Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Aku mencintaimu


__ADS_3

Dylan duduk disamping sang istri, menggenggam erat tangan lentik yang kini terlihat lebih pucat. Mayleen duduk berhadapan dengan kedua anaknya, dengan Mirna disisinya.


Ada dua lembar amplop coklat tua, di meja yang menyekat diantara mereka.


Mayleen mengambil nafas dalam, menyiapkan diri untuk mengungkap masa lalu yang lama ia simpan.


"Jumi, dari mana kau tau jika Dylan adalah saudaramu Nak?" tanya Mayleen dengan lembut.


Juminten melepaskan tangan dari genggaman sang suami, membuka tas selempang kecil, mengeluarkan amplop lusuh dari dalamnya.


"Ini Ma." Juminten menyodorkan benda itu pada mertuanya.


Mayleen tersenyum getir, menerima amplop lusuh dari, mengusapnya dengan hati yang bergetar.


"Ini rupanya."


"Iya Ma, maaf kalau Juminten lancang."


"Tidak apa-apa Nak, mungkin ini tanda dari Tuhan, sudah saatnya Mama menceritakan semuanya."


Dylan kembali menggenggam tangan sang istri, mengusap lembut punggung Juminten. Mencoba menenangkan meski ia sendiri tidak dalam keadaan yang baik.


"Juminten, kamu memang anak dari Almarhum suamiku, Dawei. Anak dari istri pertamanya, Anastasia. wanita yang paling dicintai," suara Mayleen terdengar bergetar.


"Jadi aku dan Dylan benar bersaudara," sela Juminten.


Mata bening Juminten memerah, menatap Mayleen dengan kecewa.


"Ai, biar Mama selesai cerita dulu." Dylan mengusap lembut punggung Juminten.


"Maaf," ucap bumil cantik itu. Mayleen tersenyum kecil.

__ADS_1


Hati Juminten terasa sakit, meskipun ia sudah membacanya dalam surat, tapi tetap saja terasa sakit saat mendengarnya langsung. Juminten melihat kearah Mirna, wanita yang merawatnya sejak kecil itu, menunduk. Tubuhnya terlihat bergetar hebat, tangan yang penuh dengan kerutan itu, sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Juminten kembali menunduk, meremas jemari kekar yang bertaut dengannya. Dylan merasa hal yang sama dengan sang istri, tetapi lelaki bermata sipit itu berusaha untuk tenang. Meskipun batinnya mulai bergejolak.


Banyak yang ingin mereka tanyakan. Namun, mereka memilih diam, dan mendengar Mayleen.


Mata wanita paruh baya itu, memandang jauh. Seolah menerawang jauh ke masa lalu.


"Aku dan Dawei menikah karena perjodohan, kami sama-sama anak tunggal punya tanggung jawab untuk meneruskan keturunan keluarga kami dengan pilihan yang telah ditentukan. Tapi, Dawei mempunyai orang yang sangat dicintai, Anastasia. Mereka bertemu saat kuliah, hubungan mereka tidak direstui oleh kedua orang tua mereka.


Hem ... Papamu orang yang nekad Dy. Dia membawa kabur anak orang, mereka kawin lari. Hanya beberapa bulan saja, sebelum akhirnya orang tua Dylan menemukan mereka. Anastasia dipulangkan kembali ke Jogja kerumah orang tuanya, sedangkan Dawei dikirim pulang ke Taiwan. Dengan terpaksa Dawei menerima perjodohan denganku, entah kenapa aku juga tidak tahu.


Dawei pria yang baik, dia menceritakan masa lalunya sebelum kami menikah. Dia bilang, dia tidak akan bisa melupakan cinta pertama sekaligus istri pertamanya itu, dia juga tidak menjamin bisa mencintaiku. Lucunya aku jatuh cinta padanya, pada kejujuran dan keteguhan hati pria itu. Meski pada akhirnya aku tidak ada dihatinya, sampai hembusan nafas terakhir. Dan aku juga ikut membantu untuk mencari Anastasia.


