Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bertemu


__ADS_3

Mata sipit Dylan terbuka, entah kapan ia terpejam. Suara ponsel yang menjerit-jerit, memaksanya untuk terjaga. Dahi Dylan mengerut, dengan kepalan tangan pria sipit itu memukul kepalanya beberapa kali. Pening dan berat, ia mencoba berdiri meskipun dengan sempoyongan, tubuhnya terasa sakit akibat duel dengan saingan cintanya.


Lama menunggu Juminten tak kunjung pulang, Dylan memutuskan untuk mencarinya. Ia kembali ke tempat dimana dia menurunkan Juminten. Dan berputar-putar di daerah sekitar sana, dia juga mencari di rumah lama Juminten tapi tetap tak menemukan keberadaan sang istri. Tak ada orang terdekat Juminten yang Dylan kenal, ia pun memutuskan untuk kembali pulang.


"Kemana dia, kenapa belum pulang juga?"


Dylan mondar-mandir dengan gelisah, ia terus menghubungi ponsel Juminten. Pria sipit itu terus mencoba menggali ingatan seseorang yang bisa dia tanya tentang keberadaan sang istri.


"Apa aku harus bertanya pada laki-laki itu?" Dylan berdecih kesal, ia tidak bisa mengingat siapapun teman Juminten selain Heru.


Laki-laki yang sangat jelas menyimpan rasa suka pada istrinya. Dylan bisa merasakan itu, saat Heru bersitegang dengan Heru tadi.


Tidak ada cara lain, dia harus bertanya pada Heru. Tapi, bagaimana dia menghubungi pria itu, nomer telponnya saja dia tidak punya. Dylan ingat kalau Heru berkata Juminten berkerja untuknya, dan kalau dia tidak salah ingat baju yang dipakai Juminten tadi adalah seragam kerja.


Dylan bergegas pergi ke kamarnya, berharap bisa menemukan petunjuk di sana. Sesampainya di kamar, pria sipit itu lekas membuka lemari sang istri, mata Dylan langsung mengarah pada sebuah kaos berwarna sama seperti yang dipakai Juminten tadi siang.


Segera ia ambil kaos itu, sebuah gambar baju dan nama Washolic tertera dada kanan. Dylan tertegun sejenak, jadi selama ini Juminten berkerja di tempat laundry. Dylan menunduk, ia semakin menyesal telah berkata tak pantas pada istrinya.


Dylan pun pergi tempat Juminten bekerja, berharap bisa menemukan keberadaan sang istri di sana. Bukannya mendapat petunjuk, Dylan malah mendapat bogem mentah dari Heru.


Flashback.


Brugh


Dylan jatuh tersungkur, saat Heru melayang pukulan di perutnya. Setelah beberapa pukulan ia terima sebelumnya.


"Hah ...cuih!" Dylan meludahkan darah yang terasa amis dari mulutnya.


"Seberapa pun kau memukul ku, Jum tetap milikku," ucap Dylan sinis.


Heru yang sudah sama babak belurnya dengan Dylan, kembali menarik kerah kaos pria sipit itu.


"Dia butuh aku, bukan suami pengecut seperti mu!" ujarnya dengan nada tinggi tepat di wajah Dylan.

__ADS_1


Dylan mendorong tubuh Heru dengan kuat, satu pukulan ia hadiahkan lagi di pipi kanan Heru.


"Dia milikku!" tegas Dylan.


Keduanya kembali bergelut tanpa ada yang memisahkan. Saat Dylan datang, hanya ada Heru yang hendak menutup tempat laundry. Karena ia hanya buka setengah hari di hari minggu.


Nafas keduanya tersengal, dua pria itu duduk berselonjor dilantai dengan tubuh penuh lebam.


"Jika kau tidak menjaganya dengan baik, aku akan mengambil dia darimu. Cepat atau lambat," ujar Heru dengan tatapan sinis, pria itu memegangi dadanya yang terasa nyeri karena tendangan Dylan.


"Jangan khawatir, itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!" Dylan mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya, doa dan Heru nyatanya sama kuat.


