Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 8


__ADS_3

Setelah makan malam yang canggung, kini kecanggungan bertambah. Dylan, Erick, Juminten dan Lee ada dalam satu ruangan. Mereka berkumpul diruang tengah, sedangkan kembar tiga kita sibuk di kamar masing-masing. Sibuk menahan rasa penasaran tentang apa yang terjadi di ruang tengah.


"Jadi apa maksud Anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Dylan membuka percakapan.


Tak menjawab, Erick justru mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia letakkan foto usang di atas meja.


"Itu kita," ujarnya.


"Kita?" Tanya Dylan seraya mengambil foto itu.


Ditatapnya lamat-lamat dua balita yang sedang tersenyum melihat kearah kamera, keduanya berada di pangkuan seorang wanita yang kemungkinan adalah ibu mereka. Juminten pun melihat foto itu, ia kemudian melihat sang suami dan tamunya secara bergantian.


"Apa Anda yakin? Kita bisa saja hanya mirip. Banyak orang yang mirip tanpa hubungan darah di dunia ini," ujar Dylan.


Erick hanya tersenyum. "Saya juga berpikir demikian, maka dari itu saya ingin bertemu dengan Anda. Memastikan apa benar kita saudara atau sekedar mirip saja."


"Ibu berkata jika saudaraku punya sebuah tanda lahir di telinga, seperti lubang tindik di bagian yang menempel di pipi."


"Kanan atau kiri?"


"Kiri," jawab Erick cepat.


Dylan terdiam sejenak, ia ku menatap kepada sang istri yang juga memperhatikannya. Tangannya menggenggam erat tangan sang suami yang sudah basah karena gugup, meski Dylan terlihat tenang. Dalam hati laki-laki itu ia merasa sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, bahagia bercampur amarah.


"Lalu apa yang akan Anda lakukan jika saya memang benar adalah saudara kembar Anda Tuan Erick." Dylan semakin erat menggenggam tangan Juminten.


"Aku akan memintamu pulang," jawab Erick lirih.


"Pulang? Pulang kemana? Ini rumah saya dan keluarga saya ada di sini, saya tidak punya tempat lain untuk pulang Tuan Erick," sahutnya penuh penegasan.


Dylan juga tidak mengerti kenapa emosinya tiba-tiba naik, ia merasa sangat marah. Kenapa? Kenapa? Hanya itu yang ada di pikirannya. Setelah sekian lama kenapa ia baru datang dan memintanya kembali? Apa dia waras? Kemana saja mereka selama ini? Kemana keluarganya sebelum Dylan diangkat anak oleh Mayleen?


"Pi." Juminten mengusap lembut punggung sang suami, hal yang sama juga di lakukan Lee.

__ADS_1


Beban yang di tanggung Erick cukup besar, selama ini dia sudah mencoba mencari keberadaan saudaranya. Panti sosial, rumah sakit, panti asuhan, semua tempat yang mungkin seorang anak kecil berumur 3 tahun yang hilang bisa berada.


Tak ada yang mengerti kegundahan hati Erick, pria itu selalu menutupi semua dengan rapi. Dengan sikap tegas dan dinginnya, padahal dalam hati Erick sangat rapuh. Ia selalu disalahkan atas hilangnya sang adik.


"Saya mengerti perasaan Anda, tapi bisakah saya untuk tahu apa benar Anda saudara saya atau tidak. Ini sangat penting bagi saya," ujar Erick sepenuh hati.


Dylan mengambil nafas dalam, beberapa detik ia memejamkan mata. Mencoba meredam guntur yang bergemuruh di dadanya.


"Ya saya memang punya tanda yang seperti Anda katakan, tapi itu juga tidak menjamin saya benar saudara kandung mu, kita lakukan tes DNA saja, kita lihat hasilnya," sahut Dylan, meskipun hatinya ragu dan enggan.


Namun, ia juga penasaran dengan kebenaran ini. Erick menatap wajah Dylan dengan penuh rasa syukur. Ada keyakinan dalam hati, bahwa Dylan memang saudara kembarnya. Meskipun semua orang bisa melihat dengan jelas bagaimana miripnya dua orang itu, tetapi tetap saja butuh sebuah bukti untuk memperkuat dugaan Erick.


"Kapan kita bisa melakukan tes , saya berharap bisa se-,"


"Huuk ..!" Dylan menutup mulutnya, laki-laki itu bangkit dan bergegas berlari ke kamar mandi yang di sediakan untuk tamu tak jauh dari ruang keluarga.


