Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Firasat


__ADS_3

Juminten pergi meninggalkan kafe mewah itu setelah menandatangani perjanjian di atas materai, sepanjang jalan ia terus menggerutu. Sekedar menuangkan kekesalannya, karena harus bertemu mahluk Tuhan yang tampan tapi sombong.


Juminten berdiri di tepi jalan raya, menanti angkot lewat untuk membawanya pulang. Sesekali gadis itu menyeka keringat di kening dan lehernya, terik mentari mulai membakar kulit kuning Langsat Juminten yang tidak tertutup kaos.


"Haduh, suwe ne rek," keluh Juminten.


[ "Haduh, lama banget sih," keluh Juminten. ]


Hari semakin siang, angkot yang lewat terus saja berlawanan arah dengan tujuan Juminten. Entah kenapa Juminten merasa gelisah, dia harus segera pulang.


"Tuan, Bukankah itu Nona Juminten?" tanya Raka.


Raka baru saja mengeluarkan mobilnya keluar dari kafe, tanpa sengaja dia melihat Juminten yang berdiri di trotoar. Dylan melihat sekilas kemudian kembali menunduk melihat ponselnya. Karena tak ada respon, Raka pun melajukan mobilnya melewati Juminten begitu saja.


Ada sesuatu yang menggelitik hati Dylan, ia berdecak dengan raut wajahnya yang kesal. Wajah letih Juminten yang sekilas ia lihat, membuatnya merasa tidak tega, apalagi hari ini Surabaya memang lebih terik daripada biasanya.


"Putar balik!"


"Apa Tuan?"


"Putat balik, Raka!"


"Iya Tuan!" Raka sedikit terkejut, ia pun mencari tempat untuk memutar mobil.


"Berhenti didepan wanita itu," ujar Dylan tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget.


Laki-laki itu berusaha seolah acuh, tetapi ekor mencuri pandang kearah luar. Raka yang melihat tingkah Dylan dari spion mobil hanya bisa tertawa dalam hati.


Juminten mengerutkan keningnya, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berhenti didepannya.Kaca mobil di turunkan, seorang pria tersenyum ramah pada Juminten.


"Pak Raka?" Juminten melangkah mendekat.


"Ada apa Pak?"


Raka hanya tersenyum, dia juga bingung mau bicara apa. Jika tidak sesuai dengan keinginan Dylan, pria itu bisa mengamuk dan terus menggerutu sepanjang jalan.


"Suruh dia masuk, kita antar pulang," perintah Dylan lirih.


"Nona Jum, silahkan masuk. Saya akan mengantar Anda pulang," ucap Raka.


"Tidak Pak terima kasih, saya nunggu angkot saja," tolak Juminten dengan halus.

__ADS_1


Walaupun dia sangat ingin pulang sekarang, tetapi jika harus duduk bersama Tuan sipit sombong itu. Juminten benar-benar malas melihat wajah juteknya.


Mendengar penolakan Juminten, Dylan berdecak kesal. Ia menendang kursi kemudi dengan keras, hingga membuat Raka terkejut.


"Ehm, Nona di sini sudah jarang sekali angkot. Apalagi jam seperti ini, saya rasa Anda tidak akan menemukan angkut umum itu. Pangkalan ojek juga jauh, lebih baik Anda pulang bersama kami. Lagi pula saya lihat Anda seperti sedang gelisah, apa karena seseorang menunggu anda pulang?" ujar Raka panjang lebar untuk membujuk Juminten.


Juminten meremas tali tas selempangnya, yang dikatakan Raka benar. Dia juga tidak bisa mengunakan ponsel, benda itu tiba-tiba saja mati. Juminten mengambil nafas dalam.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Juminten memastikan.


"Tidak Nona, tidak sama sekali," jawab Raka dengan wajah berbinar.


Juminten pun mengangguk kecil. Raka turun dari mobil, kemudian membuka pintu belakang untuk Juminten.


Dengan ragu Juminten masuk dan duduk disamping Dylan. Juminten tersenyum dengan anggukan kecil, mencoba untuk bersikap ramah pada si empunya mobil.


"Kalau nggak niat senyum jangan senyum, jelek," ucap Dylan datar.


Juminten menurunkan sudut bibir yang tadinya terangkat, menyebalkan.


Sepanjang perjalanan Juminten terus merasa gelisah, ia berkali-kali mengganti posisi duduknya. Hal itu membuat Dylan tidak nyaman.


