Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Terpesona


__ADS_3

Senyum Juminten mengembang melihat kedekatan Mama dan ibunya, meskipun bagi Juminten ikatan diantara kedua wanita itu masih misteri.


"Maaf ya tadi mama nggak bareng sama Dylan, dia masih siap-siap. Soalnya mama udah nggak sabar liat kamu Jum." Mayleen mendaratkan bikin di ranjang usang, disampai Juminten.


"Iya Ma, tidak apa-apa. Lagi pula acaranya baru di mulai jam delapan kan, masih ada waktu," ucap Juminten dengan senyum manisnya.


Ditatapnya lamat-lamat wajah Juminten, Mayleen tidak salah. Dia begitu mirip dengan seseorang, yang ia kenal. Bahkan bentuk hidung Juminten yang sedikit bengkok di bagian tengahnya. Sungguh sangat sama, seperti fotocopy saja. Tanpa sadar bulir bening lolos dari sudut mata wanita paruh baya itu.


"Mama kenapa menangis?" Mayleen menggeleng, ia mengusap air asin itu dengan punggung tangannya.


"Mama hanya terlalu bahagia, Sayang," kilahnya, ia kemudian menatap Mirna yang juga sedang menatapnya.


Wanita yang duduk di kursi roda itu, mengangguk. Matanya berembun, seakan merasakan hal yang sama dengan Mayleen.


"Aduh, jangan nangis-nangis begitu Nyonya, Mirna. Nanti kalau Juminten ikutan nangis, make-upnya luntur gimana?" goda Ana.


"Ah .. iya kamu benar. Kita keluar yuk, udah banyak tamu di luar. Aku juga pingin ngincip kue warna-warni tadi kelihatannya enak," sahut Mayleen mengalihkan pembicaraan mereka.


"Warna-warni? yang mana Nyonya?" Ana memutar matanya berusaha untuk berpikir kue yang di maksud Mayleen.


Ana menyiapkan beberapa jenis kue jajan pasar untuk suguhan para tamu, dan memang beberapa di antaranya berwarna-warni. Jadi, Ana tidak yakin kue mana yang dimaksud Mayleen.


"Itu, yang potong kotak-kotak kecil trus pake parutan kelapa."


"Oh, cenil."


"Iya itu mungkin."


"Mari Nyonya, saya siapkan untuk Nyonya. Saya juga tadi beli kue lapis, klepon, dan masih banyak lagi. Nyonya bisa coba." Ana memutar kursi roda Mirna, mengarahkannya ke pintu.


"Ayo Jum," ajak Mayleen, sambil menggandeng tangan calon menantunya itu.


Juminten mengangguk, ia mengikuti langkah Mayleen. Di ruang tengah, Ana menyiapkan beberapa jenis kue yang disajikan di piring-piring kecil. Mata Mayleen berbinar, ia segera mencomot satu kue kenyal itu.


"Enak An," puji Mayleen.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau Nyonya suka, kue ini saya bikin sendiri."


"Beneran? kapan-kapan ajari saya ya," ujar Mayleen dengan mata berbinar.


"Jangan saya Nyonya, Juminten saja. Dia juga pinter bikin kue," sahut Ana sambil menunjukkan ke arah Juminten.


Mayleen pun menoleh pada Juminten yang berdiri di sampingnya.


"Kamu bisa bikin kue Jum?"tanya Mayleen dengan raut wajah yang teramat penasaran.


Juminten mengangguk. "Hanya bisa bikin beberapa saja Ma."


"Bohong, Nya. Dia lebih pinter dari saya," potong Ana cepat.


"Opo seh Budhe," ujar Juminten sambil tersipu.


[ "Apa sih, Budhe," ujar Juminten sambil tersipu. ]


"Wah aku memang nggak salah pilih menantu, udah cantik pinter masak, perhatian. Komplit, tinggal habis ini segera bikinin saya cucu," ucap Mayleen dengan nada menggoda, Juminten semakin menundukkan kepalanya mendengar suara Mayleen yang begitu ambigu. Melihat Juminten yang malu-malu Ana dan Mayleen sontak tertawa.


Mayleen segera melangkah, menyibakkan tirai berwarna merah, yang menyekat ruang tamu dan ruang tengah.


"Saya setuju dengan usulan Bapak!" seru Mayleen, yang sukses membuat semua orang menoleh kearahnya. Para tamu diam dan memperhatikan Mayleen yang berdiri.


