
Max membuka pintu untuk sang permaisuri hati sesampainya mereka di rumah, Arumi tersenyum. Tangannya terulur menerima tangan Max yang sedang menantinya.
"Kak aku kamar dulu ya, capek mau istirahat."
"Nggak makan dulu Sayang? Ntar kamu sakit lho." Max mengusap lembut rambut Arumi yang sedang bersandar di lengannya sambil berjalan.
"Nggak deh Kak, Arumi capek banget," ujarnya dengan lesu.
Tenaga Arumi di kuras habis saat pelajaran olahraga di sekolah tadi, apalagi dia sedang kedatangan tamu bulanan. Hal itu membuat Arumi semakin cepat lelah.
"Ya udah, tapi nanti makan ya. Aku nggak mau kamu sakit." Arumi mengangguk patuh.
Keduanya berjalan bersisian, Max mengantarkan Arumi sampai di depan kamar. Ia tersenyum, mengecup kening Arum sebelum kekasihnya masuk ke kamar.
Senja mulai menyapa, langit mulai merubah warnanya. Max mengajak Arumi ke Mall untuk sekedar jalan-jalan seperti pasangan muda pada umumnya.
"Nanti malam Kakak mau makan apa?" Tanya Arumi sambil memilih beberapa bahan makanan.
"Kenapa? Kamu mau masak buat aku?" Tanya Max dengan alis yang bertaut.
"Emh ... Kalau Kakak mau sih, Arumi baru belajar masak. Jadi nggak janji kalau masakannya nanti enak," ujarnya sambil menyengir kuda.
"Mau dong, masak di masakin calon istri nggak mau."
"Tapi nggak boleh protes lho kalau nggak enak."
"Nggak lah, paling juga sakit doang nanti perutnya," goda Max.
"Kakak ish, ya udah deh Arumi nggak jadi masak."
Gadis berkaos merah itu berdecak kesal, ia meletakkan lagi brokoli yang baru saja dia ambil. Max tertawa melihat wajah cemberut Arumi yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Maaf, aku bercanda kok Sayang. Jangan marah." Max mengacak-acak rambut Arumi dengan gemasnya, Arumi pun ikut tersenyum tertular tawa bahagia Max.
"Kita kayak pasangan baru nikah ya Kak," celetuk Arumi yang di angguki Max.
"Aku harap Sayang, aku ingin sekali memelukmu di depan umum, dan memberitahu pada dunia kalau kau milikku," ujar Max dengan memangku tangan di atas troli belanja, menatap wajah Arumi yang malu-malu dengan penuh cinta.
"aku akan bilang sama Papi setelah mereka pulang honeymoon, dan kau harus bersiap untuk itu."
"Bersiap untuk apa Kak?" Tanya Arumi dengan alis hampir menyatu.
__ADS_1
"Bersiap untuk menjadi ratu dalam hidupku."
Max menegakkan tubuhnya, sedikit membungkuk dengan tangan terulur untuk mengambil brokoli yang tadi diambil Arumi. Arumi mengangguk dengan wajah memerah, jantungnya berdetak cepat. Rasanya seperti ada yang meleleh dalam hati gadis itu, dengan langkah kecil Arumi berjalan lebih dulu.
Arumi membeli beberapa bahan makanan untuk di masak. Max sempat mengajaknya untuk membeli baju dan aksesoris wanita, tetapi kekasihnya itu menolak. Arumi merasa barang-barang yang Max berikan masih banyak dan bagus, bahkan beberapa belum sempat Arumi pakai.
Max tetep memaksa hingga akhirnya Arumi setuju dan membeli beberapa pakaian couple untuk mereka, Max pun tidak keberatan meskipun ada Arumi membeli kaos berwarna merah jambu untuk mereka. Yang terpenting bagi Max adalah senyum Arumi, wanitanya itu tidak boleh bersedih.
"Kak mau es krim boleh?" Tanya Arumi dengan mata berbinar penuh harap.
"Boleh dong, apa sih yang enggak untuk kamu. Kamu duduk sini aja, biar aku yang beli, Ok."
"Ok."
Max pun pergi ke salah satu food court yang menjual es krim, semetara itu Arumi duduk di bangku yang tersedia di sana. Mata lentik Arumi menatap lekat pada sang pujaan hati, dalam mimpi pun Arumi tidak berani membayangkan hidupnya akan sebahagia ini. Bertemu dengan seorang yang amat mencintanya.
