Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Penasaran


__ADS_3

Setelah mobil Dylan menjauh, Juminten pun masuk. Wati yang tahu melihat majikan mudanya datang, segera menyambutnya dengan gembira.


"Nyonya muda,"sapa Wati.


"Bu wati, apa kabar?"


"Baik Nyonya, alhamdulillah. Nyonya sendiri?"


"Baik Bu, sangat baik." Juminten memeluk erat wanita paruh baya itu.


Wati terkejut, dengan pelukan dadakan dari majikan mudanya itu. Ia pun. membalas memeluk Juminten, mungkin majikannya ini sedang merasa sangat bahagia.


"Mama sama Ibu di mana, Bu?" tanya Juminten setelah melepaskan pelukannya.


"Aduh maaf Nyonya muda saya sampai lupa. Nyonya besar sama Ibu Mirna lagi nyalon, mungkin nanti sore baru pulang," jawab Wati.


"Umh ... gitu ya. Aku istirahat di kamar aja deh Bu."


Juminten memang merasa gampang lelah, apalagi pagi tadi olahraga ranjang yang cukup menguras tenaga.


" Baiklah, Nyonya mau buatkan sesuatu? nanti biar saya antar ke kamar."


"Apa ya, pengen ngemil yang anget. Mie kuah boleh kayaknya enak, sama air dingin kasih jeruk nipis ya Bu."


"Siap Nyonya muda."


"Terima kasih."


Juminten melangkah, menaiki tangga menuju ke kamar Dylan. Kamar yang pernah ia tempati bersama suaminya.


Juminten merebahkan tubuhnya di kasur yang berbalut sprei berwarna hitam. Kamar itu selalu bersih walaupun tidak ditempati.


Tangan lentiknya mengusap perut yang kini telah tertanam benih dari pria terkasih. Juminten tersenyum lebar, mengingat kenangan yang ada di kamar ini. Bagaimana cuek dan dinginkan sikap sang suami, yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.


Dylan begitu mencintai dan memanjakan dirinya, bahkan ia bertingkah konyol hanya untuk membuat Juminten tertawa.


Sekarang kehidupan Juminten bisa dibilang sempurna. Memiliki suami yang tampan dan mapan, mertua yang baik, Mirna pun dalam keadaan yang sehat. Bahkan ibunya kini sudah bisa berjalan dengan Walker empat kaki, ia juga sudah bisa bicara, meskipun masih belum begitu jelas.


Dimas juga sebentar lagi akan bebas, keponakannya itu berniat untuk mondok setelah keluar dari lapas anak.


"Kalian sehat-sehat terus ya, Mami sama Papi selalu sayang sama kalian," gumam Juminten pada ketiga janinnya.


"Kembar tiga ya, aku kasih nama siapa ya?"


Juminten mengambil ponsel dari sakunya, ponsel berlogo apel dimakan ulat yang baru beberapa hari yang lalu di belikan Dylan. Wanita itu sangat antusias mencari informasi tentang ibu hamil dan nama-nama bayi sebagai referensi untuk calon anak-anaknya kelak.

__ADS_1


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Juminten.


"Nyonya boleh saya masuk?" tanya Wati dari luar kamar.


"Iya Bu, masuk saja!"


Pintu kamar pun terbuka, wati masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk mie instan kuah dengan segelas minuman pesanan Juminten.


"Taruh di meja aja Bu," ujar Juminten seraya bangkit dari tempat tidur.


"Baik Nyonya." Wati meletakkan makanan yang ia bawa di meja, sesuai dengan permintaan Juminten.


"Saya lanjut bersih-bersih dulu ya Nyonya muda. Kalau butuh apa-apa panggil saja saya, saya ada di sebelah. Mau membersihkan ruang kerja Tuan besar."


"Baik Bu, terima kasih ya." Juminten mengangguk dengan senyum.


"Sama-sama Nyonya, permisi." Wati pun pamit mengundurkan diri.


Juminten menghirup aroma sedap mie instan yang membuat air liurnya menetes. Tanpa menunggu lama, Juminten menikmati mie kuah rasa ayam bawang itu.


