
"kamu mau lagi, Sayang?" Tanya Max sambil mengusap sudut bibir Arumi yang kotor dengan remah roti.
Arumi menggeleng malu dengan mulut yang penuh, ia melirik sekilas pada Mila yang menatap dia dengan sinis. Kemesraan Arumi dan Max sungguh membuat Mila kesal, bagaimana tidak cara Max memperlakukan gadis itu sungguh sangat manis. Menyuapi, mengusap, dan terus menanyakan kenyamanan Arumi di sana.
Apa rumah Mila kurang nyaman? Arumi duduk di karpet buatan Turki dengan kualitas terbaik, makan kue yang ia Mila pesan dari toko kue tebaik di Surabaya untuk Max. Kurang nyaman gimana coba.
"Max begini bener nggak?" Tanya Mila seraya menggeser posisi duduknya.
Seketika Max pun melakukan hal yang sama, ia semakin merapat pada sang kekasih yang duduk di sebelah kirinya.
Mila berdecak kesal, tetapi bukan Mila jika menyerah sekarang. Dia mencondongkan tubuhnya, dan dengan sigap pula Max menghindar, dia menarik tubuh kebelakang bersandar pada tembok. Arumi sekuat tenaga menahan tawa, ekor matanya melirik Max yang melihatnya dengan tatapan memelas.
"Max bener nggak ini?" Mila menyodorkan laptop pada Max.
Dahi Max mengkerut melihat tugas kuliah yang di kerjakan Mila, Max kemudian mengarahkan benda pipih itu pada Arumi.
"Coba kamu lihat, Sayang," titah Max, yang membuat Mila semakin geram.
Arumi menurut saja, i membacanya dengan seksama. Kemudian, dengan perlahan tangan lentik Arumi menari di atas keyboard dengan serius.
"Apaan sih kamu Max!? Aku tuh nanya sama Kamu, bukan sama anak kemarin sore!" Pekik Mila yang sudah tidak bisa lagi menutupi rasa marahnya.
Max tidak menjawab, ia menoleh hanya menoleh cepat memberikan tatapan tajam pada wanita itu. Jari telunjuk Max menegang, mengarah pada Mila mengisyaratkan wanita itu untuk diam. Mila melengos, berdecak kesal.
Max kembali menatap sang kekasih, Arumi tanpa tak enak hati pada Mila. Tangannya yang sempat mengetik, terhenti.
"Kenapa berhenti, Sayang? Lanjut."
"Tapi Kak, ini ...." Arumi menggantung ucapan, melirik sekilas pada Mila yang menatapnya dengan tajam.
"Udah, coba kamu kerjain dulu." Max melipat kedua tangannya di dada, menatap Arumi dengan tatapan tegas.
Meskipun mereka tak enak dengan Mila, Arumi tak bisa menolak perintah sang kekasih. Arumi lanjut mengerjakan tugas Mila, meskipun gadis itu terus menatap tajam.
"Begini Kak? Tanya Arumi seraya menurunkan tangannya dari atas laptop.
Max tersenyum melihat hasil ketikan Arumi, dengan senyum sinis Max menggeser benda pipih itu pada sang pemilik.
__ADS_1
"Ini hari terakhir aku memberikan bimbingan padamu," ucap Max dengan tegas.
"Tapi kenapa?" Mila menatap Max dengan heran.
"Sudah tiga hari aku memberikan bimbingan, tapi apa hasilnya? Kau bahkan tidak lebih baik dari anak kemarin sore," tukas Max.
Wajah Mila merah padam, mendengar Max merendahkan dirinya. Tangan Arumi menarik kemeja Max, tetapi Max tidak peduli.
"Aku sudah berusaha Max, tapi memang,-"
"Sudah cukup, anggap saja aku memang tidak berbakat menjadi pembimbing. Permisi."
Max bangkit, ia menarik tangan Arumi dan mengajak sang kekasih keluar dari rumah itu. Mila pun ikut bangun dan mengejar Max.
"Max!"
"Max!"
"Nggak bisa gini dong, kamu udah janji kasih aku waktu seminggu!" Teriak Mila yang sama sekali tidak didengar oleh Max.
