Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Pantai


__ADS_3

Sinar matahari mulai menerobos celah tirai kamar yang separuh terbuka, bahkan keadaan kamar ini juga sudah seperti kapal pecah. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah sepasang sejoli yang sedang terkapar diatas kasur.


Entah jam berapa mata mereka terpejam setelah bertengkar, masih dengan masalah yang sama. Keduanya berebut ranjang king size yang muat tiga orang, padahal Vila yang mereka tempati punya dua kamar.


Ponsel Dylan menjerit-jerrit, membuat si empunya terpaksa membuka mata. Ia merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya.


"Ehm ....." Dylan menggeliat, dia mengangkat sesuatu yang menindih perutnya, yang ternyata adalah kaki Juminten. Dylan tidur terlentang, dengan satu kaki Juminten menindih perutnya. Ya, istrinya itu tidur melintang, entah bagaimana mereka tertidur kemarin malam.


Tapi satu yang Dylan ingat, keduanya memiliki waktu yang menyenangkan kemarin malam. Ia dan Juminten tertawa, berkejar-kejaran seperti anak kecil.


"Gan! ... Ni she Chu a![ F*ck ... kamu babi ya!] kalau tidur kira-kira kek, cewek kok tidur kayak gini." Dylan perlahan menggeser tubuhnya, setelah menurunkan paha Juminten yang entah sejak kapan menindihnya.


Wanita berparas cantik itu tak terganggu sama sekali dengan umpan Dylan, ia masih sibuk bermain indah dengan lee min ho, sepertinya. Dylan mencari ponsel yang sedari tadi tak berhenti menjerit, benda pipih itu ternyata ada tergeletak dilantai. Untung saja tidak terpijak oleh kaki besar pria sipit itu.


Dylan tersenyum, melihat nama yang terpampang di layar. Lekas Dylan menggeser logo hijau untuk mengangkat telepon itu.


"Halo."


"....."


"Benarkah, baiklah aku akan ke sana sekarang."


Dylan menutup sambungan teleponnya, dengan wajah yang berbinar bahagia. Pria itu lekas membersihkan diri. Setelah selesai, ia bergegas bersiap untuk pergi. Sebelum Dylan keluar dari pintu, ia menoleh pada Juminten yang masih tidur dengan posisi meringkuk sekarang, haruskah ia memberi tahu kalau dia hendak pergi.


Baru satu kaki Dylan hendak melangkah mendekati Juminten, ponselnya sudah kembali menjerit dengan nama yang sama seperti tadi. Dylan mengangkat telepon itu, melangkah pergi dengan satu tangan menutup pintu kamar mereka.


"Selamat pagi Tuan," sapa seorang laki-laki berseragam hitam, dia adalah pelayan khusus yang di villa itu.


"Pagi, siapkan sarapan saat wanita itu bangun," ucap Dylan yang di jawab anggukan oleh sang pelayan.


Mobil berwarna hitam yang disediakan villa itu, meluncur membawa sang pengemudi menjauh dari bangunan besar itu.


Juminten menggeliat, ia bangkit dari duduknya dengan malas. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Mata lentiknya menjelajahi isi kamar yang berantakan, hening.


"Kemana dia?" gumam Juminten.

__ADS_1


Tangan Juminten menggaruk rambutnya yang berantakan, dengan malas ia melangkah ke kamar mandi karena panggilan alam sekaligus mandi.


Setelah 15 menit, Juminten keluar hanya dengan handuk melilit tubuh mungilnya. Ia mulai membuka koper berisi baju-baju ganti, sebuah dress tanpa lengan berwarna merah menjadi pilihan Juminten. Lekas ia kembali ke kamar mandi untuk berganti, bukan apa-apa. Takut saja kalau ganti di kamar, si Dylan tiba-tiba masuk.


"Selamat pagi Nyonya," sapa si pelayan, yang sengaja menunggu Juminten.


"Selamat pagi Pak, Bapak pelayan di sini? tanya Juminten dengan senyum ramah.


"Iya Nyonya, mari. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda."


Juminten mengangguk kecil, ia mengikuti langkah pria berseragam itu ke ruang makan. Dengan sopan, si pelayan melayani sang Tamu.