"Bu Wati," panggil Juminten dari luar ruangan yang bersebelahan dengan kamarnya.


Tak ada jawaban, Juminten pun memutar handle pintu. Kosong, ruangan bernuansa klasik itu terlihat begitu elegan. Juminten melangkah masuk. Ia berhenti saat melihat sebuah foto besar yang menghadap meja. Seorang anak laki-laki diapit oleh kedua orang tuanya.


Mayleen terlihat masih sangat muda difoto itu. Juminten tersenyum melihat foto suaminya itu, pria sipit berusia sekitar 10 tahun, memakai setelan jas hitam dengan rambut disisir kebelakang.


"Papi kalian ganteng sejak kecil ternyata," gumam Juminten lirih.


Juminten berjalan memutari meja kerja yang tertata apik. Ia tertarik dengan buku-buku yang tersusun rapi di lemari kaca besar, jari tangan Juminten menyentuh buku-buku besar yang tak berdebu. Begitu bersih, mungkin karena baru selesai dibersihkan Wati.


Tidak hanya buku, tapi juga beberapa foto Dylan kecil terpajang rapi di sana.


"Eh ..!"


Brugh


Brugh


Juminten tersandung karpet, saking fokusnya melihat foto kecil Dylan yang memakai baju bebek. Tangan Juminten yang meraih buku hendak berpegangan, malam membuat buku-buku tebal itu berjatuhan.


"Astaga Nyonya muda!" pekik Wati, wanita paruh baya itu segera mendekati Juminten yang terduduk dengan buku berserakan diatas karpet berbulu.

__ADS_1


"Nyonya ngapain di sini? apa Nyonya terluka?" Wati membolak-balik tubuh Juminten.


"Aku nggak apa-apa Bu, aku tadi cari Bu wati. Tapi nggak ada, terus iseng lihat-lihat, hehehehe. Nggak apa-apa kan?"


"Maaf Nyonya Muda, saya tadi ke belakang setelah bersihin ruangan ini. Ngelanjutin jemur baju. Tadinya saya ke kamar Tuan cariin Nyonya, eh denger suara gedebukan dari sini, nggak taunya Nyonya jatuh kayak gini," cerocos wati sambil memunguti buku yang jatuh.


"Iya Bu, maaf ya kalau saya lancang masuk sini."


"Nggak apa-apa kok, Nyonya muda kan menantu sini."


Wati menata buku-buku itu kembali ke tempatnya, Juminten pun tak tinggal diam. Meski Wati melarangnya.


Surat?


Juminten mengambil sebuah amplop usang, yang terselip dalam salah satu buku yang terselip disalah satu buku.


Surat apa ini? kenapa ditaruh didalam buku? apa ini rahasia Papa ya?


Juminten membolak-balikkan, benda pipih berbentuk segi panjang itu. Entah kenapa ia merasa harus membacanya, lancang memang.


"Tinggal sedikit biar saya aja Nyonya."


"Iya Bu." Dengan cepat Juminten memasukkan surat itu kedalam saku, dan memberikan buku terakhir pada Wati.


Mereka berdua pun keluar dari ruang kerja Tuan besar itu.


"Saya lanjut masak buat makan siang, Nyonya mau di masakin apa?"


"Apa saja Bu, yang penting enak," jawab Juminten.


"Siap atuh, saya masakin yang paling enak."


"Percaya deh, masakan Bu Wati nomer satu," puji Juminten sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Bisa saja Nyonya Muda ini, saya kan jadi malu."


"Lho memang bener kok."


"Hehehehe iya deh. Nyonya muda, apa mau saya telepon Nyonya besar biar cepet pulang nemenin Nyonya muda di rumah?"


"Nggak usah Bu, nanti kan juga pulang. Saya nggak mau ganggu waktu santai mereka."


Wati pun manggut-manggut mengerti. Setelah itu, Wati pamit ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Juminten, memilih untuk melihat televisi untuk menunggu waktu makan siang. Benda pipih itu menyala, tetapi tidak menarik sedikitpun bagi Juminten. Pikirannya masih penuh dengan surat usang yang ada di saku bajunya.

__ADS_1


__ADS_2