Dylan pergi dari tempat itu dengan menertawakan dirinya sendiri. Perkelahian yang tidak jelas sama sekali sebab musababnya, berakhir seri dan tanpa ada hasil tentang keberadaan Juminten.


Flashback end.


Kaki Dylan menyenggol botol-botol kaca, membuat mereka mengelilingi, berserakan dilantai kamar. Dylan hanya melirik sekilas, ia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Membersihkan tubuh yang lengket dan berbau.


Patah hati, karena cinta yang berbalas kepalsuan. Namun, ia tidak menangis meratapi keputusannya untuk berpisah dengan Jessica. Alih-alih memikirkan Jessica, otak Dylan dipenuhi oleh bayang-bayang Juminten. Ya, wanita manis itu terus menari di pelupuk matanya.


"Cumi! ambilin handuk!" teriak Dylan dari dalam kamar mandi.


Hening tak ada jawaban,Dylan terdiam, ia sadar Juminten tidak ada di rumah. Laki-laki yang baru saja menyelesaikan ritual mandi itu pun keluar tanpa memakai handuk, ia hanya memakai celana pendek yang tidak ganti sejak kemarin.


Lagi-lagi Dylan terpaku, saat tak mendapati baju bersih di atas ranjang. Dylan mengedarkan pandangan menjelajahi tempat peraduannya dengan Juminten, kamar itu terlihat seperti kapal pecah. Botol-botol minuman berserak di lantai, ranjang yang sudah tak karuan bentuknya.


Biasanya di jam seperti ini, Juminten sangat sibuk memasak di dapur. Ia bahkan bisa mencium aroma masakannya dari dapur, wanita itu akan berteriak meminta Dylan turun untuk sarapan. Seulas senyum kecut tersungging di bibirnya, mengingat hari-hari bersama Juminten.


Ponsel Dylan kembali menjerit, dengan enggan ia mencari keberadaan ponselnya di antara lipatan selimut yang berantakan. Setelah menemukannya, ia segera mengangkat telepon dari Raka.


"Ada apa? jangan katakan sesuatu yang menganggu pagi ku!" sentak Dylan dengan ketus.


"Pagi? ini sudah jam sebelas siang Tuan."

__ADS_1


"Hah, pantas saja perutku perih," gumam Dylan.


"Apa Tuan kekantor hari ini?"


"Sepertinya tidak, aku tidak akan bisa fokus bekerja sebelum aku menemukan istriku," jawab Dylan sambil memijit pelipisnya.


"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan mengenai Jessica."


"Urus saja dia sesukamu, aku tidak peduli."


"Baiklah, dengan senang hati akan saya lakukan. Dan satu lagi Tuan."


"Apa?" tanya Dylan malas.


"Saya sudah tahu keberadaan Nyonya Muda."


"Anj*ng, kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi!"


"Hehehehe .... sengaja Tuan," Raka tertawa begitu puas bisa menjahili atasannya itu.


"Cepat katakan!" bentak Dylan tidak sabar.


"Nyonya ada di puskesmas xx sepertinya Nyonya dirawat di sana sejak kemarin."


Dylan menutup sambungan teleponnya, ia berjalan cepat kearah lemari untuk mengambil baju ganti.


Mobil merah melaju dengan cepat, menyalip beberapa kendaraan yang ada di hadapannya. Ia mencemaskan keadaan Juminten yang sedang dirawat. Berkali-kali Dylan mengumpat saat lampu merah menghambat perjalanannya.


Dengan kecepatan yang cukup mengerikan, layaknya pembalap F1 Dylan melaju di jalanan kota. Tak perduli dengan surat tilang yang nantinya akan ia terima.


Pria sipit itu bergegas turun, setelah mobilnya terparkir di halaman puskesmas yang ia tuju. Baru saja Dylan akan masuk ke gedung bertingkat itu, sesosok wanita dengan wajah pucat keluar dari sana, ia tampak tersenyum setelah berbicara dengan seseorang yang memakai seragam putih.


Wanita itu menoleh, kedua netra mereka bertemu. Keduanya diam dengan, saling bertatapan dengan jarak cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2