Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Sakit


__ADS_3

Dylan turun dari mobil dan menutup pintu dengan kasar, saat melihat Juminten bersama pria lain melewati mobilnya. Pria sipit itu menarik kasar tangan sang istri, saat wanita itu hendak masuk ke minimarket.


Tubuh kecil Juminten sontak ikut berbalik, saking kuatnya Dylan menarik tangannya.


"Apa-


Ucapan Juminten terhenti saat mata elang sang suami bertemu dengan miliknya.


"Dylan," lirih Juminten dengan mata membeliak lebar. Ia au


"Ikut aku!" Dylan menarik tangan Juminten, memaksa sang pemilik untuk mengikuti langkahnya.


Namun, tangan Heru segera memegang tangan Dylan. Pria sipit itu menoleh, menatap Heru dengan penuh amarah.


"Jangan ikut campur!" bentak Dylan dengan nyalang.


"Aku harus ikut campur, dia bekerja untuk ku, dan kau tidak bisa membawa begitu saja!" tegas Heru.


"Aku suaminya, aku berhak membawa pulang wanita ini!" Ucapan Dylan membuat Heru terdiam, dan semakin marah karena tak bisa membantahnya.


Kedua mata laki-laki itu saling bersitatap dengan sengit. Seperti ada kilat yang saling menyambar dari mata keduanya.


Shh ....


Desis kesakitan Juminten membuat kedua tersadar. Heru lebih dulu melepaskan genggaman pada Dylan, mendekat dengan wajah khawatir melihat Juminten yang mengusap pergelangan tangannya. Terlihat jelas bekas cengkraman tangan besar pria sipit itu.


Dylan mendelik tajam, ia tak suka melihat Heru begitu memperhatikan istrinya.


"Kita pulang sekarang!" tegas Dylan taj terbantahkan.


Juminten menelan ludah, sorot mata elang itu menatap tajam padanya. Seolah ia melakukan kesalahan yang fatal, baru saja Juminten akan mengeluarkan suara saat Heru pasang badan menyembunyikan Juminten dibalik tubuh tegapnya.


"Dia tidak akan pergi kemanapun."

__ADS_1


Dylan semakin geram, ia menarik kerah kemeja Heru. "Jangan ikut campur, atau kau akan tau akibatnya."


Rahang Dylan semakin mengeras, menatap Heru yang tak takut sama tak menganggap ucapannya. Pria berlesung pipi itu malah tersenyum remeh padanya.


"Sudah, aku mohon hentikan." Juminten meraih tangan Dylan, sedikit menariknya.


"Aku mohon, jangan seperti ini, kita pulang tapi lepaskan dia," bujuk Juminten, mendengar ucapan sang istri yang terkesan membela Heru membuat Dylan semakin marah.


"Apa kau tidak malu dilihat orang?" tanyanya sambil melihat kearah sekeliling.


Sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum, Dylan melepaskan tangannya tapi tidak dengan tatapan bengis yang ia layangkan pada Heru.


Dylan berdecih, dengan cepat ia menyambar tangan Juminten, wanita itu sempat menengok kebelakang menatap Heru seolah meminta maaf. Dengan berjalan cepat pria sipit itu menarik sang istri kearah mobilnya. Dylan membanting pintu mobil, mobil itu pun melesat cepat meninggalkan Heru yang menatap nanar pada kuda besi berwarna hijau alpukat itu.


Pria berlesung pipi itu meraup oksigen dengan rakus, berharap udara segar bisa sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak melihat Juminten diperlakukan seperti itu membuat Heru merasa marah.


Keadaan dalam mobil cukup panas, sama panasnya dengan aspal yang tertimpa terik matahari siang ini.


Juminten menoleh, ia memutar matanya dengan malas. Dia sungguh tidak menyangka jika Dylan masih tetap pada pemikirannya yang dulu, bahkan setelah mereka berbulan-bulan menikah dan hidup bersama.


"Heru temanku, apa salahnya jika aku pergi dengannya," ucap Juminten, mencoba untuk tetap tenang.


