
"Ibu,"gumam Bayu sambil menyipitkan matanya.
"Kau kenal wanita itu?" Tanya Dimas yang sedang menyetir.
"Beliau Ibu saya ustadz," jawab laki-laki yang memakai baju koko warna hitam dan peci hitam, dia tak lain adalah Bayu.
"Subhanallah, kenapa beliau berteriak seperti itu. Ayo kita turun," Ajak Dimas yang langsung diangguki cepat oleh Bayu.
Keduanya segera turun dari mobil, Dinas dan Bayu hari ini sengaja datang berkunjung. Sudah lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan tante angkatnya itu, meskipun tak ada hubungan darah tetapi kasih sayang diantara mereka nyata adanya. Tumbuh besar bersama, suka duka yang mereka lewati membuat Juminten dan Dimas lebih dekat dar saudara.
"Ibu," panggil Bayu.
Nurma langsung menolong, ia tersenyum lebar melihat putra bungsunya yang terlihat tampan dengan balutan baju koko dan sarung polos berwarna hitam.
"Bayu!" Pekik Nurma.
"Astaga Bayu, kamu sudah besar. Kamu tampan sekali, hem," ujar Nurma seraya memeluk sang putra.
"Alhamdulillah Bayu baik Bu, selama ini Mbak Arum dan Ustadz Dimas menjaga Bayu dengan baik," jawab Bayu membalas pelukan sang Ibu.
Tak bisa ia pungkiri ada rasa rindu yang Bayu rasakan pada Nurma, sudah lama sekali dia tidak merasakan peluk hangat seorang Nurma.
"Arumi, dimana kakakmu itu? Bisa-bisanya dia membiarkan ibu terlantar, kepanasan seperti pengemis seperti ini!" ujar Nurma dengan geram, setelah melepaskan pelukannya.
Dimas mengerutkan keningnya, meskipun Arumi tidak ada di rumah, Juminten tidak akan membiarkan seorang tamu berdiri di depan rumah seperti ini. Juminten bukan tipe orang seperti itu, deny senyum ramah Dimas bertanya pada Nurma. "Maaf Bu, apa Ibu sudah bicara dengan satpam?"
Dimas menunjuk pos keamanan yang ada diujung gerbang rumah Juminten. Nurma pun turut menoleh mengikuti tangan Dimas, wanita paruh baya itu pun mengangguk pasti.
"Tentu sudah, tapi pemuda di sana bilang tidak ada orang di rumah ini. Nyonya-nya sedang keluar sama Tuan, jadi mereka tidak berani membukakan pintu," tutur Nurma sambil mencebikkan bibirnya.
"Oh, pantas saja. Kenapa Ibu tidak menunggu saja di pos?" Lagi-lagi ustadz muda itu tersenyum manis.
"Halah, paling juga mereka nipu saya, aku yakin si Arumi ada di dalam tapi dia nggak mau ketemu aku. Dasar anak durhaka, dari dulu cuma nyusahin, giliran hidup enak lupa sama orang tua," tutur Nurma dengan berapi-api.
__ADS_1
"Astaghfirullah Bu, Mbak Arum nggak kayak gitu Bu. Selama ini kita udah cari ibu ke mana-mana tapi nggak ketemu," Bayu tak bisa menahan rasa kesalnya pada Nurma, meski wanita itu adalah ibu kandungnya.
"Kamu nggak usah bela dia Bayu, mau ikutan jadi anak durhaka kamu!"
"Bukan begitu Bu,-"
Ucapan Bayu terhenti saat Dimas memegang pundak remaja itu, Bayu menoleh melihat pada sang ustadz yang menggeleng pelan.
"Sudah Bay, jangan ikutan emosi."
Ustad tampan itu berusaha untuk meredam Bayu yang mulai tersulut emosi, ia paham betul perasaan Bayu saat ini. Selama hidup dengannya di pondok pesantren, Bayu sudah banyak bercerita mengenai keluarganya.
Sebuah sedan mewah berhenti disamping mobil Dimas, seorang pia tampan bermata sipit turun dari mobil itu.
"Ibu!" pekik Arumi yang turun dari mobil setelah Max, gadis itu berlari kecil menghampiri wanita yang telah melahirkan dia itu.
Nurma menatap Arumi penuh arti, bukan tatapan rindu seorang ibu pada anak yang lama terpisah. Melainkan tatapan singa lapar yang senang karena akan melihat mangsanya.
"Ibu darimana saja Bu? Arum kangen sama Ibu." gadis itu berlinang air mara memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
"Paman," sapa Max seraya mencium takzim tangan Dimas.
"Sudah besar kamu Max," sahut Dimas sambil mengusap kepala Max yang sedikit menunduk padanya.
