
Juminten hanya tersenyum tipis mendengar keluhan Lee, dia tidak tahu saja perjuangan Juminten untuk menggapai cinta sang suami. Ah .. iya Juminten memang belum pernah menceritakan kisah cintanya pada Lee.
"Mau dengar kisah ku nggak?" Tanya Juminten sambil membenarkan posisi duduknya, maklum saja. Walaupun masih empat bulan, tetapi Juminten sudah sering merasakan pegal pada punggungnya. Mungkin karena efek umur juga.
"Bolehkah? Mau mau," sahut Lee penuh semangat, ia yakin Kisa Juminten dan Dylan penuh bunga dan manis seperti permen kapas.
Juminten tersenyum, ia pun mulai menceritakan kisahnya. Kisah perjodohan paksa, yang di lakukan oleh Mayleen. Atas dasar hutang budi Juminten menerima perjodohan itu, sama halnya dengan Dylan yang menerima perjodohan itu karena tak mau di coret dari kartu keluarga.
Tak lupa bagian Jessica, kekasih Dylan saat itu. Yang memaksa Dylan, untuk menyuruh Juminten menandatangani perjanjian. Lee cukup terkejut mendengar kisah Juminten yang tak semulus ia bayangkan.
"Jadi ya seperti itulah, mungkin sikap Dylan seperti itu juga karena rasa bersalah dia sama aku," tutur Juminten menutup ceritanya.
Lee manggut-manggut mendengar cerita yang baru saj selesai di dongengkan oleh saudara iparnya.
"Tapi aku bisa lihat, Dylan itu beneran cinta mati sama kamu."
"Aku juga bisa lihat Erick cinta mati sama kamu," tukas Juminten.
"Kita nggak bisa, lebih tepatnya nggak boleh membandingkan satu orang dengan orang lain, meskipun mereka saudara kembar sekalipun. Mereka punya watak dan karakter yang berbeda, walaupun wajahnya kayak pinang dibelah dua tetap saja mereka berbeda. Kamu juga nggak sehari dua hari kenal Erick kan, jadi kamu lebih tahu bagaimana dia. Jangan mengharapkan dia bersikap jadi orang lain, seperti halnya dia yang tidak mengharapkan kamu untuk bersikap seperti orang lain," tutur Juminten .
Lee nilai berpikir, logikanya mulai berjalan dengan baik. Mungkin dia terlalu berlebihan membayangkan kehidupan setelah pernikahan. Karakter Erick jelas berbeda dengan Dylan, jika Dylan lebih terbuka dengan perasaan. Berbeda dengan Erick, yang terkesan dingin dan cuek. Tetapi ia tahu, Erick sangat mencintainya.
"Dan masalah soal kehamilan kamu, aku bisa bantu deh ntar promil kamu, habis berkunjungin Papa sama Mama kita belanja. Ntar kita beli vitamin, susu dan makanan pendukung buat program hamil kamu. Tapi yang paling penting kamu nggak boleh stress, percuma makan apapun kalau kamu stres." Juminten mengambil sekotak nasi gulung isi telur.
Kebiasaan Juminten saat hamil, ia seolah tak pernah kenyang, apalagi menginjak trisemester kedua. Nafsu makannya bertambah besar.
__ADS_1
"Aku takut, tadi aku melihat betapa kecewanya Daddy," sahut Lee sambil menunduk, hampir saja wanita itu menangis.
Ia berusaha menahan tangisnya, tak ingin di anggap cengeng orang adik ipar yang baru ia kenal.
"Nangis aja Lee, biar kamu lebih lega." Juminten menyandarkan kepala Lee di bahunya, wanita muda nan cantik itu mulai menunduk lebih dalam.
Pelan tapi pasti, bulir bening turun dari sudut matanya.
"Gimana kalau Daddy cari cewek lain, aku tau aku nggak secantik wanita yang Daddy bawa pulang sebelum kami menikah. Mereka bisa dandan, bodynya bagus, sedangkan aku. Cuma cewek kerempeng, kayak gini," ujar Lee di sela isak tangisnya.
Walaupun Erick mengatakan kalau ia hanya menyewa wanita-wanita malam itu, untuk melampiaskan nafsunya pada Lee. Tetapi tetap saja ada rasa cemburu dalam hatinya, terlebih hari ini. Ia merasa sangat tidak tenang, pikiran Lee terus melalang buana.
