
"Astaga! Rusak generasi!" Seru Max sambil langkah berlalu.
"Kakak tua ...!"
"Kakak tua ...!"
"Gendong!" Moza dan Mely saling berteriak mengejar Kakak tertua keluarga Li itu.
Meskipun Max tidak begitu suka anak kecil, tetapi dia juga tidak bisa menolak saat kedua bocil, bahkan ke empat bocil di rumahnya mengajak dia bermain bersama. Arumi menatap sendu pada kedekatan keluarga Max, mengingat dia sekilas pada keluarganya yang dulu. Arumi melihat Max seperti ayahnya, beliau selalu menyempatkan diri untuk menemani dia dan Bayu meskipun raganya telah lelah berkerja.
"Bayu," gumam Arumi.
Ia teringat dengan adik kesayangannya itu, dia belum sempat memberi kabar pada Bayu dan nenek. Arumi bingung karena dia tak membawa ponsel, benda pipih yang sudah lusuh itu jatuh saat di berusaha melarikan diri kemarin malam.
Malam itu Arumi tak berpikir banyak, dia hanya memikirkan bagaimana caranya pergi dari tempat jahanam itu. Dia harus lepas dari pria bejat berkedok malaikat.
"Maaf cari siapa ya?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Arumi, ia menoleh dan melihat seorang wanita cantik bermata sipit dengan rambut hitam panjang tergerai.
Wanita itu menatapnya dengan heran sambil melepas sepatu warna putih yang ia pakai. Arumi berusaha tersenyum ramah, ia tahu wanita itu salah satu anggota keluarga ini. Arumi bisa melihat dari matanya yang sipit sama seperti Max.
"Saya Arumi, Kak Max,_"
"Pacarnya Kak Max, Hua ....!" Mata Michi berbinar ia langsung berhambur memeluk Arumi dengan erat.
"Bu-bukan, saya bukan pacarnya," sahut Arumi terbata karena pelukan Michi yang terlampau erat.
"Michi!" Pekik Max yang keluar dengan empat bocil nemplok di badannya.
Mely dan Moza ada di tangan Max kanan dan kiri, Excel memeluk betis sementara sang yang paling berkuasa diantara para bocil Erika, dia bertengger di pundak Max sambil berpegangan pada rambut pria sipit itu.
Mendengar suara Max, barulah Michi melepaskan pelukannya pada Arumi. Ia melihat kearah Max sambil menyengir tanpa dosa, meskipun Max memberikan tatapan tajam, Michi tidak merasa takut. Karena dia tahu Max amat menyayanginya.
Arumi meraup oksigen sebanyak yang ia bisa, rasanya sungguh sesak saat Michi memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
__ADS_1
"Cieee .... Yang bawa pulang pacar," goda Michi, Max melirik tajam pada adiknya itu. Sementara Arumi menunduk malu.
"Banyuwangi deket ya, baru berangkat udah pulang," sindir Max yang langsung membuat Michi mencebikan bibirnya.
"Nggak jadi berangkat," sahutnya cepat dengan nada ketus, langkah Michi menghentak melangkah arah dapur.
"Lha bukannya kemarin kamu berangkat?" Tanya Max sambil susah payah membalikkan badannya.
"Ketuanya mencret, udah ah Kak males aku bahas itu." Max mengerutkan keningnya, tidak biasanya Michi yang selalu positif dan ceria bertingkah seperti itu.
Max pun memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, sepertinya suasana hati Michi sedang tidak baik. Ia akan tunggu sampai Michi sedikit tenang, Max menoleh ke arah Arumi yang masih berdiri ditempat.
"Rum, Ayo masuk. Mami nunggu kita di dalam," ajak Max, Arumi mengangguk ia mengikuti langkah Max yang berjalan dengan Excel di betisnya.
"Kak sebentar."
"Apa?" Max berhenti dan menoleh.
"Haloo Ganteng, namanya siapa?" Tanya Arumi sambil tersenyum.
"Excel!" Jawabnya tegas.
