Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 12


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, kandungan Juminten sudah menginjak usia empat bulan. Sepasang janin kembali bersemayam dalam rahim wanita cantik itu, sebenarnya ada sedikit rasa kapok untuk punya anak kembar lagi. Bukan karena rasa sakit atau repotnya mengurus banyak anak.


Dylan yang membuat Juminten merasa jengah. Kasih sayang yang begitu besar pada anak dan istri membuat Dylan begitu posesif.


"Hati-hati Ai," ujar sang suami sambil mengeratkan pelukannya. Satu tangan memapah sang istri bagai orang sakit.


"Ini bukan kehamilan pertamaku. Aku bisa jalan sendiri, Kanda nggak usah lebay ah. Aku bukan orang sakit," ketus Juminten.


"Ya kan tetap aja aku khawatir, Ai."


Dylan mendudukkan sang istri dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu terbuat dari kaca tipis yang rapuh. Lee menatap pasangan suami istri itu dengan sangat iri.


"Kenapa kau melihat mereka seperti itu? Suamimu ada di sini kenapa kau melihat ke sana?" Tanya Erick tanpa menoleh pada sang istri yang sedang menikmati kemesraan pasangan lain.


Lee melirik sekilas pada sang suami yang sejak tadi fokus pada layar laptop yang ada di pangkuannya. Sejak mereka masuk ke pesawat, hanya itu yang Erick lakukan.


"Andai suamiku mesra kayak kembarannya," gumam Lee, yang ternyata didengar oleh sang suami.


Erick langsung menutup laptopnya. Ia bangkit dan menarik tangan Lee, dengan terpaksa Lee mengikuti langkah Erick dengan terseret. Erick melepaskan tangannya, menutup pintu kamar mandi dengan cepat.


Ia duduk di closed dan menarik Lee jatuh kepangkuannya, meraih pinggang mungil sang istri hingga keduanya tak berjarak. Segera Erick memberikan ciuman pada bibir yang berpoles lipstik warna pink itu.


"Emh ... Emh ..." Lenguhan Lee tertahan oleh bibir suaminya yang seolah memakan bibir Lee dengan rakus.


Lee memukul dadanya Erick, merasakan oksigen yang semakin menipis. Bukannya melepaskan, Erick justru semakin memperdalam ciumannya, memainkan lidah kecil sang istri. Lee mendorong keras dada sang suami dengan sekuat tenaga.


"Hah ... Ha ..!"


Nafas Lee tersengal, Erick menatap sang istri dengan gemas. Bibirnya begitu basah oleh saliva mereka, dengan lembut ia menyisipkan rambut Lee ke belakang telinga.


"Bagaimana? Apa kurang romantis?" Tanya Erick sambil mencium leher Lee.


"I-ini bukan mesra, ini mesum, Dad," jawab Lee terbata, merasakan geli yang mulai menyulut gairahnya.


"Apa bedanya? Bukankah kau juga menikmatinya ini," suara Erick terdengar serak mengatakan itu.


Lee bisa merasakan sesuatu yang mulai keras, sengaja ia mengerakkan tubuhnya maju mundur. Erick, semakin gelisah. Ia meremas bongkahan pantat Lee.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Oi, apa kalian masih lama, aku kebelet nih!" Teriak Dylan dari luar.


"S***t, pengganggu!" Umpat Erick kesal.


Lee terkekeh kemudian mengecup kening sang suami dengan sayang.


"Ayo kita keluar Dad," ajak Lee, yang langsung di angguki oleh sang suami.


Wajah Erick memerah menahan gairah yang tak tersalurkan, ia membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Menatap nyalang pada duplikat dirinya yang berdiri tanpa dosa di depan pintu.


"Ape Lo?! gue kebelet nih!" Seru Dylan sebelum Erick mengatakan sesuatu.


Erick berdecih, melengos meninggalkan Dylan dengan Lee yang mengekor di belakangnya. Dylan terkekeh setelah si kembar menjauh, ia memang sengaja usil saat melihat Erick menarik istrinya ke kamar mandi.


"Minum dulu Dad," ujar Lee seraya menyodorkan sebotol air mineral dingin pada suaminya.


