Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Konferensi pers


__ADS_3

"Ma bantuin Dylan dong, biar Mama cepet dapet cucu," rengek laki-laki bermata sipit itu.


Mendengar ucapan Dylan Juminten mendelik tajam, bisa-bisanya dia bicara seperti itu pada Mama Mayleen.


Mayleen terkekeh geli mendengar Dylan merengek seperti bocah. Tetapi Mayleen bahagia dengan Dylan yang seperti ini. Lama sekali rasanya, anak laki-lakinya tidak bertingkah manja seperti ini.


"Emangnya mau mama bantu apa? kan yang cetak cucu kalian, Mama bantu doa aja ya," ujar Mayleen dengan menatap wajah Juminten yang memerah karena malu.


"Iya ma makasih, doain semoga pernikahan kami langgeng sampai kakek nenek."


"Amin, itu pasti sayang."


Juminten cukup terenyuh sebenarnya dengan ucapan Dylan. Tetapi ia belum yakin sepenuhnya kalau semudah itu suami sipit berubah.


Malam itu mereka Dylan memutuskan untuk menginap di rumah sang Mama, melihat Juminten yang sepertinya masih begitu rindu dengan ibu mertuanya.


"Cumi, masa aku tidur sendiri lagi," rengek Dylan sambil memeluk pinggang sang istri.


"Ih, kamu ini kenapa sih? kayak bocah tau nggak." Juminten mendorong tubuh sang suami yang super lengket memeluknya.


"Aku mau bobo sama kamu, kemarin udah bobo sendiri masa sekarang sendiri lagi. Kasihanilah aku," rayunya dengan wajah yang dibuat memelas.


"Ogah, kamu mau lepasin atau mau aku marah!" ancam Juminten.


"Aku lepas deh. Jangan marah ya."


"Ya."


"Aku mau tidur sama ibu. Kamu baik-baik di kamar, cepet tidur nggak usah begadang," pesan Juminten yang diangguki oleh sang suami.


Dengan terpaksa pria sipit itu menghabiskan malam yang dingin sendirian, memeluk guling yang tak sewangi tubuh sang istri meskipun sudah si rendam pake Dona.


🌞


Pagi ini kantor terlihat sangat sibuk, menyiapkan acara konferensi pers. Bangku-bangku sudah tertata rapi, Raka mengecek semuanya sendiri, tak ingin ada kesalahan sedikitpun dalam acara ini.


Tak berapa lama, para wartawan sudah memenuhi bangku yang tersedia. Mereka tak ingin melewatkan berita terbaru tentang perusahaan yang cukup punya nama itu.


"Mau ngapain sih Dy, aku ikut ke kantor segala?" tanya Juminten sambil membenarkan dress yang ia pakai.

__ADS_1


Wanita itu tampak cantik dengan dress tanpa lengan, dengan motif donat berwarna merah muda. Rambut hitam yang sedikit bergelombang ia biarkan tergerai, hari ini Juminten terlihat sangat cantik.


"Ssst ... ini kejutan." Dylan menempel telunjuknya di bibir manis sang istri.


"Ayo." Dylan menyodorkan lengannya, dengan malas Juminten mengaitkan tangan di lengan kokoh itu.


Sebenarnya Juminten cukup penasaran dengan Dylan yang tiba-tiba mengajaknya ke kantor. Dulu dia ke kantor hanya untuk mengantarkan makan siang, tapi itu hanya saat Mayleen menginap di rumah mereka saja.


Semua karyawan menunduk hormat dan menyapa ramah saat Juminten melewati mereka, ia pun tersenyum dan menjawab sapaan mereka tak kalah ramah.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya," sapa Raka sambil menunduk hormat.


"Pagi."


"Apa semua sudah siap?" tanya Dylan dengan serius.


"Sudah Tuan, saya sendiri yang mengeceknya. Jadi tidak mungkin ada kesalahan," jawab Raka dengan bangga.


"Baguslah, terima kasih kalau begitu."


"Sudah tugas saya Tuan."


"Sudah siap?" Tanya Dylan pada sang istri.


"Siap untuk apa?"


Dylan tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Tangannya terulur menyelipkan rambut Juminten kebelakang telinga.


