
Max baru saja bangun dari tidur saat matahari sudah meninggi, untung saja dia hanya ada satu mata kuliah saja siang nanti. Pria tampan dengan perut sixpack sempurna itu menggeliat, merenggangkan tubuh yang terasa lelah.
Semalaman Max menjaga gadis asing yang ia tolong, dengan bantuan Nurul dia merawat gadis itu. Dia mengalami demam tinggi dan terus mengigau meminta tolong, sesekali dia berteriak minta ampun. Nurul pun merasa iba dengan keadaan gadis itu, tubuhnya sangat kurus, seperti tulang yang di balut kulit saja.
"Gadis itu, apa dia sudah bangun," gumam Max, ia memutuskan untuk mengecek kondisi gadis yang ia tampung di rumahnya itu.
Dengan hanya menggunakan kaos dalaman dan celana pendek Max keluar dari kamar. Ia pergi ke kamar dimana gadis itu berada, tanpa permisi Max masuk begitu saja.
"Aaa!" Gadis itu menjerit keras, Max buru-buru menutup pintu lagi.
"Maaf, aku tidak sengaja!" Teriak Max dari luar.
"Sial, kenapa timingnya pas banget sih," gumam Max pelan.
Si gadis ternyata sedang mengganti pakaian saat Max, membuka pintu. Max berpikir jika gadis itu masih tidur, mengingat semalam dia sakit.
"Aku tunggu di dapur, turunlah jika sudah selesai!" Teriak Max lagi.
Max pergi meninggalkan kamar yang ditempati gadis asing itu, berjalan cepat menuju dapur untuk mengisi perut yang sudah demo minta jatah.
"Bu, masak apa?" Tanya Max saat melihat asisten rumah tangganya sedang mengaduk sesuatu di panci yang terjerang di atas kompor.
"Eh, Aden sudah bangun. Nggak masak Den, Ibu lagi bikin kamu buat Neng Arumi, kalau Aden lapar. Ibu sudah siapkan makanan buat Aden di meja, tumis brokoli sama tempe goreng kesukaan Aden," jawab Nurul sambil terus mengaduk panci yang mengepulkan asap panas.
"Arumi?" ulang Max dengan dahi yang berkerut heran.
"Iya, itu lho cewek yang ada di kamar Aden, masak Aden lupa sama nama temen sendiri. Aneh," sahut Nurul.
"Hehehehe iya lupa." Max menggaruk tengkuknya canggung.
Max memang mengatakan pada Nurul kalau gadis itu adalah temannya. Pria tampan bermata sipit itu memutuskan untuk mengisi perut yang sudah meminta jatah.
Arumi yang sudah selesai mengganti baju, keluar dari kamar sesuai dengan perintah sang empunya rumah. Dengan langkah pelan dan ragu ia berjalan mendekat kearah laki-laki yang duduk memunggunginya.
"Eh, Neng Arumi udah selesai mandinya, ayo sini makan," ajak Nurul. Arumi hanya menjawab dengan anggukan dan senyum kecil.
__ADS_1
Max menoleh kebelakang.
"Uhuk ...uhuk!"
Max memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.
"Pelan-pelan atuh Den kalau makan, pasti Aden tersepona ya, sama Neng Arumi sampai keselek gitu," goda Nurul.
Max tidak menjawab, ia mengambil segelas air untuk melegalkan tenggorokan dan dadanya. Apa yang dikatakan Nurul memang benar, kemarin karena panik dan bingung Max tidak memperhatikan betapa cantik bidadari bernama Arumi itu.
Meskipun hanya memakai kemeja dan rok panjang model lawas milik Nurul waktu belum menikah dulu, Arumi terlihat anggun. Andai saja lebam di pipi serta luka di bibir dan pelipisnya hilang itu akan menambah kecantikan Arumi berkali-kali lipat.
"Ehem, duduklah," ajak Max, memecahkan kecanggungan antara mereka.
Arumi mengangguk, ia menarik kursi yang jauh dari Max, terlihat jelas kalau anak itu sengaja menghindar.