"Usulan Bapak yang mana Nyonya?" tanya Wawan.


"Ck, itu Bapak yang nyaranin buat nikah langsung. Bapak mana tadi yang ngusulin?"


"Saya Bu." Seorang laki-laki berusia enam puluh tahun duduk disebelah wawan. Beliau memakai baju batik warna coklat, dan peci hitam tersenyum pada Mayleen.


Mayleen berjalan mendekat dan duduk disamping Bapak itu, tidak terlalu dekat. Mayleen masih menyisakan jarak aman diantara mereka.


"Coba tadi Bapak ulangi lagi apa yang Bapak bicara tadi, soalnya saya hanya mendengar sebagian saja dari dalam."


"Begini, Bu. Kalau menurut saya, lebih baik Juminten dan anak Anda langsung menikah saja, toh niat baik untuk apa ditunda-tunda kalau sudah sama-sama suka, takutnya nanti khilaf kebawa nafsu. Apalagi Pak penghulu juga kebetulan hadir sebagai tamu, tapi itu hanya pemikiran saya saja," jelas laki-laki yang menjabat sebagai ketua RT itu.

__ADS_1


Mayleen manggut-manggut mendengar penjelasan Pak RT, dalam hatinya ia juga sangat setuju. Kenapa di tunda kalau hari ini juga bisa.


"Saya setuju Pak. Wan, kamu tolong bicarakan dengan Bapak penghulu, kalau saya mau hari ini Dylan sama Juminten langsung nikah dibawah tangan," titahnya pada Wawan.


"Tapi apa Putra Nyonya mau?" tanya Wawan ragu-ragu, pasalnya ia tahu Dylan dan Juminten di jodohkan oleh Mayleen. Bukan atas dasar suka sama suka.


"Kamu itu ngomong apa sih, dia jelas maulah. Pokoknya kamu atur, nanti Dylan sama Juminten saya yang atur."


"Baik, Nyonya." Wawan pun berdiri, ia menghampiri seorang laki-laki yang duduk di sudut, memakai baju koko. Terlihat sangat bersahaja.


Wawan tampak berbicara dengan serius pada Bapak itu. Mayleen tersenyum lebar, sepertinya memang harus seperti ini.


Suara deru mobil, membuat senyum Mayleen semakin lebar. Ia segera bangkit, dan berpamitan pada pak Rt untuk menyambut putranya.


Dylan turun dari mobil, laki-laki bermata sipit itu terlihat tampan, dengan setelan jas berwarna biru senada dengan kebaya yang dipakai Juminten.


Parman yang sedari tadi berdiri di teras, menunggu kedatangan Dylan segera menghampirinya.


"Silahkan Tuan Muda," ucap Parman sopan mempersilahkan.


Raka mengekor di belakang Dylan, pria itu membawa satu set perhiasan yang diambil Dylan dan Juminten tempo hari. Beberapa orang juga turun dari mobil lain, dengan membawa berbagai hantaran yang yang Mayleen siapkan.


"Ma." Dylan mencium takzim punggung tangan sang Mama.


"Akhirnya kami datang Sayang, ayo cepetan masuk. Mama udah nggak sabar nih." Mayleen menggandeng tangan Dylan dan menariknya masuk.


Dylan menghela nafasnya, malas tak ada raut bahagia di wajah pemuda itu. Air mukanya terlihat datar saja.


"Kamu duduk disini sebentar, Mama mau panggil Juminten dulu." Mayleen menekan bahu Dylan mendudukkan laki-laki itu di meja kecil yang ada ditengah-tengah ruangan.


Dylan hanya bisa menurut dan menatap punggung mamanya yang berlalu masuk dengan bingung. Dia kemudian tersenyum kaku pada seorang laki-laki paruh baya yang duduk diseberang meja, apa lamaran memang seperti ini? pertanyaan itu bergelayut di otak Dylan. Beberapa orang tampak membahas sesuatu sambil melihat ke arah Dylan, pemuda itu berusaha acuh karena tidak mengerti dengan bahasa yang mereka pakai.


Tak lama Mayleen keluar dengan mengandeng merangkul pundak Juminten. Mata Dylan yang tak sengaja melihat kearah Mayleen, kini justru terpaku pada sosok Juminten.


Benarkah itu gadis kampung yang di jodohkan dengannya? Mata Dylan terus mengekor kemana Juminten mengerakkan tubuhnya. Bahkan mata Dylan seolah enggan untuk sekedar berkedip.

__ADS_1


__ADS_2