
Juminten merasa bingung, saat Mayleen mendudukkannya disamping Dylan. Dan kenapa mereka duduk dihadapan penghulu pula, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan? Juminten dan Dylan hanya akan lamaran kan?
Mayleen tersenyum tipis, melihat Dylan yang tak bisa berpaling menatap wajah ayu Juminten.
"Gimana, menantu pilihan mama cantikan?" bisik Mayleen pada anak semata wayangnya itu.
Dylan tersingkap, ia gelagapan memalingkan wajahnya segera kearah penghulu.
"Nggak, biasa aja," kilahnya.
"Heleh, ngeles aja kamu, Dy." Dylan memasang wajah acuh, seolah tak mendengar ucapan Mayleen. Walau dihatinya membenarkan kalau Juminten memang terlihat berbeda, hanya sedikit berbeda saja.
Dylan melirik sekilas pada gadis yang duduk bersimpuh disampingnya itu, tetapi dengan cepat ia segera memalingkan wajahnya lagi. Ia tidak ingin sampai Mayleen mengetahui kalau ia memperhatikan Juminten.
"Pak bisa ikut saya sebentar," ucap wanita berkebaya coklat itu pada Pak penghulu.
Pria itu mengangguk, ia berdiri dari duduknya, mengikuti langkah Mayleen yang mendahului. Mereka melangkah masuk, meninggalkan Juminten dan Dylan di tengah-tengah para tamu. Juminten hanya menunduk dengan seribu tanya dibenaknya, sedangkan Dylan. Pria itu memasang wajah datar, sambil sesekali mencuri pandang pada Juminten, kemudian melihat penunjuk waktu dipergelangan tangannya untuk mengalihkan perhatian.
Setelah cukup lama akhirnya pak penghulu dan Mayleen keluarga, di belakang mereka mengekor Ana yang mendorong kursi roda Mirna. Mata ketiga perempuan itu tanpa sembab dan memerah, jelas mereka telah meneteskan air mata.
"Monggo Pak acaranya di mulai," ujar Mayleen dengan suara yang sedikit serak, hidung wanita bermata sipit itu bahkan memerah.
Pak penghulu mengangguk sambil tersenyum tipis mengiyakan, beliau pun kembali duduk dihadapan Juminten dan Dylan. Juminten sedikit mengangkat kepala yang tadinya tertunduk, ditatapnya satu persatu wajah dua wanita baya yang ada disamping Juminten.
Apa gerangan yang membuat mereka menangis? bahkan Budhenya yang sekarang duduk bersama Pakde Wawan pun sesekali tampak masih mengusap sudut matanya.
Acara pun dimulai, tapi bukan acara lamaran biasa. Setelah Pak penghulu memberikan membuka acara tersebut dengan doa dan diaminkan oleh seluruh tamu yang datang. Beliau menyodorkan catatan kecil di hadapan Dylan.
"Langsung saja ke acara inti ya, kamu baca dulu ini dalam hati ya," ucap Pak penghulu dengan senyum manis penuh arti.
Karena pesan dari kedua ibu pemuda dan pemudi yang ada di hadapan Pak penghulu ini, sudah berpesan untuk menyegerakan akad tanpa banyak kata sambutan.
Dylan menatap lembar kertas yang ada di hadapannya dengan dahi yang berkerut heran, ia sedikit mendongak menatap Pak penghulu. Laki-laki paruh baya itu lagi-lagi hanya tersenyum sambil mengangguk kecil. Dylan menoleh, kini ia melihat kearah Mayleen, dengan sorot mata penuh tanya.
__ADS_1
"Ikuti saja," ucap Mayleen tanpa suara. Dylan membuang mukanya sambil mendengus kesal.
Tidak mungkin ia dengan lantang menolak, dia cukup sadar diri untuk tidak membuat malu ditengah acara seperti ini. Juminten hanya diam, wanita itu tampak gelisah dengan kedua tangan yang mencengangkan erat kain jarik yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Apa ini sebenarnya, bukankah hari ini hanya lamaran saja, kenapa jadi seperti ini.
Juminten mencuri pandang ke arah samping, melirik pada Ibu yang duduk di atas kursi roda. Mata wanita itu berkaca-kaca, dengan binar penuh harap menatap jumping. Ingin rasanya Juminten memastikan apa yang terjadi sekarang, bukalah seperti apa yang ia kira.
"Sini Mas tangannya." Pak penghulu mengulurkan tangannya di sambut oleh tangan pucat pria bermata sipit itu.
