
"Ayo cepetan, lemot banget sih kamu!" bentak Dylan, entah untuk yang ke berapa kali.
Juminten tak menyahut kali ini, gadis mungil itu menyeret koperasi sendiri dengan susah payahnya. Langkah Dylan yang lebar membuat Juminten kewalahan untuk mengikuti, hingga Dylan berkali-kali membentaknya.
Kedua sejoli itu baru saja sampai di bandara internasional Ngurah Rai Bali, setelah pesta pernikahan mereka. Dylan mengajak Juminten bulan madu, tentu saja atas keinginan Mayleen.
"Jalan tuh yang cepet, sat set, jangan kayak siput. Entar kalau kamu hilang di sini, aku juga kan yang repot," Dylan terus saja menggerutu, pria itu melampiaskan kekesalannya.
Usulannya untuk honeymoon ke Bandung, ditolak mentah-mentah oleh sang Mama. Padahal Jessica sedang ada pekerjaan di sana, Dylan ingin sekalian memadu kasih dengan pacarnya itu.
Mulut mungil wanita itu bergerak menye-menye, menirukan Dylan yang menggerutu.
Dylan berjalan cepat, menghampiri seorang pria berpakaian hitam dengan udeng terikat di kepalanya. Pria itu membawa kertas besar yang bertuliskan Juminten Li.
"Siapa yang mau kau jemput?" tanya Dylan pada pria itu.
"Tamu dari Jakarta, Beliau mau honeymoon di villa kami," ucap pria itu dengan ramah.
Dylan menghela nafas, pasti sang Mama lah yang reservasi dengan nama istri kontraknya itu.
"Aku suami dari Juminten Li ini, bawakan koperku. Dan orang yang kau maksud, dia ada di sana." Dylan menunjuk pada seorang wanita menggunakan dress dengan motif bunga-bunga, yang melangkah mendekat.
Pria dengan seragam hitam itu segera menghampiri Juminten, melewati Dylan begitu saja. Dengan sopan ia menyapa dan membawakan koper yang berukuran cukup besar itu.
"Hey kau. Kenapa tidak membawakan milikku?!" bentaknya pada pegawai vila.
"Maaf Tuan, sesuai dengan perintah. Saya harus memprioritaskan Nyonya Juminten ini," ucapnya dengan senyum lebar.
Laki-laki itu melenggang melewati Dylan. Juminten mengibaskan rambutnya yang sudah lepek, kemudian melambaikan tangan bak seorang miss univers saat melewati sang suami.
"Agh ... Mama keterlaluan!"
Dengan dongkol ia menyeret koper miliknya, laki-laki sipit itu pun berjalan mengikuti langkah Juminten.
Singkat cerita, setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di salah satu vila yang terkenal di bagian selatan Bali.
"Selamat istirahat Nyonya, Tuan." Pelayan itu membungkuk, kemudian pergi meninggalkan mereka.
Tak jauh berbeda dengan kamar hotel yang mereka tempati saat resepsi pernikahan, kamar ini juga dihias dengan bunga-bunga mawar merah. Sangat romantis, sangat berbanding terbalik dengan pasangan yang akan menepatinya.
__ADS_1
"Mandi dulu sana." titah Dylan pada sang istri. Pria itu berjalan cepat ke arah ranjang, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk yang penuh dengan kelopak bunga.
"Ogah, capek." Juminten pun turut merebahkan diri di samping Dylan.
Juminten terlentang, sementara Dylan tengkurap. Keduanya sudah begitu penat setelah perjalanan panjang, apalagi Mayleen tidak memperoleh Dylan mengunakan pesawat pribadi mereka. Ia juga tidak memperoleh Raka untuk ikut, Mayleen ingin agar Dylan memanjakan istrinya tanpa campur tangan orang lain.
"Apaan sih, kamu tidur di sofa sana!" Dylan menendang kaki Juminten, Dylan menoleh dan menatap tidak suka pada sang istri.
"Emoh!" tegas Juminten dengan mata terpejam. Dia lelah, dan untuk saat ini tidak ingin mengalah.
Alis Dylan menyatu dengan kening berkerut. Telinganya mendengar tapi tidak mengerti apa yang Juminten ucapkan.
"Ngomong apa Kamu?!"
