Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 47


__ADS_3

"Lalu apa gunanya kau hidup di rumah besar ini kalau tidak punya uang, dasar bodoh. Apa laki-laki itu cuma menyentuhmu tanpa memberikan imbalan?!"


Nurma berdiri, menegangkan jari telunjuknya pada Max. Arumi terkejut dengan ucapan Nurma, bukan hanya Arumi tetapi semua orang yang ada di ruangan itu.


"Apa maksud Ibu?" Kini Arumi pun turut meninggikan suaranya. Di pun berdiri seolah memasang badan untuk melindungi Max.


Meski hati Arumi hancur mendengar ucapan sang Ibu yang secara tidak langsung menuduhnya sebagai seorang wanita tidak bermoral yang menjual diri pada Max, tetapi dia tidak ingin sang kekasih.


"Kau tau jelas maksudku," Sindir Nurma seraya melipat kedua tangan.


Kini pria bernama sipit itu bangkit dan melangkah maju. Ia sedikit menarik tubuh Arumi lalu menyembunyikan gadis mungil itu dibelakangnya.


"Kami tidak mengerti dengan maksud Anda Nyonya, dan saya rasa sebagai seorang Ibu tidak seharusnya Anda bicara seperti itu kepada putri Anda," Max tetap berusaha tetap tenang, meskipun ia berbicara dengan penuh penekanan.


"Tau apa kamu, dia anakku mau aku bicara seperti apa, itu urusanku!" Ujar Nurma dengan pongah.


"Ada, karena dia kekasih saya! Saya yang bertanggung jawab atas dia saat ini!" Tegas Max.


Bayu sudah sangat geram dengan sikap ibunya, meski selama mereka tinggal bersama Nurma selalu menyayangi dan mengutamakan Bayu. Namun, sikap Nurma yang seperti ini sungguh membuat Bayu merasa malu, apalagi pada Dimas dan Max, Orang-orang yang begitu baik membantu dia dan Arumi selama ini.


Ingin rasanya Bayu ikut bicara, tetapi sadari tadi Dimas selalu mencegah dan mengingatkan Bayu, agar tidak bicara dalam keadaan emosi. Dia sendiri pun tak ingin ikut andil dalam perdebatan itu, dia yakin Max bisa mengatasi masalah ini dengan baik.


"Kekasih? Tanggung jawab? Kalau kau mau bertanggung jawab, maka tanggung semua apa yang menjadi tanggungan gadis sialan itu! Ganti semua biaya yang sudah aku keluarkan untuk dia selama aku merawatnya!"


"Astaghfirullah Bu, apa yang Ibu katakan!" Pekik Bayu yang tak bisa lagi menahan emosinya akhirnya bicara.


"Apa aku salah, dia anak yang tidak aku inginkan. Andai saja waktu itu ayah kalian tidak memaksa untuk aku merawatnya aku tidak akan sudi melahirkan gadis sialan itu ke dunia!"


"Ap-apa yang Ibu katakan?" Tanya Arumi dengan terbata, gadis itu sungguh bingung dengan apa yang baru saja Nurma ucapakan.


"Sudahlah untuk apa bicara masa lalu, sekarang yang terpenting mana uangku, aku butuh uangku sekarang!"


"Bu, apa yang sebenarnya Ibu katakan tadi?" Kini Bayu pun ikut mendesak Nurma.


Wanita paruh baya itu berdecak, semua orang yang ada di sana menatapnya dengan rasa ingin tahu dan mengintimidasi.


"Maaf jika saya ikut campur, tapi bukankan sudah kewajiban kita sebagai orang tua untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak kita, mereka adalah titipan Allah. Amanah yang harus kita jaga dan rawat sebaik mungkin," Kini Dimas pun turut bicara.


"Rugi kau ke sini, bukannya dapat uang malah di ceramahi!" Nurma pun memutar badannya dan hendak melenggang pergi.


