
Dylan bergegas turun setelah sedan lawas miliknya terparkir sempurna di depan minimarket, ia meruntuki dirinya yang bisa sampai melupakan Jessica. Iya yakin kekasihnya itu sekarang sedang merajuk.
Pria sipit itu tersenyum mana kala melihat seorang wanita, dengan rambut merah tergerai sedang memilih minuman di lemari pendingin. Dylan masuk ke minimarket, dengan perlahan ia mendekati sang kekasih dari arah belakang, ingin memberikan kejutan. Wanita itu sedang asik bicara dengan seseorang melalui telepon.
"Hahaha ... Ya begitulah, dia memang laki-laki bodoh yang lumayan tampan. Nggak sadar aja kalau aku udah tau soal perusahaannya yang pura-pura bangkrut. Aku pikir kita udah berhasil bikin dia bangkrut beneran, ternyata ini hanya sebuah trik marketing. Untung saja aku punya mata-mata di sana," Jessica berbincang dengan riang, dengan satu tangannya membuka pintu lemari pendingin.
Dylan menghentikan langkahnya, jaraknya yang sudah cukup dekat membuat Ia bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka.
Jessica mengambil satu minuman kaleng bersoda, ia mengapit ponsel dengan bahu dan pipinya, agar kedua tangan wanita itu bisa membuka minuman.
"Kamu kapan pulang? aku kangen,"Jessica merengek manja pada seseorang diseberang telepon.
"...."
"Bosan ah ... Si sipit itu nggak mau ajak begituan, sok suci banget. Heh, ...." Jessica menjeda ucapnya, menenggak minuman bersoda yang ada ditangannya.
"...."
Tangan Dylan mengepal, rahang pria itu kembali mengeras. Matanya memerah menyorot tajam pada wanita yang berdiri beberapa langkah darinya.
"Paling juga bentar lagi dia bakalan balik jemput aku, dia kan bucin akut sana aku. Pria bodoh, oke deh kalau begitu. Bye Roy!" Jessica mematikan sambungan teleponnya, ia berbalik hendak pergi. Namun, tubuh Jessica seketika menegang.
Wanita berambut merah itu menelan salivanya dengan susah payah, seperti bongkahan bara yang terasa begitu menyakitkan melewati tenggorokannya.
Seorang pria memakai kaos berwarna putih dengan celana jeans yang membalut kedua kakinya yang jenjang. Berdiri tegak dihadapan Jessica, pria sipit itu tersenyum. Sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai, menakutkan.
"Kau terlihat tegang, Sayang. Kenapa?" Dylan melangkah mendekat, dengan sorot mata tajam tak lepas menatap wajah tirus hasil operasi plastik Jessica.
"En-ggak kok, mana ada," jawab Jessica dengan terbata.
Lagi-lagi Dylan tersenyum. Sua langkah yang tersisa antara mereka ia kikis dengan begitu cepat.
"Egh!" Jessica memekik kecil saat tangan kekar itu melayang melingkar di lehernya. Jemari Dylan terasa begitu kuat menekan, memutus aliran nafas Jessica.
__ADS_1
"Kau bilang aku bodoh, mari aku tunjukkan seberapa bodoh diriku," bisiknya tepat di telinga sang wanita.
Darah Jessica berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang seperti baru saja lari maraton. Dylan mendengar percakapannya dengan Roy, Jessica telah melakukan kesalahan-kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Egh, A-aku hanya berca-nda," suara Jessica terdengar seperti kodok yang diinjak, tenggorokan begitu sakit seakan tulang lehernya remuk dalam genggaman tangan kekasihnya.
"Bercanda. Sangat lucu hem." Dylan menarik dirinya menjauh, melepaskan tangannya dari leher jenjang Jessica.
"Uhuk-uhuk," Jessica terbatuk-batuk, jika Dylan tidak segera melepaskan tangannya mungkin Jessica akan pindah ke alam lain.
Tubuh Jessica terasa lemas, ia meraup oksigen dengan rakus. Tangan lentiknya mengusap leher yang terasa sakit, ia merasa lega karena bisa bernafas dengan bebas lagi. Namun, itu hanya sejenak saja, sebelum dia sadar dengan tatapan elang yang siap menerkam mangsanya.