"Tapi kan Erick cintanya sama kamu Lee, bukan sama mereka. Body kamu juga bagus kok, nggak kalah sama papan cucian, eh ... Salah gitar spanyol maksudnya."
"Hua.. !" Tangis Lee semakin kencang, mendengar Juminten memperjelas bentuk tubuhnya.
"Buat apa? Paling jadi pesuruh kamu bawain ini," jawab Erick sambil mengangkat plastik penuh makanan juga teh buah yang Juminten inginkan.
Dylan memutar bola matanya jengah, melirik Erick sekarang sama seperti melihat dirinya dulu. Tidak peka sama sekali pada sang istri, ia tersenyum kecil mengingat masa lalunya itu. Sampai sekarang saja dia masih merasa bersalah pada Juminten, walaupun wanita itu bilang jika dia tidak memikirkannya lagi.
"Lo sadar nggak, ada yang beda sama istri Lo. Nah bini gue ngajak dia ngobrol, makanya gue ajak Lo keluar. Gitu aja nggak ngerti, dasar nggak peka Lo," ujar Dylan sambil membuka pintu mobilnya.
Erick menghentikan langkah sejenak, alisnya menukik menyatu. Beda? Beda apanya? Perasaan Erick, Lee masih normal. Dia juga masih begitu aktif di ranjang, apa Lee merasa tidak puas dengan permainan mereka tadi.
"Oi mau pulang kagak Lo!" Teriak Dylan, menyadarkan Erick.
__ADS_1
Erick tak menjawab, ia melangkah cepat masuk ke mobil. Memasang sabuk pengaman setelah meletakkan belanjaan mereka.
"Maksudnya apa sih Dy, gue nggak ngerti? Beda gimana?" Tanya Erick dengan serius.
Dylan berdecih, ia merogoh ponselnya, kemudian menekan pesan suara yang Juminten kirimkan padanya. Erick mendengar percakapan Juminten dan Lee dengan mata yang melebar, ia tidak menyangka jika Lee berpikir seperti itu. Dan masalah romantis itu, itu bagaimana? Erick yang tidak pernah pacaran juga bingung bagaimana bersikap romantis.
"Gimana? Sudah paham sampai sini." Dylan mematikan ponselnya.
Juminten sengaja merekam percakapan dia dengan Lee,lalu mengirimkan itu pada Dylan agar bisa memberitahu Erick. Juminten ingin Erick mengerti apa yang istrinya inginkan. Tentu saja bagian Juminten yang sedang mendongeng kisah cintanya di skip.
Erick mengambil nafas dalam, ia memijat pelipisnya.
"Gue nggak pernah masalah jika Lee belum hamil, Bro. Bahkan gue nggak pernah bilang apa-apa, tadi pagi dia sendiri yang tanya. Apa aku bakal manjain dia kalau dia hamil, lha otomatis aku tanya dong apa dia lagi hamil, dia cuma godek trus ke kamar mandi," tutur Erick panjang lebar.
Dylan menggelengkan kepalanya pelan.
"Lo nggak bilang, tapi wajah Lo tuh udah bisa ke baca dia. Terus masalah dia nanya kamu mau manjain dia apa nggak? Gini ya, aku jelasin. Dia tuh bukan bahas kehamilan sebenernya, pertanyaan itu mengandung arti lain."
Erick menatap Dylan dengan serius, menanti tiap kata yang akan kembarannya itu ucapkan.
"Dia nanya, apa kamu akan manjain dia kalau dia hamil, gitukan. Arti lain dari pertanyaan itu adalah, apa aku harus hamil dulu baru aku di manja sama kamu? Begitu, paham nggak Lo," tutur Dylan, bak suhu.
Erick diam dia mencoba mencerna apa yang dikatakan Dylan, mencoba menggabungkan dengan Kejadian di pesawat. Dimana Lee terus memperhatikan Dylan dan istrinya.
"Dy, anter gue ke satu tempat sebentar," ujar Erick tiba-tiba dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Ok," sahut Dylan dengan semangat, sepertinya kembarannya itu sudah sadar.
.