
Arumi tersenyum kecil, ia bersandar manja di bahu Max yang sedang menyetir mobil.
"Aku percaya sama Kakak, kak Max sayang kan sama aku. Jadi nggak mungkin Kakak melakukan sesuatu yang bisa bikin aku sedih, kan Kakak sudah janji."
Max menepikan mobil, menghela nafas panjang. Arumi beranjak dari bahu Max agar bisa melihat wajah sang pujaan hati lebih jelas. Max menoleh, di tatapnya lamat wajah cantik Arumi.
"Hem, syukurlah kalau kamu percaya. Memang hanya kamu dan hanya akan kamu, satu selamanya dalam hatiku. Sayang," ujar Max, kecupan lembut mendarat di kening.
Arumi memejamkan matanya, merasa rasa hangat yang menjalar dari bekas ciuman Max.
"Sayang, kita nikah yuk."
"Heh apa Kak?!" Pekik Arumi terkejut.
Max tersenyum, ia merasa gemas melihat wajah terkejut Arumi.
"Kita nikah , Sayang. Aku nggak mau kehilangan kamu, entahlah mungkin ini terlalu cepat tapi aku benar-benar tidak rela berpisah walaupun sedetik darimu. " Max memeluk erat tubuh Arumi, seolah angin akan membawanya pergi jika ia tak memeluknya erat.
"Kak sesak," rengek Arumi manja.
"Biarin, aku nggak mau lepas sebelum kamu bilang mau," Ujar Max dengan senyuman manis, ia malah iseng semakin mengeratkan pelukannya.
"Astaga Kak Max, Arumi belum lulus SMA masa mau nikah? Kak Max juga belum selesai kuliahnya kan."
Ucapan Arumi membuat pria bermata sipit itu melonggarkan pelukannya, sedikit menarik diri menjauh dari Arumi.
"Kamu cinta nggak sama aku?" Tanya Max sambil merapikan rambut Arumi yang sedikit berantakan.
"Cinta. Kok Kak Max nanya kayak gitu? Kenapa? Apa Kakak ragu padaku?"
"Bukan begitu Arumi Sayang, kita sama-sama cintakan, aku juga sudah punya penghasilan. Ya meskipun nggak banyak, cukuplah buat kamu belanja ke mall tiap hari, nyalon, jajan ya pokoknya buat kita berdua hidup layak sepertinya cukup. Terus nunggu apa lagi?"
"Arumi masih takut Kak," lirih Arumi yang masih bisa didengar oleh Max.
"Takut apa?"
Arumi menunduk dengan wajah yang ia palingkan.
"Hey, kenapa? Apa kau tidak percaya dengan cinta kita?" Max bertanya dengan suara lembut pada kekasihnya.
Arumi menggeleng pelan. Dengan telunjuknya Max mengangkat dagu Arumi, membuat wanita itu menatap wajahnya.
"Lalu apa? Katakan apa yang membuat permaisuriku takut."
Arumi menghela nafas berat." Kak, aku nggak pernah meragukan cinta kita, tapi Kakak tau siapa aku?"
"Ya kau benar aku tahu dengan baik siapa dirimu. Kau ada wanita terbaik yang pernah aku temui, kau satu-satunya wanita yang mampu membuat seorang Max jatuh cinta. Kau sempurna Sayang."
__ADS_1
"Kak, bukan itu," rengek Arumi dengan manja, pipinya bersemu merah karena semua sanjungan Max.
"Apa sayang," Max malah semakin menggoda Arumi.
"Ish, Kakak menggombal terus. Arumi serius, Arumi takut kalau Mami nggak setuju dengan rencana Kakak untuk nikah sama Arumi, Arumi cuma gadis-"
Ssst
Max menempelkan telunjuknya di bibir tipis Arumi.
"Kita sudah janji buat nggak ngebahas itu lagi, aku tidak suka kau terus memandang rendah dirimu, Sayang. Ingat kau adalah kekasihku, kekasih seorang Max Li. Paham!" Tegas Max.
"Iya." Arumi memeluk Max lebih dulu, hal yang sangat langka.
Max sampai tertegun saat Arumi melingkarkan tangan mungil di perutnya. Pria sipit itu tersenyum lebar, ia pun membalas pelukan Arumi dengan erat.
"Jadi kau setuju kalau kita nikah?"
Arumi hanya menjawab dengan anggukan, Max tersenyum semakin lebih. " Terima kasih, terima kasih Sayang."
Max mengecup pucuk rambut Arumi berkali-kali. Dia begitu bahagia, sangat bahagia.
.
.
.
.
Michi menatap sinis pada seorang pria yang sedang duduk disebelahnya. Kaki pria itu selonjoran di pangkuan Michi.
"Pijat yang benar!" Perintah laki-laki itu dengan santai.
"Iya," sahut Michi. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaga menekan bagian mata kaki Brian dengan kuat.