Tak lama Max datang dengan membawa satu es krim dengan tiga rasa, vanilla, coklat dan macha tiga kombinasi rasa favorit Arumi.
"Kok cuma satu?" Tanya Arumi sambil menerima satu cup es krim yang Max berikan.
"Biar di suapi kamu." Max mencolek ujung hidung Arumi dengan telunjuknya.
Arumi tersentak, ia sedikit menggeser posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Max.
"Kamu dulu kan kamu yang mau."
Arumi menggeleng." Kakak dulu, Kan Kakak kesayangan Arumi."
Max membuka mulutnya, membiarkan sesendok es krim rasa vanilla masuk. Rona bahagia jelas terpancar dari wajah pria sipit itu, ini adalah pertama kalinya Arumi memanggil Max sayang atau setidaknya seperti itu lah.
"Coba kalau kita udah nikah, aku makan kamu sekarang."
"Ih ... Takut," ujar Arumi sambil menarik dirinya sedikit menjauh, dengan raut wajah yang mengejek.
"Awas kamu ya!"
Jari-jari Max bergerak di sekitar pinggang Arumi. Membuat wanita cantik itu menggeliat geli, tawanya menggema menarik perhatian orang di sekeliling mereka, termasuk seorang wanita paruh baya yang memakai seragam petugas kebersihan. Tanganmu mengepal kuat mencengkram gagang pel yang ia pegang.
"Tertawa lah, aku akan segera membuatnya menangis. Dasar anak tidak tahu di untung!" Gumamnya penuh penekanan.
Ia sungguh tidak suka melihat Arumi hidup dengan layak, berpakaian bagus, dan tidak kekurangan satu apapun. Sangat berbeda jauh dengan dirinya, yang harus berkerja keras, mengambil dua shift agar bisa makan lebih enak.
__ADS_1
"Hey diem aja! Kerja!" Tegur seorang wanita bertubuh tambun yang merupakan seniornya.
Wanita yang memperhatikan Arumi itu terjingkat kaget.
"Iya Mbak."
"Kerja yang bener, jangan ngelamun!" Hardik itu sembari melangkah meninggalkan Nurma.
"Iya Mbak," jawab Nurma dengan takut-takut.
Sejak beberapa bulan terakhir kehidupan Nurma turun drastis, uang dari hasil menjual rumah mantan mertuanya ludes begitu saja. Sekarang Nurma harus berkerja sebagai OB di Mall itu, sementara Wito masih sama, pria itu malas jika harus mengeluarkan tenaga untuk bekerja.
"Liat saja kamu Arumi, jangan pikir aku bisa hidup enak tanpa membayar hutang budi," gumam Nurma geram.
Dia tak melepaskan pandangannya, pada sepasang kekasih yang terlihat begitu bahagia.
.
.
.
.
Di sebuah apartemen yang cukup mewah, Michi sedang berusaha untuk memasak sesuatu di dapur apartemen milik Brian. Dosen tampan bermata sipit itu memaksakan Michi untuk memasak makan malam.
"Duh bener nggak ya bumbunya tadi?" Tanya Michi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gadis berambut biru itu mencoba mengingat apa saja yang sudah ia masukkan dalam sup iga sapi yang ia masak. Resep itu bahkan khusus ia minta dari sang Mami untuk menyenangkan hati Brian. Dengan harapan dosen itu mau untuk memaafkan dan melepaskan dia dari hukum ini.
"Hem, sepertinya udah semua. Sekarang tinggal nunggu mendidih, dan siap." Michi berkacak pinggang dengan senyum lebar ia menatap panci yang mulai mengepulkan asap.
Brian berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang terlipat di dada. Mata sipit Brian menatap lurus pada Michi yang tengah memasak, sangat cantik.
"Apa kau sudah selesai? Aku sangat lapar. Atau kau memang sengaja membuatku mati kelaparan?!"
Michi memutar matanya jengah, ia menoleh dengan wajah jutek khas dirinya.
"Dengar ya Bapak Brian, apa kau pikir masak itulah seperti Bim salabim yang langsung cring dan matang, buruh proses!" Jawab Michi dengan menggebu-gebu sambil mengacungkan centong sayur pada Brian.
"Kau yang berkata seperti itu dulu," sahut Brian santai.
__ADS_1
Dengan langkah pincang Brin memutar tubuh, berjalan keruang tengah, meninggalkan Michi yang mematung.
"Dulu kapan?" Gumam Michi yang merasa aneh dengan ucapan Brian.