Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Heru Prasetyo


__ADS_3

"Kamu!"


"Iya aku." Pria itu tersenyum dengan sangat lebar.


"Astaga, ini beneran kamu. Kok ya ganteng bener, beda sama waktu SD dulu,"ujar Juminten, ia masih terheran-heran tak percaya.


"Ya kan itu dulu, sekarang ya sudah beda. Tapi kamu nggak berubah, cuman tambah aja."


"Tambah apa?"


"Tambah cantik." Sebuah kata yang sukses bikin Juminten malu-malu keong.


Pria itu lagi-lagi tersenyum melihat pipi Juminten memerah tersipu. Hari ini ia benar-benar beruntung, bisa bertemu teman sekaligus cinta masa kecilnya.


"Isok ae." [ Bisa aja."] Juminten memukul lengan pria itu dengan kuat.


"Adoh Cumcum, sakit tau!" pekik laki-laki bertubuh tegap itu. Dia meringis sambil mengusap bekas pukulan Juminten, untuk ukuran wanita tenaga Juminten cukup besar.


"Hehehehe ... Ngomong-ngomong ngapain kamu di sini?"


"Aku ditugaskan di sini," jawabnya. Mulut mungil Juminten pun ber O ria.


"Ke sana yok, ke suwen di kum ko sikil ku ranggen." [ Ke sana yok, kelamaan di rendam nyat kakiku kena kutu air." ]


Laki-laki itu menarik tangan Juminten, mengajaknya menjauh dari bibir pantai. Sebuah warung kecil yang menjual kelapa muda menjadi tujuan mereka.


"Pak kelapa dua," pesan pria itu.


"Iya, tolong tunggu sebentar." Pria itu mengangguk, dengan masih menggenggam tangan si wanita.


Ia membawa Juminten untuk duduk di sebuah pohon yang telah tumbang, atau memang sengaja diletakkan di sana. Juminten menarik tangannya dari genggaman si pria, pria itu tersenyum kemudian duduk di samping Juminten.


"Aku bingung tau pas kamu tiba-tiba pindah, aku sampe nyamperin ke rumah Mbah kamu lho," ujar Juminten dengan tatapan lurus kearah laut.


Hati laki-laki itu berbunga, mendengar Juminten mencarinya. Ya, mereka teman semasa SD. Saat itu Juminten kelas 3 sedangkan pria itu sudah kelas 6. Namun, karena ukuran tubuh mereka hampir sama Juminten tidak memanggil cak atau mas, dia hanya memanggil nama saja Heru.

__ADS_1


Heru Prasetyo, laki-laki yang dulu bertubuh kecil, memakai kacamata tebal dan topi sekolah yang dipakai terbalik. Kini, berubah menjadi sosok yang tinggi tegap dan tampan. Pria itu menatap intens wanita manis yang duduk di sampingnya, tanpa menyadari cincin berwarna silver yang melingkar di jari manis wanita itu.


"Kamu beneran cariin aku Cum?" Juminten menoleh, ia menatap Heru dengan mulut manyun lima centi.


"Ya iya lah, kalau nggak percaya kamu bisa tanya sama Mbah bejo. Kamu tuh teman aku manjat jambu pak RT, nggak ada kamu aku jadi nggak pernah manjat lagi, nggak ada yang ngawasi keadaan," celoteh Juminten mengenang masa lalu mereka.


"Ya elah, kirain khawatir sama aku. Ternyata kamu hanya mau ngajak aku nyolong jambu." ujarnya dengan raut wajah kecewa.


"Permisi ini air kelapanya." si penjual memberikan dua kelapa yang sudah di lubang dan diberi sedotan.


"Terima kasih Pak," ucap Juminten. Pria paruh baya itu tersenyum dengan sedikit menunjukkan kepala.


"Hahaha ... gitu aja ngambek, iyalah aku khawatir. Tiba-tiba kamu nggak sekolah seminggu, nggak pamit nggak apa. Emang kamu kemana waktu itu?" kini Juminten bertanya dengan serius.


Heru menghela nafas panjang, mata jernih miliknya menatap jauh. Juminten dengan seksama menanti cerita Heru sambil menikmati air kelapa miliknya, jujur saja dia penasaran kemana perginya Heru selama ini.