"Excel mau ikut Kak Arum nggak, kasian Kakak tua kan nggak bisa jalan kalau Excel nemplok di sini," bujuk Arumi.
Excel terdiam, ia menatap Arumi dengan penuh telisik. Senyum Arumi yang begitu ramah membuat Excel menerima uluran tangan Arumi, ia pun menurut saja saat Arumi memindahkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan Arumi.
"Hua amazing," gumam Max lirih, pasalnya Excel tidak seperti anak lain, dia susah sekali di bujuk.
Arumi tersenyum sambil menggendong Excel, dan Max menatapnya dengan terkagum-kagum. Michi yang melihat Max seperti itu hanya bisa mengangkat alis dan berkata wow dalam hatinya, selain Mami mereka tak ada yang bisa membuat Max memberikan tatapan seperti itu pada orang lain, terutama seorang gadis.
Pov Michi.
Aku baru saja pulang saat aku melihat seorang gadis berdiri mematung di ruang tamu, sepertinya dia lebih muda dariku.
__ADS_1
"Maaf cari siapa ya?" Tanya ku sambil mengangkat satu kaki untuk melepas sepatu.
Gadis itu menoleh, dia tersenyum manis sekali. Ada bekas luka di sudut bibir, dan lebam yang berusaha ia tutup dengan bedak. Aku bisa melihat itu, karena aku sering melakukannya, untuk menutup luka karena jatuh dan tak ingin Mami tau, dia termasuk amatir untuk hal seperti itu.
"Saya Arumi, Kak Max,-"
"Hua pacarnya Kak Max," potongku cepat, dia satu-satunya cewek yang datang mencari atau di ajak Kak Max, kalau bukan pacarnya siapa lagi.
Aku memeluknya sangat erat, aku ikut bahagia kakak ku normal, padahal sebelum ini aku takut dia suka terong. Karena Kak Max tak pernah punya pacar, dan malah menghindar cewek yang caper sama dia.
"Michi!" Suara Kak Max membuka aku terkejut dan melepaskan pelukanku, dia menatapku tajam, sepertinya dia kesal.
Aku melirik gadis yang bernama Arumi itu, nafasnya tersengal pasti karena aku memeluk terlalu erat.
"Cieee .... Yang bawa pulang pacar," godaku, wajah Kak Max langsung merah, tapi masih melihat aku dengan kesal.
"Banyuwangi deket ya, baru berangkat udah pulang," ujar Kak Max menyindirku.
"Nggak jadi berangkat!"
"Lha bukannya kemarin kamu berangkat?"
"Ketuanya mencret, udah ah Kak males aku bahas itu," jawabku sekenanya.
Kesel sebenarnya, kenapa Kaka Max pake nanya perkara KKN ku, nggak ngerti apa adeknya yang cantik cetar membahana ini lagi patah hati. Aku doain semoga Abim benar-benar mencet. Aku bela-belain mau ikut bantu semuanya tapi dia, laki-laki itu malah enak enakkan pacaran. Biarin aja nggak berangkat, biar dia kapok udah bohongin aku.
Dia janji mau masukin Yudha ke kelompok kami, tapi apa. Dia memang masukin Yudha tapi dia juga masukin Hana, gimana gue bisa caper sama Yudha coba.
Yudha, seorang pria yang mencuri perhatianku sejak jaman ospek dulu, tapi sayang. Dia sama sekali tidak tersepona dengan diriku ini, tapi bukan aku jika menyerah begitu saja. Toh, dia juga nggak punya pacar, setahuku sih. Yang ada juga si Hana yang sok deket, sok perhatian, sok anu, ih pengen pites aja rasanya.
Setelah menghabiskan coconut water favoritku. Aku memutuskan untuk semedi di kamar, sapa tau bisa sambung telepati sama Yudha. Yudha oh Yudha ... Aku tersenyum saat aku melihat Kak Max, yang terkagum-kagum melihat Arumi.
"Semoga Arumi jodohmu Kak," doaku dalam hati, sepertinya Arumi wanita yang baik. Pas buat kulkas nyebelin kayak Kakak ku.
__ADS_1