Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Ke rumah Mama


__ADS_3

"Tapi aku serius dengan ucapanku kemarin, aku ingin pernikahan ini tetap bertahan. Kita mulai semuanya dari awal, aku tau aku salah, dan aku akan berusaha keras untuk memperbaikinya."


Juminten menggeleng pelan, ia lanjut menikmati bubur ayam tanpa memperdulikan ucapan Dylan. Bagi Juminten apa yang dikatakan Dylan, tak lebih dari angin lalu. Sebenarnya Dylan merasa geram dengan keacuhan Juminten padanya.


"Cumi," panggil Dylan dengan selembut mungkin.


"Cumi Cantik."


"Cumi manis."


Hening, Juminten masih menunduk menikmati buburnya.


"Cumi gemes."


"Cumi comel."


"Cumi Sayang."


Juminten membanting sendoknya hingga membuat Dylan terjingkat, wanita itu mengerakkan bibir bawah mengisyaratkan ketidak sukaannya.


"Sudah aku bilang, jangan panggil Sayang! sayang kamu tuh nggak ada di sini, dia sedang bersolek, berlenggak lenggok di atas catwalk," ujarnya dengan nada tinggi.


"Iya, maaf. Abisnya kamu nggak ada diajak bicara diem aja." Pria sipit itu tersenyum lebar, hingga membuat matanya seperti terpejam. ia merasa senang, mendengar ucapan Juminten.


Dylan bisa merasakan kecemburuan sang istri, pada panggilan "Sayang". Meski Dylan tidak bermaksud membuat wanita bertahi lalat itu cemburu.


"Terus aku harus apa? ngeladeni kamu, ogah banget. Cepat habiskan sarapan mu, dan cepat pergi kerja." Juminten bangkit dari duduknya, hendak membawa mangkok kosong bekas bubur ke dapur.


"Aku aja yang cuci piring!" Dengan cepat Dylan menyambar mangkok kosong dari tangan istrinya.


"Udah nggak usah macam-macam, cepetan mandi terus ke kantor. Aku juga mau berangkat." Juminten hendak mengambil mangkok dari tangan Dylan, tetapi pria sipit itu dengan cepat menjauh darinya.


"Cuma satu macam aja kok, aku pingin manjain kamu. Aku juga nggak kekantor hari ini dan kamu harus berhenti bekerja mulai sekarang!"


Juminten mengerutkan keningnya, ia berjalan cepat menyusul sang suami ke dapur.


"Apa maksud kamu aku berhenti bekerja?" tanya Juminten.


Dylan hanya menaik-naikan kedua alisnya, dengan tersenyum manis. Keduanya tangan Dylan dengan cekatan mengusap mangkok kotor dengan spons yang berbusa.

__ADS_1


"Jawab Dy!" seru Juminten dengan kaki yang menghentak.


Dylan lekas membilas tangannya dengan air. Ia menoleh, kedua tangan Dylan membingkai wajah Juminten, menekan kuat hingga bibir wanita itu monyong seperti ikan ******.


"Mulai hari ini kamu nggak boleh kerja, nggak boleh masak, cuci ini itu. Kamu cukup duduk yang manis, dan aku manjain oke. Muach!"


Dylan memberikan kecupan besar bada bibir Juminten, kemudian melepaskan tangannya.


"Dasar edan, aku bukan orang lumpuh yang nggak bisa berbuat apa-apa," ujar Juminten dengan wajah masam.


"Yang bilang kamu nggak bisa apa-apa siapa sih? aku cuma nggak mau kamu kecapekan. Nggak baik buat kita yang lagi promil, aku pengen banget segera ada buah cinta kita di sini." Dylan mengusap perut Juminten yang masih rata.


"Astaga! kamu makin lama makin nggak waras ya, buah cinta tai kucing." Juminten membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh meninggalkan Dylan yang menurutnya semakin kesurupan.


"Dandan yang cantik Sayang, aku ajak ke rumah Mama!" teriak Dyaln.


"Aku bukan Sayang mu, Dodol!"


Setelah rayuan maut yang cukup nyeleneh, akhirnya Juminten tetap tidak mau untuk berhenti bekerja. Tetapi dia, bersedia untuk cuti satu hari ini. Tidak ia pungkiri, dia teramat rindu pada kedua Mamanya.


