Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 13


__ADS_3

Keduanya menikmati pagi yang begitu panas. Sama seperti hal di kamar Erick, mereka baru saja menyelesaikan ronde ke tiga mereka, Erick duduk di atas ranjang dengan istri kecil yang bersandar manja di lengan kekarnya.


"Kalau aku hamil apa Daddy juga bakalan manjain aku?"


Erick mengerutkan keningnya, ia sedikit membuat jarak dekat sang istri agar bisa menatap wajah lelah itu dengan lekat. Lee membalas tatapan suaminya dengan senyuman.


"Apa kamu hamil, Sayang?" Tanya Erick penuh harap.


Lee menggeleng, ia juga tidak tahu apa dia hamil atau tidak. Karena siklus menstruasinya memang tidak tepat tiap bulan. Erick menghela nafas panjang, ada setitik raut wajah kecewa, dan itu tertangkap oleh mata Lee.


Wanita cantik itu turun dari ranjang, ia menyibakkan selimut. Beranjak turun, berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. Erick tak mencegahnya, sudah kebiasaan Lee membersihkan diri setelah mereka berhubungan intim.


Dalam kamar mandi, Lee menenggelamkan diri dalam bathtub berisi air hangat dan aroma vanilla yang manis.


Raut wajah kecewa yang Erick berikan seperti sentilan bagi dirinya. Mereka belum lama menikah, tetapi seharusnya dia sudah hamil kan. Ia ingat ada seorang guru di sekolah tempat ia mengajar sekarang, dia sudah hamil setelah dua bulan pernikahan mereka.


'Apa Daddy kecewa padaku? Bagaimana kalau dia mencari wanita lain, kalau aku tak kunjung hamil? Apa aku tidak subur? Bagaimana kalau aku selamanya tidak punya anak dan Daddy meninggalkan ku?'


Lee terus memberondong dirinya sendiri dengan pertanyaan, rasa cemas dan takut tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Tok


Tok


"Lee, apa kau sudah selesai?"


Erick mengetuk pintu kamar mandi, seketika Lee tersadar dari lamunannya. Tak menjawab, wanita yang tengah gundah gulana itu bangkit dari bathtub, membilas diri di shower dengan air dingin.


"Lee!"


Ceklek


Lee berdiri di depan sang suami, tanpa menyapa ia berjalan begitu saja melewati sang suami. Erick sebenarnya merasa heran dengan sikap Lee, meskipun dia bukan type wanita yang banyak bicara. Namun, Lee tidak pernah bersikap dingin seperti itu. Ingin bertanya, tetapi ada sesuatu yang mendesak keluar. Erick memutuskan untuk menuntaskan panggilan alam terlebih dahulu.

__ADS_1


"Gimana Ai, suka sama makanannya?" Tanya Dylan sambil mengusap ujung bibir istrinya.


"Suka, enak banget," jawab Juminten dengan mulut penuh.


Dylan memesan ayam panggang, dan beberapa makanan lain untuk sang istri dan dirinya. Tentu saja ia ingat dengan yang yang punya rumah.


Lagi-lagi Lee disuguhi pemandangan yang sangat manis oleh kedua orang i, iya yakin pernikahan mereka di dasari oleh cinta. Sebelum menikah pasti Juminten dan Dylan kekasih yang sangat saling mencinta.


Lee mengambil nafas dalam, ia kemudian duduk di sofa yang agak jauh dari sepasang kekasih itu. Ia mengambil sebuah sandwich chicken katsu, Lee makan dengan enggan. Hanya sekedar untuk mengisi perut agar tidak kosong, dia bukan type wanita yang akan kehilangan nafsu makan dengan mudah. Lee masih ingat untuk mengisi perut, seberapa sedih atau stressnya dia.


Juminten melirik sekilas Lee yang sedang melamun sambil mengunyah roti, ia yang menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan iparnya itu. Juminten menggeser duduknya mendekat pada Lee.


"Minumlah," ujar Juminten sambil menyodorkan sebotol susu.


"Terima kasih." Lee mengambil botol itu kemudian meminumnya, masih dengan mode malas.


"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiran mu? Kau bisa menceritakannya jika kau mau, kau tau aku juga tidak punya saudara. Sebenarnya aku punya satu keponakan, tapi sudah lama aku tidak bertemu dia sibuk dengan pondok pesantren. Kita walaupun ipar, aku berharap bisa dekat dengan mu, tidak seperti ipar-ipar di televisi, hehehehe ..." Ujar Juminten sambil terkekeh.


