
Setelah memoleskan lipstik warna nude, Michi tersenyum melihat pantulan wajah di cermin.
"Cantik dan sempurna," gumam Michi memberikan cium jauh pada dirinya.
Memakai hoodie oversize polos berwarna putih yang di padu dengan hot pant berbahan jeans, dan rambut warna biru sebahu. Michi siap memulai harinya.
Mengunakan telunjuk, gadis berkulit putih itu merapikan poni yang menutupi keningnya. Dengan bersenandung kecil Michi keluar kamar, dengan memakai tas selempang kecil.
Langkah riang dan sedikit lompatan Michi beranjak ke meja makan. Gadis berambut biru itu mendaratkan ciuman, di pipi kedua orang tuanya yang duduk bersisian. "Pagi, Papi, Mami."
"Pagi, semangat bener," sahut Dylan.
"Iya dong, kan abis dapat uang saku. Hehehehe ...." Ujar Michi sambil mengambil nasi goreng.
"Kak Max sama Arumi kemana Mi?"
" Mereka udah berangkat, Arumi kan ada ujian. Jadi mereka berangkat lebih pagi," jawab Juminten tanpa menoleh, ia sibuk mengusap ujung bibir suaminya yang sedikit kotor.
"Makasih Ai." Juminten tersenyum sambil mengangguk.
Michi menikmati sarapan pagi sambil menatap kedua orang tuanya, mereka begitu romantis dan harmonis walaupun sudah tidak muda lagi.
"Dih, Mami. Aku lama-lama diabetes kalau begini terus," sindirnya sambil menyuap satu sendok penuh nasi goreng ke mulutnya.
"Makanya cepat nikah sana."
"Hus, Papi ngomong apa sih. Michi tuh masih kecil, masih kuliah. Masak suruh nikah," tukas Juminten, menatap tajam pada pria yang duduk di sampingnya.
"Boleh deh, Pi . Ntar kalau ada yang cocok, Michi bawa pulang."
"Astaga!" Juminten memutar mendengar ucapan anak perempuannya itu.
Selesai sarapan Michi bergegas pergi ke kampus, hari ini dia cukup sibuk. Selain ada kelas pagi dia juga harus pergi melihat tempat dimana dia akan membuka tokonya. Banyak pelanggan yang menayangkan toko fisik tempat Michi berjualan, dan Michi pun memutuskan untuk membeli sebuah ruko.
Hari ini Michi ke kampus mengunakan mobil sedan berwarna pink cerah, secerah hatinya. Dengan percaya diri Michi melangkah kaki ke kelas, tak ada lagi Michi yang patah hati dan memohon cinta pada Yudha. Michi yang itu sudah mati, dia tak mau lagi lelah bercinta sebelah hati. Apalagi sekarang ada seseorang yang mulai mengisi hari-harinya, meski belum bertemu secara langsung. Tetapi Michi merasa nyaman dengan orang itu.
__ADS_1
Yudhana yang melihat Michi berjalan sendiri, langsung bergegas menghampirinya.
"Hai, pagi," sapa Yudha.
"Pagi," jawab Michi singkat, tanpa sadar ia mempercepat langkah kakinya.
"Rambutnya ganti warna lagi?" Tanya Yudha basa-basi dan berhasil menghentikan langkah Michi.
Gadis sipit itu menoleh, menatap wajah Yudha dengan muka juteknya. "Iya, kenapa? Masalah buat Lo?"
Michi mengibaskan rambutnya yang tergerai. Michi memang suka menganti warna rambutnya, tetapi saat ia tahu Yudha suka gadis yang nggak neko-neko. Michi membiarkan rambutnya berwarna hitam alami. Itu dulu, sekarang tidak lagi.
Michi ingin menjadi dirinya sendiri, bebas tanpa ingin terikat dan mengikat siapapun. Jika memang ada seseorang yang mencintai dia, maka orang itu harus menerima Michi apa adanya.
"Enggak, Lo kelihatan cantik dengan warna biru," puji Yudha yang langsung membuat dahi Michi berkerut, ia bahkan mendongak keatas. Melihat apakah hari ini bulan bersinar di pagi hari.
"Liat apa?" Tanya Yudha yang ikut mendongak.