"Tunggu Bu, Ibu mau kemana?" Tanya Arumi yang sudah berlinang air mata.


Nurma menoleh mendelik tajam pada Arumi. "Perduli apa kamu, aku mau kemana. Kalau kamu perduli, berikan apa yang aku mau."

__ADS_1


"Tapi Bu,-"


Max mencegah langkah Arumi yang hendak mendekati Nurma. Nurma tersenyum miring melihat Max yang begitu melindungi Arumi.


"Ini, cari aku di sana. Saat kau sudah bisa memberi aku uang." Nurma melemparkan secarik kertas ke lantai.


Dengan pongah Nurma kembali melanjutkan langkah, pupus sudah semua rencana Nurma. Dia yang tadinya berpikir Arumi akan memberikan dia yang banyak tanpa harus berdebat, malah tidak memegang uang sama sekali.


Tak satupun orang di ruangan itu yang mencegah langkahnya lagi. Wanita paruh baya itu terus menggerutu sepanjang jalan menuju gerbang.


"Hey, cepat buka pintunya!" Sentak Nurma pada satpam yang berjaga di pos.


"Saya punya nama, buka Hey!" Sahut pria muda yang menjadi penjaga keamanan di sana.


Pria itu membukakan gerbang untuk Nurma, wanita itu pun bergegas keluar tanpa berucap sepatah katapun.


Arumi menangis, ia tidak pernah menyangka sang ibu akan berbuat gak seperti ini. Hal yang sama juga di rasakan oleh Bayu, remaja itu diam, mencoba meredam amarah.


"Ma-maafin Arumi ya Kak, maafin Arumi," ucap Arumi terbata disela tangisnya.


Max menggeleng pelan." Kamu nggak salah, Sayang kenapa minta maaf."


"Tetap saja semua ini gara-gara Arumi Kak."


"Sst udah, kamu istirahat dulu ya," Max mengusap lembut rambut Arumi, dia tidak perduli walaupun paman kecilnya sedang melihatnya dengan tajam.


"Bay, temani Arum, aku yakin banyak hal yang ingin kalian bicarakan," titah Max yang langsung diangguki oleh Bayu.


Setelah Arumi dan Bayu pergi, Max mulai berbicara serius dengan Dimas.


"Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya Max? Pasti sesuatu yang penti sampai kau tidak mau memberitahuku di telepon?" tanya Dimas dengan serius.


Max menghela nafas dalam, raut wajahnya terlihat frustasi. Kedatangan Dimas ke rumah besar Li memang bukan tanpa rencana. Beberapa hari yang lalu Max menghubungi dia dan meminta untuk bertemu.


"Mami, aku rasa Mami sedang menyembunyikan sesuatu dari kami Paman."


"Kami?"


"Ya kami, anak-anaknya. Aku sudah bicara dengan Michi dan Mat, mereka juga mencoba bertanya pada Mami , tapi Mami selalu bilang dia baik-baik saja."


Max menyugar rambutnya kebelakang seraya merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Raut wajah pemuda itu tampak sangat cemas, baru kali ini Dimas melihat Max seperti ini.


"Apa Sebenarnya maksudmu dan apa hubungannya denganku Max? katakan dengan jelas, jangan bertele-tele sepeti ini," ucap imas yang menjadi ikut khawatir tidak jelas.

__ADS_1


"Aku juga tidak mengerti Paman, tapi sepertinya Mami Sedang sakit. Beliau terlihat pucat, tapi saat aku bertanya Mami selalu mengelak. Aku berharap Mami mau jujur jika Paman yang bertanya,"ungkap Max panjang lebar.


"Astagfirullah, Mbak jum." Dimas mengusap wajahnya kasar, meskipun tidak ada hubungan darah dengan Juminten. Tetapi dimas sudah sangat menyayangi wanita itu.


"Baiklah aku akan bertanya padanya, sekarang dimana dia?"


"Rumah sakit," jawab Max cepat.