"Ngomong apa, nggak ngomong apa-apa tuh," jawab Juminten santai. Matanya enggan terbuka, wanita itu menikmati pertemuan kasur super empuk dengan punggungnya.
"Ck, turun kamu, sekarang giliran aku di kasur," tukas Dylan lagi. Kali ini dia sedikit mendorong tubuh Juminten dengan satu tangannya.
Juminten bergeming, dia tidak ingin tidur di sofa. Memang begitu aturan yang mereka buat, keduanya tidak ingin tidur seranjang. Dan terlalu lelah jika harus terus tidur di sofa. Agar adil mereka pun memutuskan untuk berganti tidur di ranjang.
Namun, hari ini Juminten terlalu lelah. Tulang punggungnya sudah bengkok karena capek, masak dia masih harus meringkuk di sofa.
"Aku nggak mau, emoh, no! Aku mau di sini pokoknya!" kekeh wanita manis yang sekarang berwajah masam itu.
"Apa sih, Jangan pelit sama istri ntar kualat lho!"
"Apa kualat ... kualat, nggak ada yang namanya itu!"
"Nggak ada karena kamu nggak ngerti kan kualat itu apa?" Juminten bangkit, ia duduk bersila menghadap tubuh suaminya.
"Kualat itu kena tulah, kena karma, kena bencana. Dodol!" seru Juminten, ia meraup kelopak mawar lalu menguyel-uyelkan pada wajah Dylan.
"San Pa*!" umpat Dylan murka.
Juminten tertawa cekikikan, ia melompat turun dari kasur. Mengambil ancang-ancang seribu langkah. Dylan juga bangkit, menatap Juminten dengan garang.
"Apa?" Juminten tertawa, dia senang bisa mengerjai suami sipitnya itu.
"Diam di sana!"
__ADS_1
"Ogah!"
Dylan melangkah mendekati Juminten, dengan cepat Juminten menghindari. Kini keduanya terlibat kejar-kejaran, mengelilingi kamar. Juminten yak berhenti tertawa, dia merasa lucu karena Dylan tak kunjung bisa menangkapnya. Apalagi mata sipit Dylan yang melotot, tapi hanya terlihat sedikit melebar saja. Hal itu malah terlihat imut di mata Juminten.
"Ha ... kena kau!" Dylan berhasil menangkap tangan Juminten, dengan kasar ia menariknya hingga wanita itu berbenturan dengan dada bidang sang pria sipit.
"Aduh." Tidak sakit, Juminten hanya refleks saja mengucapkan itu.
"Mau kemana kau sekarang." Dylan mendekap tubuh mungil itu dengan kedua tangannya, agar Juminten tak bisa lagi lari menertawakannya.
Juminten berusaha menarik diri dari, berusaha lepas dari tangan kekar yang membelinya erat, dan semakin erat karena Juminten berusaha melawan. Tanpa sengaja, kedua mata bening itu bertemu.
Untuk seperkian detik kedua terdiam, terpesona oleh keindahan mata masing-masing. Sampai, tangan lentik Juminten menyusup dilipat bawah lengan, dengan sedikit gerakan ia berhasil membuat Dylan menggeliat geli.
Belitan tangan Dylan mengendur, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Juminten segera mendorong tubuh sang suami dengan sekuat tenaga, hingga pelukannya terlepas.
Namun, itu hanya sebentar.
"Huaaaaa....!! turunin!" pekik Juminten.
Dylan menyeringai, ia mengangkat tubuh Juminten lalu membawanya di pundak seperti karung beras.
Brugh.
Dylan menghempaskan tubuh mungil itu di atas kasur, hingga kelopak mawar yang ada berhamburan.
"Berani sama suami, kamu harus di hukum!"
Glek
Juminten menelan salivanya, gadis manis itu beringsut mundur, saat sang suami mulai ikut naik ke atas kasur.
"Hukuman Apa?" tanya Juminten takut-takut.
Dylan semakin mendekat, tanpa berniat menjawab kini ia berada di atas tubuh Juminten.
"Rasakan ini." Jemari kokoh Dylan bergerak lincah di pinggang ramping Juminten.
"Geli ... Hahaha ... tolong, geli ....!"
__ADS_1
Wanita itu berteriak, tertawa sejadi-jadinya. Juminten memang paling tidak bisa menahan gelitikan seperti ini.
l