
"Dimana kakakmu, cepat katakan!"
"Aku tidak tahu!" Jawab Bayu dengan lantang, remaja itu berdiri di depan sang nenek untuk melindunginya.
Wito datang ke rumah kecil itu untuk mencari Arumi, tapi sayang dia tidak menemukan gadis yang sudah ia renggut kehormatannya itu. Hanya Marni, yang ada di rumah.
Wito sempat membuat keributan dan memecahkan beberapa barang, laki-laki itu pun dengan tega hendak mendorong tubuh Marni yang renta. Untung saja Bayu datang di saat yang tepat, dengan setengah berlari setelah melemparkan tasnya begitu saja di tanah. Bayu menghadang tangan Wito.
"Sudah seminggu Kak Arum nggak pulang! Bukankah kamu sendiri yang menyuruh Kak Arum berkerja di rumah kamu!" Teriak Bayu.
Sedari awal Bayu tidak suka pada Wito, Tetapi ia juga tidak bisa mencegah ibunya untuk menikah dengan laki-laki yang menurut Bayu kurang baik itu.
"Dia tidak datang ke sana, cepat katakan dimana dia?!"
"Aku tidak tahu!"
Mata Wito memerah, ia meradang karena tidak kunjung bisa menemukan Arumi. Pak Karto sudah menghubungi nya berkali-kali, bahkan mengirim anak buahnya untuk mencelakai Wiri.
Eeghk.
Kedua tangan Wito mencengkeram leher Bayu dengan kuat, matanya melotot nyalang melihat anak tirinya itu. Bayu memegang tangan Wito, berusaha untuk lepas dari tangan hitam itu.
"Jawab dimana gadis sialan itu?!"
"A-aku tidak ta-hu," jawab Bayu tercekat, ia merasa sangat sakit di tenggorokan.
"Hei ... Hei ... Lepaskan cucuku!" Pekik Nek Marni panik, dengan tangan rentanya Marni memukul lengan sang menantu, agar melepaskan Bayu.
"Lepaskan cucuku..! "
"Lepaskan!"
"Berisik!"
Brugh
Wito mendorong Nek Marni dengan satu tangan hingga wanita renta itu terjungkal, punggung bungkuknya menghantam bilik bambu yang menjadi dinding rumah reot milik Marni.
Mata Bayu melebarkan saat melihat Neneknya jatuh, ia pun berusaha lepas dari Wito. Tapi sayangnya tenaga Bayu kalah kuat, remaja yang duduk di bangku SMP kelas VIII itu tak bisa melawan ayah tirinya. Meski ia sudah menendang dan memukul lengan Wito, tetapi laki-laki itu seorang tak merasa sakit.
"Tolong!"
"Tolong!"
Marni berteriak, berharap tetangga ada yang mendengar dan datang menolong. Dia tak bisa bangun, merasakan sakit pada pinggang, hingga membuat ia kesulitan untuk bangun. Ia tidak tega melihat wajah Bayu yang sudah mulai pucat, sementara dia sendiri tidak bisa membawa apa-apa.
__ADS_1
"Tolong!"
"Tolong!"
Wito semakin marah dengan teriakkan Marni, segera ia melepaskan tangan dari Bayu. Di dorong tubuh remaja itu dengan kasar, dengan mata nyalang Wito menoleh melihat Marni, ia melangkah mendekat dengan tangan terukur hendak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada Bayu.
Namun, belum sempat tangan Wito menyentuh batang leher Marni. Seorang laki-laki tambun datang meneriakinya.
"Heh kamu mau apain Mbok Mar!' pekiknya dengan jari yang menunjuk pada Wito.
"Tolong, Mus! Dia mau cekek saya," ujar Marni dengan wajah yang sudah ketakutan bercampur sakit.
"O ... Mau bikin ulah kamu di kampung ini, bukannya berbakti pada mertua malah kdrt!" Teriak Musidin.
Sambil memegangi sarungnya, laki-laki itu melangkah cepat menolong Marni.
"Nggak pak, saya cuma mau nolong Emak. Tadi nggak sengaja jatuh," kilah Wito gugup, karena sudah ada beberapa warga lain yang datang di belakang Musidin.
"Bohong Pak Mus, dia mau mencelakai kamu!" Sahut, Bayu yang saja bangkit.
Bayu di dorong, hingga pinggang kirinya menabrak meja, dan membuat dahi remaja itu bercumbu dengan kayu jati yang keras.
"O .... Laki-laki kurang ajar, beraninya sama anak kecil sama orang tua!" Hardik salah satu warga yang datang.
Wajah Wito semakin panik, melihat warga yang mulai berdatangan. Tidak mau mati konyol, karena digebukin orang sekampung, lebih baik Wito pergi. Pria berkulit hitam itu mengambil langkah seribu, beberapa warga sempat akan mengejar tapi Marni mencegah mereka.
"Moza mau Papaya!"
"Mely mau pisang!"
"Ok, kak Arum ambilkan sebentar ya." Arumi bangkit, mengambil potongan buah yang sudah ia siapkan, kemudian meletakkan di piring plastik yang ada di hadapan kedua bocil lucu itu. Moza dan Mely memang di ajarkan untuk mulai mandiri, suster tidak boleh menyuapi mereka. Meskipun berantakan, tapi Juminten ingin agar kedua putrinya belajar makan sendiri.
