
"Aduh maaf, Sayang. Aku lupa, ada pemotretan mendadak, aku sekarang ada di Bandung. Maaf ya aku benar-benar lupa ngabarin kamu tadi, saking mendadaknya."
"Bandung?!" pekik Dylan terkejut.
"Iya Maaf ya, dadakan banget soalnya. Nanti kita sambung lagi ya, Sayang. Besok aku akan menemui mu. Bye Babe."
Jessica memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Halo ... Jessy! halo ... Sial!" umpat Dylan kesal.
Jessica melemparkan ponselnya begitu saja, ia berjalan dengan perlahan dan kemayu. Mendekat pada Roy yang duduk di sofa sembari menikmati rokoknya, wanita berambut cokelat itu mendaratkan bokong diatas pangkuan Roy.
"Dia yang menelfon mu?" tanya Roy dengan ketus, dengan tatapan yang lurus ke depan.
"Ya," jawab Jesicca singkat. Wajah ayu Jesicca menyusup di dada bidang Roy, mengecup manja mulai dari bawah hingga ke leher pria yang ia gelayuti.
Roy menarik surai coklat Jesicca, hingga wanita itu mendongak. Roy menatap tajam manik mata Jessica, ia kemudian menyatukan bibir mereka dengan kasar.
"Bagus, lanjutkan. Lakukan semuanya dengan bersih!" ucap Roy dengan menyeringai lebar, Jessica mengangguk kecil.
Roy kembali ******* bibir wanita itu. Kembali membangkitkan gairah yang sempat tertunda karena panggilan dari Dylan. Dua sejoli itu mengarungi malam yang dingin ini dengan panas.
Dylan menghela nafas, padahal dia sudah rela datang ke klub malam seperti ini. Jarang sekali dia pergi ke tempat hiburan malam. Kalau bukan karena janji yang ia buat dengan sang kekasih tadi siang, dia tidak mungkin ada di sini.
"Hai, tampan sendirian aja,mau aku temenin nggak." Seorang wanita berpakaian minim menghampiri Dylan, dengan kedipan manja dan tangan lentik yang mengusap lembut dada bidang yang berlapis kaos berkerah warna biru tua itu.
Alis Dylan bertaut, inilah hal yang paling dia benci dari tempat malam seperti ini.
"Menjauh dariku!" bentak Dylan, ia mendorong kasar wanita berpakaian minim itu. Hingga terhuyung kebelakang dan hampir jatuh.
"Dih kasar banget sih!" Wanita itu memutar badannya, melangkah pergi meninggalkan Dylan.
Pria bermata sipit itu berdecih kesal. Dengan raut wajah kesal ia meninggalkan klub itu. Ia melangkah lebar menuju mobilnya, dengan kasar Dylan membuka pintu mobil dan mendaratkan bokongnya di kursi kemudi. Segera ia mengambil tisu dan mengusap tempat dimana wanita tadi menyentuhnya.
__ADS_1
"Sial banget sih!" gerutu Dylan.
Malam yang ia harapkan pupus sudah, kekasihnya malah sedang berada di luar kota. Ia juga tidak mungkin pulang ke rumah, bisa-bisa sang Mama bisa marah besar kalau tahu dia meninggalkan Juminten sendiri di malam pertama mereka.
"Raka, lebih baik aku ke apartemen dia saja. " Dylan segera menghubungi sang asisten.
Beberapa kali nada sambung. Namun, Raka tak kunjung mengangkat telepon darinya.
"Kemana si Raka, kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku!"
Dylan mendengus kesal. Baru saja ia akan menghubungi Raka lagi, tetapi sebuah telepon masuk, pupil mata Dylan melebar saat melihat kata Mama yang tertera di layar.
Ia pun segera menggeser logo hijau untuk mengangkat telepon.
"Halo Ma."
"Halo, kamu dimana sekarang? kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan rumah menantu Mama!?" Dylan menjauhkan ponsel dari telinganya, suara Mayleen terdengar begitu melengking memekikkan telinga Dylan.
"Di rumah Juminten, dimana lagi. Kamu sendiri dimana? bukannya di rumah malah kelayapan nggak jelas, ninggalin istri sendirian!"