"Nggak, Nggak liat apa-apa," kilah Michi. Ia melanjutkan langkahnya, tanpa mempedulikan Yudha yang mengikuti.
"Emang dari tadi Lo nggak ngomong?" Michi melirik sekilas pada pria yang berjalan di sisinya.
Yudha mengusap tengkuknya. " Iya Juga ya."
"Em ... Kenapa Lo berubah? Lo bukan lagi Michi yang gue kenal. Bahkan gue ngerasa, kalau sekarang Lo sengaja menghindar dari gue."
Michi menghentikan langkahnya dengan menghentak, ia menoleh kearah lain sebelum menoleh ke arah Yudha. Pria yang tingginya tak beda jauh dari Michi itu, sangat terganggu dengan perubahan sikap Michi.
Gadis yang selalu usil dan ingin tahu tentang dirinya, dia yang selalu mencoba untuk membuat Yudha memperhatikan dia, kini berubah seratus delapan puluh derajat.
"Lo salah, ini diri gue yang sebenarnya. Lo emang nggak pernah kenal gue Yud. So, jangan berpikir kalau gue yang sekarang itu bukan seseorang yang elo kenal, permisi gue ada kelas." Michi melangkah meninggalkan Yudha.
Tapi baru dua langkah, ia berhenti dan menoleh. "Kalau masalah gue menghindari Lo, gua nggak ngerasa begitu. Karena gue udah nggak perduli lagi sama Lo."
Yudha terpaku, bagaimana Michi bisa bicara seperti itu dengannya. Bukankah wanita itu sendiri yang berusaha membuat dia jatuh cinta, masih lekat di ingatan Yudha bagaimana Michi menyiapkan minuman dan handuk kecil saat dia bermain basket. Bagaimana gadis itu memberikan begitu banyak perhatian walaupun Yudha acuh.
__ADS_1
"Nggak, ini nggak mungkin. Ini pasti cuma salah satu trik Michi kan, iya dia lagi tarik ulur gue," gumam Yudha.
"Ok, gue akan ikuti permainan dia." Yudha masih berdiri ditempatnya, menatap nanar pada punggung Michi yang berlalu melewati kerumunan.
Sikap Michi yang berubah drastis, Mampu membuat Yudha kelimpungan. Apalagi saat pelaksanaan KKN kemarin di Banyuwangi, Michi sama sekali tak menunjukkan perhatian pada Yudha.
Seorang pria tampan turun dari motor miliknya, dengan tersenyum simpul ia melihat berbagai macam bunga yang ada di toko itu.
"Ada yang bisa di bantu Kak?" Tanya seorang pria yang sebaya dengan dia.
"Bisa tolong buatkan buket bunga mawar merah dan putih," jawab Max.
"Tentu saja, untuk kapan Kak?"
"Nanti malam, tolong kirimkan ke alamat ini." Max menyodorkan ponselnya.
"Baik, apa ada detail pesanan khusus atau sesuatu yang ingin di tulis di kartu ucapan?" Tanya si penjaga toko.
Max berpikir sejenak, ia kemudian mencatatkan sesuatu di kertas yang masih sediakan di meja. Memilih satu kartu bergambar hati berwarna merah, Max menulis ungkapan isi hatinya.
"Baik, akan saya lakukan dengan baik. Totalnya sekian ya Kak," sahutnya setelah menghitung apa saja yang di perlukan si pelanggan.
Max mengangguk, ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Simpan kembaliannya."
"Wah ... Terima kasih Kak, semoga acaranya lancar."
"Semoga saja," sahut Max singkat.
Sejujurnya pria tampan ini sedang merasa gugup. Sejak beberapa hari yang lalu ia merencanakan sesuatu di hari ulang tahunnya, bukan pesta atau sesuatu yang mewah. Tetapi sesuatu yang akan menentukan masa depannya.
Dengan bantuan Michi, juga Juminten Max ingin membuat makan malam romantis dengan Arumi. Max sadar dia sudah jatuh cinta pada gadis itu, tak ingin mengulur waktu, Max ingin mengikat sang pujaan hati dengan sebuah jalinan kasih.
Motor yang ia tumpangi melaju kencang, menuju sebuah tempat untuk mengambil sesuatu yang akan menyempurnakan rencananya.
__ADS_1