
Bau desinfektan dan obat-obatan yang menyengat. Juminten terbaring di ranjang dalam ruangan serba putih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya.
Ia sudah sadar beberapa saat yang lalu, denyutan di kepalanya membuat Juminten tidak mencoba untuk bangkit. Wanita itu sendirian dalam ruangan besar itu, matanya terpejam. Air matanya kembali meleleh seiring rasa sesak mulai memenuhi dadanya.
Suara decitan pintu yang didorong dari luar, membuat Juminten memalingkan tubuh menghadap tembok. Ia tahu langkah berat siapa yang berjalan mendekatinya.
"Ai sudah sadar?" Dylan mengusap lembut rambut hitam yang terlihat sedikit lepek.
Juminten diam, ia mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara tangisannya.
"Ai."
"Kau tau Ai, aku sangat khawatir saat melihat kau berdiri diam di ruang rapat tadi. Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu, rumah tangga kita yang sebenarnya baru saja kita jalani, Ai. Aku sangat mencintaimu, saat kau tidak sadarkan diri dalam. Taukah kamu betapa takutnya aku," Dylan bertutur dengan suara bergetar.
Juminten bisa mendengar suara sang suami yang terdengar serak, karena tangis yang tahannya.
Dylan membungkuk, menyentuhkan ujung kepalanya pada punggung Juminten.
"Jangan meminta perpisahan Ai, aku tak akan sanggup jika harus jauh darimu. Mungkin kau belum percaya padaku, tapi aku mohon jangan pergi Ai."
Juminten meremas dadanya, sakit.
"Kita harus berpisah," lirih Juminten.
Dylan diam, masih dengan posisi yang masa. Ia meraba tangan sang istri, menuntun tangan itu untuk menyentuh kepalanya.
"kenapa kau bersikeras untuk berpisah Ai. Katakan aku harus bagaimana agar kau bisa tetap di sisiku."
"Kita tidak bisa bersama, mengertilah. Jangan membuat ini semakin sulit."
Dylan kembali menegakkan tubuhnya, dengan sedikit memaksa ia membalikkan tubuh Juminten agar menghadap ke arahnya.
"Tatap mataku Ai, apa yang membuatmu sulit? Katakan Ai, apa yang terjadi sebenarnya?"
Juminten menggeleng, ai matanya jatuh semakin deras. Dylan menggenggam tangan lentik yang terasa dingin itu, menciumnya dengan penuh kasih.
"Kau mencintaiku kan, kenapa kau ingin meninggalkanku? Setidaknya pikirkan anak-anak kita Ai." Dylan menatap mata bening Juminten dengan memohon.
"Maaf, aku nggak bisa. Kita nggak boleh bersama." Juminten mengalihkan pandangannya, menghindari mata Dylan.
"Apa sebenarnya semua ini?! Nggak bisa, nggak boleh. Ada apa dengan semua itu? Kau istriku, sah secara hukum dan agama, tidak ada bisa melarang atau memisahkan kita," ujar Dylan dengan nada meninggi.
__ADS_1
Dylan sungguh dibuat bingung dengan semua yang dikatakan oleh istrinya.
"Kita nggak boleh, kita nggak seharusnya menikah," lirih Juminten.
"kenapa? Kenapa heh?!" Dylan mengguncang bahu Juminten dengan kasar.
"Apa ada orang lain selain aku Ai? Apa aku bukan ayah dari anak-anakmu?!"
Juminten menoleh menatap nyalang pada suaminya.
"Karena kita saudara Dylan. Kau kakakku!" Jawab Juminten dengan lantang.
Dylan menatap Juminten dengan alis yang hampir menyatu, akal sehatnya menolak apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu bercanda kan?"
Juminten menatap lekat wajah saat suami yang terlihat tidak percaya.
"Aku pun berharap begitu, tapi kenyataannya kita saudara seayah," jawab Juminten dengan berlinang air mata.
Dylan menelisik netra bening yang sedang menatapnya sendu, berharap ia dapat melihat kebohongan di sana. Namun, nihil. Ia malah menemukan kesedihan yang teramat. Dylan merosot bersimpuh di lantai dengan tangan yang masih memegang tangan Juminten, wanita itu menatap lurus dengan tatapan kosong.
