Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 43


__ADS_3

"Dulu kapan yak," gumam Michi sambil duduk dengan mode kepala di bawah. sudah tiga hari pertanyaan itu berputar di benak Michi.


Rambut warna pink menyala ia biarkan menjuntai kelantai, gadis itu baru menganti warna rambutnya kemarin malam sepulang dari apartemen Brian.


"Pop corn?" Max menhenyakkan bokongnya di samping Michi.


Michi tidak menjawab tapi membuka mulutnya dengan lebar, Max yang mengerti langsung memasukkan beberapa biji makanan ringan itu kedalam mulut Michi. Pria tampan itu bahkan tidak bertanya kenapa Michi duduk seperti itu, karena kelakuan Michi memang sangat random.


"Kamu nggak kuliah?"


Max menaikkan kakinya ke meja, selonjoran dengan santai dengan kaki saling menumpuk dan memangku sebungkus besar pop corn caramel.


"Masuk siang Kak? Kakak sendiri, liburkah?"


"Tidak ada kelas, cuma nanti sore kasih bimbingan Mila," jawab Max santai.


"Mila?"


"Mila ulet bulu gatel yang pernah deketin Kakak itu!" Pekik Michi terkejut, ia segera membenarkan posisi duduknya menjadi lebih normal.


Max mengangguk pasti tanpa menoleh, dia asik melihat televisi asing yang sedang menampilkan acara wisata luar negeri.


"Arumi gimana? Nggak cemburu gitu? Eh tunggu, Arumi belum pernah ketemu sama ulet bulu itu kan?" Lagi-lagi Max menjawabnya dengan anggukan.


Michi berdecih sebal, ia masih ingat bagaimana wanita bernama Mila itu saat Michi pergi ke kampus Max.


"Aku udah bilang sama Arumi, dia fine-fine aja tuh."


"Aduh Kakak ku sayang, cewek itu kadang lain di mulut lain di hati, awas aja ntar kalau tiba-tiba Arumi ngambek."


Tangan Max yang hendak memasukkan pop corn terhenti sejenak, apa yang dikatakan Michi memang benar. Max melanjutkan perjalanan makanan ringan yang ada ditangannya, sembari berpikir.


Tiba-tiba Max bangkit dan berjalan cepat meninggalkan Michi. Mata Michi terbelalak melihat seorang yang sangat ia kenal berada di layar televisi.


Dengan mulut terbuka lebar, dan mata yang melotot Michi segera mengambil ponsel dan menghubungi orang yang sedang ia lihat di TV.

__ADS_1


"Hai .. hai Mat, aku liat kamu di tipi. Hai hai lambaikan tangan!" Seru Michi penuh semangat sambil melambaikan tangan pada benda elektronik yang sedang ia lihat.


" Apa! Syutingnya tadi pagi ChiChi, aku lagi kuliah ini!" Seru Matthew di ujung bagian negara lain.


"O, kirain siaran langsung." Michi menurun tangan dengan wajah lesu.


Acara di televisi sedang menayangkan liputan liburan di Taiwan, dan memperkenalkan beberapa cafe yang sedang hits di sana. Dan kafe milik Mathew masuk dalam acara itu.


"Ya nggak lah, Napa kangen yak."


"Nggak!"


"Kapan pulang? Aku nggak ada teman main nih," rengek Michi pada sang adik.


"Moza sama Melly udah full day school, jarang di rumah. Nggak ada yang bisa aku ajak usil, nggak seru!"


"Minggu depanlah aku jadwalkan pulang. Nunggu manager kafe aku masuk, lagi cuti dia soalnya."


"Ya udah deh, met kuliah Mamat sayang, Hahahaha!"


Michi segera menutup sambungan telepon sebelum Mathew membalas ucapannya. Wajah Michi yang tertawa lepas berubah seketika, saat sebuah panggilan telepon masuk. Mau tidak mau dia harus mengangkat telepon itu.


"Huh dasar dosen anu!" Pekik Michi kesal.


Dengan langkah lebar dan kesal Michi melangkah ke kamar untuk bersiap. Dengan menggunakan atasan tanpa lengan berwarna abu-abu, di padu cardigan rajut warna putih, rambut warna pink menyala yang ia ikat tinggi. Michi siap untuk pergi ke tempat yang paling tidak ia sukai di muka bumi, apartemen Brian.