Mata yang sebelumnya penuh dengan kasih sayang, kini berubah menjadi amarah dan kekecewaan.
"Pergi dari hadapanku sekarang," ucap Dylan dingin, menatap wajah cantik Jessica dengan penuh kebencian
"Ta-
"Enyahlah!" teriak Dylan menggema, hingga menjadi perhatian orang-orang yang ada dalam minimarket.
Dylan mengusap wajahnya kasar, ia sungguh tidak menduga kalau selama ini Jessica hanya mempermainkan hatinya. Pria sipit itu begitu mencintai Jessica, memberikan semua yang ia butuhkan tanpa harus meminta, ia berikan yang terbaik. Dia percaya sepenuhnya pada Jessica, bahkan ia selalu pasang badan saat Mama dan orang terdekat Dylan meragukannya.
Dengan langkah lebar Dylan kembali ke mobil, ia memacu kuda besinya meninggalkan minimarket itu. Tempat di mana kebenaran terkuak, kebenaran tentang seberapa bodohnya Dylan selama ini.
Pria sipit itu memutuskan untuk pulang, kepalanya terasa berat dengan semua kejadian yang ia alami hari ini. Sekelebatan bayangan Juminten melintas di benaknya, Dylan berdecak kesal. Marah pada dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia bicara sekasar itu pada sang istri.
"Mungkin dia sudah pulang sekarang," gumamnya lirih, dia akan meminta maaf pada wanita itu.
Gegas ia menginjak pedal gas, mempercepat laju kendaraan roda empat yang ia kendarai.
Ceklek
Dylan membuka pintu rumahnya, kosong rumah itu terasa sepi, seperti ada yang hilang di sana. Suara langkah kaki Dylan menggema saking sepinya rumah itu.
__ADS_1
"Apa dia belum pulang?" Dylan melepaskan sepatu yang ia pakai, membuangnya asal.
Dengan cepat laki-laki berkaos putih itu naik ke kamar atas. Dylan membuka pintu kamar dengan nafas yang sedikit memburu, kosong. Juminten tidak ada di sana.
"Kemana dia kenapa belum pulang!"
Dylan merogoh saku celananya, mengambil benda pipih untuk menghubungi sang Mama.
"Assalamualaikum Ma," sapa Dylan terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam, tumben kamu telepon Mama jam segini, Dy."
"Nggak apa-apa Ma, cuma pengen tau kabar Mama aja," kilah Dylan dengan gugup.
Ia ingin menanyakan perihal keberadaan Juminten, tetapi tentu saja ini akan membuat Mamanya curiga tentang hubungan dia dengan sang istri. Dylan tidak ingin membuat Mayleen marah.
"Dy, sebaiknya berita itu di sudahi saja. Kasihan kalau Juminten jadi kepikiran."
"Iya Ma, minggu depan Dylan bakal ngadain konferensi pers kok."
"Baguslah kalau begitu, oh ya Jumi Mana? Mama kangen sama Dia."
"Jumi ... Jumi lagi di kamar mandi Ma, iya kamar mandi," jawab Dylan dengan gugup.
"Gitu ya, besok ajak dia ke rumah dong. Sudah lama kalian nggak main ke sini."
"Iya Ma, nanti kalau Dylan sempat."
Setelah berbincang-bincang ringan, Dylan pun memutuskan sambungan teleponnya dengan sang Mama.
"Kemana kamu sebenarnya Cumi?"
Dylan mondar-mandir dengan gelisah, ia mencemaskan keadaan istri yang ia tinggalkan begitu saja ditepi jalan raya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Juminten, hanya ada jawaban dari operator.
__ADS_1
Dylan menghempaskan tubuhnya di sofa, memijit pelipisnya yang berdenyut sakit. Pria sipit itu menengadahkan wajah, menatap langit kamar. Matanya terpejam, ia mengambil nafas dalam menghirup udara yang tersekap dalam ruang itu. Samar tercium sisa aroma parfum milik sang istri, sebuah senyum getir tersungging di bibir Dylan. Sebuah senyum yang ia peruntukan untuk kebodohannya.