Setengah jam perjalanan yang di tempuh dengan Dylan yang lebih banyak bercerita. Mobil merah itu melewati pagar yang baru saja dibuka oleh seorang asisten rumah tangga Mayleen.


"Cumi istriku tunggu! kenapa jalannya cepet banget sih," keluh Dylan, karena Juminten meninggalkannya.


Juminten terus saja masuk tanpa mempedulikan Dylan yang terus berteriak memanggilnya, sudah cukup Juminten sabar. Selama perjalanan Dylan terus saja menggombal dan menggodanya, Juminten sampai mual mendengar ocehan yang menurut Juminten tidak jelas.


Bukannya tidak senang. Seorang istri pasti akan senang jika suaminya bersikap manis dan memanjakan seperti itu. Tetapi perubahan yang mendadak bukanlah hal yang baik, kalau tidak edan atau kesurupan dedemit toge, pasti ada udang di balik tahu isi.


"Assalamualaikum Mama, Ibu," panggil Juminten.


"Wa'alaikumsalam, eh Nyonya Muda. Nyonya Mayleen sama Ibu Mirna ada di halaman belakang," ujar Wati, wanita paruh baya yang sedikit lebih tua dari Mayleen itu menyambut kedatangan Juminten dengan ramah.


"Saya langsung ke belakang kalau begitu."


"Monggo, mau saya antar?"


"Nggak usah Bu wati, tolong buatkan kopi saja buat suami saya."


"Siap kalau itu, lha Nyonya muda sendiri mau minum apa?"

__ADS_1


"Saya ya .... Wedang jeruk nipis saja Bu," jawab Juminten setelah berpikir sejenak.


"Siap, nanti saya antar ke belakang."


"Terima kasih Bu," ucap Juminten.


Wanita yang memakai dress berwarna pastel itu pun melenggang pergi.


"Astaga Cumi tega bener, ninggalin aku," keluh Dylan, ia berjalan agak lambat karena menentang enam tas kertas yang berisikan beberapa kue.


Juminten meminta Dylan untuk membelinya saat dijalan tadi. Tentu saja dengan senang hati pria sipit itu menuruti keinginan sang istri. Anehnya apa yang di beli Juminten bukanlah yang ia suka atau Mama dan mertuanya suka. Wanita itu hanya suka melihat dan ingin membelinya saja.


"Astaga Tuan, banyak amat bawaannya." Wati segera membantu Dylan untuk meletakkan barang yang dia bawa.


"Iya nih Bi, tolong nanti di bagi sama yang lain ya," ucap Dylan yang di jawab anggukan oleh Wati.


"Istriku mana Bi?"


"Nyonya muda ke halaman belakang Tuan, sama Nyonya besar dan Bu Mirna."


"Oke Bi, Makasih." Dylan mengambil satu apel si atas meja, mengigit buah dengan tekstur renyah itu sambil berjalan.


Dari kejauhan Dylan bisa mendengar suara tawa Juminten, pria sipit itu tersenyum melihat Juminten tertawa lepas bersama kedua ibunya. Istrinya terlihat sangat bahagia, berbeda dengan saat bersamanya di rumah. Juminten lebih sering terlihat kesal, walaupun Dylan sudah memberikan ATM yang isinya tak habis untuk belanja setahun.


Bicara soal ATM dan uang belanja, tak ada notifikasi pengeluaran dari kartu yang ada ditangan Juminten. Apa wanita itu tidak belanja?


"Astaga jadi hampir satu bulan ini aku makan uang Cumi." Dylan menepuk jidatnya.


"Tuhan maafkan hamba mu ini, sudah mensia-siakan istri sebaik Cumi," gumam Dylan lirih.


Pantas saja Juminten berhemat dengan hanya memasak makanan sederhana. Wanita itu rela untuk bekerja untuk membantu perekonomian mereka.


"Raka, siapkan semuanya besok pagi," ucap Dylan pada si asisten, setelah teleponnya menyambung.


Tanpa menunggu jawaban dari Raka, Dylan menutup teleponnya. Dengan langkah cepat ia menghampiri sang istri.


"Bahagia banget cintaku." Dylan mengecup pipi Juminten dari belakang.


Mata Juminten membulat, tubuhnya menegang karena kaget. Mayleen dan Mirna tersenyum bahagia melihat kemesraan sejoli itu.

__ADS_1


__ADS_2