
Tiga hari berlalu, keadaan Marni semakin memburuk, meskipun sudah menjalani operasi. Namun, tubuh rentanya tidak seolah lelah.
Arumi tak pernah pergi dari sisi Marni, Juminten mengerti dengan keadaan Arumi. Dia memperkejakan Baby sitter lain untuk mengantikan pekerjaan Arumi untuk sementara waktu, agar Arumi bisa fokus mengurus neneknya di rumah sakit. Sementara Bayu tetap sekolah seperti biasa, ia tidak ingin Bayu putus sekolah seperti dia.
Seorang laki-laki berdiri didepan gedung sekolah menengah atas, ia berdiri di bawah pohon mangga yang ada di sebelah jalan. Sudah sejak kemarin dia memantau gedung bertingkat itu, berharap bisa melihat mangsanya di sana.
"Jancok, di mana gadis sialan itu," geram Wito mennyungar kasar rambutnya.
Ia sudah kehabisan akal mencari Arumi, sempat Wito memeriksa rumah Marni tetapi malah kepergok warga. Tak ingin mati konyol, Wito segera mengambil langkah seribu dan enggan untuk kembali ke desa itu lagi. Dia pun memutuskan untuk mengintai sekolah Arumi, mungkin saja gadis itu kembali ke sekolahnya. Tetapi dua hari berlalu, Wito belum melihat batang hidung Arumi.
"Gimana keadaan Nenek Rum?" Max duduk di samping Arum. Gadis itu menggeleng pelan, matanya sudah sembab karena menangis semalaman.
"Nggak ada perubahan Kak, malam kemarin malem Nenek kesakitan terus, ini aja baru bisa tidur," jawabnya dengan suara parau.
Max melingkarkan tangannya dipundak Arumi, menarik tubuh mungil itu agar bersandar di dadanya. Arumi hanya diam dan menurut, ia merasa lelah, sangat lelah.
"Sabar ya Rum, berdoa yang terbaik untuk beliau."
"Maafin Arumi ya Kak, Arumi banyak merepotkan Kakak," ujarnya lirih.
"Aku sudah bilang, kamu nggak pernah ngerepotin aku. Semua tulus membantu kamu." Max menarik tubuh Arumi agak menjauh agar bisa melihat wajah cantiknya, Arumi tersenyum dalam tangis. Menatap sendu pada malaikat yang ada dihadapannya.
"Terima kasih Kak, terima kasih." Bulir bening kembali menetes, Max reflek langsung memeluk dan mengusap lembut kepala Arumi.
"Sudah, tolong jangan menangis lagi. Kamu jelek kalau nangis," ucap Max menggoda.Bukan diam, Arumi malah menangis kencang.
Cukup lama Arumi menangis dalam pelukan Max, sampai gadis itu terlelap dalam dekapan Max.
"Assalamualaikum," ucap Bayu yang baru saja pulang dari sekolah.
"Waallaikumsalam," sahut Max pelan sambil meletakkan ujung telunjuk dibibir.
__ADS_1
Bayu mengangguk,ia berjalan berjinjit perlahan mendekat brankar tempat Marni terbaring. Bayu menatap lekat wanita tua yang terlelap, jelas guratan lelah di wajah itu. Umur telah mengikis kecantikannya, tenaga di raga itu sudah cukup lama terkuras untuk menghadapi pahit getirnya takdir. Bayu berusaha untuk tidak meneteskan air mata, melihat wajah tua yang melimpahi dia dengan kasih sayang.
Tak sekalipun keluar kata kasar, ataupun mengeluh. Marni selalu mengingatkan Bayu untuk bersabar menghadapi kehidupan.
'Ya Allah memberikan kemudahan untuk Nenek jika waktunya memang sudah dekat, angkatlah rasa sakitnya jika memang Engkau masih memberikan umur. Maafin Bayu Nek, maaf Bayu belum bisa bahagiain Nenek,' Bayu bermonolog dalam hatinya.
Matanya menatap sayu pada Marni yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang hidung. Bayu mengusap kening yang sudah dipenuhi guratan umur itu, kemudian mengecupnya lembut.
"Udah lama Kak?" Tanya Bayu duduk di samping Max yang sedang memeluk Arumi yang terlelap.
"Lumayan, ada kali satu jam," jawab Max pelan, ia tak mau menganggu tidur Arumi.
