Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 34


__ADS_3

Michi berjalan dengan tergesa-gesa, ia harus segera pulang untuk membantu Max menyiapkan kejutan untuk Arumi.


Brugh


Michi tak sengaja menabrak lengan seorang pria.


"Maaf, maaf saya sedang buru-buru," ujar Michi dengan membungkuk minta maaf, setelah mengambil paper bag miliknya yang jatuh.


Pria itu mengerutkan keningnya, melihat Michi dengan kesal di balik kacamata warna pink yang ia pakai.


"Maaf mu tidak bisa membersihkan jaket ku Nona!"


Michi melihat jaket hijau yang melekat di tubuh pria itu kotor karena kopi yang ia bawa tumpah. Gadis sipit itu menyengir kuda.


"Aduh, saya benar-benar minta maaf. Saya sedang buru-buru."


"Hei ... Hei apa yang kau lakukan!" Pria yang mengunakan masker itu berteriak saat gadis berambut biru itu mencoba menurunkan resleting jaketnya.


Michi tak menjawab, meski pria itu mencoba mengelak tapi Michi terus mendorong dan menyingkirkan tangan yang menghalanginya.


"Sebenarnya apa yang mau kau lakukan Nona? Apa kau mau memperkosa ku?!" Pekik pria itu kesal.


Michi berdecak kesal, sambil menghentakkan kakinya.


"Lepaskan jaket mu!"


"Untuk apa?"


"Cepat lepaskan!" Pinta Michi dengan nada memerintah, tak ingin berdebat pria itu melepaskan jaketnya.


"Makasih." Michi langsung merebut jaket itu dan membawanya pergi tanpa pamit pada sang empunya.


"Hei!"


"Aku cuciin, ntar aku kembalikan!" Sahut Michi tanpa menoleh, malah semakin mempercepat langkahnya.


Pria yang baru saja kehilangan jaketnya hanya bisa menggeleng heran, mengerakkan kedua tangannya ke atas mengisyaratkan bahwa kepasrahannya.


Michi yang sedang di kejar waktu, berlari menuju mobilnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sedangkan acara yang di inginkan Max rencananya akan dilakukan pukul tujuh malam, semua karena gaun yang di pesan Michi untuk Arumi harus di permak di beberapa bagian.


Gadis bermata sipit itu mengigit bibir bawahnya, matanya fokus pada jalanan sambil terus menambah kecepatan. Takut telat, ia menyalip beberapa kendaraan sambil terus mengumpat kasar. Ia tak ingin mengecewakan Max, ini adalah pertama kalinya Max mempercayakan hal yang begitu penting pada Michi, dia tidak boleh gagal.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Malam temaram, lampu-lampu kecil di taman belakang menyala dengan berbagai warna. Sebuah meja lengkap dengan lilin dan dua mangkok mie ayam yang tersaji hangat.


"Ini mau kemana sih Kak?" Tanya Arumi yang berjalan dengan di tuntun oleh Michi.


"Udah ikut aja, spesial pokoknya," jawab Michi tanpa melepas tangannya.


Memakai dress warna merah dengan taburan berlian swarovski, membuat Arumi tampak begitu cantik. Rambut yang Michi biarkan tergerai dengan kepang kecil dan hiasan bunga ala-ala telenovela. Rambut Arumi yang tadinya hitam lurus, sedikit berubah menjadi bergelombang besar, kuku lentik gadis itu tak luput dari make over. Michi dan calon kakak iparnya itu menghabiskan banyak waktu, meski terlihat sedikit tomboi Michi punya tangan ajaib yang sangat ahli.


Arumi memegang tangan tangan Michi, langkahnya sedikit tertatih, kaki Arumi belum terbiasa memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam seperti yang melekat di kakinya sekarang.


Max berkali-kali membenarkan kemeja berwarna senada dengan gaun yang Arumi kenakan, mengusap rambut yang sudah tertata rapi. Tangan pria tampan itu basah karena keringat dingin yang mengucur deras karena gugup, padahal ia sudah menyiapkan dari sebelumnya. Tapi tetap saja ia merasa gugup.


