Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Penawaran Dylan


__ADS_3

"Juminten." Gadis itu menjabat tangan Dylan, setelah cukup lama membiarkan tangan pria itu menggantung di udara.


Juminten merapatkan giginya, merasakan Dylan yang sangat kuat. Ternyata Dylan sudah tahu kalau Juminten adalah wanita yang sama yang telah merusakkan mobil kesayangannya. Namun, ia pura-pura tidak kenal, agar Mayleen tidak semakin menjodohkan mereka.


Setelah Dylan melepaskan tangannya, Juminten mengerakkan tangan yang memerah karena remasan Dylan. Pria itu menyunggingkan senyum mengejek, dibalas bibir manyun oleh Juminten.


"Dy. Terima kasih ya, Mama seneng kamu mau menerima Jum. Dia gadis yang baik Nak, Mama harap kalian bisa bahagia."


Dylan menyunggingkan senyum yang terpaksa, untuk sementara ia akan menuruti keinginan Mamanya. Dylan tidak ingin kesehatan Mayleen menurun lagi.


"Iya, Ma," jawab Dylan dengan wajah yang ia usaha senang.


Mayleen melambaikan tangan, memanggil Juminten untuk lebih dekat. Dylan sedikit bergeser agar Juminten bisa lebih dekat dengan Mayleen. Juminten sedikit menunduk saat Mayleen mengulurkan tangan, wanita itu mengusap rambut hitam Juminten dengan penuh sayang.


"Mama harap, kamu tidak keberatan keputusan Mama menjodohkan kamu dengan Dylan." Mayleen menggenggam erat tangan Juminten, menatap wajah gadis itu dengan sendu.


Ada rasa bersalah yang Juminten rasakan, dalam tatapan Mayleen. Dylan mengerutkan keningnya dengan alis yang terangkat, keberatan? Kata itu seharusnya untuk Dylan. Bukan untuk gadis itu, Dylan harus menerima perjodohan dengan gadis tidak jelas yang pasti tidak berniat baik masuk kedalam keluarga Li, Dylan pun harus merelakan rencana pertunangan gagal sebelum terlaksana.


Juminten, gadis itu. Apa yang nisa membuatnya keberatan? Dia pasti sangat senang menjadi salah satu anggota keluarga Li, yang terpandang dan kaya raya. Cih, memuakkan. Didepan Mayleen Gadis materialistis itu bersikap sok polos seperti ini. Dylan menatap sinis pada Juminten, dia sangat heran, apa yang membantu Mayleen begitu kekeh ingin Juminten jadi menantunya. Dylan tidak akan membiarkan Juminten mendapatkan sepeserpun harta keluarga Li. Dylan akan membuat hidup Juminten seperti di neraka.


"Dy, kamu anterin Juminten pulang gih. Udah malem," titah Mayleen, ia ingin agar calon menantu dan putranya lebih dekat.


"Tidak Nyonya, saya bisa pulang sendiri," tolak Juminten. Ia tidak merasa nyaman berada didekat Dylan sendirian, untuk sekarang.


"Dia aja nggak mau di anterin Ma, udah pesen taksi aja. Lagian aku nggak mau ninggalin Mama sendiri di sini."


"Ada banyak suster dan dokter yang merawat Mama di sini, kamu nggak usah khawatir. Udah cepetan anterin."

__ADS_1


"Iya .. iya Dylan anterin," ujar Dylan dengan malas, ia kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


"Jaga diri Nyonya, saya pamit pulang dulu. Semoga Anda lekas sembuh. Assalamualaikum." Juminten mencium punggung tangan Mayleen.


"Wa'alaikumsalam, panggil aku Mama, Jum. Kau menantuku sekarang," ucap Mayleen, yang di sambut senyum kikuk Juminten.


Juminten melangkah keluar, gadis itu menengok ke kanan dan kiri untuk mencari Dylan.


"Kau pasti senang aku setuju untuk menerima perjodohan ini," suara dingin dan ketus dari arah belakang membuat Juminten menoleh.


Juminten memutar matanya jengah, dengan helaan nafas panjang.


"Jika kau tidak mau, tolak saja. bisakan?" sahut Juminten ketus.


