?" ujar sang papa pada Raja.
Di sela perbincangan mereka, Indira datang menghampiri sembari membawa air minum dan kudapan di atas nampan.
"Ini siapa?" Sang kakek menatap lekat wajah Indira. "Wajahnya kayak mirip seseorang ya, ma", tanya sang kakek pada sang istri.
"Mama juga lupa. Mungkin pernah lihat di salah satu kota yang kita kunjungi, pa", sahut sang istri.
Sang kakek manggut-manggut. "Bisa jadi, ma. Tapi dia ini siapa?"
Seluruh keluarga Theo terdiam, mereka takut untuk berbohong pada sang kakek, karena jika ketahuan maka konsekuensinya sang kakek akan menyita warisan yang sudah dia berikan atau bahkan mencoret namanya dari daftar ahli waris.
Raja mulai berdehem memecah kebisuan mereka. "Namanya Indira, pa. Dia teman satu kampus cucu papa, Tamara", ujarnya.
"Jadi kenapa kalian perlakukan dia seperti pelayan", suara meninggi sang kakek membuat Raja dan keluarganya takut. "Sini cu, duduk dekat kakek", ucapnya seraya menarik tangan Indira sesaat setelah Indira sudah memindahkan semua isi nampan di atas meja, hingga Indira terpaksa duduk di antara kakek dan nenek Theo.
"Namanya mirip dengan orang yang pernah menolong papa waktu di desa. Papa masih ingat kan?" ujar sang istri tatkala mengingat kejadian 10 tahun yang lalu, saat mereka berkunjung ke sebuah desa, untuk menawarkan supply produk dari pabrik milik sang kakek.
"Tentu papa ingat kejadiam itu. Tapi namanya In..."
"Indra, pa", sahut sang istri yang tidak pernah melupakan kejadian saat itu.
__ADS_1
"Mama bener. Dan wajahnya juga sangat mirip."
"Di dunia ini banyak wajah orang yang mirip pa, ma." Ratu menimpali ucapan sang mertua. "Dan belum tentu juga mereka punya hubungan atau bahkan tidak saling kenal."
Sang kakek menatap serius menantunya itu. "Tapi tidak ada kebetulan yang sama", ujar sang kakek. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Indira.
"Siapa nama ayahmu, cu?" tanyanya dengan lembut.
Indira terdiam sesaat. "Indrawan, kek", sahutnya seraya tersenyum.
"Apa kau punya foto ayahmu?"
"Ada, tunggu sebentar ya, kek", sahut Indira dengan semangat. Lalu dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
Tak berselang lama Indira datang menghampiri mereka sembari memeluk sebuah bingkai foto.
"Ini, kek", ucap Indira seraya menyerahkan bingkai foto dari tangannya. Sang kakek pun langsung meraih bingkai foto itu.
"Coba lihat, pa", pinta sang istri yang lebih mengenali wajah orang tersebut. Sang kakek dan istrinya seketika mendelik tatkala melihat foto orang tua Indira. "Jadi kau putrinya Indra!" ucap sang kakek masih dengan mata melotot.
Kakek dan nenek Theo terlihat sangat bahagia, seakan baru saja menemukan anaknya yang hilang. "Jadi sekarang kalian tinggal di kota ini?" tanya sang kakek penuh antusias.
Indira tertunduk lesu. Namun sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya menatap sang kakek dengan wajah sendu.
"Apa sesuatu terjadi pada orang tuamu?" tanya sang kakek dengan penasaran.
"Mereka sudah meninggal 3 tahun yang lalu, kek", sahut Indira lirih. "Kapal ayah dan ibu tiba-tiba tenggelam saat datang banjir bandang. Ibu tidak terlalu mahir berenang. Jadi mereka sama-sama terseret arus." Indira tertunduk sembari mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
Sang kakek dan nenek pun turut merasakan kesedihan Indira. "Jadi kamu tinggal sama siapa sekarang?" tanya sang kakek lirih.
"Dia pembantu di sini, Tuan", celetuk sang bibi yang tiba-tiba datang dari arah dapur hingga membuat seluruh keluarga Theo terkesiap. "Ini teh hijau kesukaan Tuan." Bi Iyem meletakkan secangkir teh hijau hangat di atas meja.
"Apa benar yang di katakan oleh bi Iyem?" tanya sang kakek seraya menatap anak, menantu dan cicunya satu persatu.
"Bu- bukan kek", elak Tamara.
__ADS_1
"Jawab yang benar!" teriak sang kakek hingga membuat semua yang ada dalam ruangan itu tersentak kaget.
"Dia cucu menantu papa", sahut Raja dengan jujur.
"Apa?" teriak sang kakek dan istrinya bersamaan.
Bi Iyem bereaksi kaget. Dia langsung beringsut mundur, hingga hampir sempoyongan.
"Ma- maaf, Tuan. Bibi gak tahu sebelumnya", ucap sang bibi dengan gemetar.
"Benar, pa. Bi Iyem gak tau apa-apa." Raja menimpali ucapan bi Iyem.
"Jelaskan semuanya sekarang!" Sang kakek berbicara dengan tegas sembari menatap tajam anggota keluarga Raja satu per satu.
Indira yang di apit antara kakek dan nenek pun ikut merasa tegang.
Raja mulai menceritakan sesuai dengan apa yang dia ketahui. Di mulai dari penggrebekan Theo dan Indira di kamar kosnya hingga ancaman pemilik kos dan warga yang ingin mengarak mereka kellling kompleks.
"Jadi mereka di arak?" tanya sang kakek.
Raja menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak di arak pa. Tapi di paksa menikah."
Sang kakek terdiam sesaat. "Apa waktu itu tidak ada solusi lain?"
"Tidak ada pa. Pilihannya hanya itu. Jika tidak dituruti mereka akan membawa masalah itu ke kantor polisi."
Sang kakek pun manggut-manggut. "Tapi itu tidak menjadi masalah bagi kakek."
"Tapi masalah bagi Theo, kek. Karena wanita ini sudah menjebak Theo!" Tatapan sinis Theo membuat Indira semakin sedih.
"Apa kau yakin dia yang menjebakmu?" tanya sang kakek.
"Sangat yakin kek! Karena dia dengan sengaja mengirim pesan yang mengatakan preman yang mengejarnya sore itu sedang menunggu di gerbang kosnya."
Sang kakek menoleh ke arah Indira "Boleh kakek pinjam ponselmu?"
"Boleh kek", sahut Indira sembari bangkit dari posisinya duduk. Lalu dia berjalan menuju kamarnya, karena Indira tidak pernah membawa-bawa ponselnya jika sedang berada di rumah.
__ADS_1
"Kau memang bukan seorang programmer, tapi setidaknya kau bisa meminta bantuan IT di kantor untuk melacak si pengirim sebenarnya."
Theo tersentak kaget mendengar kata-kata sang kakek, seakan sindiran halus yang menyatakan dirinya bodoh. Bagaimana mungkin kakek akan mengizinkanku menjadi CEO di kantor Daddy, batin Theo.