Dengan tangan kecilnya, Mely dan Moza mengambil buah di piring lalu memasukkannya ke mulut.
"Kak Arum mau?, Papaya manis, enak," Arumi dengan bahasa yang masih cadel. Arumi menggeleng pelan.
" Ini pepaya Moza, nanti Kakak ambil sendiri," sahutnya sambil mengusap sudut bibirnya yang belepotan.
Arumi tersenyum melihat Mely memakan pisang dengan lahap. Senyum di wajah Arumi perlahan memudar, hatinya merasa gelisah tidak jelas, karena dia sendiri tidak tahu kenapa.
"Rum, kamu kenapa?"
Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu gadis itu, Arumi tersentak seketika dia menoleh. Seorang wanita memakai baju khas baby sitter berdiri di belakangnya.
"Emh, nggak apa-apa kok Mbak Winda," sahutnya.
__ADS_1
"Jangan bohong, kamu lagi mikirin sesuatu ya. Cerita deh sama aku, sapa tau aku bisa bantu," ujar Winda kemudian duduk di samping Arumi.
Arumi menghela nafas panjang." Sebenarnya dari tadi aku merasa khawatir Mbak Win, kayak takut tapi nggak tau takut apa?"
Winda manggut-manggut mendengar cerita Arumi, wanita berusia tiga puluh tahun itu mengambil tisu membersihkan pipi Mely yang terkena pisang.
"Coba kamu hubungi orang rumah, tanya kabar mereka. Bukan aku nakutin kamu, tapi biasanya itu sebuah firasat Rum," tutur Winda.
Arumi terdiam, sejak kedatangan Arumi di rumah ini tiga hari yang lalu dia memang belum menghubungi adiknya sama sekali. Dia merasa sungkan untuk meminta tolong pada Max atau Juminten, Arumi juga menolak keinginan Juminten agar Arumi kembali ke sekolah lama. Dia yakin Wito masih mencarinya, bagi Arumi tak ada tempat yang aman selain rumah ini, tapi bagaimana dengan Nek Marni dan Bayu?
"Moza sama Melly mandi dulu ya, abis itu bobo siang," ajak Winda, wanita yang sudah mengasuh anak kembar itu sejak masih bayi.
Dia sebenarnya berkerja dengan Yani, tapi Yani memilih berhenti dan mengurus sang ibu yang sudah mulai sakit-sakitan, apalagi bapaknya juga meninggal.
Arumi yang mendengar ucapan Winda setelah membantu mengendong Melly, membawa mereka ke kamar dan membersihkan mereka. Tak butuh waktu lama untuk menina bobokkan dua putri bungsu keluarga Li itu, tubuh mereka seperti sudah otomatis tidur di jam ini.
Setelah makan siang, Arumi kembali duduk melamun dapur, piring yang ia gunakan masih tergeletak di meja. Matanya menatap kosong pada kompor yang sudah mati.
Max yang baru saja pulang kuliah dan hendak mengambil minuman dingin di dapur mengerutkan keningnya, melihat Arumi yang asik larut dalam lamunan. Sampai tidak mendengar langkah kaki Max yang datang ke arahnya.
"Ngelamunin apa?" Max menyenggol lengan Arumi, membuat wanita itu semakin terkejut.
"Astaga Kak, maaf," sahutnya gelagapan.
"Kenapa minta maaf, aku kan cuma tanya kamu lagi ngelamun apa? Kayaknya serius banget?"
Max duduk di kursi yang ada di dekat Arumi, menatap wajah gadis itu dengan lekat. Tangan Arumi saling bertaut karena gugup, Max yang melihat itu hanya tersenyum tetapi dia juga merasa sedih bekas sudutan rokok di punggung tangan Arumi
"Kak Max."
"Hem," jawab Max singkat, Karena dia masih sibuk mengamati wajah cantik Arumi tanpa gadis itu sadari.
"Arum bisa minta tolong nggak?" Tanya Arumi ragu.
"Tentu, jika aku bisa. Aku akan dengan senang hati melakukannya," jawab Max dengan serius, ia merasa senang bergantung padanya.
"Apa kak Max bisa mengantar aku ke rumah Nenek? Aku -aku khawatir terjadi sesuatu dengan beliau," Arumi berucap pelan, sejak tadi pagi pikirannya di penuhi Bayu dan Nek Marni.
Perasaannya pun gelisah dan takut tanpa sebab, Arumi tidak bisa menghubungi Bayu karena dia lupa nomer telepon adiknya itu. Apalagi ponsel Arumi juga raib, hilang entah kemana saat dia berusaha kabur.
"Ok, kita berangkat sekarang." Max bangkit dari duduknya dengan semangat .
"Sungguh?" Mata Arumi berbinar melihat Max yang memakai celana jeans dan kaos hitam itu.
"Tentu, kapan aku pernah berbohong. Cepat ganti baju, aku mau beritahu Mami sebentar," ujar Max kemudian berlalu.
__ADS_1
Mata Arumi menatap lekat pada punggung Max yang semakin menjauh, sungguh sebuah keberuntungan bagi Arumi bertemu dengan Max. Laki-laki yang begitu baik dan bertanggung jawab.