
"Kenapa susah sekali untuk membuat mu berkata iya," keluh Max, sambil tersenyum lebar tidak jelas.
Arumi tak menyahut ucapan pria yang baru saja resmi menjadi pacarnya. Ia hanya melingkarkan tangan, membalas pelukan Max dengan erat.
'Tuhan, jika ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku.'
Max melepaskan pelukannya, ia menuntun Arumi agar bangkit dari tempat mereka bersimpuh. Max menatap Arumi dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya, kemudian pria tampan itu mengeluarkan kembali panda merah kecil yang ada dalam saku dan membukanya.
"Ap-apa ini Kak?" Mata Arumi membeliak lebar saat Max menyisipkan cincin dengan bertahtakan berlian kecil, berbentuk bintang warna biru.
"Ini adalah tanda, kau adalah milikku. Kau tidak boleh melepaskan ini, Paham," jawab Max dengan penuh penekanan, ia tahu Arumi akan menolak pemberian darinya.
"Tapi,-"
Sebelum Arumi sempat meneruskan ucapannya, Max sudah menyatukan bibir mereka. Juminten dan Dylan pun tersenyum melihat anak tentu mereka sudah menemukan pelabuhan hati, dan berharap Max bisa selalu bahagia.
"Sst, apapun yang aku berikan kau dilarang untuk protes dan menolaknya, atau aku akan mencium mu lagi," ancam Max, setelah melepaskan pagutan mereka.
Arumi menggeleng pelan, seraya menunduk. Wajahnya begitu memerah, setelah Max mencium bibirnya dengan mesra.
"Ai," panggil Dylan mesra, sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Kepalanya bersandar pada bahu Juminten, keduanya menatap ke bawah. Mengawasi Max dan Arumi dari dalam kamar mereka, pemandangan dari jendela besar yang mengarah langsung ke taman belakang.
"Apa?" Juminten mengusap rambut Dylan.
"Sepertinya kita belum pernah seperti mereka, pacaran lagi yuk."
Juminten menghela nafas, sedikit melonggarkan pelukan Dylan dan memutar tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan, saling berpelukan dalam kamar yang temaram.
"Kita sudah tua Kanda, anak kita aja udah lima. Masa mau pacaran lagi?"
"Ya kan nggak apa-apa, meski telat aku ingin melakukan hal-hal yang pasangan lain lakukan, pacaran melamar mu. Aku belum pernah melakukan hal yang romantis untukmu, maaf." Dylan sedikit menunduk, menyatukan kening mereka.
"Kenapa minta maaf, aku bahagia dengan kehidupan kita sekarang. Aku punya kamu, anak-anak, kehidupan yang baik, semuanya sempurna. Apalagi yang aku harapkan? Kau sudah memberi semuanya padaku." Juminten melingkarkan tangan di leher suaminya, sedikit berjinjit agar bisa memberikan kecupan lembut dan singkat di bibir Dylan.
"Aku rasa belum semua Ai, kita belum pernah bulan madu. Bagaimana kalau bulan depan kita liburan?"
"Lalu bagaimana dengan anak-anak?"
"Mereka sudah besar, jangan khawatir."
"Mely dan Moza?"
"Kita titipkan sebentar mereka di rumah Erick, mereka pasti mengerti."
__ADS_1
"Hem, baiklah. Terserah kanda saja."
Dylan tersenyum, ia kemudian mengangkat tubuh Juminten dalam dekapannya.
"Sekarang pembukaan dulu,"ujar Dylan dengan seringainya. Juminten terkekeh, melingkarkan tangan di leher sang suami.
Sementara di bawah, Michi yang melihat kemesraan Max dan Arumi dari kejauhan hanya bisa gigit jari.
"Hiks, nasib jomblo," keluh Michi, sambil berjalan masuk.
Tak kuat rasanya mata polos Michi melihat kemesraan mereka, ada denyutan dalam hati yang meronta. Gadis bermata sipit itu juga pengen kali bercinta ria, tapi apalah daya takdir belum mempertemukan dia dengan sang pencuri hati.
.
.
.
.
.