Hening saja, hanya suara Mayleen dan gemerisik daun yang dibelai angin, yang terdengar. Juminten dan suaminya diam tanpa kata, meski hati mereka berkecamuk mendengar cerita Mayleen. Apalagi Dylan, dia tidak menyangka jika Papa yang begitu ia hormati, tidak seperti yang ia pikirkan.


"Dawei berusaha mencari keberadaan Anastasia, tapi tidak membuahkan hasil, kami melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Kami sudah berusaha untuk cari Anastasia, meski terus berujung pada jalan buntu. Pergerakan kami sangat dibatasi, semua dipantau dengan ketat oleh ayah mertua. Kami dilarang pulang ke Indonesia, jadi kami hanya mengandalkan informasi dari teman-teman Dawei yang ada di sini. Kabar terakhir yang kami peroleh adalah meninggalnya Anastasia.


Mayleen mengalihkan pandangannya dari jendela. Menatap wajah putranya dengan lekat.


"Hadirnya kamu mengalihkan dunianya, perlahan Dawei mulai bangkit dari keterpurukannya."Buru-buru Mayleen mengusap air mata yang lolos tanpa permisi.


"Meskipun ka-kau bukan darah dagingnya," relung jiwa Mayleen teremas sakit saat mengatakan kebenaran ini, ada ketakutan yang teramat meliputi hatinya.


Mata Dylan membeliak lebar, bagaikan petir yang menyambar disiang hari. Rasa sesak menyusup di dada seiring persendiannya yang terasa lemah.


"Kanda," lirih Juminten, kini tangannya menggenggam erat tangan Dylan yang sempat lepas dari genggamannya.


"Aku bukan anak Papa, lalu apa aku anakmu Ma?"


Mayleen menggeleng." Rahim Mama bermasalah Nak, sampai kapanpun Mama tidak akan bisa punya anak. Mama mengadopsi mu saat umurmu empat tahun, kau malaikat kecil yang mencuri perhatian Mama."

__ADS_1


Dylan memalingkan wajahnya sekejap sambil menghentakkan nafasnya, hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa dia hanya orang asing dalam keluarga Li.


Pria sipit itu melepaskan tangan Juminten yang menggenggamnya, ia bangkit dari sofa. Berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.


"Dylan, kau mau kemana Nak?!" Mayleen hendak bangun dari duduk, saat Dylan melewatinya.


Dylan mengangkat tangan, mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin bicara apapun saat ini. Mayleen kembali terduduk lemas, inilah yang paling ia takutkan. Dia sangat takut jika Dylan akan membenci dan menjauhinya, tapi Mayleen juga tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara anak angkat dan putri dari istri pertama suaminya itu.


Dylan melangkah cepat, meninggalkan sang Mama yang menangis dalam diam.


"Kanda ... Kanda!" Panggil Juminten yang sana sekali tidak diindahkan oleh Dylan.


Langkah laki-laki mengayun cepat, membuat Juminten kewalahan mengikutinya. Tangan Dylan mengepal, marah kecewa, sedih semua perasaan itu berkecamuk dalam hatinya. Mata pria sipit itu terasa panas, buliran bening jatuh begitu saja meski ia coba tahan.


"Aduh!"


Mendengar suara pekik kesakitan sang istri membuat Dylan menghentikan langkahnya, dengan cepat ia berbalik, menghampiri Juminten yang terduduk di lantai.


"Mana yang sakit? Mana?" Dylan membolak-balikkan tubuh istrinya.


"Kau tidak apa-apa kan? Kenapa kau begitu ceroboh, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" tanya Dylan khawatir.


Juminten malah tersenyum, ia memeluk erat tubuh sang suami yang sedang berjongkok didepannya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," bisiknya lembut ditelinga sang suami.


Tubuh Dylan lemas seketika, ia pun ikut terduduk di lantai. Dylan membalas pelukan Juminten dengan erat, menyandarkan kepala sepenuhnya pada bahu Juminten.


Juminten bisa merasakan tubuh suami yang bergetar, bahunya basah oleh air mata sang suami. Tangan Juminten tak henti mengelus punggung Dylan.


"Aku mencintaimu," bisik Juminten lagi.

__ADS_1


__ADS_2