
"Kak, Arumi mau bicara sebentar."
Max mengangguk, ia menurut saja saat Arumi menarik tangannya menjauh dari ranjang tempat Marni berbaring.
"Kak Arumi berterima kasih atas kemurahan hati Kakak membantu biaya operasi Nenek, Arumi janji akan mengembalikannya secepat mungkin. Arumi bisa bilang ke Nyonya untuk langsung potong gaji Arumi saja Kak," ujar gadis yang sudah tidak pernah itu.
Max mengerutkan keningnya, sedikit menunduk untuk menatap wajah Arumi yang sembab.
"Apa aku meminta kau mengembalikannya Rum? Dan untuk apa kau minta potong gaji? Uang yang aku pakai untuk biaya operasi adalah uangku sendiri bukan milik orang tua ku!" Jawab Max dengan nada tegas.
"Maaf," cicit Arumi, ia takut Max marah karena sudah salah paham.
Arumi mengira kalau anak-anak orang kaya hanya menerima uang dari orang tua mereka saja, tanpa harus melakukan apapun. Nyatanya tidak, tidak semua seperti itu.
Dylan mengharuskan anak-anaknya untuk memiliki usaha sendiri, uang saku mereka pun dibatasi. Alih-alih di beri kartu kredit tanpa limit yang bisa mereka habiskan sejenak jidat mereka sendiri. Dylan memberikan modal dan untuk mereka melakukan usaha, apapun itu dengan catatan Dylan akan memantau perkembangan usaha mereka.
Max mempunyai saham kecil di beberapa perusahaan, meskipun tidak banyak tapi dia bisa mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan tiap bulan. Michi memiliki online shop dan sudah memiliki tiga pegawai, jadi dia tinggal memantau saja. Dan si baper Matthew, membuka cafe di Taiwan. Hasil dari usaha untuk kebutuhan mereka sendiri, sedangkan masalah kuliah sepenuhnya di tanggung oleh Dylan, karena memang itu tanggung jawabnya sebagai orang tua.
"Tapi Kak tetap saja Arum merasa tidak enak, Kak Max sudah membantu Arumi terlalu banyak. Arumi bingung harus bagaimana membalasnya." Mata Arumi berkaca-kaca, menatap Max dengan penuh rasa syukur.
"Sudah seharusnya sebagai manusia untuk saling membantu, sekarang kita pikirkan bagaimana kedepannya. Masalah ini kau tidak usah khawatir, aku juga tidak akan menerima jika kau mengembalikan apa yang telah aku berikan."
Max menepuk pelan kepala Arumi, gadis itu tersenyum kecil dengan kaku.
'Aku akan mengambilnya Kak, aku janji. '
"Aku harus pulang sebentar, nggak apa-apa kan aku tinggal sebentar. Mungkin bisa ke sini agak sore," ujar Max sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Kak, maaf sudah ngerepotin."
"Aku sudah bilang kamu nggak pernah ngerepotin aku, aku juga bakalan minta izin ke Mami jadi nggak usah khawatir, kamu bisa jaga nenek di sini dengan tenang."
"Ambil ini buat pegangan kamu." Max mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, dan menggenggamkan di tangan Arumi.
"Tapi Kak,-"
"Rum, jangan nolak kamu butuh ini sekarang. Jangan pernah ngerasa ngerepotin aku, ok."
Arumi mengangguk, Max benar. Dia butuh uang sekarang. Setelah berpamitan, Max pun pergi meninggalkan Arumi dan Bayu.
"Mbak, dia siapa? Kenapa baik banget sampe bayarin operasi Nenek, mindahin ke kelas VIP lagi? " Tanya Bayu dengan serius.
Arumi dan Bayu duduk bersampingan di sofa yang ada di kamar rawat. Tak lama setelah Max pergi, beberapa perawat datang dan memindahkan Nek Mar dari ruang rawat kelas III ke VIP. Arumi sempat menolak, tetapi perawat menjelaskan kalau ini permintaan Max dan sudah di bayar dimuka. Arumi pun hanya bisa pasrah menerima semua hal yang diatur Max untuknya.