Dylan memberikan isyarat pada Raka untuk membuka pintu besar yang ada di hadapannya. Raka mengangguk mengerti.


Kedatangan Dyaln dan Juminten disambut dengan antusias oleh para wartawan. Mereka berlomba mengambil foto terbaik dari pasangan itu.


Juminten meremas lengan suami, dia merasa gugup. Dia belum pernah berada di situasi seperti ini, begitu banyak kamera yang membidik kearah dirinya.


"Tenanglah, kau adalah istriku." Dylan melepaskan tangan Juminten dari lengannya, agar ia bisa mengaitkan tangan di pinggang ramping sang istri.


Keduanya pun kemudian duduk di kursi yang telah tersedia. Raka pun memulai acara konferensi pers itu. Dylan menjelaskan bahwa isu kebangkrutan perusahaannya tidaklah benar, bukan hanya para pers yang dibuat terkejut, Juminten juga merasakan hal yang sama.


Ia pikir, perusahaan suaminya benar-benar diambang kebangkrutan. Makanya dia berinisiatif untuk berkerja.

__ADS_1


"Saya rasa cukup penjelasan saya tentang berita itu. Ada hal lain yang jauh lebih penting daripada itu."


"Ehem, saya ingin teman-teman di sini menjadi saksi untuk saya." Dylan mengulurkan tangannya pada Juminten.


Meski bingung ia pun menyambut uluran tangan Dylan. Pria sipit itu tersenyum, ia mengajak Juminten bangkit fan berjalan ke sisi lain podium. Semua kamera mengikuti arah sang CEO muda melangkah.


Dylan menggenggam erat kedua tangan Juminten, mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh kasih. Juminten terkejut, Dylan melakukan hal ini di hadapan para wartawan.


Dylan mengambil nafas dalam, sebelum mulai bicara.


"Juminten, istriku yang aku sayangi. Maaf jika aku sering merepotkanmu, sering membuatmu marah, kesal. Maafkan aku, mungkin kata maaf tidak cukup. Tapi aku akan berusaha lebih keras, lebih baik lagi agar kamu memaafkan aku.


Hari-hari yang kita lewati bersama, mengukir kenangan untuk masa tua kita kelak. Tangis dan tawa yang kita habiskan bersama membuat aku yakin. Aku butuh kamu, izinkan aku memegang tangan ini selamanya.


"Aku mencintaimu."


Deg.


Mata Juminten melebar, mendengar ungkapan hati sang suami. Ini semua seperti mimpi baginya, tapi apakah ini kenyataan. Atau Dylan sedang bersandiwara saja? Hati Juminten masih bimbang. Namun, ia juga merasa bahagia.


Jika ini mimpi, jangan buru-buru bangunkan aku Tuhan. Tolong biarkan aku menikmati lebih lama, perasaan ini.


"Aku tahu ini terdengar murahan dan klise, tapi hanya kata seperti inilah yang dapat aku ungkapkan padamu."


"Cumi, maukah kau menjadi milikku, mendampingiku sampai mau memisahkan kita. Dengan semua orang yang ada di sini manjadi saksi, aku ingin sekali lagi melamarmu.


"Arabella Juminten marlow bersediakah engkau menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anakku, di kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Hanya kamu, dan cuma kamu yang ada di sini." Dylan menarik tangan Juminten letakkannya di dada.


Juminten bisa merasakan betapa cepatnya jantung Dylan berdetak.


Dylan menatap Juminten penuh harap. Mata Juminten mulai berkabut, ia tidak menyangka suami sipitnya itu akan melamarnya di depan orang banyak, mungkin sekarang semua orang di dunia menyaksikan ungkapan cinta mereka.


Juminten mengangguk kecil, seiring jatuhnya buliran bening yang membasahi pipi.


Dylan langsung berhamburan memeluk erat tubuh sang istri. Dylan benar-benar merasa bahagia Juminten menerima cintanya.


"Terima kasih Cumi, terima kasih."


"Hem," hanya itu yang keluar dari mulut mungil Juminten, ia bingung harus berkata apa saking senangnya.

__ADS_1


__ADS_2