
Dylan merasa lebih tenang, setelah Juminten memeluknya. Pria sipit itu memutuskan untuk menemui sang Mama.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Mayleen mengusap air matanya. Wanita paruh baya sebisa mungkin tersenyum, melihat putranya yang masuk ke kamar.
"Ma," panggil Dylan lirih.
Mayleen hanya tersenyum, saat Dylan melangkah menghampirinya. Pria itu duduk di lantai, memegang tangan keriput yang selama ini sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa duduk di situ Nak? Duduk sini, disamping Mama," ajak Mayleen yang dijawab dengan gelengan oleh Dylan.
"Maafin Dylan ya Ma, tadi Dylan cuma nggak mau marah-marah didepan Mama. Jujur untuk sesaat tadi Dylan merasa kecewa dan marah sama Mama. Mama tau Dylan sayang banget sama Mama, terima kasih sudah membesarkan dan merawat Dylan dengan penuh kasih sayang, maaf jika Dylan sering bikin Mama kesel, sering ngebantah Mama. Mulai hari ini Dylan janji, bakal jadi anak baik. Dylan masih boleh kan jadi anak Mama," Pria sipit itu bertutur dengan lembut.
Juminten dan Dylan dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, setelah tiga hari menginap di rumah besar. Mirna juga telah menceritakan bagaimana kisah pahit Anastasia yang diusir saat Ayahnya tau dia sedang hamil, Mirna mengajak Anastasia untuk pulang ke kampung halamannya karena tidak tega. Anastasia sangat menyayangi Juminten kecil dan tetap ingin melahirkannya walaupun dokter mengatakan kalau itu sangat beresiko.
Anastasia hidup dalam kesederhanaan bersama Mirna, tetapi tidak sekalipun wanita itu mengeluh. Sampai akhirnya Juminten lahir, dan Anastasia meninggal karena pendarahan hebat yang ia alami.
Mobil mewah berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang, suami istri itu menikmati tiap menit kebersamaan mereka.
"Ai, aku hanya laki-laki biasa sekarang bukan lagi seorang pemimpin perusahaan. Kamu masih cinta kan Ai sama aku?" Tanya Dylan tiba-tiba.
"Kamu ngomong apa sih, mau apapun perkejaan kamu, siapapun kamu aku tetap cinta, asal kamu setia," jawab Juminten dengan senyum manis.
Dylan tersenyum lebar, menarik tangan Juminten dan mencium punggung tangannya berkali-kali.
"Tapi apa maksudmu bukan pemimpin perusahaan lagi? Yang menjalankan perusahaan Mama siapa dong?"
"Ya kamulah Ai, kamu kan anak kandung Papa."
"Ih .... Ogah ah, Kanda aja. Kan Kanda udah biasa kerja begitu, aku sih mending jualan cilok dari pada memimpin perusahaan kayak gitu, puyeng," tukas Juminten.
"Tapi Ai-
"Nggak ada tapi-tapi. Kita berdua anak Papa, nggak ada bedanya. Mengerti!" Tegas Juminten.
"Iya Ai, mengerti," sahut Dylan.
"Bagus, aku nggak mau lagi denger kamu ngomong kayak gitu ok." Juminten menakupkan wajah sang suami dengan kedua tangannya, Dylan mengangguk patuh.
Mereka sedang berhenti karena lampu merah yang menyala. Juminten tersenyum melihat anggukan sang suami. Sejak di rumah besar, Dylan bicara tentang hak perusahaan yang lebih pantas di kelola sang istri sebagai anak kandung Dawei. Tetapi Juminten menolaknya dengan tegas, ia ingin suaminya tetap mengelola perusahaan seperti sebelumnya.
Setelah sebuah kecupan, Juminten kembali duduk manis. Namun tatapan wanita itu terpaku pada satu hal, yabg berada tepat di sebelah jalan. Di depan mobil mereka.
__ADS_1
"Kanda, kamu cinta aku kan?" Tanya Juminten dengan menatap lurus ke depan.
"Tentu saja Ai, aku sangat mencintaimu," jawab Dylan mantap, sambil memperhatikan lampu merah yang tak kunjung berganti hijau.
"Kalau sama babys cumi, sayang nggak?"
"Ya jelas sayanglah Ai."
"Sebesar apa sayang? Kalau babys cumi minta sesuatu di turutin nggak?"
Kening Dylan mengerut, ia menoleh menatap Juminten yang masih asik melihat entah apa. Tatapan wanita itu hanya fokus lurus ke depan.