Sebelum Lee dan Erick datang, Juminten memang tidak pernah punya saudara ipar. Dylan anak tunggal begitu pula dengan Juminten, itu dulu. Sekarang mereka tahu kalau suaminya punya saudara, dalam hati Juminten merasa senang karena punya saudara untuk bercerita.


"Kanda, bisa minta tolong beliin Boba nggak? Sama teh buah yang Kanda ceritain kemarin, rasanya pengen banget minum itu," pinta Juminten pada sang suami.


Dylan yang sedang menikmati ayam panggang, seketika menghentikan aktivitasnya. Ia tak menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan,Nia segera beranjak dari sofa untuk mencuci tangan dan mulutnya di wastafel yang ada di dapur.


"Tambah daya dulu dong Ai," ujar Dylan sambil menyodorkan pipinya di hadapan sang istri.


Juminten pun mencium pipi sang suami dengan sayang. Begitu manis, hal itu membuat Lee semakin iri.


"Ajak saudara mu sekalian ya, Kanda," bisik Juminten.


Dylan mengangguk, ia berganti mencium pipi dan kening Juminten.


"Hati-hati di rumah ya." Juminten mengangguk.

__ADS_1


Dylan melangkah menjauh, ia pergi ke lantai atas untuk mengajak Erick pergi. Tak berapa lama saudara kembar itu turun, saat hendak turun tangan ke lantai satu, Dylan masih sempat tersenyum sambil melambaikan tangan pada sang istri.


Berbeda dengan Dylan yang mendapatkan senyum manis dari istrinya. Lee sama sekali tak menoleh, ia terkesan menghindar dari Erick. Setelah kepergian dua suami ganteng itu, dua wanita beda usia itu mulai bercerita.


"Sekarang udah tinggal kita berdua aja nih, mau cerita nggak?" Juminten menggeliatkan tubuhnya,


Lee mendesah panjang sebelum ia mulai bicara.


"Aku tuh sebenernya iri sama kamu Kak," ujarnya memulai cerita.


"Eits panggil nama aja, kamu lebih tua karena kamu istri kakak suami aku, Ok. Kalau kamu panggil Kak, nanti anak-anak kita bingung," sela Juminten.


Mendengar kata anak membuat Lee bertambah murung.


"Gimana caranya biar bisa hamil?"


Pertanyaan yang membuat Juminten tertawa, Lee mendengus kesal karena di tertawakan oleh iparnya itu.


"Tuh kan malah di ketawain," rengek Lee dengan wajah yang bertambah masam.


"Hahaha ... Maaf, maaf. Lha kamu aneh, kok tanya caranya hamil. Bukannya kamu udah buka segel ya sama Erick, kwkkwkw," Juminten terpingkal, meskipun ia sudah berusaha menghentikan tawanya.


"Udah sih, lha tapi lho. Belum ada hasil gini, mana tadi dia sepertinya kecewa gitu waktu tanya aku hamil apa belum. Kalau aku nggak bisa hamil gimana? Kalau Daddy ninggalin aku gimana?" Kali ini Lee terlihat sangat serius, Juminten pun menghentikan tawanya.


"Tiap wanita berbeda Lee, nggak semua orang bisa langsung hamil setelah menikah, ada yang langsung ada yang nunggu. Berdoa saja semoga Tuhan lekas memberikan malaikat kecil untuk kalian," ujar Juminten mencoba menenangkan Lee.


"Oia tadi kamu bilang iri sama aku, iri gimana maksudnya?" Juminten mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, agar Lee tidak begitu sedih.


Lagi-lagi Lee menghela nafasnya.


"Daddy tuh nggak kayak suami kamu ya, dia nggak romantis. Aku kadang pengen gitu di perhatiin, di sayang-sayang, di manja. Bukan panas di ranjang doang," ujar Lee meluapkan keluh kesahnya.


"Kalian pasti sejak pacaran udah romantis kayak gitu ya, makanya sampai sekarang kayak pacaran terus padahal anak udah tiga mana udah gede-gede lagi. Tapi aku, yang udah kenal tahunan dan masih pengantin baru aja nggak pernah di romantisin kayak kamu," imbuh Lee lagi.

__ADS_1


Juminten hanya tersenyum tipis mendengar keluhan Lee, dia tidak tahu saja perjuangan Juminten untuk menggapai cinta sang suami. Ah .. iya Juminten memang belum pernah menceritakan kisah cintanya pada Lee.


.


__ADS_2