Sebenarnya Juminten tidak ingin mengatakan semua ini pada Dylan,ia tidak ingin Dylan membenci Papa atau Mama Mayleen. Biarlah Juminten yang tau kebenarannya, tetapi prasangka buruk Dylan pada bayi-bayi yang dikandungnya. Memaksa Juminten berkata jujur, bagaimanapun keadaannya Dylan adalah ayah dari janin yang ada dalam perutnya.
Juminten mengambil nafas dalam, sambil memegangi dada. Jantungnya berpacu kencang saking gugupnya. Antara merasa bersalah karena sudah mengambil surat tanpa izin dan rasa penasaran yang luar biasa. Juminten memutuskan untuk membacanya.
Dia yang bisanya tidak ingin tahu dengan urusan orang lain, entah kenapa menjadi begitu ingin tahu tentang isi surat milik almarhum papa mertuanya itu. Apalagi sebuah nama yang familiar tertulis di ujung kanan amplop itu.
D Marcel Li
Dengan tangan gemetar Juminten, mulai membuka amplop lusuh yang sedari tadi ia pegang. perlahan tapi pasti, Juminten mulai membaca isi surat itu.
Teruntuk Dawei Marchel Li
Dimana pun kau sekarang berada, aku harap kau selalu dalam keadaan baik. Jika surat ini sampai padamu, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu. Kau mempunyai seorang putri, baru beberapa hari yang lalu melahirkannya. Dia sangat cantik, sepertiku.
Aku beri dia nama, Arabella Juminten Marlow Nama yang cantik bukan, maaf aku masih menyematkan marga keluargaku. Aku ingin kau mencari dan menjaganya, buah cinta kita.
Kau tau Bu Mirna kan? dia berjanji akan menjaga anak kita sampai kau menjemputnya nanti, maaf aku tidak bisa menjaganya.
__ADS_1
Aku harap pernikahan mu dengan Mayleen selalu bahagia.
Yang mencintaimu, Anastasia Marlow.
Dada Juminten terasa sesak, sakit. Bagai petir yang menyambar hatinya, sebuah kenyataan pahit yang harus ia terima.
Mirna bukan ibu kandungnya, dia hanyalah anak yang dititipkan pada Mirna. Dan Dylan suaminya itu adalah anak dari pernikahan ayahnya dengan Mayleen, itu artinya mereka bersaudara.
Marchel nama yang familiar itu, tenyata adalah nama ayah kandungnya. Nama yang disebutkan penghulu saat akad.
"Dylan kakakku, kami nggak boleh menikah," gumam Juminten dengan air mata yang mulai mengenang.
"Lalu bagaimana dengan kalian?"
Juminten mengusap perutnya dengan perasaan hancur, dunianya serasa runtuh. Baru saja ia menikmati cinta tulus dari sang suami, betapa bahagianya ia saat kebahagiaannya itu lengkap dengan benih yang mulai tumbuh dalam rahimnya.
Flashback off.
Hening, tak ada percakapan antara mereka. Dylan masih sibuk berpikir, mencoba menata sesuatu yang sangat tidak mungkin itu. Tetapi dia juga yakin kalau Juminten tidak berbohong, sementara Juminten. Wanita itu memenangkan perutnya yang terasa sakit.
"Juminten meremas tangan Dylan yang sedang memegangnya. "Kan-kanda, tolong."
Dylan tak merespon Juminten, pria itu masih melamun.
"Sakit!"
Dylan tersingkap mendengar erangan kesakitan Juminten, Dylan segera bangkit.
"Kenapa Ai? Mana yang sakit?" tanya Dylan panik.
"Perutku," jawab Juminten lirih dengan mendesis sakit.
Dylan segera menekan tombol nurse. Tak lama, seorang dokter dan perawat masuk kedalam ruangan itu.
"Dokter tolong! istri saya kesakitan," ujar Dylan panik.
"Anda tolong keluar sebentar, kami akan melakukan pemeriksaan."
"Tapi Dok, saya suaminya!" tolak Dylan. Ia tidak tega meninggalkan Juminten yang terlihat menahan sakit.
"Kami mohon kerjasamanya Tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda," bujuk perawat.
__ADS_1
Dengan berat hati, Dylan keluar dari ruangan itu. Membiarkan Dokter melakukan tugasnya.