Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Makan siang


__ADS_3

"Hah ..." Juminten mendesah panjang, wanita itu berdiri di depan gedung pencakar langit, tempat suaminya berkerja.


Ia baru saja turun dari mobil mewah yang membawanya. Juminten difasilitasi mobil dan sopir oleh sang mertua. Ya, gadis kampung itu begitu dimanja oleh Mayleen.


Juminten tentu saja tidak bisa menolak, meskipun ia tidak ingin semua ini. Seperti halnya siang ini, Mayleen meminta Juminten membawakan makan siang untuk Dylan. Walau enggan, Juminten tetap berangkat.


"Kenapa cuma berdiri saja Non, apa perlu saya temani masuk?" tanya si supir, Juminten menggeleng.


"Tidak Pak, terima kasih."


Dengan enggan, Juminten melangkahkan kakinya. Seorang laki-laki, menyambutnya dengan senyum ramah seraya membukakan pintu kaca besar,untuk Juminten.


"Terima kasih Pak."


"Sama-sama Nyonya."


Juminten menoleh ke kanan-kiri, gedung itu begitu besar. Di mana dia akan mencari Dylan. Ia pun melangkah mendekati meja resepsionis.


"Permisi Mbak, ruangan Dylan di mana ya?" tanya Juminten dengan sopan.


Wanita memakai blouse batik itu berdiri, melihat Juminten dari atas sampai bawah. Juminten tersenyum manis, meskipun ia merasa risih di lihat seperti itu.


"Maaf ada perlu apa ya? Apa Anda sudah membuat janji?" cerca wanita itu.


Ia menatap Juminten dengan tatapan meremehkan. Dress bunga-bunga selutut dengan sandal flat, rambut tergerai dengan wajah tanpa polesan make up. Apalagi tak ada satu perhiasan pun di tubuh Juminten selain anting kecil di telinganya, dia tidak memperhatikan cincin silver yang melingkar di jari Juminten.


"Saya cuma mau mengantar makan siang," jawab Juminten seadanya.


"O, pesan antar to. Dari restoran mana?" tanyanya dengan nada sinis. Juminten mengerutkan keningnya.


"A -


"Nyonya Muda!" Juminten menoleh ke arah sumber suara.


Seorang pria itu berjalan cepat mendatanginya. Ia sedikit membungkukkan badannya, memberi hormat pada Juminten.


"Eh ... jangan seperti ini." Juminten sontak mundur dua langkah.


"Nyonya Muda, ada keperluan apa?" tanya pria itu dengan lembut dan ramah.


"Aku membawa makan siang untuk Dylan, tapi aku tidak tahu ruangannya."


"Mari ikut saya." Raka menunduk, mempersilahkan Juminten untuk berjalan terlebih dahulu.


"Jaga sikapmu, dia adalah istri Tuan Muda!" tegas Dylan pada wanita yang bekerja sebagai resepsionis.

__ADS_1


"Ba-baik Tuan, maafkan saya." Wanita itu menunduk dalam, ia sangat takut jika sampai kehilangan pekerjaannya.Dia melihat punggung Nyonya Muda dan Raka berlalu.


"Mari saya bawakan Nyonya."


"Tidak usah, ini tidak berat kok. apa kamu sudah makan?" Raka menggeleng.


"Belum waktunya makan siang Nyonya," jawabnya dengan sopan. Juminten manggut-manggut mengerti.


Juminten membuka tas yang ia bawa, kemudian mengeluarkan satu kotak bekal.


"Ini untuk kamu," ucap Juminten sambil menyodorkan kotak plastik.


"Untuk saya Nyonya Muda?"


"Iya, kebetulan saya bawa dua. Tapi maaf ya hanya masakan sederhana saja semoga kamu suka."


"Terima kasih Nyonya Muda." Raka menerima kotak makan siang itu dengan penuh rasa syukur.


"Sama-sama."


Raka menatap sang Nyonya Muda dengan penuh arti. Wanita ini sangat baik, ia berharap Dylan segera sadar kalau wanita ini seribu kali lebih baik daripada kekasihnya yang matre itu.


"Kenapa melihat saya seperti itu?"


