Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 3


__ADS_3

"Duluan ya Chi!" seru Kanaya, teman sekelas Michi sambil melambaikan tangan dari dalem mobil.


"Oyi, hati-hati yak!"


Kanaya mengacungkan jempol, mobil sedan lawas berwarna putih itu pun berlalu membawa salah satu anggota genknya pergi. Ya Michi, Kanaya, dan Tanti tiga orang itu tergabung dalam genk duda lover. Menurut mereka bertiga, duda itu lebih menggoda dan Kanaya sudah membuktikannya. Dia menikah dengan seorang duda bahkan sebelum dia lulus sekolah, tentu saja hal itu di sembunyikan dari pihak sekolah, hanya mereka saja yang tahu kalau Kanaya sudah menikah.


"Gila suami Kanaya cakep bener," gumam Michi lirih, melihat arah sedan lawas itu pergi sambil menggelengkan kepala.


Kanaya menstater motor matic miliknya, tidak seperti kemarin hari ini dia memakai motor matic hadiah ulang tahun dari Maminya. Ya kembar tiga itu menerima sepeda motor, di usia mereka yang ke tujuh belas.


Baru saja Michi menjalankan motornya. Seseorang yang sangat ia kenal atau mungkin ia kenal berdiri tepat tak jauh darinya.


"Papi," gumam Michi dengan kening yang berkerut, matanya memicing memperhatikan pria itu


"Eh nggak nggak itu bukan Papi, itu mungkin laki-laki kemarin ya mirip dengan Papi. Tenang Michi, tenang, jangan sampai orang lain mengira kau gila karena salah kenal lagi. Tapi ngapain dia di sini? Apa jangan-jangan dia lagi ngincer anak SMA buat anu ya," tebak Michi, dengan segudang pertanyaan anu di otaknya.


Michi pun memutuskan untuk acuh, dan tidak menggubris pria itu. Lagi pula ia juga cukup malu dengan kejadian kemarin. Namun, saat gadis sipit itu hendak menjalankan motornya lagi, pria yang mirip sekali dengan papinya itu, terlihat berjalan mendekat. Michi pun bertambah heran, karena pria itu tampak ramah dan tersenyum padanya tidak seperti kemarin.


"Siang Dek," sapa pria itu.


Michi menoleh ke kanan dan kiri, tak ada anak lain selain dia. Michi kemudian menunjuk dirinya sendiri dan pria itu mengangguk.


"Siang, siapa ya?" jawab Michi berusaha sopan kepada laki-laki yang seumuran dengan papinya itu.

__ADS_1


"Kita sudah bertemu kemarin."


"Maaf ya Pak l,saya punya penyakit kemarin ketemu sekarang lupa, apalagi hal yang ga penting. Jadi maaf, emang kemarin kita ketemu perasaan nggak?" Tanya Michi sambil melipat kedua tangannya di dada.


Tatapan pria itu berubah menajam. Michi, mulai merasa takut, tetapi ia berusaha bersikap biasa.


"Jangan pura-pura Nona, kita sudah bertemu kemarin. Aku tahu kamu ingat dengan jelas, kemarin kamu menyangka aku adalah Papimu dan sekarang saya kemari untuk menanyakan hal yang sama. Apa benar papimu itu mirip denganku?" nada bicara pria itu seketika berubah jadi tegas.


Michi menatap laki-laki dengan aneh, menelisiknya dari ujung rambut hingga kaki.


"Kalau iya kenapa? kalau tidak kenapa? Maaf Pak, saya juga punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan dari Bapak," tukasnya.


Ia merasa aneh dengan pria itu meskipun ia hampir sama dengan papinya. Yah bagai pinang dibelah kapal. Namun, sifat mereka sangat bertolak belakang. Dylan, sangat penyayang kepada anak-anaknya.


"Jika memang benar Ayahmu atau Papimu itu mirip dengan saya. Saya ingin bertemu dengannya," ujarnya dengan ada tegas dan raut wajah yang sangat serius, kata-katanya pun berubah lebih formal.


"Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, yang terpenting saya harus bertemu dengan dia. Jika memang dia mirip dengan saya


Michi memperhatikan pria itu dari atas ke bawah sebagai mahal dengan baju branded. Rapi, tegas, dan tampan seperti Dylan. kecuali ketegasannya dia tidak terlihat seperti orang berbahaya. Tetapi tetap saja dia orang asing yang Michi tak tau dari mana asalnya.


"Papi lagi sakit, mungkin Anda tidak bisa menemuinya sekarang. Tadi pagi Orang tua saya pamit pergi ke rumah sakit untuk berobat, saya tidak tahu apa mereka sudah pulang atau belum," jawab Michi apa adanya.


Pria tampan itu pun manggut-manggut mendengar jawaban Michi, ia yakin remaja yang ada di hadapannya itu tidak berbohong.

__ADS_1


"Lagi pula, saya harus meminta izin dulu pada Mami dan papi saya untuk mengundang seseorang yang tidak saya kenal, masuk ke dalam rumah. Apalagi untuk alasan yang tidak jelas," sambung gadis itu lagi.


Pria itu tersentak, kemudian terkekeh sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Maaf, saya sampai lupa memperkenalkan diri saya. Nama saya Erik Huang dan saya adalah ayah dari seorang putri yang sedang magang di sini. Kamu pasti tahu, namanya Lee. Dia baru saja berkerja sekitar tiga bulan yang lalu," ujar laki-laki itu sambil menatap gedung tempat Michi menimbang ilmu.


Lee.


Nama yang tidak asing pakai untuk Michi, ia baru ingat ada seorang guru bahasa mandarin baru di sekolahnya. Masih muda, cantik, dan sangat humble. Berbeda jauh dengan pria itu, wajah mereka juga tidak terlihat mirip.


"Oh jadi Anda


Ayah dari Miss Lee." Erick mengangguk membenarkan ucapan Michi.


"Baiklah Tuan Erick, Saya rasa, saya harus pulang sekarang matahari sudah tinggi."


Michi mulai menyalakan mesin motor miliknya. Namun, Erick kembali mencegahnya.


"Apalagi Pak Erick yang terhormat?' tanya Michi yang mulai tidak sabar, cacing di perutnya sudah berteriak minta di isi nasi dan sayur lodeh masakan maminya.


"Bagaimana aku bisa menghubungi mu?" Tanya Erick dengan serius.


"Ya elah, Anda tanyakan saja nomer saya pada Miss Lee. Dia tahu nomer telpon saya, tanyakan saja nomer Michi super imut, beliau pasti paham."

__ADS_1


Michi pun akhirnya pulang, sepanjang perjalanan ia terus berpikir tentang keinginan orang asing yang mirip dengan papinya itu. Apakah dia saudara? Raut Michi yang seketika berubah suram.


Jika memang pria bernama Erick adalah teman Dylan. Kenapa dia tidak langsung ke rumah?


__ADS_2