"Makan," suruh Max tanpa melihat ke arahnya. Pemuda itu juga merasa canggung dengan peristiwa tadi.
"Sa-saya- sudah makan," cicit Arumi pelan gadis itu menundukkan kepala, meremas baju yang ia pakai dengan gelisah.
"Ini Neng, silahkan di minum jamunya. Biar cepat sehat." Nurul meletakkan segelas ramuan rempah yang baru selesai ia buat.
"I-iya terima kasih," cicitnya lagi.
Nurul pun meninggal dua orang itu. Hening, hanya dentingan sendok Max yang beradu dengan piring, sesekali terdengar suara Arumi yang tengah menyeruput jamu yang masih panas itu.
Max meletakkan sendok, mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya.
"Emh, sebelumnya aku minta maaf. Tapi apa boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" Tanya Max memecahkan keheningan diantara mereka.
Arumi mengangkat wajahnya, tetapi ia dengan cepat menunduk saat Max melihat kearahnya.
"I-iya silahkan," jawab Arumi terbata keringat dingin mulai membasahi tengkuk dan dahi gadis itu.
"Apa yang kau lakukan kemarin? Hujan-hujanan seperti itu, kau bisa mati kedinginan. Apa seseorang melukaimu? Merampok, begal atau ..." Pertanyaan Max menggantung ia merasa tidak enak untuk bertanya.
__ADS_1
"Atau seseorang mencoba melecehkan mu?" Tanya Max pada akhirnya.
Arumi semakin menunduk, kedua tangannya semakin erat menggenggam kemeja yang ia pakai. Haruskah ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada orang asing, bagaimana jika dia juga tidak percaya, seperti orang lain.
"Sa-saya .... Sa-saya," Arumi menjawab dengan ragu dan terbata.
Max melirik sekilas pada gadis yang duduk di bangku yang lumayan jauh darinya.Dia terus saja menunduk, ia terlihat selalu menghindar dari Max. Mungkin dia takut dengan orang asing, mungkin apa yang dialami tadi malam membuat dia trauma.
"jika kau tidak ingin menjawab tidak apa-apa, beristirahat lah aku akan mengantarmu pulang nanti."
Shrek
Bugh
"Hey apa yang kau lakukan cepat berdiri!" Max terkejut saat gadis itu tiba-tiba bersimpuh di sampingnya.
Saat Arumi mendengar kalau pria dihadapannya itu ingin mengantarkan dia pulang. dia langsung bangkit, mendorong kursi yang ada di sebelah Max, lalu bersimpuh di sana.
"Kak to-tolong saya, sa-saya tidak mau pulang. Hiks ... Arumi mohon, Arumi bisa bersih-bersih, bi-bisa berkerja di sini. Arumi mohon." Gadis itu membungkukkan badan hendak bersujud pada pria yang masih asing untuknya itu.
Namun, Max segera mencegahnya.
"Baiklah baik, jangan seperti ini," ujar Max sambil menahan bahu gadis itu agar tidak menunduk.
Perlahan Max membantu gadis itu bangkit, ia kembali mendudukkan Arumi di kursi. Max menghela nafasnya, rumah ini kosong hanya sesekali saja Max datang. Lagi pula sudah ada Nurul dan suaminya, bagaimana dia bisa memberi alasan pada Maminya agar memperkerjakan gadis itu.
Max berpikir keras, alasan apa yang akan ia gunakan untuk menampung gadis itu.
"Emh ... apa kamu mau cerita sama Kakak, apa alasan kamu nggak mau pulang?" tanya Max dengan lembut.
selain bingung mencari alasan, Max juga heran kenapa gadis itu tidak mau pulang kerumahnya. Alih-alih menjawab, Arumi kembali menunduk. Gadis itu menangis dalam diam.
"Kalau nggak mau ngomong, ya udah. Tapi maaf, Kakak nggak bisa membiarkan kamu tinggal di sini tanpa alasan yang jelas," tutur Max.
Arumi langsung mengangkat wajahnya, menatap nanar pada Max dengan matanya yang sembab.
__ADS_1