"Tidak apa-apa Nyonya Muda, saya hanya merasa sangat senang melihat Nyonya si kantor," Kilah Raka sebisanya. Juminten menaikkan satu alisnya, sebenarnya dia tidak percaya. Tapi ya sudahlah.


"Ini ruangan Tuan Dylan."


Tangan Raka yang hendak mengetuk pintu berhenti di udara. Sebab pintu telah di buka dari dalam, Dylan mengerutkan keningnya melihat Raka yang datang bersama Juminten.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Dylan ketus pada sang istri.


"Bisa dong tamunya ini suruh masuk dulu, di persilahkan duduk baru wawancara," jawab Juminten santai.


"Cepat masuk, dan kamu Raka. Berikan saya hasil rapat kemarin!"


"Baik Tuan." Raka pun melangkah menjauh, tapi sebelum sang asisten pergi. Dylan sempat mencuri pandang pada kotak bekal berwarna pink yang di bawa Raka.


Juminten pun masuk setelah Raka pergi, tanpa di persilahkan ia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana.


"Katakan, untuk apa kau ke sini?" Dylan mendudukkan dirinya tak jauh dari Juminten.


"Nih!" Juminten memberikan tas kain kain yang ia bawa.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Makan siang, Mama yang menyuruhku untuk mengantarkannya padamu," jawab Juminten tanpa menoleh, matanya sibuk menikmati kemewahan ruang kerja suaminya itu.


Dylan tersenyum setelah membuka kotak makan siang itu, matanya berbinar melihat menu yang semua adalah ke favoritnya.


"Jadi Mama ke rumah lagi?"


"Hu'um. Mama datang tak lama setelah kamu pergi kerja." Dylan mengangguk paham, mulutnya penuh sampai tak bisa berkata.


Makan siang itu terasa sangat nikmat, sangat pas dengan seleranya.


"Ini kamu yang masak?"


"Iyalah, masa monyet," jawab Juminten dengan lirikan sinis.


"Eh tunggu, apa yang di bawa Raja tadi juga makan siang. Kamu juga kasih dia ini?!" suara Dylan sedikit meninggi.


"Sebenarnya, itu jatah makan siangku. Tapi aku kasihan sama dia, ya sudah aku kasih aja makan siangku."


"Lain kali, kau tidak aku izinkan memasak selain untukku!" tegas Dylan, dia tidak suka Juminten membagi makanannya pada orang lain.


"Lha kenapa emangnya?"


"Karena aku suami mu, aku bilang nggak ya nggak!" tegas Dylan, ia tidak mungkin mengatakan kalau dia tidak suka Raka mendapatkan perhatian yang sama dari sang istri.


"Ya ...ya terserah kamu lah, aku nurut aja. Cepat habiskan makanannya, aku mau pulang." Dylan tersenyum, ia pun kembali menyantap makan siang spesial buatan Juminten.


Sementara itu di rumah Dylan.


"Gimana kamu merasa ada yang aneh nggak dari mereka?"


"Iya Nyonya, sepertinya mereka tidak sekamar sebelum saya kerja. Waktu saya merapikan kamar di samping kamar utama, ada banyak barang milik Nyonya Muda. Tapi Nyonya bilang kalau lemari Tuan muda tidak muat, jadi sebagai barang milik Nyonya di simpan di sana. Saya rasa itu sangat janggal, wong lemari Tuan gede banget, masa nggak muat," ujar Nurul panjang lebar.


"Ck, bahaya kalau begitu. Kapan aku bisa gendong cucu kalau begini?"


"Sepertinya aku harus ikut turun tangan, masalah ini," imbuh Mayleen.


Wanita paruh baya itu memang sengaja, memasukkan Nurul di rumah ini, agar bisa terus memantau perkembangan anak dan menantunya.


"Turun tangan gimana Nyonya?" tanya Nurul bingung.


"Kamu harus bantu aku pokoknya, aku ingin secepatnya punya cucu. Atau jangan-jangan mereka belum unboxing, wah gawat ini."


"Rul, pokoknya nanti malam kamu harus melakukan semua sesuai dengan rencana kita."


"Siap Nyonya, Nyonya bisa mengandalkan saya."

__ADS_1


"Bagus kalau begitu, kita mulai misi gendong cucu malam ini," tutur Mayleen dengan seringai mengerikan.


__ADS_2