Pagi yang sibuk di jalanan kota Surabaya, seperti hari-hari biasa, Michi berangkat ke kampus. Tetapi kali ini ia menggunakan motor matic kesayangannya.
"Hei!"
"Hei!"
"Apa yang kau lakukan!" Michi berteriak, berlari kearah motor miliknya.
"Enggak ati-ati banget sih!" Bisa bawa motor nggak?!" Bentak Michi pada si pelaku.
Si pelaku diam, ia segera mengangkat membenarkan kembali sepeda Michi. Baru saja ia menyentuh dan hendak mengangkat sepeda motor itu, Michi sudah kembali berteriak.
"Lepas, aku bilang lepas!"
Brak
Motor itu jatuh untuk kedua kalinya.
"Kenapa kau lepaskan!" Protes Michi, sambil menatap tajam pada wajah yang tertutup helm itu.
"Kau bilang lepas ya aku lepas," jawab Pria itu santai.
Michi mendelik tajam, gadis berambut biru itu pun mengangkat motornya sendiri dengan susah payah.
__ADS_1
"Bukannya bantuin malah berdiri nggak jelas, dasar orang aneh. Pagi-pagi udah bikin rusak mood, huh sabar Michi sabar, marah cuma nambahin jerawat," gerutu Michi tidak jelas.
Pria yang tanpa sengaja menabrak sepeda motor Michi yang terparkir itu tersenyum di balik helm full face yang ia pakai. Ia merasa gadis yang ada di hadapannya sangat menarik.
"Huf, akhirnya." Michi menyeka keringat yang tak seberapa di kening.
Gadis yang memakai kaos hitam itu memutar tubuh, berkacak pinggang menatap jutek pada pria yang belum melepaskan helmnya.
"Nggak pingin minta maaf gitu," sindir Michi.
Pria itu melepaskan jaket dan helmnya, Michi sempat tertegun melihat ketampanan pria itu.
"Kau sendiri yang salah, kenapa harus minta maaf," ujar pria itu dengan datar.
Michi mengerutkan keningnya sambil melongo. Apa yang pria itu katakan, dia yang salah. Padahal sudah jelas sepeda motor Michi terparkir rapi dan diam di sana sebelum pria itu datang dan menyenggol motor Michi sampai rubuh, dan sekarang dengan seenak jidatnya pria itu bilang kalau Michi yang salah.
"Apa maksudmu?! Kau yang nabrak, sampai sepeda aku roboh, lecet! Dan kau bilang aku yang salah!" Pekik Michi dengan berapi-api.
"Katakan, dimana salahku!" Michi mendorong tubuh pria itu saking kesalnya.
"Hai Nona, perhatikan dimana kau parkir," pria itu berbicara dengan santai.
"Aku selalu parkir di sini, kau tidak tahu. Tidak ada yang salah dengan itu, kau pasti anak baru kan? Aku belum pernah melihat mu sebelumnya?"
Michi melihat pria itu dari atas sampai bawah, pria itu tanpa acuh dan tak perduli.
"Sudah puas melihatnya? Aku baru atau tidak di kampus ini, itu tidak penting. Kau mahasiswa di sini, tidak seharusnya kau memarkirkan motor di tempat parkir dosen," ujar pria itu dengan datar.
Michi berdecih sebal. " Apa kau lihat garis ini?"
"Di sini baru tempat parkir dosen," ujar Michi sambil menunjuk sebelah kanan sepeda motornya, tempat dimana motor besar pria itu terparkir. " Sepeda motor ku tidak melewati garis itu!"
"Kamu sendiri anak baru malah parkir di sini? Berani bener?" Sindir Michi.
Pria itu dia, dan menatap Michi dengan dingin. " Aku tidak butuh pendapat mu."
"Kau pikir aku perduli, aku cuma mau kau minta maaf!" Tegas Michi.
Pria itu diam, menatap Michi dengan mengintimidasi, tetapi bukan Michi jika ia takut. Gadis itu malah berkacak pinggang dan memasang wajah juteknya.
"Eh Pak Brian," sapa seorang wanita yang merupakan dosen di sana.
'Pak?'
Wajah Michi seketika memucat.
__ADS_1