"Bisa diem nggak sih!" bentak Dylan.


Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi, apalagi melihat Pak wawan, suami dari Budhe Ana berdiri menunggu kedatangan Juminten.


"Ya Allah Jum, teko endi awakmu? Hape mu kok ga kenek di telepon?" tanya Pak wawan, dengan raut wajah cemas.


[ " Ya Allah Jum, dari mana saja kamu? Hape kamu kenapa tidak bisa di telepon?" tanya Pak Wawan, dengan raut wajah cemas.]


"Hapeku rusak Pakde, wonten nopo?"


[ "Hape saya rusak Pakde, ada apa?" ]


"Ibu mu tibo, saiki nang rumah sakit!" jawab Wawan.


[ "Ibu kamu jatuh, sekarang ada di rumah sakit!" jawab Wawan.]


Bagai di sambar petir, kaki Juminten lemas seketika. Hampir saja ia jatuh seandainya Dylan tidak menangkapnya.


Dylan yang tadinya akan menegur Juminten, karena tidak mengucapkan terima kasih merasa bingung melihat Juminten yang shock, sampai lemas seperti itu. Apalagi Dylan belum paham bahasa daerah, yang digunakan Juminten dan laki-laki yang berbincang dengannya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Dylan.


Juminten hanya diam, dia seperti orang linglung. Wawan memperhatikan pria bermata sipit yang sedang menopang tubuh Juminten.


"Pak, Ada apa? Kenapa dia sampai kaget seperti ini?" tanya Dylan lagi.


"Ibunya jatuh dan sekarang ada di rumah sakit," jawab Wawan kemudian.


"Ibu ...Pakde, aku pingin ketemu Ibu. Ayo Pakde nang rumah sakit saiki!" ujar Juminten tiba-tiba.


[ "Ibu ... Pakde, aku ingin ketemu Ibu. Ayo Pakde ke rumah sakit sekarang!" ujar Juminten. ]


"Iya Jum, aku tak nyeleh sepeda sek. Sepeda e Pakde rusak."


[ "Iya Jum, aku pinjam sepeda dulu. Sepeda punya Pakde rusak." ]


Dylan yang tidak mengerti obrolan keduanya, hanya bisa menatap Juminten dan laki-laki itu secara bergantian.


"Kalian bicara apa sebenarnya?"


"Dia mau ke rumah sakit, tapi sepeda motor saya rusak. Saya mau pinjam ke tetangga dulu," jawab Wawan.


"Tidak perlu, saya akan mengantarkan kalian ke rumah sakit."


Mendengar ucapan Dylan, Juminten segera menoleh menatap wajah pria itu. Ternyata dia tidak seburuk yang dia pikirkan.


"Kenapa melihatku seperti itu? kita pergi sekarang, sebelum aku berubah pikiran!" tegas Dylan, ia melepaskan tangannya dari bahu Juminten dan berjalan mendahului mereka.


Juminten menghela nafas, dia meralat lagi pikirannya. Dylan memang seperti yang ia pikirkan.


Juminten dan Wawan mengikuti langkah Dylan. Dengan kecepatan sedang, Raka melaju mobil menuju rumah sakit tempat Mirna di rawat.


"Ibu kok iso tibo se, Pakde?" tanya Juminten dengan raut wajah yang begitu sedih.


[ "Ibu kok bisa jatuh sih, Pakde?" tanya Juminten dengan raut wajah yang begitu sedih.]


Belum sempat wawan menjawab pertanyaan Juminten, Dylan sudah berdehem dengan keras. "Ehem, di larang memakai bahasa yang tidak saya mengerti. Saat berada dalam mobil!"


Wawan pun tersenyum kecil, kemudian mengangguk. Dia kemudian menoleh kembali kearah Juminten.


"Aku juga nggak tau Jum, kata Ana, dia baru masuk lihat Ibu kamu di kamar. Terus dia keluar lagi, karena ada tamu yang cari kamu. Lha terus, pas Budhe kamu nyuruh tamu masuk. Dia dengar bunyi jatuh dari kamar Ibu kamu, saat Ana ke sana Ibu kamu sudah ada di lantai dan pingsan, untung saja orang yang cari kamu mau bantu mengantarkan Ibu kamu ke rumah sakit," tutur Wawan panjang lebar.

__ADS_1


"Astaghfirullah." Juminten menutup wajah dengan kedua tangannya.


__ADS_2