"Heh, teman. Kau pikir aku bodoh, wanita dan laki-laki tidak bisa menjadi teman. Dan apa dia bilang tadi kau berkerja untuk dia, kerja apa?!"


"Sejak kapan kau mulai berkerja, apalagi tanpa seizin ku, bukankah wajib hukumnya bagi seorang istri untuk meminta izin pada suami sebelum keluar rumah."


Juminten tak menanggapi ucapan Dylan yang terus menyudutkan dirinya, ia biarkan laki-laki itu bicara panjang lebar. Juminten diam, merasakan perutnya yang mendadak sakit, seperti sesuatu meremas secara perlahan.


"Atau kau punya hubungan lain dengan Laki-laki itu?!"


"Cukup!" bentak Juminten, dia menatap tajam pada sang suami.


Ucapan Dylan bagai belati yang mengoyak hatinya yang rapuh. Kedua bola matanya memerah dengan air bening yang mulai menggenang di sudut mata.

__ADS_1


Dylan menoleh sekilas pada Juminten yang sedang menatapnya dengan marah, ada sedikit penyesalan saat melihat netra bening sang istri terlihat berkaca-kaca. Namun, ia masih begitu marah saat teringat bagaimana Juminten terlihat begitu bahagia bersenda gurau dengan laki-laki lain.


"Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"


"Jangan munafik, kau menikmati waktu bersama pria itu kan?!"


"Cukup Dy, aku bilang cukup!" Juminten mendesis merasakan cengkraman yang kian terasa di area perutnya.


"Aku sudah muak dengan semua tuduhan mu, apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri. Kau bebas pergi dengan wanita lain, kenapa aku tidak?Lalu apa bedanya aku dan kamu? Kamu tidak pernah peduli dengan perasaanku saat kamu pergi dengan wanita mu, Kenapa aku harus perduli denganmu?!" Cerca Juminten mengeluarkan semua uneg-unegnya.


Dylan mendelik tajam, tangan kekarnya mencengkeram kuat setir mobil. Dengan penuh emosi, ia menginjak pedal gas, membuat mobil itu melaju semakin kencang.


"Kenapa diam? jawab pertanyaan ku?!" teriak Juminten.


"Jangan kurang ajar, kau tidak lebih dari istri kontrak ku!"


Juminten tersenyum kecut." Benar, dan kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!"


Dylan menginjak pedal rem secara tiba-tiba, membuat kening Juminten berciuman dengan dasbor mobil. Dylan menoleh, menatap tajam pada Juminten.


"Keluar dari mobilku," ucap Dylan dengan rahang yang mengeras.


Juminten menatap Dylan dengan berani, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan bulir bening agar tidak jatuh dihadapan sang suami.


Wanita berambut panjang itu, melepaskan sabuk pengaman dengan kasar. Tanpa sepatah kata ia melangkah turun dari mobil, dan menutup pintu dengan keras. Dylan memutar arah mobil, dengan kecepatan tinggi mobil sedan itu menjauh meninggalkan Juminten.


Wanita itu menatap nanar mobil itu, kini ia berada entah di mana. Air asin yang sedari tadi ia tahan, kini akhirnya lolos. Berdesak-desakan keluar dari celah dimata lentiknya.


Di tengah tangisannya Juminten mendesis, rasa sakit kembali ia rasakan. Kali ini semakin hebat, lebih sakit dari pada saat berada mobil tadi. Juminten memegangi perutnya, gadis yang tak lagi perawan itu bahkan harus berjongkok untuk menahan rasa sakit yang mendera.


Lain halnya dengan Juminten, Dylan memacu mobilnya lebih kencang. Ia baru sadar kalau Jessica ia tinggalkan sendiri di minimarket tadi. Ia terlalu marah sampai melupakan keberadaan sang kekasih, walaupun ia juga tidak paham kenapa dia bisa semarah itu saat melihat Juminten bersama pria lain.


Sesampai Dylan di minimarket yang sama, ia segera bergegas turun. Dia takut kekasihnya itu akan merajuk karena dia tinggalkan sendiri. Namun, rahang Dylan kembali mengeras, kedua matanya memerah memancarkan kemarahan yang teramat.

__ADS_1


__ADS_2