Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 15


__ADS_3

Lee masih nongkrong di ruang tamu bersama Juminten. Meja yang tadinya penuh dengan makanan perlahan habis ludes oleh dua wanita itu, ternyata Lee juga punya nafsu makan yang besar. Sama seperti Juminten.


"Mereka kok belum balik ya, apa kedai teh jauh dari sini?" Tanya Juminten tanpa menoleh.


"Nggak sih, sekitar banyak kedai teh tapi yang enak agak jauh emang," jawab Lee juga tanpa menoleh.


Kedua wanita itu fokus melihat acara televisi. Juminten menyuap satu anggur terakhir kedalam mulutnya. Tangan Lee meraba dalam mangkuk, ia mengerutkan keningnya kemudian menoleh.


"Ya kok abis sih, aku kan masih mau Ra," keluh Lee, dengan muka masam.


"Hehehehe ...abis enak sih," sahut Juminten sambil menyengir tanpa dosa.


Lee memanyunkan bibirnya, kembali menoleh ke arah televisi. Derap langkah cepat terdengar menaiki tangga, dua orang pria muncul dari ujung tangga.


Lee yang masih malas pada suaminya tak bergeming sama sekali, berbeda dengan Juminten wanita itu memekik senang melihat apa yang di bawa sang suami.


"Kanda!" Pekiknya sambil merentangkan kedua tangannya, tanpa beranjak dari sofa tempat ia duduk.


Dylan tersenyum, ia melangkah cepat menghampiri Juminten lalu memeluknya dengan erat.


"Uh ... Cintaku, aku kangen," ujar Dylan manja.


"Aku juga, mana tehnya?" Tanya Juminten tidak sabar.


Lee melirik sambil berdecih sebal, ia kembali menoleh melihat televisi. Lee terkejut saat Erick bersimpuh di hadapannya dengan membawa sebuket bunga mawar kesukaan Lee.


"Apa ini?" Tanya Lee ketus.


"Bunga mawar, Sayang. Aku beli khusus buat kamu," ujar Erick dengan lembut, ia tahu Lee sedang kesal dengannya.


"Benarkah, terima kasih." Lee menerima buket bunga itu, tapi wajahnya masih terlihat masam


Erick tersenyum, ia senang Lee menerima pemberiannya. Laki-laki itu bangkit dan duduk di samping sang istri, ia menarik pinggang Lee, mengikis jarak di antara mereka.


"Kanda aku juga mau bunga," rengek Juminten manja.


Dylan menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Aduh Ai, Cumiku tercinta. Kanda lupa nggak beli bunga buat kamu." Dylan kemudian merogoh saku mengeluarkan dompetnya.


"Bunga bank aja ya Ai," ujarnya sambil menyerahkan black card miliknya.


"Boleh, ini juga apa-apa," sahut Juminten sambil senyum-senyum manja.


Erick mengusap kepala Lee dengan sayang, sesekali ia mengecup lembut rambut beraroma mawar.


"Nggak suka ya sama bunganya?" Tanya Erick yang melihat Lee masih murung, tangan lentiknya memainkan kelopak bunga yang ada di pangkuannya.


Lee mengangguk." Ada yang aku inginkan lebih dari ini sekarang.


"Apa itu cintaku?"


"Aku pingin anggur Dad," rengek Lee.


Mata lentik Lee melirik tajam pada wanita hamil yang sedang bermanja pada suaminya.


"Dia ngabisin anggur aku, Dad." Lee menunjuk Juminten dengan kesal.


"Daddy," rengek Lee lagi.


Erick merasa gemas pada Lee yang merengek seperti itu. Menunjukan sisi manja sebagai seorang wanita, sungguh sangat menggemaskan.


"Nanti kita beli ya Sayang, jangan kayak anak kecil gini dong," canda Erick, sambil menarik gemas ujung hidung istrinya.


"Oh, jadi selama ini di mata Daddy hanya anak kecil ya. Ya sudah pergi sana cari yang bohay yang lebih dewasa dari aku, aku emang anak kecil. Nggak usah pedulikan aku!" Sentak Lee tiba-tiba, hatinya tercubit mendengar sindiran sang suami.


