
Dylan duduk dengan gelisah diluar, satu kakinya tak henti menghentak lantai di dengan cepat, ia takut terjadi sesuatu pada istri dan calon anak-anaknya.
Ia menoleh saat mendengar suara langkah sepatu hak tinggi, yang berjalan cepat kearahnya.
"Apa yang terjadi pada Juminten Dy?"
Dylan langsung bangkit dan mencium punggung tangan Mamanya dengan takzim, sebelum menjawab. " Jumi tadi sedang pingsan Ma, tapi sudah sadar. Dokter masih memeriksanya. Dylan takut Ma, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungan Jumi."
Dylan menunduk dalam, terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya.
"Apa Dy, Jumi hamil?!" Pekik Mayleen.
"Mama nggak tau kalau Juminten hamil?" Dylan balik bertanya pada sang Mama.
Mayleen menggeleng cepat, ia baru saja tahu sekarang kalau menantu kesayangannya sedang berbadan dua. Dylan mengajak Mayleen untuk duduk, sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
"Mama beneran nggak tau kalau Juminten lagi hamil?"
"Ngapain juga Mama bohong Dy. Kalau Mama tau, mama udah adain syukuran sekarang," tukas Mayleen.
"Tapi waktu itu Juminten ke rumah Mama, dia bilang mau kasih tau Mama sama Ibu kalau kami akan mempunyai anak. Dia pingin makan masakan Mama," tutur Dylan dengan wajah sendu.
"Jumi pulang sebelum Mama balik dari salon. Hari itu Mama sama Mirna ke salon, potong rambut," Mayleen menyahuti ucapan anaknya dengan helaan nafas berat.
Andai saja ia tahu kalau Juminten, membawa kabar bahagia saat bertandang ke rumahnya tempo hari. Dia pasti akan segera pulang, meskipun harus merelakan voucher diskon yang diberikan salon langganannya itu.
Dylan diam sejenak. Sejak istrinya berkunjung ke rumah besar beberapa hari yang lalu, Juminten berubah. Lebih pendiam dan sering melamun, seperti sedang memikul beban berat.
Apakah ini ada hubungannya dengan yang dikatakan Juminten tadi, apakah mereka benar-benar bersaudara. Meski tidak masuk akal, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi. Mungkin saja Juminten menemukan sesuatu di rumah besar, hingga membuatnya berpikir seperti itu.
"Ma ...."
__ADS_1
"Ya Dy." Mayleen menoleh pada putranya yang menatap lurus ke depan.
"Apa ada yang Mama sembunyikan dariku?"
Alis yang diukir sempurna itu menyatu, menatap sang putra semata wayangnya dengan bingung.
"Kamu ngomong apa sih Dy?"
"Juminten bilang, kami bersaudara. Dia sampaikan minta pisah dari Dylan Ma, masalah ini yang membuat Juminten stres sampai harus di rawat," tutur Dylan tanpa melihat kearah sang Mama.
Mayleen menggeleng tak percaya, dari mana menantunya itu tahu rahasia yang ia simpan selama bertahun-tahun. Apakah Mirna yang memberi tahu Juminten? Tapi mereka sepakat akan menjelaskan ini pada Dylan dan Juminten disaat yang tepat.
Wanita dengan rambut berwarna coklat itu menunduk, mengambil nafas dalam untuk memenangkan hatinya. Mungkin ini sudah saat untuk bicara, walaupun Mayleen merasa belum siap menceritakan hal yang sebenarnya.
"Mama akan jelaskan semuanya, tapi tidak sekarang.
Dylan menoleh cepat, dengan matanya yang membeliak lebar menatap sang Mama dengan terkejut.
"Jadi apa yang dikatakan Jumi-
Dylan hanya mengangguk, ini memang bukan saat yang tepat untuk membahas masalah ini. Ia yakin Mayleen akan menjelaskan semuanya, dan Dylan harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan diterima.
Pria sipit itu menyandarkan tubuhnya di kursi, tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Dylan segera bergegas berdiri, menghampiri dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Juminten.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Dylan dengan cemas.