Erick segera membuka botol itu, dan menenggak isinya hingga tandas.


"Hah ... Benar-benar menyebalkan," Erick mendengus sebal.


"Kau bisa membunuh ku jika seperti ini, Sayang."


"Salah sendiri, mesum," ujar Lee dengan bibir yang di manyunkan.


"Kau sendiri yang minta aku romantis Apa kau tidak tahu bagaimana aku berusaha menahan diri agar tidak menjamah mu di tempat umum, Sayang."


"Aku hanya Daddy memperhatikan aku, bukan malah pacaran sama laptop terus," keluh Lee.


"Romantis ya seperti tadi kan?" Tanya Erick dengan polosnya.


Lee mencebikkan bibirnya kesal, mesum jelas berbeda dengan keromantisan. Beginilah efek punya suami nggak pernah pacaran.


"Gini lho, romantis itu." Lee melingkarkan tangan Erick ke pundaknya.


Wanita muda itu bersandar di dada bidang Erick, Lee meraih tangan Erick yang lain. Mengambil satu buah anggur yang tersaji, kemudian menyuapkan buah kecil itu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Paham?!"


Erick manggut-manggut saja.


Dua pasang suami istri itu terlelap, perjalanan dari Surabaya ke Taiwan membutuhkan waktu 5 jam perjalanan udara. Hari ini Erick mengajak Dylan dan Juminten untuk menemui orang tua kandungnya.


Bandara internasional Taiwan, menggunakan penerbangan kelas 1 dua pasang suami istri itu akhirnya sampai di tanah kelahiran si kembar ganteng.


Mereka memutuskan untuk istirahat sebelum mengunjungi orang tua mereka. Pesawat yang mereka Tino mendarat jam lima pagi di negeri Formosa itu.


Setengah jam perjalanan mengunakan taksi, akhirnya mereka sampai di perumahan yang cukup besar. Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan, rumah tingkat berwarna putih.


Erick turun terlebih dahulu, ia membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Kalian bisa menempati kamar di lantai dua, bekas kamar Lee," ujar Erick sambil melangkah masuk.


Erick sudah menceritakan kisah cintanya dengan Lee pada adiknya. Dia tidak ingin mereka salah paham, karena pada awalnya dia mengenalkan diri sebagai ayah dari sang istri.


"Ai, istirahat dulu . Nanti siang baru kita tempat Mama, Papa," ujar Dylan sambil mengusap lembut kepala sang istri.


Juminten mengangguk, ia merasa sangat lelah terutama punggungnya.


Lee masih suka mencuri pandang pada pasangan itu, sungguh manis sekali. Dylan begitu memperhatikan sang istri, ia berandai-andai jika saja ia hamil apa Erick akan seperti itu juga?


Erick bukanya tidak tahu kalau Lee memperhatikan adik kembarnya itu, cemburu tentu saja. Dia lebih tua dari Dylan walaupun hanya lima menit, dia khawatir kalau Lee berpindah ke lain hati.


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Dylan yang sudah memesan makanan untuk istrinya lewat aplikasi online pun membangunkan Juminten. Pagi tadi sang istri hanya memakan sepotong roti kukus dan segelas susu kedelai, itu tidak akan cukup untuk mereka bertiga.


"Cumi, Cintaku," gumam Dylan berbisik pada istrinya.


Juminten tersenyum, ia membuka matanya yang lentik. Sudah lama sekali nama panggilan itu tidak ia dengar.


"Tumben manggilnya beda?" Tanya Juminten sambil melingkarkan tangannya di leher kokoh Dylan.


Kedua mata mereka beradu, ada cinta yang teramat sangat untuk keduanya. Cinta yang tumbuh setelah menikah, ada rasa syukur yang besar untuk Dylan karena menerima perjodohan nya dengan Juminten.


"Kenapa lihat aku kayak gitu sih?" Tanya Juminten tersipu.


Ia akan melepaskan tangannya dari leher Dylan. Namun, sang suami mencegahnya.

__ADS_1


"Sepertinya aku jatuh cinta lagi sama kamu, Cumi."


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening, turun ke mata, hidung dan terbenam lama di bibir Juminten yang manis.


__ADS_2