
Bulan mulai memainkan peran, menggantikan posisi matahari yang sudah beranjak ke peraduan. Meskipun hanya separuh, tetapi itu tak mengurangi keindahannya. Dengan bias hangat rembulan menghiasi malam bersama bintang yang berkerlip indah.
Malam ini, keluarga Dylan mengadakan makan bersama di luar. Juminten dan Dylan ingin mengumumkan sesuatu pada anak-anak mereka. Mereka memboking tempat di restoran Chinese, tempat favorit mereka.
"Ehem ... Malam ini Papi ingin mengumumkan sesuatu!" Tutur Dylan sedikit keras agar bisa menarik perhatian semua yang ada di ruangan itu.
Max, Matthew, dan Michi menoleh, mereka meletakkan sumpit bambu yang tadinya mereka pegang.
"Mi." Dylan mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri.
Juminten menatap wajah ketiga anaknya dengan senyuman canggung.
"Kalian akan punya adik ... Yeah!" Teriak Dylan penuh semangat.
Krik ... Krik....
Tak ada resep yang berarti dari triplex, mereka hanya menatap orang tua mereka dengan diam, tanpa ekspresi. Senyum di wajah Dylan perlahan mengendur perlahan, ia kemudian kembali duduk sambil menghela nafa kecewa. Ia kira anak-anak akan sama antusias dengan dirinya, mereka akan melompat, berteriak kegirangan.
"Kamu kenapa? Loyo kayak sayur kematangan," goda Erick.
"Ape Lo?!" Sahut Dylan dengan mencebikkan bibirnya kesal, persis seperti bebek.
"Hahahaha ...!"
Tiba-tiba tawa semua orang di ruang itu pecah, Michi bangkit dari duduknya. Ia berjalan kearah sang papi, kemudian memeluk pria itu erat. Dylan melongo melihat tingkah semua orang.
"Selamat ya Pi. Aku seneng banget punya adik, tapi harus cewek. Awas aja kalau cowok, aku suruh dia masuk lagi ke perut Mami," ancam Michi, terdengar cukup mengerikan ditelinga Dylan.
"Michi, jangan goda Papi terus," tegur Juminten.
Michi tergelak. " Michi bercanda kok Pi, peace!"
Gadis dengan rambut yang di kuncir tinggi itu mengacungkan kedua jari, isyarat damai.
Semua sepakat membuat kejutan untuk Dylan. Sebenarnya Max dan kedua adiknya sudah curiga dengan sakit Dylan. Apalagi manja laki-laki itu nggak ketulungan, dia tidak bisa sedetik saja tanpa Juminten. Max dan adik-adiknya mempunyai sifat yang peka, tentu saja mereka curiga dan ternyata dugaan mereka benar.
Si Mami memang hamil, Juminten mengaku setelah ketiga remaja itu mendesak. Membordir dengan pesan suara atau pesan biasa, belum lagi telepon yang tak kunjung henti. Itu terjadi saat ia sengaja pergi ke minimarket bersama Lee, memberikan waktu pada saudara kembar yang baru bertemu.
"Jadi kalian udah tau ya, nggak surprise lagi dong," protes Dylan, dengan wajah masam.
__ADS_1
"Udah nggak usah lebay, udah gede malu," sindir Erick, yang sengaja menggoda adik kembarnya itu.
Dylan memberi tatapan tajam pada pria yang begitu mirip dengan dirinya itu, Erick semakin terkekeh melihat tingkah Dylan yang merajuk. Tak ubahnya seperti anak kecil yang yang kehilangan permen.
Makan malam berlalu begitu hangat, semua keluarga berkumpul. Tertawa dan berbagi cerita bersama, meski Erick notabenenya baru bergabung dengan keluarga Dylan, tak ada rasa canggung.
Ia begitu bersyukur bisa bertemu dengan saudara kembarnya, melihat ia punya kehidupan dan keluarga yang bahagia. Sudut mata pria itu mengembun, melihat Dylan yang sedang digoda Michi dan adiknya Matthew.
Lee yang sadar akan hal itu, segera memberi pelukan untuk sang suami dari samping. Erick menoleh kepada sang istri, keduanya saling tersenyum. Tangan Erick mengusap kepala Lee, kemudian mengecup dengan hangat.
"Ciiie ... Pengantin baru, dunia serasa milik berdua, yang lain suruh ngontrak," cibir Michi, membuat Lee tersipu malu.