Tangan Dylan di genggaman erat oleh Pak penghulu." Sudah di bacakan kan sekarang, dibaca dengan lantang dengan satu tarikan nafas, setelah saya ya Mas."
Dylan yang masih bingung mengangguk mengiyakan saja.
Sang penghulu mengucap akad pernikahan, kemudian menghentakkan tangan yang menggenggam erat tangan Dylan.
Laki-laki muda itu terkejut, sontak ia membaca lantang apa yang tertulis dikertas yang sedang ia perhatikan.
"Bagaimana para saksi sah?!"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah." Pak penghulu melepaskan tangan Dylan, mengangkat tangan mengucap doa yang diaminkan seluruh manusia yang hadir di pernikahan dadakan itu.
Hati Juminten terasa diremas, dia menikah. Akhirnya dia menikah dengan Dylan walaupun masih menikah dibawa tangan saja. Seribu tanya berkecamuk dibenaknya. Seharusnya tidak begini, ingin rasanya ia membantah semua ini. Namun, Juminten tak kuasa, ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi istri Dylan.
Sama dengan Juminten, Dylan merasa dijebak oleh Mamanya. Lamaran yang berujung pada pengucapan janji pernikahan, sungguh rencana yang licik. Dylan menyunggingkan senyum miring, dengan ekor mata yang melirik Juminten tajam.
"Ayo, pakaikan cincinnya." Sebuah tepukan lembut di bahu Dylan membuat ia tersadar.
__ADS_1
Dylan meraih kotak kecil yang diberikan Mayleen, cincin yang semula untuk lamaran. sekarang tersemat sebagai cincin pernikahan dijemari lentik Juminten.
Setelah acara selesai, satu persatu tamu meninggalkan rumah Juminten. Mereka tampak berbisik-bisik dengan karena acara yang pernikahan yang berlangsung mendadak ini.
"Ma, kenapa semua seperti ini. Bukankah kita sudah sepakat kalau aku dan wanita itu akan menikah bulan depan!" Protes Dylan dengan wajah masam.
"Bukankah lebih cepat lebih baik, lagi pula apa bedanya menikah nanti dan sekarang. Bulan depan resepsi kalian tetap akan terjadi," jawab Mayleen santai.
"Tapi nggak bisa gini dong Ma. Mama tuh egois, nggak tanya pendapat Dylan dulu!"
"Mama egois?" Mayleen menunjuk pada dirinya sendiri.
Dylan tak menjawab, ia membuang mukanya mendengus kesal. Pemuda itu tak berani untuk melanjutkan ucapannya.
"Ayo, bilang sekali lagi kalau Mama egois!" Dylan menggeleng pelan.
Mayleen mengambil nafas dalam. Ia menatap sendu pada wajah Dylan yang masih enggan menatapnya. Tangan wanita paruh baya mengusap lembut pipi sang putra.
"Kau boleh marah, kau boleh mengatakan Mama egois untuk saat ini. Tapi Mama yakin, Juminten adalah wanita terbaik untukmu, kau akan menyadarinya nanti Nak. Percayalah, dengarkan Mama sekali ini saja Nak."
Dylan hanya mengangguk, tanpa melihat wajah Mayleen. Ia tahu mata wanita itu berkaca-kaca, menatapnya dengan penuh kasih. Dylan tak sanggup untuk mengatakan tidak padanya, ia sadar selama ini dialah yang egois.
Tak sekalipun Mayleen menentang keinginannya, bahkan saat Dylan menjalani hubungan dengan Jesica, meskipun Mayleen tidak merestui tetapi dia tidak melarang. Ia hanya mengatakan pada Dylan untuk jangan terlalu jauh.
Berbeda dengan Dylan yang sedang memprotes sang Mama, di dalam kamar Juminten sedang duduk bersimpuh menatap sang Ibu dengan mata yang berkaca-kaca. mempertanyakan nama yang menjadi nasabah, sayang bibir Mirna masih enggan berucap. Hanya matanya yang telah basah dengan air mata.
"Bu," panggil Juminten lirih. Tak mampu lagi bibirnya berkata sekali memanggil ibunya.
Besar harapan Juminten agar Mirna menjelaskan semuanya.
"Jum, nanti saat Ibu mu sudah bisa bicara, Budhe yakin dia akan menjelaskan semuanya," ucap Ana sambil menepuk pelan bahu Juminten.
Juminten hanya mengangguk kecil, kecewa jelas tersirat dari wajah ayunya. Namun, Juminten juga tidak ingin menambah beban pikiran Mirna. Biarlah ia bersabar menunggu ibunya menjelaskan.
__ADS_1