"Mau kemana Sayang, cantik amat?" Tanya Juminten saat Michi berjalan kearahnya untuk berpamitan.


Mulut Michi manyun lima centi saat ia mendekat pada Juminten." Itu Mi, kerumahnya Dosen yang kemarin Michi ceritain."


Michi menarik tangan Juminten kemudian mencium tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


"Tunggu sebentar ya." Michi mengangguk.


Juminten melangkah masuk, dan tak berapa lama ia keluar dengan termos makan ditangannya.

__ADS_1


"Apa itu Mi?" Tanya Michi dengan alis yang menyatu.


"Buat dosen kamu biar cepat sembuh," jawab Juminten sambil menyodorkan benda berbentuk tabung itu pada Michi.


Dengan berat hati Michi menerimanya, ia pun segera pergi agar bisa secepatnya sampai ke apartemen Brian. Yang letaknya cukup jauh dari rumah besar Li, meski enggan pergi Michi harus tetap menepati janji untuk merawat Brian sampai kakinya sembuh. Entah kapan itu terjadi, ini sudah hari ketiga sejak Michi merawat pria keturunan Korea Selatan itu.


Setelah perjalanan yang cukup panjang memakai motor matic, akhirnya Michi sampai di gedung mewah bertingkat berwarna putih itu.


Setelah memarkirkan motornya di basemen, Michi segera naik mengunakan lift ke lantai sepuluh. Sesampai di lantai yang ia tuju, Michi bergegas menghampiri apartemen milik Brian.


Baru saja Michi akan memencet bel pintu, benda besar berwarna hitam itu sudah ditarik masuk. Brian berdiri di hadapan Michi, sambil cengar-cengir Michi berdiri menatap Brian.


"Selamat pagi Pak," sapa Michi mencoba ramah.


"Pagi? Apa kau tidak lihat ini jam. Berapa? Kau bilang pagi. Dasar malas, cepat masuk!" Titah Brian dengan nada tegas tak terbantahkan.


"Iyah," jawab Michi dengan raut wajah kesal.


"Nih sarapan buat Anda Mr. Brian." Michi mendorong tubuh Brian dengan termos kecil yang ia bawa.


Michi nyelonong masuk, matanya terbelalak melihat kondisi ruang tamu yang berantakan. Gelas bekas kopi, bungkus makanan ringan dan tumpukan map yang berserakan di meja.


"Hais,..." Michi menggelengkan kepalanya seraya menyingsingkan lengan baju dan segera mulai untuk merapikan ruang tamu.


Brian membuka tutup termos makan yang ada ditangannya, mata sipit Brian melebar, melihat sup ayam herbal yang lama ia idamkan. Saking senangnya Brian sampai menari seperti ubur-ubur. Tangan dan kakinya merentang, bergerak seperti gelombang. Dia tak sadar jika Michi memperhatikan dia, terutama kakinya.


"O, jadi Kaki Anda sudah sembuh, Tuan Brian?" Michi menatap Brian dengan tangan yang terlipat di dada.


Brian segera menegakkan tubuhnya.


"Ais ... Ssh..." Dengan mendesis seolah teramat sakit Brian berjalan dengan kaki menyeret melewati Michi.


"Yang diperban yang kanan," sindir Michi.


Brian yang menyeret kaki kanannya gelagapan, dan langsung berubah kaki kiri. Padaherang yang diperban benar kaki kirinya, Michi hanya menggoda Brian saja. Melihat kaki Brian yang langsung berubah jalur, membuat Michi merasa kesal, ternyata dosen aneh itu membohongi dia selama ini.

__ADS_1


Brian meletakkan termos yang berisi sup ayam herbal itu di meja, dengan senyuman lebar sampai matanya hilang. Pria sipit itu menggosok kedua tangannya, tak sabar untuk menikmati hangat dan gurih sup ayam herbal Nyonya Juminten.


Pria tampan itu menghirup dalam asap tipis yang mengepung dari dalam termos itu, tanpa memindahkan isinya ke mangkok. Brian memakannya dengan lahap. Seolah-olah dia tidak makan berhari-hari, padahal Brian baru saja menghabiskan semangkuk dua mangkuk mie instan.


__ADS_2