"Apa? Rumah sakit. Dia di rumah sakit dan kau diam saja di sini, cepat kita kes sana." Dimas langsung bangkit dari duduknya, hatinya berkecamuk cemas.


"Mereka sudah dalam perjalanan pulang, Paman. Sepertinya Papi mengantarkan Mami untuk sekedar cek up atau berobat, entahlah. Aku berharap tidak ada sesuatu yang serius."


"Amiin, semoga." dimas terduduk lemas mendengar penuturan Max.


Kedua laki-laki itu terdiam, mereka tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Max sampai lupa kalau ia ingin agar Dimas menjadi penghulu di pernikahannya nanti.


Penikahan Arumi dan Mx akhirnya diadakan secara sederhana , hanya elurga inti saja yang di undang. Tentu saja setelah mendapakan kejelasan tentang penyakit Juminten, ternyata Juminten tidak sakit. Wanita itu mengalami keguguran, dia sengaja menutupi hal itu dari anak-anaknya agar tidak khawatir.


"Kak kita mau kemana sih?" tanya Arumi.


"Kita bulan madu, Sayang," jawab Naoki sambil fokus menyetir. Meski sudah tiga bulan menikah, mereka baru melakukan bulan madu sekarang karena Max menunggu ujian Arumi selesai dan resmi lulus.


"I-Iya tapi kemana?" tanya Arumi lagi dengan pipi yang bersemu merah, dia merasa malu mendengar Max memanggilnya dengan sebutan sayang.


Max tersenyum, ia sungguh gemas melihat wajah sang istri yang memerah. Jika bukan di mobil mungkin dia akan melanjutkan adegan panas yang sempat merekan lakukan tadi pagi.


"Kamu nanti juga tahu, sekarang tidurlah perjalanan kita masih jauh. Kamu pasti capek kan setelah olahraga kita tadi," Max sengaja mengatakan hal itu untuk menggoda Arumi.


Wajah Arumi sekamin memerah bak kepiting rebus mendengar ucapan Max. Reka ulang adegan panas nan mengairahkan yang mereka lakukan tadi pagi secara otomatis berputar kembali di benaknya.


"Kakak ih, Arumi malu," rengek Arumi, Max tergelak ia mencubit gemas pipi Arumi dan mencium bibir seksi itu sekilas.


Mata Arumi melebar kaget, bisa-bisanya Max berbuat mesum saat mereka berhenti dilampu merah. Max semakin gemas melihat wajah Arumi yang menggemaskan, Arumi tersenyum dia merasa sangat bersyukur mempunyai suami setampan dan sebaik Max.


"Kak!" Pekik Arumi yang tanpa sengaja mekihat kearah depan, sebuah truk dengan muatan penuh muatan melaju cepat kearah mereka.


BRAKK


Truk itu menbrak mendaraan yang sedang berhenti di lampu merah termasuk Max dan Arumi, pasangan muda itu terhimpit dalam mobil. Suara bisng dan jerit tangis mengusik Max, matanya yang tadinya terpejam sedikit terbuka. Max merasakan tubuhnya melayang, dia tidak sadar jika dia sedang di gotong beberapa warga dan petugas Damkar yang berhasil mengeluarkan dia dari mobil ynag ringsek.


"Arumi," gumam Max sangat lirih kala melihatn seorang wanita yang ia kenal dimasukan dalam mobil ambulan. Semua kembali gelap, Max kembali tidak sadarkan diri.


Arumi dinyatakan meninggal dalam kecelakkan itu, Max sangat terpukul dengan kepergian sang istri yang begitu cepat, Apalagi dokter mengatakan kalau Arumi tengah mengandung buah hati mereka. Max sendiri lumpuh akibat kecelakkan itu, wajah ampan Max kini juga terloihat mengerikan karena luka sebagian wajahnya.

__ADS_1


Max menolak untuk diobati, laki-laki itu lebih memilih mengurung diri di kamar mengenang kepergian Arumi.


_Tamat_


__ADS_2