Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Pulang


__ADS_3

Juminten membuang mukanya, mendengus kesal saat melihat wajah sang suami yang tampak sangat berharap. Juminten melanjutkan langkahnya, berjalan begitu saja saat melewati Dylan.


"Cum-i," sapa Dylan terputus, saat Juminten sama sekali tak melihat kearahnya. Melewati tubuh Dylan begitu saja, seolah mereka tak saling mengenal.


Dylan menarik nafas dalam, Juminten sangat pantas untuk marah. Dylan segera bergegas menyusul langkah sang istri.


"Cumi, Kenapa hape kamu mati? kenapa nggak pulang kerumah, bikin repot tau nggak. Aku sampai belum makan gara-gara kamu," cerocos Dylan saat mereka sudah saling bersisian.


Bukan itu yang ingin Dylan katakan. Namun, entah mengapa malah hal-hal tidak penting yang mengalir dari mulut pria sipit itu.


Juminten mendelik tajam pada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Kemudian melengos, melanjutkan langkahnya lagi.


"Cumi, ayo pulang. Sudah cukup main-mainnya."


Tangan Juminten mengepal, ia berbalik menatap Dylan dengan sinis. "Main? kau bilang main? siapa yang mau main ketempat seperti ini kalau bukan karena terpaksa!"


"I-Iya sabar," ujar Dylan dengan terbata. Ia tahu, dia sudah salah bicara.


"Aku sudah cukup sabar untuk tidak mencakar wajahmu. Kalau kau kesini hanya untuk bicara hal nggak penting, lebih baik kamu pulang sekarang. Aku nggak minat ngeladeni kamu!" Juminten membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Dylan.


"Sial, kenapa ngomong nggak disaring sih," gumam Dylan sambil memikul mulutnya sendiri.


Dylan melangkah cepat, ia menghadang langkah Juminten dengan tangannya.


"Aku tahu kamu masih marah, tidak seharusnya aku berkata kasar dan tidak pantas seperti kemarin. Aku benar-benar menyesal."


Juminten menghentikan langkahnya, mengambil nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Ia berbalik, melihat sang suami yang menunduk dengan penuh penyesalan.


"Dimana mobilmu?"


Dylan mengangkat wajahnya. Menatap Juminten dengan binar bahagia.


"Jangan senang dulu, aku belum memaafkanmu. Aku hanya tidak ingin menjadi menjadi tontonan orang seperti tempo hari."


"Iya." Dylan mengangguk mantap.


"Ayo, mobilku ada di sana." Dylan menarik lembut tangan sang istri, membukakan pintu mobil.


Dylan mendekat, untuk membantu Juminten memasang sabuk pengaman. Namun, tangannya segera ditepis kasar oleh sang istri. Dylan pun mundur teratur, tak ingin membuat istrinya semakin marah.


"Kita nggak pulang, aku mau ke rumah Mama," ujar Juminten saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Tapi -

__ADS_1


"Tapi kenapa, nggak mau nganterin aku kerumah Mama?!" potong Juminten cepat, ia menoleh menatap Dylan dengan sengit.


"Bukan begitu, aku akan mengantarkan kemanapun kamu mau, tapi aku takut Mama."


"Takut kepada?" tanya Juminten dengan dahi mengernyit.


"Dengan wajah seperti ini, aku takut membuat Mama khawatir," jawab Dylan dengan memarkan giginya yang putih.


"Oh, memangnya apa yang terjadi sampai biru-biru begitu. Di hajar sama kekasih cantikmu itu kah?"


Dylan menggeleng-pelan. "Peringatan dari Heru kemarin."


"Apa Heru?!" Pekik Juminten terkejut.


"Kalian berkelahi?" Dylan mengangguk mengiyakan.


"Astaga, kalian bukan anak kecil. kenapa berkelahi sampai seperti itu? emangnya apa sih yang kalian rebutin?" ce


"Kamu," jawab Dylan yang mampu membuat Juminten terdiam.


"Nggak usah ngelawak, nggak lucu tau."


"Aku serius," ungkap Dylan.


Juminten menatap dalam mata sipit yang juga sedang menatapnya, berusaha mencari kebohongan tapi nihil. Dylan terlihat begitu serius dan yakin dengan apa yang dia katakan.


"Udah diobati?" tanya Juminten dengan tak lagi ketus, seperti sebelumnya.