"Dylan keluar sebentar, mau beli sesuatu kok Ma," jawab Dylan asal. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dia pergi menemui Jessica.
"Beli apa kamu malam-malam begini, Mama nggak mau tau kamu pulang sekarang! Mama tunggu," Mayleen menutup sambungan teleponnya.
Dylan mengacak-acak rambutnya frustrasi. Bagaimana bisa Mayleen masih sempat mengunjungi menantu kesayangannya itu malam-malam begini. Dengan setengah hati Dylan menyalakan mesin mobil, mengendarai kembali kuda besi itu ke kediaman Juminten.
Juminten meletakkan teh hangat dengan seporsi cilok yang baru selesai ia buat, di atas meja, sebagai suguhan untuk ibu mertuanya.
"Jum sebenarnya kemana sih, suami kamu itu?" Mayleen mendaratkan pantatnya di kursi rotan.
"Jum, juga nggak tau Ma. Dia cuma bilang mau pergi," jawab Juminten dengan bibir yang terlekuk manis.
"Hais ... anak itu, lain kali jangan izinkan dia keluar sendiri seperti ini. kalau dia pamit keluar sebaiknya kamu ikut sama dia, kalian kan sudah jadi suami-istri. Kamu berhak untuk ikut kemana dia pergi, kamu harus waspada. Jangan sampai Dylan kembali sama si rubah betina itu!" tegas Mayleen.
__ADS_1
Juminten tidak menjawab, ia hanya menampilkan senyum sejuta makna miliknya. Dylan saja begitu enggan untuk bersama Juminten, bagaimana dia bisa menempel seperti prangko pada suami sipitnya itu. Itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan.
"Jangan cuma senyum aja Jum, kamu harus tegas sama Dylan." Mayleen menusuk satu cilok, kemudian melahapnya. Satu tangannya menepuk bangku kosong di sebelahnya, agar Juminten duduk.
"Tegas gimana Ma? aku sama anak Mama kan baru saja menikah. Nanti kalau aku cerewet dia malah nggak nyaman," jawab Juminten seraya mendudukkan dirinya.
"Kamu nggak usah khawatir, Mama akan mendukung apapun yang kamu lakukan!"
"Iya Ma, Jum akan coba," jawab Juminten pasrah.
"Mama tau ini sulit, tapi Mama yakin kamu bisa menaklukkan hati Dylan."
Juminten lagi-lagi hanya tersenyum, ia kemudian menunduk, meremas ujung daster yang di pakainya.
"Ma ... Jum boleh tanya nggak?" tanya gadis itu dengan ragu.
"Tanya aja," sahut Mayleen sambil menikmati sepiring cilok yang sudah beralih kepangkuannya.
"Kenapa Mama Mayleen memilih saya untuk jadi menantu Mama?"
Tangan Mayleen yang hendak menyuap cilok ke mulutnya pun terhenti, saat mendengar pertanyaan Juminten. Terdengar helaan nafas dari wanita paruh baya itu.
"Terlepas dari hutang budi saya pada Mama, saya merasa tidak pantas menjadi menantu keluarga Anda. Saya hanya seorang gadis biasa, miskin dan tidak berpendidikan. sedangkan kalian, kalian adalah orang berpunya dan berada. Anda bisa saja memperkerjakan saya sebagai asisten rumah tangga untuk membayar semua biaya yang telah Anda keluarkan untuk Ibu dan Dimas, tapi untuk menjadi seorang menantu apa itu tidak berlebihan." Juminten masih menunduk, sebenarnya Juminten merasa tidak enak menanyakan hal ini pada Mayleen.
Juminten mengangkat wajahnya saat merasakan usapan lembut di rambutnya.
Mayleen menatap mata bening Juminten dengan sayu.
"Mama hanya ingin kamu menjadi bagian dari keluarga Li. Tidak ada alasan lain, dan jangan pernah bilang soal hutang budi Nak, karena nyatanya akulah yang berhutang budi pada ibumu. Semua yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang beliau lakukan."
"Tapi Ma ..."
"Tidak usah tapi lagi, masalah derajat dan pendidikan itu buka alasan, pantas atau tidak seseorang menjadi menantu ku, hanya aku yang berhak untuk memutuskan. Mengerti!" tegas Mayleen.
__ADS_1