Bayu menengok sekilas pada wajah Arumi, Bayu tersenyum kecut melihat wajah kakaknya yang terlihat sangat kelelahan. Bayu merebahkan punggung di sandaran sofa, wajahnya menengadah. Menutup mata dengan lengannya, hening.
Terdengar deru nafas kasar Bayu, seiring cairan bening yang terasa panas keluar dari sudut matanya. Sekuat tenaga Bayu menahan suara isaknya. Malu pada Max, tetapi ia juga tak bisa menahan rasa sesak dalam dirinya.
Bayu seolah di paksa untuk dewasa, sejak ayahnya meninggal dunia. Apalagi sikap Nurma yang berubah seratus delapan puluh derajat, dia bukan lagi Ibu yang Bayu kenal penyayang.
Max hanya diam, ia biarkan Bayu mengeluarkan air matanya. Max tidak tahu bagaimana Bayu melalui hari-harinya selama ini.
Abim dan pacarnya Lusi datang bertamu. Mereka merasa tidak enak pada Michi karena sudah membiarkan gadis itu sendirian mengurus keperluan KKN mereka.
"Chi maaf ya, beneran deh gue tuh lupa kalau gue ninggalin lu di kampus," ujar pemuda yang memakai kacamata itu.
"Maafin kita ya."
Michi menoleh, melihat pada gadis yang duduk di sampingnya yang tersenyum memamerkan gigi putih miliknya.
"Gue kagak marah, kalian juga nggak salah ngapain kalian minta maaf," sahut Michi dengan ketus.
Dari nada bicaranya saja sudah kelihatan kalau Michi sedang kesal. Abim mengusap tengkuknya, ia sangat merasa tidak enak pada Michi. Apalagi setelah kejadian hari itu, Michi seolah menghilang, hanya terlihat saat ada kelas saja.
__ADS_1
"Waktu itu aku terkilir jadi Mas Abim nganterin aku pulang, dia panik. Jadi lupa kalau kamu masih di kelas nunggu kami," Lusi mencoba menjelaskan kejadian sesungguhnya.
Michi mengangkat bahu acuh, sambil menyeruput Boba miliknya. Abim dan Lusi saling bertukar pandangan, Michi begitu sulit di bujuk. Salah mereka juga, meninggalkan Michi sampai sore padahal Michi sudah menyiapkan segala keperluan mereka untuk KKN.
"Non, ada tamu," tiba-tiba asisten rumah tangga datang melapor pada Michi.
"Siapa Bi?"
"Temen Non katanya, perempuan sama laki-laki."
Michi menatap penuh selidik pada Abim dan Lusi secara bergantian.
"Suruh mereka langsung kesini saja Bi, tolong buatkan minum sekalian. Terima kasih ya Bi maaf merepotkan," Michi berkata dengan ramah dan sopan.
Michi meletakkan es boba dengan kasar di meja. Melipat tangan, matanya melotot nyalang pada Abim. Pria berkacamata mata itu semakin gugup di lihat Michi seperti itu.
"Hai Michi, Abim, Lusi!" Suara seorang wanita mendayu-dayu memanggil nama mereka, ketiganya menoleh.
Mata Michi melebar melihat Ana yang datang sambil bergelayut manja di lengan Yudha, Michi menoleh melayangkan tatapan setajam silet pada Abim. Abim dan Lusi pun tak kalah terkejut dengan kedatangan keduanya.
"Chi, kamu,-"
Michi mengarahkan tangannya, mengisyaratkan agar Yudha tak melanjutkan ucapannya.
"Silahkan duduk, pasti kalian capek kan abis perjalanan jauh," Michi mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Meskipun tangan Michi gatal pengen menarik ulet bulu dari lengan Yudha. Namun, Michi berusaha tenang, ia tidak sedang dalam mode bar-bar sekarang.
"Yuk Yud kita duduk." Ajak Ana menarik tangan Yudha dengan centilnya.
Meskipun enggan Yudha menurut saja, tetapi tatapan mata Yudha tak lepas dari Michi yang terlihat acuh. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Tak lama asisten rumah tangga Michi membawa minuman untuk tamu yang baru datang. Abim semakin tidak enak dengan Michi dengan kedatangan Ana, padahal rencananya tadi dia hanya menyuruh Yudha kemari.
Suasana menjadi hening dan sangat canggung, aura dingin menguar dari tubuh Michi.