Dylan menggeleng. Juminten menghela nafas." Ayo turun, mumpung kita disini."


"Nggak usah, aku cuma butuh kamu," ungkap Dylan dengan sungguh-sungguh.


Juminten memutar matanya jengah. "Nggak usah aneh-aneh Dy, kamu nggak perlu berbohong sampai seperti ini. Aku akan pulang, kita masih terikat kontrak kan. Jadi mau nggak mau aku harus tetap pulang bersama mu," ucapnya dengan nada yang baik-baik saja, tapi Dylan bisa merasakan amarah yang terselip di sana.


Hati pria sipit itu mencelos mendengar ucapan Juminten yang sepenuhnya benar.


"Ya sudah, kita pulang sekarang!" tegas Dylan.


Ia mulai menyala mobil, mengendarainya menjauh dari gedung bercat hijau itu.


Juminten memejamkan mata, memasrahkan bobot tubuh sepenuhnya pada kursi yang ia duduki. Tubuh wanita itu masih terasa lemas, Juminten memaksa untuk pulang meskipun belum diperbolehkan.


Dylan mencuri pandang pada wanita cantik yang ada disamping. Kedua tangan Juminten saling bertumpu rapi di atas pangkuan. Wajah Juminten tetap cantik meskipun terlihat pucat, ingin rasanya Dylan menyingkirkan anak rambut yang menghalanginya menikmati paras ayu itu. Tetapi Dylan takut Juminten akan marah.

__ADS_1


Pria sipit itu mengulas senyum tipis, seperti ini saja dulu. Meski berjarak, yang terpenting Juminten ada di sampingnya. Dylan memelankan laju kuda besinya, menikmati waktu bersama sang istri dalam keheningan.


Butuh waktu lebih dari satu jam untuk mereka sampai di rumah, lebih lama dari waktu tempuh biasa.


"Cumi, bangun kita sudah sampai." Dylan menggoyangkan tubuh Juminten pelan.


"Emh ... udah sampai ya."


"Iya." Dylan melepaskan sabuk pengaman, ia turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu sang istri.


Juminten hanya mengerutkan keningnya heran, dengan sikap manis Dylan padanya. Mungkin ini hanya siasat pria sipit itu, agar Juminten tidak mengadu pada Mama mertuanya.


"Lho kok pulang sih? aku kan mau ke rumah Mama," protes Juminten.


"Iya kita ke rumah Mama, tapi nanti. Ada sesuatu yang lebih penting sekarang!"


"Apa yang penting?"


Dylan tidak menjawab, ia memegang tangan Juminten, menariknya dengan perlahan. Mata Juminten terbelalak melihat keadaan ruang tamu, ia mendelik tajam pada pria sipit yang menyengir memamerkan giginya.


"Maaf, tadi aku buru-buru. Pengen cepet ketemu kamu," terangnya sambil menggaruk kepala yang mendadak jadi pabrik kutu.


Juminten mendengus kesal, ia pun mengambil sepatu - sepatu yang tak keluar berhamburan dari lemarinya. Dylan pun bergegas membantu Juminten untuk menata di lemari sepatu.


"Kamu mau makan apa? biar aku masakin," tanya Juminten setelah selesai menata sepatu dan membersihkan ruang tamu.


"Kamu istirahat aja, kita pesen makanan."


"Kamu gimana sih, katanya nggak makan gara-gara aku nggak masakin. Sekarang aku mau masak, malah beli diluar!


"Ada yang lebih penting dari masalah perut," tutur Dylan dengan serius.


Dylan mengajaknya ke lantai atas, Juminten pun menuruti langkah sang suami dengan penuh tanya.


"Tara!" Dylan merentangkan tangannya dengan senyum tak biasa.


"Astaga, Dylan!" teriak Juminten dengan marah.


Sehari saja dia meninggal rumah, dan kamarnya sudah dalam keadaan berantakan seperti ini.


"Hehehehe ... Aku bantu bersihin deh, tapi sebelum itu aku boleh nanya sesuatu nggak?"


"Apa?!"

__ADS_1


"Di mana kau letakkan ****** ***** ku. Aku cari-cari nggak ketemu, terpaksa aku pake yang kemarin," keluhannya.


Juminten menatap Dylan dengan serius, tatapan matanya turun ke area bawah perut pria itu. Seketika tawa Juminten pecah, ternyata itu yang membuat Dylan terlihat tidak nyaman dari tadi.


__ADS_2