"Jangan goda Tante Lee, atau angpao ini Om simpan lagi," ujar Erick sambil mengibaskan tiga lembar amplop merah yang membuat mata Michi langsung hijau.
"Nggak-nggak, aku nggak goda Tante Lee kok, aku kan anak baik," sahut Michi cepat.
Tangan Michi bergerak cepat menyambar benda merah itu, tapi masih kalah cepat dengan gerakan Erick yang mengangkat tinggi tangannya.
"Om, mana katanya buat Michi," rengek gadis kecil itu sambil melompat-lompat karena kurang tinggi.
"Tante Lee, suamimu nih nyebelin!" Pekik Michi, Lee hanya tertawa sambil menggeleng pelan.
.
.
.
.
Pagi ini semua penghuni rumah besar bangun kesiangan, tak mengapa karena ini hari Minggu.
Seorang gadis cantik berdiri di depan pintu rumah besar itu, dia ada janji dengan salah seorang penghuni di rumah besar ini. Memakai atasan dengan model lengan balon bewarna putih dan celana jeans membalut kakinya yang jenjang, membuat gadis itu terlihat manis, apalagi dengan rambut yang cemol ala Korea.
"Mari Non masuk." Si asisten rumah tangga mempersilahkan sang tamu masuk.
"Terima kasih Bu" ujarnya ramah, wanita paruh baya itu tersenyum. Ia menggeser posisi berdirinya memberikan ruang agar gadis itu bisa leluasa masuk.
"Terima kasih, Bu."
__ADS_1
Kanaya pun masuk kemudian duduk di sofa setelah sang asisten rumah tangga mempersilahkan dia duduk, Kanaya melihat sekeliling. Rumah Michi sangat besar, baru kali ini ia bertamu ke rumah ini walaupun mereka bersahabat sejak kelas satu.
Matthew menguap lebar sambil merenggangkan kedua tangannya, satu tangan Matthew kemudian menggaruk pantat sisi kanan yang tertutup celana pendek yang ia pakai. Cacing di perut Matthew sudah demo, berteriak minta jatah sarapan pagi.
Dengan wajah yang masih bau bantal, ia menuruni tangga berjalan ke arah dapur.
"Repot banget Bi, lagi bikin apa?" Tanya Matthew pada Bibi yang bekerja di rumahnya itu.
"Bikin teh anget buat tamu Non Michi di depan," jawab di Bibi.
"Tamu? Pagi-pagi begini? Mau ngapain? Cewek apa cowok Bi tamunya?" Cerca Matthew penasaran.
Ia mendudukkan dirinya di kursi dapur, mencomot satu roti tawar dan langsung memakannya.
"Ini sudah siang Den, udah mau jam 10. Tamunya cewek, cantik lagi," jawab Di Bibi sambil menggerakkan sendok dalam cangkir teh dengan cara memutar.
"Cewek cantik," gumam Matthew.
Bak mendapatkan kabar undian lotre, Matthew langsung bersemangat. Ia mengambil dua lembar roti tawar lagi, kemudian melangkah pergi ke kamar.
Brak.
Matthew menutup pintu kamar dengan tergesa-gesa, sampai menimbulkan bunyi. Michi yang baru saja keluar kamar terjingkat kaget.
"Heh nutup pintu pelan-pelan napa! Jangan bikin orang jantungan!" Omel Michi, berharap Matthew mendengarnya.
Matthew tidak mendengar, ia terlalu sibuk berdandan untuk memikat hati teman sang kakak.
"Hai Naya! Udah lama," sapa Michi pada sahabatnya yang sedang meminum tehnya.
"Lumayan, nih kaki gue sampai berakar," sindir Kanaya.
"Ya Maaf, serumah pada molor tau. Semalaman kita abis makan malam bareng. Jadi yah begitulah, hehehe ...," Michi berkata sambil duduk di samping Kanaya.
"Iya deh tahu, yang punya keluarga besar."
"Eh Nay, maaf aku nggak maksud kayak gitu. Maaf ya," ucap Michi yang merasa bersalah.
"Hehehehe, biasa aja kali. Gue bercanda Chi, bercanda," sahut Kanaya sambil tertawa, ia merasa puas bisa mengerjai sahabatnya itu.
__ADS_1
Meskipun dalam hati Kanaya, ada setitik rasa iri. Dia punya banyak sepupu, Tante, Om tapi semua orang itu tidak menginginkan kehadiran Kanaya. Ia jauh, terasing dari keluarganya sendiri. Hanya Oma , yang selalu menyayangi Kanaya, tetapi wanita itu pun kini sudah berpulang.