"Ai mau apa? Bulan, bintang, matahari, bahkan nyawa juga akan aku beri. Kalau Ai sama Babys cumi yang minta," tutur Dylan dengan lebay.
Juminten menoleh, menatap Dylan dengan senyum yang merekah.
"Beneran ya nggak boleh bohong lho, ntar bisulan."
"Bener, emang Ai mau apa?"
"Aku mau keres( kersen) itu," rengek Juminten sambil menunjuk pohon buah keres ( kersen)
"Oke, apa sih yang nggak buat istri tercinta."
"Tinggi juga ya Ai, bentar ya aku mau izin dulu sama yang punya." Juminten mengangguk kecil.
Dylan melangkah cepat, menuju sebuah rumah yang tak jauh dari pohon kersen itu tumbuh.
Beberapa menit kemudian, Dylan kembali dengan seorang ibu-ibu bertubuh tambun dengan galah ditangannya. Dylan melangkah lebar dengan tergesa-gesa, karena melihat Juminten yang memunguti buah keres/ kersen yang jatuh. Wanita hamil itu memakannya begitu saja.
"Ai, jangan langsung dimakan, kotor." Dylan merebut buah bulat itu dari genggaman sang istri.
"Aku dah usap pake baju kok," kilah Juminten.
"Tetap kotor Ai, kita cuci dulu pake air ya," bujuk Dylan. Juminten melipat tangannya dengan mulut yang mencebik kesal.
"Pak ini galahnya, saya lupa tadi ninggal kompor, kalau suy selesai senderin aja di pohonnya." Ibu-ibu itu menyerahkan galah yang sudah dimodifikasi dengan botol yang dipasang pada ujungnya.
Dylan menerima galah yang diberikan wanita itu, dengan wajah bingung.
"Maaf merepotkan Bu, terima kasih," ujar Juminten yang seketika berubah ramah.
"Sama-sama, Mbaknya hamil berapa bulan?"
__ADS_1
"Masih jalan enam minggu," jawab Juminten seraya mengusap perutnya.
"Semoga sehat sampai lahiran ya Mbak,"
"Amin, terima kasih doanya."
"Saya tinggal ya Mbak, takut tempenya gosong." Wanita itu berlari menuju rumahnya.
Dylan mulai beraksi, dengan galah ditangannya pria sipit itu mulai mendongak mencari buah keres/kersen yang merah.
"Siapa yang suruh pake galah?" Tanya Juminten sambil berkacak pinggang.
"Lha, kalau nggak pake galah pake apa dong Ai?" Dylan bertanya balik bertanya pada istrinya.
"Manjat lah."
"Manjat Ai!" Seru Dylan terkejut dengan melongo. Juminten mengangguk dengan senyum yang manis.
"Aku nggak bisa manjat pohon, aku belum pernah manjat dalam hidupku kecuali ya memanjat kamu," lanjut Dylan sambil cengar-cengir.
Juminten memutar matanya jengah.
"Aku mau kamu manjat," rengek Juminten sambil menghentakkan kakinya.
"Tapi aku nggak bisa manjat Ai, pohonnya juga seuprit. Nanti patah kalau aku panjat."
"Nggak mau tau, pokoknya kamu harus manjat atau aku panjat sendiri!"
"Pake galah aja ya Ai, istriku yang cantik," bujuk Dylan dengan wajah memelas.
"Huaaa .... Kamu nggak cinta aku, nggak sayang sama babys cumi!"
"Eh .... Iya iya, aku manjat ya, aku manjat. Ai jangan nangis ya."
Dylan menaruh galah yang ada di tangannya. Dengan ketar ketir Dylan berdiri menatap pohon yang hanya sebesar betisnya itu.
"Ai." Dylan menoleh pada sang istri dengan wajah memelas.
Juminten mengangkat kedua alisnya mengisyaratkan sang suami agar segera naik. Dylan menelan salivanya, ini Pertama kali bagi pria sipit itu manjat pohon seperti ini.
Mak kau begitu lama nggak nulis kisahku, sekali kirim naskah kenapa kau jadikan aku monyet dadakan sih. curhat Dylan dalam hati.
"Nanti sekalian mangga sama jambu air itu juga ya Kanda!" Teriak Juminten dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Dyaln yang akhirnya bisa nangkring di salah satu dahan pohon keres/kersen, hanya bisa melemparkan senyum yang dibuat semanis mungkin.