
Kehamilan Juminten sudah memasuki minggu ke tiga puluh lima, kakinya mungilnya sudah mulai membengkak. Perut Juminten juga terlihat besar. Namun, itu semua tidak membatasi Juminten untuk tetap aktif seperti biasa.
Sejak hamil Juminten memanggil tidak mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umur. Malah Dylan yang mengalami mual saat selama satu bulan penuh.
Mobil merah mewah melaju dengan pelan. Juminten tampak cantik dengan balutan dress warna merah, dengan hiasan permata, tentu saja Juminten tidak tahu kalau yang menempel di bajunya adalah permata asli. Jika dia tahu, mungkin Dylan sekarang sudah diceramahi habis-habisan olehnya.
"Masih jauh ya?" tanya Juminten pada supirnya.
"Sebentar lagi Nyonya," jawab Raka, hari ini pria itu menjadi supir khusus untuk Nyonya muda itu.
Mulut Juminten ber O ria. Juminten tersenyum, sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar, melemparkan tatapannya keluar jendela, menikmati keindahan Surabaya malam ini.
Mobil merah itu berhenti di depan sebuah hotel bintang lima. Dengan bantuan Raka, Juminten turun dari mobil.
"Maaf Nyonya, silahkan Anda pakai ini." Raka memberikan sebuah kain hitam panjang pada Juminten.
Juminten menerima kain itu dengan kening yang berkerut.
"Kenapa harus pake ini?"
"Tuan Muda yang memintanya Nyonya," jawab Raka dengan sopan.
Juminten mendengus kesal, tapi tetap memakainya. Seorang pria datang, ia mengapit tangan Juminten yang sudah menutup matanya dengan kain.
"Kanda?"
"Kenapa Ai bisa tahu? seharusnya kan nggak tau, biar surprise," keluh Dylan.
Juminten terkekeh, bagaimana dia tidak tahu, jika Juminten sudah hafal parfum dan sentuhan suaminya.
"Kalau nggak tau baru aneh Kanda," sahut Juminten.
"Hem ... ya sudahlah, ayo." Dylan merangkul pundak istrinya.
"Lepasin dulu ini, kan udah tau kalau ada kamu," rengek Juminten manja.
"Nggak, kita masuk dulu. Nanti aku lepas didalam."
"Nanti jatuh Kanda."
"Ada Kakanda mu yang gagah perkasa dan super ganteng ini akan menjagamu Ai, tidak usah khawatir," ucap Dylan dengan penuh percaya diri.
"Iya deh, Gatot kaca ku," ujar Juminten yang akhirnya pasrah.
Kedua sejoli itu pun berjalan bersisian, memasukkan restoran bintang lima yang sepi dengan pengunjung itu. Sepi bukan karena restoran itu tidak memiliki pelanggan, melainkan karena Dylan sudah menyewa penuh restoran itu untuk acara malam ini.
"Kanda, kok sepi banget?" tanya Juminten.
Dylan tersenyum, ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan sang istri.
__ADS_1
"Kanda, kok diem sih," rengek Juminten.
"Ai duduk di sini dulu ya." Dylan membantu sang istri untuk duduk di sebuah sofa single, Juminten manut saja dengan apa yang diperiksa Dylan.
Perlahan Dylan membuka penutup mata Juminten.
"Surprise!" teriak semua orang di ruangan itu.
Juminten ternganga, ia menutup mulutnya dengan tidak percaya. Ibu, mertua, Dimas, Heru beserta istri, Pakde fan Budhenya, bahkan teman-teman kerja dan teman dagang Juminten dulu ada di sana.
Mereka memakai baju berwarna senada yaitu biru muda. Berdiri di sekitar kue tart yang menjulang tinggi.
"Happy birthday Istriku," bisik Dylan kemudian mengecup mesra pipi Juminten.
"Kanda, terima kasih," ucap Juminten, air matanya mengalir membasahi pipi.
Dylan melangkah maju, ia berjongkok di depan sang istri. Tangan Dylan terulur, mengusap cairan bening yang tak berhenti mengalir dari mata bening Juminten.
"Jangan nangis dong Ai, nanti aku ikut nangis lho," goda Dylan.
"Ehm ... kamu sih." Juminten memukul pelan lengan Dylan. Pria sipit itu pura-pura mengaduh kesakitan.
Ini pertama kali dalam hidup Juminten, merayakan ulang tahun. Ia pun sebenarnya lupa, kalau hari ini hari kelahirannya.