"Maaf, sebentar ya."


Tanpa menunggu jawaban dari kedua tamunya, Juminten langsung melangkah menyusul sang suami. Erick dan Lee hanya mengangguk, dua pasang mata itu mengekor kemana sang tuan rumah pergi.


Huek


Huek


Juminten memijat tengkuk leher sang suami, ia merasa tidak tega melihat Dylan seperti ini. Ini bahkan lebih parah daripada saat ia hamil kembar tiga.


"Kok makin parah gini sih, dulu tuh kamu cuma muntah pas pagi aja. Sekarang kok malah tiap abis makan muntah sih," ujar Juminten dengan cemas.


Dylan hanya menggeleng pelan, kepalanya terasa pening, dengan perut yang seolah diaduk sendok besar. Dylan berkumur, menghilangkan rasa pahit dalam mulutnya.


"Nggak apa-apa kok, Ai. Sekarang udah nggak mual," Dylan mencoba menenangkan sang istri, ia tidak mau Juminten cemas berlebihan. Itu bisa berpengaruh pada kesehatan bayi yang sedang dikandungnya.


"Nggak apa-apa gimana? Kamu pucat banget kayak gini lho. Kanda istirahat dulu ya, aku buatin teh hangat."

__ADS_1


Dylan tersenyum, ia mengusap lembut pipi Juminten. Ia sangat bersyukur memiliki istri Juminten, wanita itu begitu mencintainya. Sama seperti dia saat ini.


"Kita Ke sana lagi yuk, nggak enak ninggalin tamu lama-lama. Masih ada hal penting juga yang belum selesai kita bahas," ujar Dylan, mengandeng tangan sang istri.


"Kita minta mereka pulang dulu aja Kanda, bahas masalah tesnya lain kali aja. Nunggu Kanda nggak mual-mual lagi kayak gini."


Juminten mengapit lengan sang suami dengan mesra. Meskipun mereka sudah tak lagi muda, tetapi cinta dalam hati masih tetap mereka jaga. Mereka pun tak segan memperlihatkan kemesraan mereka.


"Maaf kalau kami mengganggu di saat Anda tidak sakit seperti ini," ujar Erick yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, ini adalah rasa sakit yang saya syukuri," Dylan berkata dengan senyuman manis di bibirnya yang pucat.


"Maksud Anda, Anda bersyukur karena sakit?" Tanya Lee yang merasa ada yang janggal dengan ucapan Dylan.


"Saya sedang hamil dan dia mengalami kehamilan simpatik, mual, pusing, tidak nafsu makan, sensitif. Semua itu suami saya ini yang mengalaminya, katanya sih kalau suami yang mengalami morning sickness, berarti dia sangat mencintai istrinya. Entah seberapa besar cinta suami saya ini," ujar Juminten sambil melirik sekilas pada sang suami.


"Ya besar dong Ai, cintaku padamu itu, sebesar gunung Himalaya, sedalam palung mariana, seluas Bima sakti. Kan sudah terbukti, masih ragu apalagi," sahut Dylan dengan percaya diri.


"Astaga gombal. Ada tamu, apa kamu nggak malu."


"Nggak, kan aku emang cinta sama kamu." Dylan memeluk erat tubuh istrinya dari samping.


"Udah ah malu, katanya tadi mau ada yang di bahas kan," lirih Juminten berbisik.


Ia merasa tidak enak pada Erick dan juga istrinya, yang sedang tadi menahan tawa melihat Dylan. Dalam hati Erick merasa senang karena Dylan tak Secanggung tadi saat bertemu.


"O iya lupa. Ehem, masalah tes DNA itu kita bisa melakukannya besok. Kebetulan saya akan ada waktu. Karena istri saya memerintahkan agar saya istirahat di rumah," ujarnya sambil menatap wajah sang istri.


"Benarkah, terima kasih. Kita ke rumah sakit mana? Saya akan datang tepat waktu," sahut Erick dengan penuh semangat.


"Anda datang saja kemari, dokter kepercayaan saya akan mengambil sampelnya di sini."


"Baik saya akan kemari besok pagi, kalau begitu saya pamit. Maaf sudah menganggu waktu Anda, terima kasih untuk makan malam yang lezat."

__ADS_1


Erick dan Lee bangkit dari duduknya, mereka bergantian saling menjabat tangan sang tuan rumah.


__ADS_2