"Aku bilang pijat bukan menyuruh mu menghancurkan tulang ku," tukas Brian.
Michi menoleh, ia memperlihatkan senyum kaku pada pria yang sangat menyebalkan bagi Michi. Kalau saja dia bukan dosen, mungkin sudah ada melemparkan sandal ke wajah tampan Brian.
"Saya akan memijit dengan baik Tuan Brian yang terhormat."
"Bagus lanjutkan." Brian menyandarkan kepalanya di sofa, menikmati pijitan Michi di kaki kanannya.
Bukan tanpa sebab Michi melakukan ini, Brian terjatuh dari tangga karena Michi tak sengaja menabraknya. Saat itu Michi sedang bertukar pesan dengan Matthew, hingga dia tidak fokus.
Sebagai kompensasi Brian menyuruh Michi untuk memijat kakinya yang terkilir. Sebagai seorang wanita yang bertanggung jawab tentu saja Michi bersedia, walaupun dengan tidak ikhlas. Karena Brian benar-benar cerewet, tak seperti saat di kelas, dengan image dosen dingin dan killer Bersama Michi Brian berubah menjadi pria yang banyak mau dan sangat cerewet.
__ADS_1
"Hentikan, pijitan mu sama sekali tidak enak. Kita pulang sekarang," ujar Brian seraya bangkit dan menurunkan kakinya.
"Kita? Pulang? Maksud Bapak?" Cerca Michi dengan alis menyatu.
Brian menunjuk dirinya dan Michi secara bergantian." Kita pulang, ke apartemen ku."
"What?!"
"Ngapain saya pulang sama Bapak? Saya punya rumah. Punya keluarga, ngapain saya pulang ke apartemen Bapak." Michi berdiri dan berkacak pinggang di depan Brian.
"Yang bilang kamu gelandangan, aku hanya bilang kau harus pulang ke apartemen ku, Mochi!" Perintah Brian dengan nada tegas tak terbantahkan.
"Tapi Kenapa?"
"Kau masih tanya kenapa? Bukan aku yang ingin sial karena kecerobohan seseorang yang tidak fokus saat berjalan. Oh ... Sst sakit sekali, sepertinya aku tidak akan bisa berjalan dengan baik selama beberapa hari ke depan, hais ...," Brian mendramatisir keadaan seolah ia baru saja mengalami kecelakaan serius, wajahnya memelas sambil mengusap pergelangan kakinya yang terkilir.
Michi memijit pelipisnya, ia tidak menyangka jika dosen killer itu sungguh jadi berakting. Pria itu tersenyum tipis, tampak begitu senang melihat wajah Michi yang begitu frustasi.
"Baiklah, saya minta Maaf Pak Brian. Saya akan mengantar Anda pulang, tapi saya harus izin dulu pada orang tua saya," sahut Michi dengan wajah pasrah. Bagaimana pun dia memang salah karena menabrak Brian dan membuat laki-laki itu terkilir.
Michi mengambil ponsel di sakunya, menekan tombol cepat dan langsung menyambungkan ke nomor ponsel Max. Karena Dylan dan Juminten sedang berlibur ke Bali.
"Halo Kak,-"
Brian dengan cepat merebut benda pipih yang ada di dekat telinga Michi. Michi terkejut tapi dia bisa apa.
"Halo, selamat hari? Apa ini orang tua Michi?"
[ "Selamat siang, bukan. Saya kakaknya, kebetulan orang tua kami sedang berlibur, jadi saya yang bertanggung jawab sekarang. Maaf Anda siapa? Kenapa menggunakan ponsel adik saya?" ]
"Ehem, perkenalkan saya dosen Michi. Mr, Brian. Begini, saya ingin menyampaikan jika Michi akan pulang agak terlambat beberapa hari kedepan, karena dia akan membantu saya." Brian menoleh pada Michi yang sedang melotot melihatnya.
[ "Emh, baik kalau begitu. Bisa saya bisa saya bicara dengan adik saya." ]
"Tentu." Brian memberikan ponsel Michi kembali.
"Halo Kak, Hem iya. Baik," ujar Michi sebelum menutup teleponnya.
"Apa maksud Bapak kalau saya akan pulang terlambat?"
"Kau harus merawat ku, tidak boleh pulang sampai aku mengizinkan mu untuk pulang, mengerti. Jadilah orang yang bertanggung jawab Nona Li." Brian menepuk pelan pipi Michi yang menggembung kesal.
'Dosen gila!'
Tanpa banyak bicara Michi memapah Brian keluar ruangan, banyak mata yang melihat kedekatan mereka. Walaupun baru sehari mengajar di kampus itu, tetapi pesona Brian sudah sangat tersihir di sana.
"Bagaimana bangga kan bisa memapah orang ganteng seperti aku," bisik Brian.
__ADS_1
"Bodo amat," umpat Michi pelan.