"Sial!"
"Sial!"
"Awas saja kau Max! Jangan panggil aku Mila jika aku tidak mampu membuatmu tunduk!"
"Agh, sial!"
Mila mengamuk, karena tak bisa mengejar Max yang sudah mengendarai mobilnya menjauh. Barang-barang yang ada di rumah besar itu menjadi sasaran kemarahan Mila, tak satupun assiten rumah tangga di sana yang berani mendekat, mereka tahu benar kebiasaan nona muda itu.
"Arumi, aku akan membuat mu menyesal," geram Mila.
"Kak, apa nggak apa-apa tadi kakak seperti itu? Kalau besok Kakak di marahin dosen gimana?" Tanya Arumi dengan cemas.
"Tenang aja Sayang, tidak ada hal seperti itu. Kamu nggak perlu khawatir ok," ucap Max dengan lembut, Arumi pun mengangguk. Ia tak banyak bicara lagi.
Sejujurnya Arumi masih cukup kaget melihat Max seperti tadi, untuk pertama kali Arumi melihat Max berkata kasar pada wanita. Sepengetahuan Arumi, Max selalu lembut pada Mami Jum dan juga Michi, meski Max pendiam tetapi dia sangat perhatian pada keluarga dan Arumi.
__ADS_1
"Sayang, kamu pasti kaget ya. Liat aku kayak tadi?" Tanya Max tanpa menoleh.
"Ng-nggak kok Kak," kilah Arumi.
"Nggak usah bohong, aku tau kok kamu takut kan."
Dengan senyum kaku Arumi mengangguk, Max melirik sekilas lalu tersenyum dengan manis.
"Kamu tahu nggak? Sebenarnya aku tuh nggak mau ngasih bimbingan belajar buat dia."
"Kenapa Kak? Bukannya dia teman Kakak sendiri? Apalagi dia cantik," Tanya Arumi dengan wajah polosnya.
"Ck, cantik apa sih Yang. Nggak ada wanita secantik kamu tau nggak. Aku tuh nggak nyaman banget sama dia, cewek gatel kayak gitu kok cantik. Males banget Yang, makanya aku tuh ajak kamu tadi. Males aku di godain terus sama dia," Max mengeluarkan unek-unek yang beberapa hari ini ia tahan.
"Di godain gimana? Bukannya cowok itu seja di godain ya Kak?"
"Nggak semua cowok Cintaku, kalau yang goda kamu ya aku mau banget. Kalau yang lain ...." Max menggelengkan kepalanya cepat.
Arumi tersenyum kecil, baru kali ini Max berbicara dengan panjang lebar tentang perasaannya. Sisi lain Max yang baru ia ketahui, bawel.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Kak Max lucu, dari tadi ngomong terus," jawab Arumi dengan senyum manis.
Max pun ikut tersenyum, tangannya mengacak-acak rambut Arumi dengan gemasnya.
"Semua ini karena aku bersamamu, Aku tidak mungkin seperti ini dengan orang lain. Bahkan adikku sendiri," ujar Max panjang lebar.
Hanya dengan Arumi, Max bisa menjadi dirinya sendiri menunjukkan sisi yang belum pernah ia perlihatkan pada orang lain. Tenggelam dalam rasa haru, Arumi bersandar di lengan Max.
Mobil berwarna merah itu melaju, membawa dia sejoli itu menuju sebuah tempat untuk menyempurnakan rencana pernikahan mereka.
"Arumi keluar kamu!" Teriak seorang wanita paruh baya di depan pagar rumah besar Li.
"Keluar atau aku akan terus berteriak di sini!"
Nurma terus saja berteriak memanggil nama anak perempuannya. Nurma memang sengaja membuntuti Arumi saat pulang dari pusat perbelanjaan tempat dia bekerja, dia ingin tahu bagaimana kehidupan Arumi setelah dia menjual rumah Marni. Ternyata Arumi hidup di rumah besar yang mewah. Tentu saja hal sebaik ini tidak akan Nurma sia-siakan.
__ADS_1