Dengan geram, Dylan menarik dirinya dari dinding tempat ia bersandar. Dylan berdiri di depan Juminten, sedikit menunduk karena tinggi mereka yang berbeda jauh.


"Aku tidak bisa menolak keinginan Nyonya Mayleen!" tegas Juminten, sorot matanya tak kalah nyalang menatap Dylan.


"Hemh ... tidak bisa, tentu saja kau tidak bisa menolak uang." Satu sudut bibir Dylan terangkat, menatap remeh pada Juminten.


Juminten meremas pinggir dres yang ia kenakan. Ucapan Dylan tidak sepenuhnya salah, Juminten memang punya hutang budi sekali hutang uang yang tidak bisa ia lunasi dalam sekejap. Biaya rumah sakit Ibunya dan pengacara Wisnu, semua itu di luar kemampuan Juminten.


Melihat Juminten yang menghindari tatapan matanya, membuat Dylan semakin yakin. Apa yang ia duga tentang wanita itu benar, Juminten hanyalah salah satu dari wanita yang mendekati keluarga mereka untuk uang dan kekuasaan.


"Sudah ku duga, berapa yang ibuku berikan padamu, aku akan memberikan dua kali lipat. Dengan syarat kau harus menolak perjodohan ini!" tegas Dylan.


"Aku tidak bisa," kekeh Juminten dengan serius.

__ADS_1


"Apa rencana mu sebenarnya? ingin menguasai harta keluargaku, jangan harap. Aku akan membuatmu menderita sebelum itu terjadi!" Dylan melengos pergi, Juminten hanya bisa menghela nafasnya kemudian berjalan mengikuti langkah cepat Dylan.


Sesampainya di tempat parkir, Dylan membuka pintu mobil dengan kasar. Awalnya Juminten bingung masuk, ia sungguh malas harus berada di satu tempat tertutup bersama pria sombong itu.


"Kenapa masih diam, masuk! Jangan harap aku akan membuka pintu untukmu!" teriak Dylan dari dalam mobil.


Juminten mendengus kesal,ia membuka pintu dan menutupnya kembali tak kalah kasar dengan si pemilik mobil. Setelah sabuk pengaman Juminten terpasang, Dylan mulai menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Perlahan mobil itu menjauh dari rumah sakit, tak ada percakapan di antara mereka.


Dylan sibuk memikirkan kekasihnya, Jessy. Sedangkan Juminten, wanita itu tentu saja memikirkan Ibu dan keponakannya.


Setelah berjalan cukup lama tiba-tiba Dylan mengentikan mobilnya. Juminten melihat sekeliling, ia kenal daerah ini. Tempat ini sudah tidak begitu jauh dari rumah Juminten.


"Turun," Dylan berkata dengan dingin.


"Ini belum sampai rumahku," jawab Juminten tanpa menoleh.


"Aku bilang turun, ya turun!" kali ini Dylan berucap dengan menatap Juminten, sorot matanya begitu mengintimidasi. Namun, sama sekali tidak menakuti Juminten.


Juminten pun mengalah, ia melepaskan sabuk pengaman kemudian segera turun dari mobil itu. Baru saja, Juminten menutup pintu. Dylan langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


"O .. Wong semprul!" umpat Juminten kesal, Dengan wajah yang di tekuk masam Juminten memutuskan untuk mencari ojek yang biasa mangkal di sekitar daerah itu.


Dylan berulang kali mengumpat, pada benda layar datar yang ia pegang Ia berusaha untuk menghubungi Jessy. puluhan panggilan darinya ditolak, ribuan chat hanya hanya centang dua berwarna abu-abu.


"Agh ... Jessy, kau di mana sebenarnya." Dylan menjambak rambutnya frustrasi.


Pria bermata sipit itu pun melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti, ia memutuskan untuk pergi ke apartemen mewah yang dia berikan untuk Jessy sebagai hadiah anniversary mereka yang pertama.

__ADS_1


Besar harapan Dylan Jessy ada di sana, dan menunggunya. Ia tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara mereka, sekalipun nanti Dylan benar-benar melamar Juminten. Ia tidak akan melakukan itu, tidak akan pernah.


__ADS_2