Michi mengulurkan tangan Arumi, memindahkan tangan lentik itu ke genggaman sang pangeran. Gadis berambut biru itu tersenyum mengejek pada Kakaknya, Max tak mempedulikan sang adik. Mata elangnya fokus pada kecantikan Arumi yang begitu mempesona, meskipun kain hitam menutup mata gadis itu.


"Semoga beruntung Kak," bisik Michi sambil menepuk pundak bahu kakaknya. Max mengangguk tanpa menoleh.


"Kak Michi?"


Tak ada yang menyahut, hanya genggaman tangan besar itu yang terasa mengerat. Dalam kebingungan Arumi mengikuti langkah tangan yang menuntunnya ke depan. Sejujurnya ia sangat bingung dengan apa yang terjadi , sejak pulang sekolah tadi. Sejak pulang sekolah tadi, orang-orang di rumah tampak sangat sibuk. Tetapi Arumi dilarang untuk membantu, bahkan dia tidak boleh keluar kamar.


"Duduklah." Max membantu Arumi untuk duduk dan sedikit menekan bahunya.


"Kak Max?"


"Hem," jawab Max singkat sambil membuka simpul ikatan kain yang menutup mata Arumi.


'Harum sekali.'


Harum sampo menguar, saat Max sedikit menunduk untuk membuka kain. Tanpa sungkan Max mendaratkan ciuman di pucuk rambut Arumi.


"Ap-apa yang Kakak lakukan?" Lirih Arumi, tubuhnya menegang ada gelayar hebat yang membuat merinding.

__ADS_1


Max tak menjawab, ia sendiri sudah gugup setengah mati. Takut jika Arumi marah, max melangkah lalu duduk di kursi yang ada didepan Arumi.


'Kenapa Kak Max mencium ku, dan apa semua ini?'


"Makanlah, kau pasti laparkan."


"I -ya," Arumi mengangguk,ia mengedarkan pandangannya suasana romantis terasa begitu romantis tetapi juga canggung.


Arumi tersenyum tipis saat melihat hidangan yang tersaji dihadapannya. Semangkuk mie ayam kesukaan Arumi, lengkap dengan pangsit goreng dan sambal. Aroma gurih sungguh menggoda, membuat air liur Arumi hampir menetes.


Rasa gugup Max sedikit menguap, melihat Arum yang menikmati mie ayam miliknya.


"Apa kau suka?" Tanya Max basa-basi.


"Emh ...." Arumi hanya bergumam, karena mulutnya penuh dengan makanan yang belum di kunyah sempurna. Dia sangat kelaparan, sedari siang dia tidak makan apapun, karena Michi yang begitu sibuk meriasnya, sampai Arumi tidak berani berkata kalau dia sedang lapar.


Sesekali Arumi melihat pada pria yang terlihat begitu sempurna dan berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Gadis manis itu gugup tetapi juga tidak bisa menahan lapar, dengan menyisihkan rasa malu, Arumi melahap mie ayam tanpa sayur dengan cepat.


Max mengusap tengkuk, mennyungar rambut dan membenarkan kemeja yang sama sekali tidak berantakan, ia juga mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya. Angin malam yang berhembus tak bisa mendinginkan tubuh Max yang gerah karena gugup.


"Gerah ya," ujar Max sambil tersenyum kaku, pria sipit itu mencoba mencairkan suasana agar tidak begitu canggung.


Arumi hanya mengangguk. Tangan gadis itu terulur hendak mengambil tisu, tetapi Max mendahuluinya dan langsung membersihkan ujung bibir Arumi. Detak jantung kedua insan itu berdebar kencang, saling bersahutan.


Wajah Arumi memerah, tersipu menadapat perlakuan yang begitu manis dari Max.


"Rum."


"Iya Kak," jawab Arumi tanpa mengangkat wajahnya.


"Kamu suka nggak?"


"Suka apa? Mie ayam?"


"Mie ayam, baju yang kamu pakai, makan malam ini, suasananya. Apa kamu suka?"


"Iya, Arumi suka."


"Kalau aku?"


"Hah? Apa?" Arumi yang terkejut langsung mengangkat kepala, menatap Max dengan mata yang melebar dan mulut yang terbuka. Terlihat sangat imut dimata Max.

__ADS_1


"Apa kau suka padaku Arumi?"


__ADS_2