"Aku dijemput papa, dipaksa ikut beliau. Padahal aku udah nolak, Papa sama Mbah bahkan sempat bertengkar. Aku terpaksa ikut karena nggak tega Mbah dibentak terus sama Papa."


Juminten menepuk bahu teman kecilnya itu. Heru menoleh, tersenyum getir mengingat masa kecil yang kelam.


"Sabar ya Her, tapi sekarang gimana? Kamu masih ikut Papa kamu?" Heru menggeleng.


"Aku sudah bebas sekarang, hidup seperti apa yang aku mau."


"Baguslah, aku senang liat kamu bahagia kayak gini."


Bahagiaku nggak lengkap tanpa kamu Cumcum.


Heru memang menaruh hati pada Juminten. Dulu ia menganggap Juminten sahabat terbaiknya, tetapi semakin ia tumbuh dewasa Heru menyadari kalau dia menyukai Juminten. Gadis manis yang memiliki tahi lalat itu selalu menggoda dalam mimpi Heru.


Pernah ia berkunjung ke rumah Kakeknya, berharap bisa bertemu Juminten lagi. Namun, sayangnya keluarga Juminten sudah pindah. Heru pun kehilangan jejak Juminten.


"Heh kok bengong, makan yuk laper."


Sroot

__ADS_1


Juminten menyedot habis air kelapa miliknya, hingga habis tak bersisa. Heru pun segera menghabiskan miliknya, kemudian membayar.


Keduanya pun berjalan menyusuri pantai dengan kaki tela***g, mencari menu makan siang yang akan mengisi lambung mereka.


Sementara itu di pantai lain Bali. Dylan berjalan bergandengan dengan sang kekasih, Jessica. Ya, wanita itu tidak mau melewatkan kesempatan untuk berbelanja di Bali. Ia bahkan meninggal pekerjaannya di Bandung.


"Sayang aku mau itu dong," rengekannya dengan manja.


"Emh ... Apa kau benar-benar butuh itu?"


"Apa sih, kalau nggak mau beliin ngomong aja langsung," tukas Jessica dengan nada tinggi.


"Jessica, pelankan suara mu." Dylan menoleh ke kanan-kiri, beberapa pengunjung outlet branded itu sedang melihat kearahnya.


"Kenapa malu? nyesel aku nyusul kamu ke sini. Apa kamu tau, aku rela ninggalin kerjaan demi kamu! tapi kamu malah begini sama aku, hiks ..."


Air mata buaya Jessica mulai berderai, membuat Dylan tidak tega melihatnya. Apalagi saat ini mereka ada di keramaian, Dylan semakin serba salah.


"Ok ok maaf. Terima kasih udah meluangkan waktu untuk kita, sudah ya jangan nangis lagi." Dylan memeluk erat gadis berambut bercat merah itu.


Jessica menyeringai dalam pelukan Dylan. Ia tahu jurusnya ini tidak akan pernah gagal, pria sipit itu punya hati yang lembut dan gampang sekali tersentuh.


"Abisnya kamu gitu, aku kan sedih jadinya."


"Iya ...iya maaf." Dylan mengusap rambut Jessica dengan sayang.


Wanita dengan make-up tebal itu menarik dirinya sedikit menjauh.


"Tapi jadi kan beli itu." Mata yang memakai bulu mata anti tsunami itu berkedip manja.


Dylan mengangguk mengiyakan, seketika wanita itu berhambur ke benda yang ia inginkan. Entah kemana perginya raut wajah sedih tadi.


Setelah puas berbelanja, Dylan mengantarkan Jessica ke bandara. Jessica harus ke Jakarta untuk pemotretan besok, entah benar atau tidak hanya dia yang tahu.


Senja mulai menyapa, Juminten kembali ke villa bersama Heru. Tadi dia menyuruh Pak Abib untuk kembali ke villa terlebih dahulu, ia tidak tega jika pria paruh baya itu menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Mobil berwarna hitam milik Heru, mulai memasuki halaman villa. Seorang laki-laki berwajah oriental menyambut mereka dengan tatapan tajam, setajam silet.


__ADS_2