"Hus, ngawur kamu Bay. Mana ada," tukas Arumi.
"Dia hanya orang baik yang kebetulan menemukan Mbak yang butuh pertolongan, mungkin Allah memang mempertemukan kita dengan dia, sebagai perantara untuk menolong kita," imbuh Arumi sambil menatap lurus keluar jendela.
Bayu melihat Kakaknya yang tersenyum tipis, sambil memandang kearah rerimbunan pohon yang bergerak karena belaian sang angin.
"Apa di rumah Wito Mbak beneran di suruh kerja, maksudnya cuma di suruh bersihin rumah dia atau ada hal lain?"
Sebenarnya Bayu cukup penasaran dengan alasan Kakaknya kabur dari rumah Wito, jika hanya masalah pekerjaan Arumi tidak akan sampai kabur-kaburan seperti itu. Dia tipe wanita pekerja keras, yang pantang mengeluh.
Mendengar pertanyaan Bayu, wajah Arumi seketika berubah pias, ia sedikit menarik wajahnya dari tangan yang menopang dagu. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi padanya di rumah itu, Bayu akan semakin marah dan bisa berbuat nekad.
__ADS_1
"Mbak nggak betah Bay, bukan hanya rumah dia tapi Mbak juga harus jadi tenaga lepas yang membersihkan rumah tetangga yang ia datangi tanpa di upah. Wito mengambil uangnya untuk dia sendiri. Maafin mbak ya Bay, belum sempat kasih kamu kabar," Arumi berusaha merangkai jawaban baik mungkin agar Bayu tidak curiga.
Arumi tidak berbohong, dia memang sempat disuruh membersihkan rumah teman Wito, dan tentu saja tanpa upah. Tetapi Arumi masih bungkam soal pelecehan yang ia alami, biarlah aib ini ia tutup rapat.
"Apa Ibu pernah telepon kamu Bay?" Tanya Arumi mengalihkan pembicaraan mereka.
Ia bisa melihat Bayu mulai emosi, mendengar Arumi disuruh bekerja rodi oleh ayah tirinya itu.
"Sebenarnya waktu Mbak ke Surabaya, aku sempat chat ibu, minta kiriman uang buat bayar sekolah sama beli beras. Lalu kemarin ibu bilang uangnya di kirimkan ke Wito, tadinya aku kira di datang mau kasih uang ibu tapi dia malah bikin onar di rumah kita!" Geram Bayu, mengingat kejadian pagi tadi.
"Sabar ya, sekarang kita fokus nenek dulu. Kamu udah makan belum Bay?"
Bayu menggeleng pelan. "Nggak ada makanan di rumah, tadi pagi aku sama nenek makan stok mie instan terakhir Mbak. Tadi aja aku nungguin bakul ayam lewat, rencananya Nenek mau jual ayam buat beli beras," lirih Bayu.
Hati Arumi seakan teremas mendengar penuturan Bayu. Dulu saat ayah mereka masih ada, semua serba kecukupan meskipun sederhana. Nenek Marni pun tak pernah kekurangan karena suntik selalu mengirim uang dan sembako untuk beliau. Tapi sekarang, tak ada lagi yang menopang kehidupan lansia itu, Bayu dan Arumi juga masih sekolah, beberapa ekor ayam kampung d Marni jadikan penyambung hidup jika tak ada lagi uang yang dipegang. Pantang bagi Marni untuk meminta pada orang lain, meskipun ia kekurangan.
"Kamu beli makan gih, biar Mbak nunggu Nenek," ujar Arumi sambil menyodorkan yang pada adiknya.
"Mbak dapat uang dari mana?!"
Mata Bayu terbelalak melihat lembar uang merah yang Arumi sodorkan.
"Kak Max yang kasih," jawab Arumi, Bayu menyatukan alisnya tak percaya.
"Kakak yang tadi bayarin operasi Nenek?"
Arumi mengangguk. "Sebenarnya Mbak kerja di rumah Kak Max, jadi Baby sitter. Mbak mau kerja aja Bay."
__ADS_1
"Kerja! Terus sekolah Kakak gimana?"