"Lho ... Lho ... Bukan seperti itu Sayang, aku hanya bercanda," ujar Erick yang langsung meralat ucapannya.


"Nggak lucu!" Sentak Lee yang kadung kesal.


Lee bangkit, meninggalkan ruang tamu dengan langkah menghentak. Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung kenapa Lee tiba-tiba bersikap seperti itu. Ia menoleh, melihat Juminten dan Dylan penuh tanya.


"Hayo, Lee dah merajuk," goda Dylan.


"Cepat susul, bujuk dia. Jika tidak kau akan puasa malam ini," tukas Juminten.

__ADS_1


Tak mau perkataan Juminten menjadi kenyataan, Erick segera bangkit dan menyusul langkah Lee.


Setelah drama Lee dan Erick dalam kamar, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat mengunjungi orang tua Dylan dan Juminten. Apa yang dilakukan Erick untuk meluluhkan hati wanita kesayangannya, emak juga tidak tahu kwkkww, silakan pembaca menebak sendiri.


Mobil berwarna silver melaju meninggalkan pelataran rumah. Senja mulai merayap naik, langit biru telah berganti mega keemasan menghias langit.


Tak ada percakapan dalam mobil, Erick fokus menyetir, Juminten dan Lee duduk di belakang. Keduanya tertidur, seperti sangat kelelahan.


"Apa masih jauh?" Tanya Dylan memecah keheningan.


"Sebentar lagi sampai," jawab Erick tanpa menoleh.


Raut wajah kembaran Dylan itu terlihat tegang, sesekali tangan Erick tampak meremas setirnya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah pelataran gedung bertingkat. Bangunan itu tinggal menjulang, seperti pagoda.


Patung Buddha besar menyambut mereka di pintu depan. Bukan rumah biasa, yang mereka datangi adalah rumah abu. Rumah abu adalah tempat penghormatan bagi orang meninggal yang telah dikremasi dan biasanya abu jenazahnya disimpan di sebuah pasu, yakni sebuah guci yang menyimpan sisa kremasi almarhum. Ya , kedua orang tua Erick dan Dylan telah berpulang dua tahun yang lalu.


Erick berjalan terlebih dahulu, menyusuri lorong-lorong, berhenti di depan sebuah lemari kaca kecil yang berjajar di sepanjang dinding.


Dua pasu atau guci di letakkan dalam kotak kaca yang sama. Foto suami istri berwarna hitam putih, berbingkai abu-abu terpajang di sana. Mereka adalah orang tua Dylan dan Erick.


Dylan menatap lekat foto itu, sementara Erick menaruh buket bunga kecil di vas yang ada dalam kotak kaca itu. Ia kemudian mennakup tangan di dada dan berdoa. Tampak khusyu sekali, ia memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Dylan pun sama, ia menengadahkan tangan, mengirimkan dia untuk orang tua yang baru ia kenal.


Keduanya punya kepercayaan yang berbeda, tetapi mereka saling menghormati. Erick memegang kepercayaan yang di anut leluhur dan orang tuanya, sementara Dylan tentu memegang kepercayaan seperti Mayleen, orang tua angkatnya.


"Ma, Pa. Aku sudah menemukan Edwin, maaf seharusnya aku menemukan dia lebih awal. Agar kalian bisa memeluknya, agar Mama bisa memberikan dia semua kasih sayang Mama, maafkan Erick Ma." Erick menunduk, air matanya luruh seketika.


Dylan seperti melihat seorang anak berusia tiga tahun yang sedang menangisi kesalahannya, ia menepuk pundak Erick pelan. Erick menoleh, ditatapnya mata Dylan dengan sendu.


"Kau tidak salah, ini memang takdir kita."


Kedua saudara itu saling memeluk, seolah mereka baru bertemu pertama kali.


Dylan tak mengganti marganya, ia tetap menjadi Dylan Li karena hanya dia dan Juminten yang bisa meneruskan marga itu. Erick pun tidak masalah dengan itu, mereka akan tetap menjadi saudara. Siapapun dan apapun marga mereka.


Waktu tidak akan terulang, boleh menyesali, boleh menangis tapi jangan terpuruk dan berhenti. Masih ada hari esok, masih ada mentari yang akan bersinar setiap pagi.

__ADS_1


__ADS_2