Bayu pun langsung mengulurkan tangan, menyalami tangan Max sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Ketiga pria itu melihat Arumi yang sedang memeluk sang ibu dengan pikiran yang berbeda-beda.
Max tentu senang, karena rencananya menikah dengan Arumi tentu lebih baik saat Nurma memberikan restu untuk mereka. Bayu menatap kedua wanita itu dengan gelisah, ia takut Nurma akan marah atau mengatakan hal yang tidak- tidak pada kakaknya itu. Sementara Dimas, pertemuan keduanya membuat dia teringat akan masa lalu.
"Masih ingat kamu sama ibumu?" Tanya Nurma, yang sontak membuat Arumi terkejut.
"Apa maksud Ibu? Tentu saja Arumi ingat. Arumi sudah cari ibu kemana-mana, tapi tetap saja tidak ketemu," jawab Arumi yang telah melepaskan pelukannya, mata bening gadis itu sayu menatap sang ibu dengan rindu.
"Kalau kamu nyarinya sungguh-sungguh pasti ketemu, bilang aja kamu nggak niat cari. Kamu nggak mau kan ketemu ibumu ini, sekarang sudah hidup enak, lupa sama ibunya. Dasar anak nggak tahu di untung kamu!"
__ADS_1
Arumi hanya diam tak berkata, ia menggeleng pelan sambil menatap Nurma dengan tak percaya. Kenapa ibunya itu bicara seperti ini setelah mereka lama tidak bertemu.
"Tidak Bu, Arumi nggak pernah lupa sama Ibu. Hampir setiap hari Arumi cari ibu, tanya ke orang-orang tapi tidak ada hasilnya."
"Halah alasan!" Nurma mendorong tubuh Arumi, hingga hampir terjatuh. Untung saja Max dengan sigap menangkap tubuh mungil itu.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Max dengan taut wajah cemas. Arumi hanya menjawab dengan menggeleng pelan.
"Sebaiknya kita bicara di dalam, tidak baik bicara diluar seperti ini," usul Dimas tiba-tiba.
Nurma mengangguk sambil melirik Max yang terlihat marah padanya. Tentu saja inilah yang Nurma tunggu- tunggu, masuk ke rumah mewah besar yang akan jadi ladang uang bagi Nurma. Semua rencana sudah tersusun rapi sejak ia melihat Arumi di mall itu akan segera dimulai.
Max pun setuju, setelah satpam rumah membuka pintu gerbang semua orang masuk termasuk Nurma. Mereka duduk di sofa ruang tamu, suasana sedikit canggung, tetapi tidak bagi Nurma. Wanita itu sibuk mengangumi betapa mewah dan bagusnya rumah besar itu, ternyata Arumi tinggal di rumah yang lebih mewah dari yang ia bayangkan.
"Bu, selama ini ibu kemana?" Tanya Arumi sambil menatap lekat pada wanita yang lama tak ia temui.
"Masih di surabaya, aku sibuk kerja," jawabnya ketus.
"Kerja?" ulang Arumi.
"Iya kerja, kenapa? Kamu mah enak makan tinggal makan, tinggal di rumah mewah seperti ini, pasti banyak pembantu kan. Kamu nggak usah kerja, tinggal duduk manis saja," ucap Nurma sambil melirik pada Max yang duduk di sofa single yang ada di sebelah Arumi, ia yakin laki-laki muda itu punya hubungan khusus dengan Arumi.
"Kenapa Ibu yang kerja, bagaimana dengan suami Ibu? Apa dia tidak kerja?" bibir Arumi bergetar saat menanyakan pasal laki-laki bangsat yang paling ia benci.
Max yang sadar akan hal itu lekas menggenggam tangan sang kekasih, Arumi menoleh dan tersenyum tipis, seolah mengucapkan dia baik-baik saja.
"Perduli apa kamu sama kehidupan Ibu, mau Ibu kerja keras banting tulang juga kamu nggak peduli. Sudah jangan banyak bicara, aku ke sini aku uang."
"Uang, uang apa Bu. Arumi nggak punya uang sama sekali," Arumi menatap heran pada ibunya yang berubah sangat berbeda dengan yang dulu.
Nurma yang ia kenal sangat penyayang, meskipun sayangnya hanya untuk Bayu. Tetapi Nurma juga belum pernah berkata kasar atau membentak dia seperti ini, setidaknya saat ayah mereka masih hidup.
"Cukup berikan aku uang Arumi, kau tidak mungkin tidak pegang uang!"
__ADS_1
"Arumi memang tidak punya Bu," sahut gadis itu dengan masih berusaha sopan, meskipun Nurma sudah mulai meninggikan suaranya.
"Lalu apa gunanya kau hidup di rumah besar ini kalau tidak punya uang, dasar bodoh. Apa laki-laki itu cuma menyentuhmu tanpa memberikan imbalan?!"