Juminten terus celingukan mencari suaminya, yang tiba-tiba hilang. Menyadari hal itu si pelayan tersenyum.


"Tuan keluar tadi pagi Nyonya."


"Keluar?" tanya Juminten dengan alis yang bertaut. Pria itu mengangguk.


"O, Wong Semprul, dolen dewe bojone di tinggal. Ancene bojo asem," [ O, orang Semprul, pergi main sendiri istrinya ditinggal. Dasar suami asem," ] gerutu Juminten dalam hati.


Bosan, denting jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Juminten duduk terpekur didepan televisi yang sedang menayangkan yang sama sekali tidak menarik minat sang gadis, ia mengambil nafas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.


Masa iya jauh-jauh ke bali, cuma duduk liat tv dalam villa. Juminten melirik ponsel lawas yang tergeletak di meja, tak ada satupun pesan masuk. Padahal Juminten berharap Dylan memberi kabar padanya.


"Pak, eh tadi nama bapak e sapa ya. Lali aku," [ lupa aku,"] Juminten bangkit dari duduknya, hendak mencari pelayan yang tadi melayaninya.


"Anda memanggil saya Nyonya?!"


"Astaghfirullah, bikin kaget aja Pak." Juminten memegangi dada, jantungnya terasa mau copot saking terkejutnya.


"Hehehe, saya kebetulan ada di sana. Nggak sengaja denger Anda nyebut Pak, jadi saya ke sini," ujar pria itu menjelaskan.


"Iya, tadi saya mau manggil sampeyan*, tapi lupa belum kenalan, hehehehe." Kini Juminten menyengir memarkan giginya.


"Saya Abib, Nyonya," jawabnya dengan senyum ramah.

__ADS_1


"O Pak Abib, Pak bisa tolong anterin saya jalan-jalan nggak? Bosen di sini terus."


"Bisa Nyonya, Nyonya mau kemana?"


"Nggak tau pak, wong saya belum pernah ke bali. Sekitar sini yang bagus apa? pokoknya pingin aja jalan-jalan Pak."


Pria itu tampak menunduk, berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke pantai Nyonya?"


"Boleh Pak, Boleh," jawab Juminten dengan semangat.


"Silahkan Nyonya siap-siap, saya akan siapkan mobil." Pria itu melangkah keluar.


Mobil berwarna putih keluar Korea itu melesat, membawa Juminten menunjuk salah satu pantai. Tak perlu waktu lama untuk mereka sampai di pantai, Pak Abib memarkirkan.


"Apa perlu saya temani Nyonya," tawar pria itu.


"Terima kasih Pak, tapi saya pingin sendiri," tolak Juminten halus.


"Baik, saya akan menunggu Nyonya di sini." Juminten mengangguk, ia turun dari mobil.


Bibir mungilnya tersenyum lebar, mata lentik Juminten berbinar melihat biru laut yang menyapanya. Pantai itu tidak begitu ramai, tempat yang tepat untuk healing.


Juminten melepaskan sandal jepit yang ia pakai, kaki polosnya menyentuh buliran pasir putih. Juminten berjingkrak kegirangan, wanita itu berlari ke bibir pantai sungguh tak sabar untuk merasakan segarnya air asin itu.


Seperti anak kecil, wanita berambut panjang itu berkejar-kejaran dengan ombak. Bahkan sebagian bawah dress yang ia pakai sudah basah. Tanpa Juminten sadari, sepasang mata dibalik kaca mata hitam terus memperhatikannya. Sebuah senyum tersungging, sang pemilik mata elang pun memutuskan untuk menghampiri Juminten.


Brugh.


"Maaf, saya tidak sengaja." Juminten menunduk, mundur dua langkah setelah ia tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Tidak apa-apa, lagi pula saya memang sengaja."


Juminten mengerutkan keningnya, ia mengangkat wajahnya menatap orang yang baru saja ia tabrak. Mata Juminten membulat sempurna tak kala pria itu melepaskan kaca mata hitam yang ia pakai.


"Kamu!"

__ADS_1


__ADS_2