Mayleen dan Mirna menghampiri putri kesayangan mereka, memeluk Juminten dari samping.
"Makasih Mama, ibu."
Satu persatu tamu yang datang memberi ucapan selamat pada ibu hamil itu. Acara ulang tahun Juminten berlangsung meriah, Dylan sengaja mengundang seorang penyanyi yang bisa menyanyikan lagu India favorit istrinya. Sebenarnya dia mau mengundang Shahrukh Khan, tapi karena dia nggak bisa bahasa India, Dylan akhirnya mengundang mas Syahrul saja.
Dylan duduk sebangku dengan sang istri, tak henti-hentinya ia mencium punggung tangan dan pipi Juminten yang chubby seperti bakpao.
"Kanda makasih ya, udah bikin acara ulang tahun aku," ucap Juminten sambil bersandar manja di bahu suaminya.
"Sama-sama Ai, sebenarnya aku pengen ajak kamu baby moon. Tapi aku nggak tega liat kamu, jalan aja susah, nanti aja kalau Babys Cumi udah lahir kita bulan madu lagi, projek bikin babys dodol," ujar Dylan dengan alis yang di naik turunkan.
"Ih ... apaan sih, ini aja belum brodol. Udah mau bikin lagi!" Juminten mencubit gemas pinggang suaminya hingga membuat Dylan mengaduh.
"Bercanda Ai, peace!"
Juminten mencebik kesal. Mata Juminten membulat sempurna, saat merasakan sesuatu yang pecah diarea V nya, cairan hangat mengalir disela paha Juminten.
Tangan Juminten mencengkeram kuat lengan Dylan. "Kanda ketubanku pecah!"
Juminten sering membaca artikel dan melihat edukasi tentang Ibu hamil dan melahirkan. Meski ia belum pernah melahirkan, tapi ia yakin yang mengalir sekarang bukanlah air seni, melainkan air ketubannya.
"Ketuban apa Ai?" tanya Dylan bingung.
"Aku mau melahirkan!" teriak Juminten.
__ADS_1
Mendengar teriakan Juminten, ruangan itu Hening seketika. Semua manusia yang ada di sana melihat kearah wajah itu.
"Kenapa diam, aku mau melahirkan!" teriakannya lagi
"Me-melahirkan," ulang Dylan dengan tatapan bingung.
"Dy, cepat bawa istrimu ke rumah sakit!" teriak Mayleen.
"Iya Ma!" Dylan langsung membawa wanita itu dalam gendongannya.
"Eh ... kenapa Mama, Juminten Dylan!"
"Eh maaf-maaf." Dylan langsung menurun Mayleen, ia kemudian mengangkat tubuh Juminten dengan susah payahnya. Karena bobot Juminten naik berkali-kali lipat.
"Kamu nggak ikhlas ya gendong aku!"
"Ik-Ikhlas kok Ai," jawa Dylan terbata.
"Kok mukanya kayak orang mau beol gitu!"
Dylan tersenyum selebar yang ia bisa. " Gini gimana Ai, udah kelihatan ikhlas kan?"
"Nggak! ssshhh .... udah cepetan bawa aku. Udah mulai mules nih!" Teriak Juminten sambil menarik rambut suaminya.
Singkat cerita, dengan segala kehebohan Dylan akhirnya berhasil membawa Juminten ke rumah sakit terdekat. Pria itu menemani sang istri melewati proses persalinan normal, hal yang paling menegangkan yang pernah Dylan alami dalam hidupnya.
Ia juga harus merelakan rambutnya rontok karena tarikan sang istri, bajunya pun sudah koyak tak berbentuk.
Suara tangisan menggema saat jagoan pertama keluar, di susul dengan kedua adiknya yang hanya berselang lima menit.
Juminten dibawa ke ruang rawat inap, setelah beberapa waktu.
"Terima kasih Ai, kamu sudah memberikan aku keluarga yang begitu utuh," ucap Dylan menatap Juminten dengan penuh cinta.
"Terima kasih juga, kamu sudah mencintai aku."
"Juminten wo ai ni," bisik Dylan pada sang istri.
Juminten tersenyum, ia bersandar di dada sang suami. Dylan melingkarkan tangannya di pundak sang istri, keduanya menatap tiga malaikat kecil mereka.
Max, Michi, Mattew
Tamat.
Jangan lupa mampir di sini ya gaes, Anaknya Aric , masih ingat mas Adam Kan 🤣🤣
__ADS_1