"Istri Anda sedang istirahat sekarang, saya harap Anda bisa meluangkan waktu lebih bersama istri Anda Tuan. Jangan biarkan dia seperti ini, stres dapat memicu keguguran dan kelahiran prematur. Hamil kembar tiga saja sudah cukup beresiko, jika Istri Anda terus seperti ini saya khawatir kehamilannya akan terganggu, dia butuh dukungan lebih dari keluarga," Sang dokter menjelaskan panjang lebar, ia menepuk pelan bahu Dylan.
"Kalau begitu saya permisi Nyonya,Tuan," pamit sang Dokter, yang di ikuti suster dibelakangnya.
"Sabar ya Nak, kamu harus kuat. Juminten membutuhkanmu." Mayleen mengusap lembut punggung putranya yang tengah tertunduk.
__ADS_1
"Iya Ma, aku harap Mama bisa menjelaskan semuanya, agar Jumi bisa lebih tenang," lirih Dylan.
Terdengar helaan nafas dari wanita paruh baya itu. " Begitu keadaan Juminten membaik, Mama akan menceritakan semuanya Nak."
Tiga hari berlalu, Juminten akhirnya diperbolehkan pulang, lebih tepatnya wanita hamil itu memaksa untuk pulang.
"Ai, ingin makan apa?" tanya Dylan pada sang istri yang duduk disebelahnya.
Juminten menggeleng lemah, ia menyandarkan kepalanya di pintu mobil. Matanya lurus menatap jalanan yang ada didepan.
Melihat wajah istrinya yang pucat dan lesu seperti ini, membuat Dylan merasa tidak sedih. Wanita itu tampak kurus, dia kehilangan berat badan hanya dalam sekejap, hanya bagian perutnya saja yang menonjol.
"Ai nggak boleh kayak gini, kasihan anak-anak. Kita beli makanan dulu ya, aku nggak mau kamu sakit," bujuk Dylan.
"Nggak usah, kita langsung ke rumah Mama saja," sahut Juminten lirih, tubuhnya terasa lemah.
Nafsu makan Juminten memang berkurang drastis, jika kemarin-kemarin nafsu makan Juminten begitu besar. Sekarang ia malah malas untuk makan apapun, jangankan untuk makan, melihat makanan saja ia tidak berselera.
Kata dokter, apa yang terjadi pada Juminten karena stres yang ia rasakan saat ini.
"Apapun yang akan di ceritakan Mama nanti, bagaimanapun masa lalu mereka. Aku tidak akan berpisah denganmu Ai, sekalipun kita benar saudara seayah!" tegas Dylan, tak terbantahkan.
Juminten dia, ia memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil. Bagaimana bisa mereka tetap bersatu jika mereka memang bersaudara? Berat memang, meninggalkan laki-laki yang teramat ia cintai, Papi dari anak-anaknya. Tapi Juminten akan pergi, perceraian akan menjadi pilihan bagi Juminten.
Hening, tak ada lagi percakapan antara keduanya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, hanya suara deru mesin dan klakson dari kendaraan lain yang sesekali terdengar dari luar.
Dylan sudah membulatkan tekadnya, dia tidak akan melepaskan Juminten apapun resiko yang akan ia tanggung. Dia yakin, semua akan baik-baik saja.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Dylan meraih tangan Juminten, mengecupnya dalam.
"Kamu nggak boleh pergi kemana-mana Ai, kamu harus tetap ada disisi ku. Apapun yang terjadi!" tegas Dylan sekali lagi.
__ADS_1
Air mata Juminten kembali meleleh, bagaimana takdir bisa mempermainkan mereka seperti ini? Bagaimana dengan teganya Mayleen melakukan hal ini pada mereka?
Lampu menyala hijau, Dylan kembali memacu kuda besinya, melanjutkan perjalanan menuju rumah besar Li. Tempat yang selama ini ternyata menyimpan rahasia yang tidak pernah Dylan tahu.